Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 16 Pencarian


__ADS_3

Hari semakin sore sang jagat merah mulai menyembunyikan wajahnya di ufuk barat. waktu terus berjalan perlahan-lahan menjelang malam.


Puri dan Rena tampak gelisah berkali-kali mereka menghubungi Dhita, tapi tak ada jawaban. Dhita seakan menghilang begitu saja.


" Si Dhita kemana sih, jam segini belum pulang." ucap Rena khawatir.


" Ponsel nya aktif tapi gak di angkat, aneh... gak biasa-biasanya dia begini." timpal Puri


" Atau mungkin dia lagi sama Arjuna?" Rena menebak.


" Pantesan gak ingat waktu." lanjutnya.


Mendengar ucapan sahabatnya Puri langsung menghubungi Eza, ia pikir pasti Eza tau tentang ini.


*


*


*


Drerrrrt....


Drerrrrt....


Suara ponsel berdering.


" Hallo.." suara di seberang . Eza.


" Hallo .. beib...Dhita lagi sama Arjuna kan?." tanya Puri to the point.


" Kok nanyanya gitu sih sayang... gak nanya kabar aku nih..." Eza bercanda.


" Cepat jawab beib.. gak ada waktu." Puri tak sabar ingin memastikan posisi sahabatnya.


" Bentar aku liat dulu di ruangan nya."


Eza keluar dari ruangannya menuju ruangan Arjuna, yang letaknya bersebelahan dengan ruangannya.


Eza mengetuk pintu, mau langsung masuk ia takut kalau benar ada Dhita di dalam. Gak enak hati kan jadinya.


" Masuk." suara dari dalam, Arjuna.


" Ada apa Za,? apa ada laporan penting?." tanya Arjuna saat melihat sahabatnya masuk ke dalam ruangannya.


" Ini cewek ku telfon, dia nanya in Dhita, katanya Dhita belum pulang." jawab Eza.


Arjuna terkejut hingga kedua netranya membelalak. Saat itu ia sedang memegang sebuah cincin berlian di tangannya, setangkai bunga mawar merah tergeletak di atas meja.


" Kemarin aku menemuinya tapi dia menghindar." ucap Arjuna. Ia meletakkan cincin di atas meja.


Eza melihat kedua benda itu, benda yang tak pernah ia temui selama mereka bersahabat.


" Kamu mau ngelamar Dhita?" Eza bertanya.


"Ya tapi gak jadi." jawab Arjuna, lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.


" Loh kenapa? " Eza terkejut.


" Dia bersikap dingin padaku, entah apa sebabnya." Arjuna menghela napas panjang.


" Mungkin dia lagi datang bulan kali ." Eza berseloroh.


Arjuna menatapnya dengan pandangan tajam. Tanda ia tidak suka. " orang lagi bete' malah di ajak becanda." Arjuna bergumam dalam hati.


Drerrrrrtttt.....


Drerrrrrrrtt....


Ponsel eza kembali berdering.


"Hallo.. beib... gimana ? " Puri bertanya.


" Gak ada beib ini alArjuna di kantor sendirian."


" Hah..? " Puri langsung memutuskan panggilannya.

__ADS_1


" Gimana?" Rena penasaran melihat ekspresi sahabatnya.


Puri menggelengkan kepala perlahan-lahan.


" Astaghfirullah Dhita... kemana sih kamu?" Rena mulai panik.


*


*


*


Mendengar kabar gadis impiannya belum pulang, hati Arjuna merasa tidak tenang. Pikirannya kacau, susah payah ia berusaha fokus memeriksa dokumen-dokumen penting namun hanya bayangan Dhita yang selalu memenuhi isi kepalanya.


Ia mengirim chat pada Dhita, namun tak ada balasan.


" aneh... kok chatnya cuma di read doang, gak di balas." gumam arjuna dalam hati.


Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke apartement, mungkin saat ini gadis impiannya telah pulang. Tiba-tiba saja ia merindukan sosok Dhita.


Ia pun mengajak Eza untuk menemaninya. Di dalam mobil mereka bercakap-cakap.


" Emang kamu ada salah Ar, sama Dhita?" tanya Eza membuka percakapan.


