
Setelah peristiwa kebakaran yang hanya meninggalkan puing-puing hangus, namun hal itu tidak membuat Arjuna gentar.
Ia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menangani pembangunan pabrik itu kembali.
Arjuna tidak Mempermasalahkan besarnya kerugian yang harus ia terima akibat dari kebakaran tersebut, yang di perkirakan akibat dari konsleting nirkabel.
Arjuna membutuhkan waktu lama di sana, karena ia ingin mengawasi secara langsung pembangunan pabrik yang selama ini memberikan keuntungan besar baginya.
Pada pembangunan pabrik saat ini, Arjuna menambahkan sistem ke amanan pada beberapa bagian yang menurutnya penting, agar tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak di harapkan seperti sebelumnya.
Karena sangat sibuk, Arjuna tidak sempat untuk memberi kabar kepada Dhita dan mommy Rita.
Beruntung ada Eza yang selalu menyempatkan diri menghubungi istrinya di rumah.
Dari purilah, Dhita dan mommy Rita mendapat kabar tentang Arjuna.
Dhita yang masih tetap berada di kampung halamannya, tetap setia menunggu kedatangan kekasih hatinya.
Hari-hari ia lalui dengan sepi, tiada canda tawa yang menghiasi setiap detik hidupnya.
Namun ia tetap berusaha setegar mungkin walaupun di dalam hatinya ia merasa sangat tersiksa.
Bastian yang mengetahui hal itu, sering pergi ke desa untuk menemani saudara sepupunya agar tidak merasa kesepian.
Di dalam hati Bastian ia merasa sangat senang, sebab ia bisa mempererat hubungan nya sebagai saudara sepupu satu-satunya untuk Dhita.
Semakin hari mereka semakin akrab, Bu Safitri maupun pak Setyo tidak merasa keberatan putrinya sering bertemu dengan Bastian, Karena hubungan mereka adalah saudara sepupu.
Bahkan mereka sering pergi jalan-jalan berdua untuk sekedar menghibur Dhita.
" Suamimu tidak pernah menghubungimu?" tanya Bastian saat mendengar curhatan hati saudara sepupunya.
Dhita menggelengkan kepalanya.
" Tidak kak, kata Eza.... mas Ar sangat sibuk mengurus pembangunan pabriknya kembali, mungkin dia tidak punya waktu untuk berbagi kabar denganku." jawab Dhita, wajahnya memancarkan kesedihan.
Ya, Dhita sering VC an dengan Puri dan Rena untuk menghibur dirinya di kala kesepian. dan mendapatkan informasi tentang suaminya dari sana.
Mendengar penuturan sepupunya, Bastian merasa iba, ia berjanji di dalam hati selama Arjuna belum pulang, ia akan sering menemui sepupunya untuk sekedar menghiburnya.
*
*
Dua bulan kemudian.
__ADS_1
Dua bulan lamanya waktu yang di butuhkan oleh para pekerja untuk menyelesaikan pembangunan pabrik itu.
Kini tiba bagi Arjuna untuk kembali ke Indonesia, di mana di negara itulah jantung hatinya bersemi, setelah ia merasa pabrik itu aman-aman saja.
Arjuna tersenyum Membaca begitu banyak Chat yang masuk dan beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya.
Siapa lagi kalau bukan dari Dhita yang setiap waktu mengirimkan pesan kepadanya walaupun tidak pernah menerima balasan.
Dengan menggunakan pesawat, Arjuna dan Eza terbang ke negara tanah airnya.
Arjuna dan Eza sengaja tidak memberi kabar kepada istrinya di rumah, dengan catatan mereka berdua ingin memberikan kejutan.
Tepat jam 02.00 siang Arjuna dan Eza menginjakkan kakinya kembali di tanah airnya.
Tanpa membuang-buang waktu mereka segera bergegas kembali ke rumah masing-masing.
Arjuna memutuskan untuk menemui mommy Rita terlebih dahulu untuk menginfokan tentang pabrik yang telah selesai di bangun kembali, agar mommy Rita tidak khawatir lagi.
" Arjuna....!" pekik Mommy Rita ketika melihat putranya kembali dengan selamat.
" Mommy, apa kabar mom?" Arjuna menyalami ibunya seraya memeluknya.
" Baik Ar, bagaimana pabrik kita di sana?" mommy Rita bertanya balik.
