
Melihat kedatangan Citra yang mendekat ke arah mereka, justru membuat pak Setyo semakin emosi.
" Siapa kamu dan mengapa kamu membuat kerusuhan di sini?" tanya pak Setyo ketika Citra telah berada di tengah-tengah mereka.
" Kenalkan aku Citra, aku adalah tunangan Arjuna sebelum dia menikahi putri anda!" jawab Citra dengan santai.
" Tunangan?" pak Setyo hampir tidak percaya tentang kenyataan. Bagaimana mungkin putrinya bisa hidup diantara orang-orang seperti mereka.
Pak Setyo merasa bingung kehidupan seperti apa yang sedang di jalani oleh putri kesayangannya selama berada di kota ini.
" Ya, itu semua benar pak," terdengar sebuah jawaban tapi bukan dari Citra melainkan jawaban dari Arjuna yang telah berada di antara mereka karena ia khawatir Citra akan melakukan hal yang tidak-tidak.
Mendengar jawaban dari Arjuna, pak Setyo memicingkan kedua netranya.
" Jadi kamu menikahi Dhita pada saat kamu masih memiliki tunangan?" tanya pak Setyo lagi.
" Iya," mendengar pernyataan dari pria yang notabenenya adalah menantunya tersebut membuat telinga pak Setyo terasa panas.
" Itu semua terjadi sebelum saya mengetahui yang sebenarnya."
" Maksudmu?" Kembali pak Setyo di buat penasaran.
" Ayah percaya kan bahwa putrimu ini tidak akan melakukan hal yang melanggar agama?" tanya Dhita menatap wajah ayahnya.
" Ya nak, ayah akan selalu percaya padamu!" Jawab pak Setyo. Mengingat selama ini putrinya yang selalu jujur dan berhati-hati dalam setiap langkahnya.
" Ayah percaya kan kalau keputusan yang ku ambil adalah yang terbaik?" Dhita memahami pemikiran ayahnya yang sedang kalut.
Kembali pak Setyo mengangguk.
" Tapi bukankah dengan menjadi seseorang yang telah merebut tunangan orang lain, itu sama saja dengan melanggar agama?" tanya Citra berusaha mengombang ambingkan daya pikir pak Setyo.
" Semua itu tidak akan terjadi jika saja kau tidak memfitnah Dhita ku," ucap Arjuna.
Perlahan tapi pasti, Arjuna bercerita tentang semua kelicikan Citra mulai dari awal hingga akhir. Di tambah lagi dengan kesaksian Andrian yang menyatakan bahwa betapa besar rasa cinta kasih antara Dhita dan Arjuna.
Membuat pak Setyo memahami dengan segala hal yang menjadi keputusan putrinya untuk tetap bertahan dalam hubungannya.
" Pesan ku padamu nak Citra berhijrah lah, mungkin dengan begitu bisa membuat dirimu lebih bahagia!" pesan pak Setyo kepada Citra, mungkin dengan cara ini bisa membuat Citra merelakan Arjuna.
" Anda tidak usah menggurui ku pak tua, hanya aku yang berhak menentukan segala keputusan di dalam hidupku!" jawab Citra sembari berlalu pergi, percuma baginya untuk tetap berada di tempat itu hanya akan membuat dirinya malu.
__ADS_1
" Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian berbahagia selamanya !" Andrian berdoa untuk Arjuna dan Dhita setelah kepergian Citra.
" Terima kasih bang, MMM Bellinda mana?" tanya Dhita yang baru menyadari bahwa istri dari Andrian tidak ikut ketempat tersebut.
" Bellinda sedang tidak enak badan," jawab Andrian mengingat kandungan istrinya telah memasuki tri semester terakhir, membuat kesehatan wanita itu sedikit menurun.
Lalu mereka berbincang dengan penuh keakraban karena pak Setyo telah memaafkan Andrian sepenuhnya.
Setelah seharian penuh pesta itu pun usai. Semua para tamu satu persatu mulai meninggalkan tempat tersebut.
Begitu pun yang dilakukan oleh Arjuna dan Dhita, mereka segera berpamitan untuk membawa Dhita pulang ke rumah Arjuna.
Namun setelah orang tua mereka berpamitan terlebih dahulu, pak Setyo dan Bu Safitri memutuskan kembali pulang ke kampung tentunya bersama dengan orang tua Rena, mengingat mereka berasal dari kampung yang sama. Dengan diantar oleh sopir kepercayaan Reyhan.