" Nggak, aku juga bingung kenapa sikapnya tiba-tiba berubah." jawab Arjuna, menatap lurus ke depan.


" Kemarin aku ingin melamarnya, aku rasa dia juga punya perasaan yang sama padaku tapi entah kenapa dia menghindariku... apa dia ada laki-laki lain?" Arjuna menatap Eza yang sedang menyetir di sampingnya.


" Wah kalo masalahnya kayak gini.. aku nyerah bro, aku gak mau terlalu ikut campur urusan kalian tapi kita selidiki sama-sama nanti."


" Kenapa ya Za, giliran hatiku udah mantap ada aja rintangannya." Arjuna menunduk lesu.


" Sabar bro, aku yakin dia itu jodoh mu, hanya saja saat ini tuhan ingin menguji seberapa besar cintamu." ujar Eza.


" Tetap semangat bro, perjuangkan cintamu!" Eza memberi semangat pada sahabatnya." moga aja aku nggak ngalamin hal yang serupa dengan kamu ar." bisik Eza dalam hati.


Mereka terdiam, tak terdengar lagi percakapan antara keduanya, mereka tengah sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mobil terus melaju.


*


*


*


" Mereka pasti khawatir bang, ku mohon .... biarkan aku pulang..." suara Dhita memelas, berharap pria di depannya akan melepaskannya.


Andrian tersenyum setelah melihat ada chat yang masuk lagi. Fia menaikkan alisnya sebelah.


" Oh rupanya pemuja mu sedang mencari mu saat ini , ada hubungan apa kau dengannya?" Andrian menatap Dhita dengan tajam, rupanya ia cemburu jika Dhita dekat dengan laki-laki lain.


" Pemuja ku? siapa maksud mu bang?" Dhita tak mengerti.


" Arjuna." ucap Andrian dengan nada suara yang bergetar menahan rasa cemburu. Netranya memerah menatap Dhita.


Mendengar nama Arjuna wajah Dhita merona matanya berbinar, dengan mantap ia mengatakan.


" Aku mencintainya bang," ucap Dhita membalas tatapan Andrian.


Saat itu ia menyadari betapa ia merindukan pria tersebut, merindukan hangatnya pelukannya yang sempat ia rasakan walau hanya sesaat.


" Aku gak percaya, pasti kau hanya menjadikannya sebagai pelarian saja kan? mengisi hari-harimu yang kesepian." Andrian


" Tapi mulai sekarang itu tak perlu lagi karna aku sudah kembali untukmu, mari kita merajut kembali kisah kasih kita yang sempat tertunda." lanjut Andrian.


" Gila kau bang, kau udah beristri jangan macam-macam." sergah Dhita.


" Aku bukan pelakor, aku wanita baik-baik yang menjunjung tinggi harga diriku bang." lanjut nya.


Andrian tertawa lebar lalu pergi berlalu begitu saja, dengan membawa ponsel Dhita di tangannya. Sebenarnya bi Surti lah yang mengambil ponsel Dhita lalu memberikannya pada Andrian. Oleh karena itu Dhita tak dapat menghubungi kedua sahabatnya. Pintu di kunci kembali oleh Andrian.


"Bang ... buka bang... aku mau pulang." Dhita memukul -mukul pintu dengan kedua tangannya.


" Aku membeli Villa ini untukmu, jadi kau tidak akan kemana-mana." ucap Andrian dari arah luar.


" Kalian awasi dia, berikan semua yang dia butuhkan. Aku gak mau dia kenapa-napa." perintah Andrian pada ketiga anak buahnya.

__ADS_1


Bobby Roy dan Jonny mengangguk dengan patuh. Mereka adalah kaki tangan Andrian yang sangat setia padanya.


*


*


Di tengah perjalanan menuju rumahnya Andrian berpapasan dengan Arjuna dan Eza.


" Hai ..apa kabar tuan Arjuna akhirnya kita bertemu disini." ucap Andrian pada Arjuna. setelah mereka turun dari mobil masing-masing.


Mereka saling berjabat tangan.


" Anda mau kemana?" lanjutnya.