" Syukurlah," ucap mommy Rita mengusap dadanya dengan penuh bahagia.
" Kau pasti lelah, sekarang istirahatlah!" mommy Rita melihat putranya sangat lesu, di karenakan ia kurang istirahat selama berada di Amrik.
" Ya mom, rencananya nanti sore aku akan menjemput istriku, apa kabarnya dia?" Arjuna bergumam.
" Ya lebih cepat kau jemput dia itu lebih baik, mommy sangat merindukannya." papar mommy Rita.
Arjuna hanya tersenyum seraya mengangguk, dalam hati ia juga membenarkan perkataan ibunya, kalau dirinya juga sangat merindukan istri tercintanya.
Sementara itu di rumah Eza, Puri sedang memasak. Entah mengapa semenjak kehamilannya ia lebih sering memasak sendiri walau sebenarnya ibu mertuanya selalu melarang dirinya untuk melakukan pekerjaan yang berat.
Namun, Puri merasa lebih puas jika makan masakannya sendiri.
Terdengar suara langkah mendekat, belum sempat Puri menoleh tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
" Beib!" seru Puri, yang langsung membuat Eza tertawa terkekeh.
" Bagaimana kau tahu?" tanya Eza merasa heran.
" Aku ini istrimu, bagaimana bisa aku tidak mengenalimu," jawab Puri.
__ADS_1
Sebagai seorang istri Puri mampu mengenali suaminya hanya dengan aroma tubuhnya saja.
" Kau memang istri yang terbaik," ucap Eza seraya melepaskan pelukannya, lalu berjongkok mensejajarkan dirinya dengan perut istrinya.
" Apa kabar jagoan papa HM, sudah melakukan apa hari ini?" Eza berbicara seolah calon bayinya bisa mendengar ucapannya.
" Kau ini, mana ada bayi dalam kandungan bisa melakukan apapun, ingat dia belum lahir," tukas Puri merasa geli dengan tingkat suaminya yang menurutnya sangat berlebihan.
" Biarkan saja, aku merindukannya dan juga dirimu." sahut Eza lalu mencium perut istrinya yang sedikit membuncit.
Di usia kandungan yang menginjak lima bulan, membuat Puri semakin berusaha untuk menjadi seorang ibu yang baik.
" Sekarang kau mandilah, nanti kita makan bersama." ucap Puri sambil terus menyiapkan masakan.
Eza pun menurut pergi ke kamarnya, sebab ia tidak ingin jika istrinya sampai mengomel dan akan menciptakan drama yang panjang.
Setelah selesai mempersiapkan makanan di atas meja, Puri segera menyusul suaminya ke dalam kamar.
Saat itu Eza sedang mengganti pakaiannya.
Puri mendekat entah mengapa ia ingin sekali menikmati aroma segar tubuh suaminya, mungkin ini bawaan dari kehamilannya.
" Sudah puas?" Eza menggoda Puri yang baru saja mengangkat kepala dari pundak nya.
" Bukan aku yang mau," jawab Puri ketus karena merasa kesal telah di ledek oleh suaminya.
" Nih!" Puri menunjuk ke arah perutnya, membuat Eza tertawa, Puri pun ikut tertawa.
Semakin lama usia pernikahan mereka semakin kental rasa cinta dan kasih di antara keduanya.
Di dalam pernikahan mereka berdua selalu bahagia, apapun yang mereka inginkan selalu saja tercapai.
Apalagi di dalam usia pernikahan yang belum terlalu lama mereka sedang menantikan kehadiran sang buah hati.
" Nanti kalau kau lahir ke dunia ini, papa akan ajak kamu main perang-perangan," sapa Eza sambil mengelus perut istrinya.
Eza tersenyum melihat perut yang setengah buncit itu, senang saja ia melihatnya, apalagi telah lama ia tidak bisa merasakan gerakan sang buah hati dikarenakan ia berada di Amrik.
" Sudah ayo kita makan, perutku sudah lapar anakmu minta makan." ajak Puri beranjak dari tempatnya.
Mendengar ucapan istrinya membuat Eza tersenyum.
" Baiklah ayo kita makan, biar dia cepat tumbuh dan lahir dengan selamat." jawab Eza.
" Sebanyak apapun aku makan, tetap saja harus menunggu empat bulan lagi suamiku," sahut Puri, mengingatkan suaminya yang terkesan ingin buah hati mereka secepatnya lahir ke dunia.
__ADS_1