
" Mengapa di kota kamu gak pernah naik motor mas?" tanya Dhita sambil menikmati pemandangan di sekitar jalan desa tersebut.
Sesekali ia berpapasan dengan para penduduk di desa itu, Dhita menganggukkan kepala sambil menyapa para penduduk yang di jumpainya.
" Karena di larang sama mommy." jawab Arjuna sambil terus melajukan motornya.
" Loh, kenapa?" tanya Dhita lagi sambil melihat ke kiri dan ke kanan jalan.
" Dulu pernah jatuh dari motor dan sejak saat itu mommy melarang ku naik motor." jawab Arjuna terkekeh.
Mendengar jawaban suaminya, Dhita tertawa riang sambil berkata.
" Aku jangan di buat jatuh ya mas," pinta Dhita menggoda suaminya, sambil menahan tawa yang membuat ia geli.
" Jangan kan jatuh dari motor, jatuh di atas kasur saja belum pernah." Arjuna membalas ucapan istrinya sembari terkekeh.
" Ya, maaf mas, suatu saat nanti aku lah yang akan membuat mu terjatuh di atas kasur." balas Dhita sambil menepuk pundak suaminya.
" Mas, mas, berhenti stop, stop!" seru Dhita tiba-tiba.
" Kenapa?" tanya Arjuna yang merasa aneh karena tiba-tiba saja istrinya menyuruh untuk berhenti.
" Lihatlah," Dhita menunjuk sebuah taman yang indah di seberang sungai.
Sebuah taman dengan dilengkapi perkemahan yang berada di dekat perairan membuat semakin indah pemandangan.
" Wah, indah sekali." gumam Arjuna penuh kekaguman melihat taman beraneka warna bunga yang sedang bermekaran.
" Iya mas, dulu aku sering ke mari bersama....." Dhita tidak meneruskan ucapannya.
" Bersama siapa?" tanya Arjuna mengerutkan kening sambil menatap istrinya dengan penuh tanda tanya.
" Emmm, dengan teman aku mas," jawab Dhita kebingungan.
Sebenarnya Dhita hanya beralasan, jawaban itu hanya untuk menjaga perasaan suaminya agar tidak cemburu.
Karena pada saat itu Dhita sering pergi ke taman itu bersama Andrian di saat weekend.
" Teman apa teman..," Arjuna menggoda Dhita sambil menyenggol tubuh wanita itu.
" Ah, terserah lah mas," ucap Dhita lalu berjalan mendahului Arjuna menyebrangi sungai kecil.
Ya, sungai kecil itulah satu-satunya pemisah jalan dengan taman tersebut.
Setelah memarkir motornya di pinggir jalan, Arjuna segera bergegas menyusul istrinya menyusuri sungai.
__ADS_1
Dhita yang sedang berjalan di depan, berbalik menghadap Arjuna yang berada di belakang nya.
Dhita memercikkan air sungai itu ke arah Arjuna membuat pria itu membalas memercikkan air.
Terjadilah permainan saling memercikkan air, suara tawa yang ceria menghiasi momen mereka saat itu.
Orang-orang yang berlalu-lalang tersenyum melihat pemandangan indah di depan mata.
Menyaksikan dua sejoli yang sedang kasmaran.
Hari pertama Dhita di kampung halamannya mampu mengembalikan keceriaan wanita tersebut.
" Mas, Jika aku tidak sembuh, apa kau akan menikah lagi mas?" tanya Dhita yang saat itu sedang duduk bersama Arjuna menikmati pemandangan indah di taman tersebut.
" Tidak!" jawab Arjuna segera dan singkat.
" Kenapa, bukankah kau butuh pelampiasan?" tanya Dhita lagi seraya menyandarkan kepala di dada Arjuna.
" Karena aku hanya menginginkan dirimu, bukan wanita lain jadi akan ku tunggu kau sampai kapan pun." jawab Arjuna dengan tegas.
Dhita memandang wajah tampan suaminya, memandangnya dengan lekat.
" Aku berjanji mas, aku akan segera sembuh, bantu aku untuk itu mas." pinta Dhita penuh harap.
" Tentu!" jawab Arjuna seraya membawa Dhita ke dalam pelukannya.
" Bagaimana hari ini?" tanya bu Safitri kepada putrinya.
" Alhamdulillaah Bu, sangat menyenangkan." jawab Dhita.
