
Eza yang melihat sahabatnya dengan muka di tekuk, merasa heran.
Sejak pertama kali Arjuna masuk ke dalam ruang kerjanya, ia hanya diam seribu bahasa.
Eza yang sedang memeriksa laporan berkas-berkas yang menumpuk di meja, sesekali melirik ke arah sahabatnya yang hanya duduk termangu.
" Kapan pekerjaan kita akan selesai, jika kau hanya bersantai saja Bro!" seru Eza sambil terus menarik satu persatu berkas yang menumpuk.
Maklum lah mereka menghabiskan waktu lama di Amrik, sehingga membuat pekerjaan di kantornya semakin menggunung, di karenakan mommy Rita hanya seorang diri, ia menjadi kewalahan.
Sedangkan Andrian yang sebagai rekan bisnis Arjuna, ia pun memiliki pekerjaan sendiri, karena ia ditugaskan untuk menghandle salah satu pabrik dari perusahaan Arjuna yang berada di luar kota.
" Pikiranku mumet, sepertinya kepalaku akan meledak!" Arjuna memijat kepalanya.
" Apalagi, bukankah semua masalah telah selesai?" Eza menggelengkan kepala, menurutnya hanya ada satu masalah yang belum terselesaikan. Yaitu menanti kehadiran sang buah hatinya.
" Mungkin aku butuh cuti,"
Ucapan Arjuna membuat sahabatnya terperanjat.
" What, cuti, masih kurang kau cuti selama ini, atau jangan-jangan kau ingin selalu berduaan dengan istrimu?" Eza menggoda Arjuna yang hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
" Kau tidak pernah tahu apa yang aku alami Za," pikir Arjuna dan kembali termenung.
DRRTTTT...
DRRTTTT...
Ponsel Arjuna bergetar.
" Hallo." Arjuna mengangkat panggilan ponselnya.
Terdengar suara perempuan sedang menangis diseberang.
" Hallo, Ren, kaukah itu?" tanya Arjuna terkejut.
" Hallo kak, papa-hiks...hiks ...papa," terdengar suara Rena tersendat-sendat.
" Kenapa dengan papa, apa yang terjadi?" Arjuna pun panik mendengar Rena menyebut papanya.
" Lebih baik kakak cepat kesini,"
TUUT.... TUUT...TUUT....
panggilan berakhir.
" Hallo...hallo..." namun tak ada jawaban karena panggilan telah di matikan.
" Ada apa Ar?" tanya Eza ketika melihat ke khawatiran di wajah sahabatnya.
" Sepertinya telah terjadi sesuatu pada papa, Za, aku pergi dulu!" tanpa menunggu jawaban dari Eza, Arjuna pun berlalu.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan perusahaan itu, Arjuna menemui mommy Rita di ruangannya.
Saat itu mommy Rita sedang menangis, membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
" Mommy!" seru Arjuna pelan, karena ia telah menduga kalau ibunya pun telah mendapatkan info tentang pak Teddy, mantan suaminya.
" Arjuna, hiks...hiks...!" Mommy Rita menumpahkan semua kesedihannya di pelukan putranya.
" Papa mu, Ar... papa mu sudah ....!" mommy Rita tidak sanggup untuk mengatakan bahwa mantan suaminya telah meninggal.
" Ya, aku telah menduganya mom, mommy harus tabah, kuatkan diri mommy," Arjuna berusaha menenangkan ibunya, meski ia pun merasakan hal yang sama.
" Ayo mom." Arjuna menggandeng ibunya, berusaha menyalurkan kekuatan penyemangat darinya.
Kemudian mereka pun pergi ke rumah Reyhan.
*
*
*
Suasana begitu hening, hanya terdengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang menggema di rumah Reyhan.
Di living room.
Beberapa anggota keluarga sedang duduk berkerubung, penuh rasa duka cita.
" Papa....!" seru Arjuna dengan suara serak karena menahan tangisnya.
Saat itu ia baru saja tiba bersama dengan ibunya yang telah menangis sesenggukan.
Dengan langkah perlahan mereka menghampiri jenazah pak Teddy yang terbujur kaku.
Mereka duduk di samping pak Teddy.
" Papa...!" seru Arjuna lagi, namun kali ini ia tak bisa lagi menahan rasa sedihnya. Air mata mengalir begitu deras membasahi pipinya.