*
*
*
Di tengah perjalanan pulang tiba-tiba mobil yang di tumpangi oleh Arjuna dan Dhita di kejar oleh segerombolan preman bermotor.
Drenn....
Drenn....
Treeettteetttteeetttt.....
Suara motor yang hampir memekakkan telinga berjalan mengelilingi mobil Arjuna.
Saat itu Arjuna yang hanya di dampingi oleh Dhita dan seorang sopirnya merasa kesal dan berniat hendak turun dari mobil.
" Jangan mas, Jangan turun mereka pasti akan mengeroyok mu!" larang Dhita khawatir mengingat jumlah preman yang begitu banyak sedangkan Arjuna hanya sendiri tanpa di dampingi oleh seorang pengawal pun.
" Kau tenang saja aku pasti bisa mengatasi semua ini," ucap Arjuna meyakinkan istrinya.
Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Arjuna membuka pintu mobil lalu keluar untuk menghadapi para preman tersebut.
Sedangkan Dhita hanya diam didalam mobil.
" Mau apa kalian?" tanya Arjuna dengan beringas, merasa dirinya tidak di hormati sama sekali sebagai orang terkaya di kota itu.
__ADS_1
" Nyawamu!" jawab Salah seorang preman tersebut, dia yang paling kasar dan mengerikan penampilannya di banding kan yang lain.
Mendengar jawaban dari preman yang rupanya adalah pimpinan dari para preman itu membuat Arjuna murka.
Dengan gagah berani Arjuna maju beberapa langkah tanpa ada rasa takut sedikitpun di hatinya.
Arjuna mengambil kuda-kuda untuk memperkokoh pertahanan nya bersiap menghadapi serangan dari musuh.
Plaakk.
Seorang preman menendang bagian tubuh belakang Arjuna hingga membuat Arjuna terjugkal kemudian yang lain pun memberikan tendangan yang sama. Namun Arjuna dengan gagah melawan para preman tersebut.
" Hyaaaa....!" teriak Arjuna melayangkan tendangan kakinya dengan keras ke arah salah satu preman hingga membuat preman tersebut jatuh terjerembab mengaduh kesakitan.
Melihat kawannya di serang preman yang lain tidak tinggal diam, mereka maju secara bersamaan dengan melayangkan beberapa pukulan yang bersarang ditubuh Arjuna.
BRUUKK.
BRUUKK.
PLAAKK
Tanpa berhenti sedikitpun mereka menghajar Arjuna tanpa ampun. Hingga membuat Arjuna terdesak dan kehilangan ruang geraknya.
Dalam sekejap kekuatan Arjuna berhasil di lumpuhkan.
" Mas Ar....!" pekik Dhita dari dalam mobil, tanpa berpikir panjang ia langsung membuka pintu mobil walau sebelumnya dilarang oleh sopir yang ketakutan melihat tuannya di kalahkan.
" Nona..jangan keluar non, bahaya!" seru si sopir namun tidak di dengarkan oleh Dhita yang telah berada di luar mobil berlari menghampiri suaminya yang sedang terkapar di tanah dalam ke adaan tidak berdaya.
" Mas, bangun mas." panggil Dhita sembari meletakkan kepala Arjuna di pangkuannya. Namun belum sempat Arjuna meraih wajah istrinya yang telah berderai air mata, beberapa orang preman tersebut langsung menarik tubuh Dhita menjauh dari Arjuna dengan kasar.
" Lepaskan...!" teriak Dhita namun hanya dibalas dengan suara tawa oleh para preman tersebut.
" Dhita... !" Arjuna berteriak memanggil istrinya yang telah di seret oleh para preman, hanya tangannya yang menggapai lemah tidak berdaya.
" Maafkan aku Dhi, karena diriku kau harus mengalami semua ini," lirih Arjuna sebelum pada akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri.
Dhita berusaha memberontak dengan seluruh kekuatannya namun apalah daya ia yang hanya seorang wanita lemah tak berdaya bagaikan selembar daun kering yang di hempaskan angin.
Karena Dhita terus memberontak salah satu dari preman tersebut mengambil selembar sapu tangan yang sebelumnya telah di semprot obat bius, kemudian di tutupkan pada hidung Dhita.
__ADS_1
Dalam hitungan detik saja obat bius tersebut berhasil membuat Dhita pingsan tak sadarkan diri.