" Kami ada urusan, anda sendiri?" tanya Arjuna balik.


" Ah.. ya saya sedang ada meeting dengan klien." jawab Andrian berbohong. Ingin rasanya ia tertawa melihat wajah Arjuna yang tengah kebingungan. Pikirannya hanya menuju pada Dhita.


Pintu belakang mobil terbuka, tampaklah Rena dan Puri sedang turun dari mobil. Rupanya mereka berniat mencari keberadaan Dhita bersama-sama.


" Andrian? " ucap Rena matanya membulat, ia terkejut.


" Rena sahabatnya Dhita? tanya Andrian berputa-pura.


Rena mengangguk.


" Kamu tinggal di kota ini juga?" Rena bertanya menyelidiki.


" Iya ... saya pindah kesini karna urusan bisnis." Andrian.


" bagaimana kelanjutan kerja sama kita tuan Arjuna? apakah anda berminat untuk memperpanjang jangka waktunya?" Andrian mengingatkan bahwa kerja sama mereka hampir jatuh tempo kontrak.


" Semua urusan bisnis sudah di handle sama asisten pribadi saya nanti dia yang akan merekomendasikan nya pada anda." jawab Arjuna berusaha untuk tetap tenang.


" Baik lah kalau begitu saya pamit dulu, silahkan lanjutkan perjalanan anda tuan."


" Ya ..terima kasih."


Andrian kembali memasuki mobilnya, ia tersenyum di balik kaca mobil menatap tajam ke arah Arjuna.


" Kau bisa saja mengalahkan ku dalam segala hal, tapi tidak dengan urusan cinta akan ku buktikan padamu bahwa diriku lebih lihai darimu." Andrian bergumam, memang ia akui Arjuna lebih segalanya dari dirinya.


Arjuna lebih tampan, lebih kaya, lebih menguasai dalam bidang bisnis bahkan Arjuna lebih baik dan lebih tulus mencintai Dhita.


Andrian pun pergi.


" Kamu kenal dengannya?" tanya Arjuna pada Rena, penasaran.


" Ya, dia itu....." Rena melirik Puri, ia bingung harus berkata apa.


Puri mengangguk.


" Andrian Alvaro mantan kekasih Dhita." Puri menatap mata Arjuna ingin tau reaksi pria itu, apakah benar ia ada perasaan untuk Dhita.


" Mantan kekasih..." Arjuna syok mendengar penuturan Puri. " bagaimana bisa?" tapi ia tetap berusaha untuk tenang.


" Ya... mereka menjalin hubungan kurang lebih lima tahun, saat itu kami masih di kampung dan Andrian membuka cabang usaha barunya tidak jauh dari perkampungan kami, " Rena menjelaskan, karna hanya ia yang tau detail hubungan Dhita dan Andrian.


" Bahkan mereka hampir menikah." lanjutnya.


" Menikah? lalu bagaimana bisa mereka berpisah?" tanya Arjuna ia makin penasaran. Darah nya seakan mendidih mengetahui kenyataan itu.


" Andrian berkhianat dihari pernikahannya." Rena menjelaskan insiden peristiwa saat itu, peristiwa yang memberikan tekanan batin pada sahabatnya.


Arjuna menunduk sedih, bulir bening menetes di sudut matanya. Seakan ia mampu merasakan apa yang dialami gadis impiannya.


" Tak ku sangka ternyata perjalanan hidupnya begitu pahit, bagaimana bisa dia menjalani hari-harinya selama ini." Eza menimpali percakapan mereka .


" Dia tak pernah ingin orang lain mengetahuinya, sebab itu dia menjadi pendiam." Rena.


" Jadi ini alasannya dia menghindar dariku." ucap Arjuna.


" Aku harap kamu sabar jangan menyerah tetap perjuangkan cintamu, kami berharap kamu bisa mengubah kenangan pahit ini menjadi lebih indah." Puri memberi dukungan.


Arjuna terdiam.

__ADS_1


" Aku jadi makin khawatir, kalo sampai Dhita tau Andrian ada disini, gimana perasaannya." Rena kembali teringat Dhita.


__ADS_2