" Mas!" mommy Rita memanggil seolah tubuh itu mampu mendengar suaranya.
" Rey, apa yang terjadi dengan papa?" tanya Arjuna setelah tangisnya mereda.
" Penyakit jantung papa kambuh kak, semalam masih baik-baik saja, tapi tadi pagi...tadi pagi kondisi papa semakin memburuk." tangis Reyhan pecah, ketika mengingat kembali kondisi ayahnya sebelum beliau tiada.
" Mengapa kalian tidak menghubungiku?" tanya Arjuna menatap Reyhan dan Rena bergantian.
" Maaf kak, kami bingung, kami tidak memikirkan hal itu." jawab Rena, air matanya masih terus mengalir, walau saat itu ia telah berhenti menangis.
Arjuna beranjak dari tempatnya melangkah menuju bathroom. Ia hendak mengambil air wudhu'.
Di mana seseorang di butuhkan untuk melakukan itu sebelum memegang kitab suci Al-Qur'an dan mengaji.
__ADS_1
" Kau yang sabar ya Rey, Rena, tabahkan hati kalian." ucap mommy Rita berusaha menguatkan Rena dan Reyhan, walau sebenarnya kata-kata itu lebih tepat di tujukan kepadanya.
" Terima kasih mom," jawab Reyhan lalu kembali membaca surat Yasin.
Setelah selesai mengambil air wudhu', Arjuna segera kembali ke tempat dimana Sang ayah berada.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan khusyuk di samping Reyhan.
Setelah beberapa saat, datanglah seorang ustadz untuk mengurus jenazah pak Setyo.
Mulai dari pemandian, pengkafanan hingga yang terakhir yaitu, pemakaman.
Seluruh anggota keluarga dan para sahabat yang datang untuk membela sungkawa, semua ikut mengiringi jenazah pak Teddy hingga ke pemakaman.
Tangis Reyhan dan Arjuna pecah kembali ketika melihat jenazah sang ayah di turunkan ke liang lahat.
" Papa...!" Reyhan menangis tersedu-sedu.
" Sabar nak, sabar, tabahkan hatimu." mommy Rita memeluk Reyhan selayaknya ia memeluk Arjuna.
Reyhan menangis, hatinya merasa sangat pilu. Telah di tinggalkan oleh ibunya semenjak ia dilahirkan, dan kini harus pula di tinggalkan oleh sang ayah.
Sementara itu, Rena sedang menatap ke sekeliling. Ia mencari-cari sahabatnya, Dhita.
Namun ia tidak bisa menemukannya.
" Kemana dia?" gumam Rena dalam hati.
Tak lama kemudian, pemakaman pun selesai. Semua orang telah meninggalkan tempat itu.
Kini, hanya tinggal Reyhan, Arjuna, mommy Rita dan Rena yang masih berdoa di atas pusara almarhum pak Teddy.
Sementara itu, di pintu masuk TPU seorang wanita sedang berdiri menatap ke arah pusara almarhum pak Teddy.
Wanita itu adalah Dhita, ia mengetahui semua itu dari Eza. Kebetulan Dhita saat itu datang ke kantor suaminya, ia ingin bertemu dengan Arjuna untuk mengajaknya pergi ke rumah sakit, untuk kembali membuktikan kebenaran bahwa dirinya memang tidak hamil.
Namun apa yang ia dapatkan, sebuah informasi yang sangat mengejutkan. Ia malah mendengar kabar bahwa ayah mertuanya meninggal dunia.
Dan yang lebih menyesakkan lagi, mengapa Arjuna tidak menghubunginya?
Semarah itukah Arjuna kepadanya?
Semua pertanyaan itu terus memenuhi pikiran Dhita.
" Dhita!" seru Rena yang saat itu sedang berjalan untuk pulang bersama dengan Arjuna dan mommy Rita.
Dhita hanya terdiam, melirik semua orang sekilas, lalu beranjak dari tempatnya menuju makam ayah mertuanya.
Melihat Dhita yang tidak begitu merespon membuat Rena curiga, hingga timbul sebuah tanda tanya di benaknya.
Dhita terduduk lesu di depan pusara sang ayah mertua. Setelah membaca doa untuk ayah mertuanya, Dhita menangis mengadukan seluruh masalah hidupnya.
__ADS_1