" Aku mandi dulu Bu," ujarnya lagi sambil terus melangkah ke dalam kamarnya di ikuti oleh Arjuna.
Saat itu mereka sedang Basah kuyup di karenakan sebelum pulang mereka masih bermain air di sungai.
Pak Setyo dan Bu Safitri hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
" Namanya juga anak muda Bu," ucap pak Setyo kepada istrinya.
Bu Safitri hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya lalu kembali ke dapur melanjutkan memasak untuk makan malam.
Sementara itu Arjuna dan Dhita yang telah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya menemui orang tua mereka.
Dhita menemani ibunya di dapur, sedangkan Arjuna bersama pak Setyo di ruang tamu saling mengobrol bertukar pikiran.
" Ayah lihat kau sering melamun, ada apa-apa?" tanya pak Setyo di sela-sela obrolan mereka.
__ADS_1
" Tidak apa-apa " jawab Arjuna.
" Ayah tahu kau sedang banyak pikiran, katakanlah barang kali ayah dapat membantu." ucap pak Setyo lagi.
Arjuna terdiam, ia tidak tahu harus kah mengatakan yang sejujurnya atau harus menyimpan rahasia itu sendiri.
" Jangan sungkan nak, kami telah menganggap mu sebagai anak kami sendiri, apakah kau tidak menganggap kami sebagai orang tua mu, sehingga kau akan memikul sendiri semua beban mu?" tanya pak Setyo terkesan memaksa.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari ayah mertuanya, Arjuna semakin tidak enak hati bila tetap menyembunyikan kebenaran itu, apalagi ini menyangkut tentang putri mereka sendiri.
" Hmmm..." Arjuna menghembuskan napasnya dengan berat.
" Begini yah, sebenarnya ini tentang Dhita, istri saya." jawab Arjuna yang langsung membuat pak Setyo terkejut.
Saking terkejutnya pak Setyo sampai melotot.
" Dhita, kenapa dengan Putri ku?" tanya pak Setyo dengan setengah berbisik setelah Arjuna memberinya kode agar tidak terlalu berisik.
Arjuna meletakkan jari telunjuknya di bibir, agar istrinya tidak mendengar semua itu.
Karena Arjuna khawatir Dhita akan merasa malu.
Kemudian Arjuna menjelaskan semuanya kepada pak Setyo, tentang kondisi Dhita yang sehat secara fisik namun tidak secara batin.
Bu Safitri yang sedang menuju ruang tamu untuk menyuguhkan kopi panas, tanpa sengaja mendengar semua percakapan antara suami dan menantunya.
" Benarkah separah itu kondisi putri kita pak?" tanya Bu Safitri dengan penuh linangan air mata.
" Secepatnya kita harus membawa Dhita ke tabib Bu," ucap pak Setyo.
" Tabib, kenapa bukan dokter?" tanya Arjuna merasa heran.
" Tabib sama seperti dokter, hanya saja pengobatannya lebih alami dan hanya menggunakan ramuan herbal." jawab pak Setyo menjelaskan.
" Dulu, ibu mu ini juga tabib yang mengobati, jika ibu mu bisa sembuh mengapa tidak dengan istri mu." ucap pak Setyo sembari menunjuk ke arah bu Safitri.
Arjuna hanya mengangguk mencoba untuk mengerti penjelasan dari pak Setyo.
" Maaf, nak Arjuna jika pertanyaan ibu ini menyinggung perasaanmu, tapi ibu harus tahu, agar nanti ibu bisa menjelaskan kepada tabib tentang kondisi istrimu," bu Safitri mengambil napas.
" Apakah selama kalian menikah, maksud ibu setelah istrimu sembuh dari operasi, apakah kalian pernah berhubungan?" tanya Bu Safitri dengan sedikit ragu, ia khawatir menantunya ini akan merasa tersinggung.
Mendapat pertanyaan dari ibu mertuanya, Arjuna tersenyum dengan menahan rasa malu.
Arjuna menggelengkan kepalanya tanpa menjawab sepatah katapun, kemudian ia menunduk.
__ADS_1
Melihat hal itu kedua orang tua Dhita merasa iba kepada anak dan menantu mereka, di dalam hati mereka berdoa agar semoga putri mereka secepatnya di beri kesembuhan lahir dan batin.