
" Assalamualaikum!" terdengar suara salam dari depan pintu yang kebetulan masih terbuka.
" Wa'alaikumsalam!" Reyhan menjawab salam sembari beranjak dari tempat duduknya.
" Kakak!" seru Reyhan yang membuat semua orang memandang ke arahnya.
" Siapa Rey?" tanya mommy Rita seraya ikut beranjak dari tempatnya.
" Kak Arjuna mom."
Kemudian tampaklah Arjuna dan kedua mertuanya sedang berjalan memasuki rumah Reyhan. Sedangkan Dhita dan Puri berjalan di belakang mereka.
" Ri, pelan-pelan ya jalannya!" bisik Dhita sebelum memasuki rumah Reyhan.
" Kenapa?" Puri bingung mengapa sahabatnya ini menyuruhnya untuk berjalan perlahan.
" Ehh.... anu, pokoknya pelan-pelan ya." Dhita merasa risih untuk memberikan jawaban dari pertanyaan sahabatnya.
Sebenarnya ia masih merasa sakit di bawah sana, apalagi jika berjalan terlalu cepat.
Puri mengangguk sambil tersenyum terkekeh.
Karena ia telah menduga kalau sahabatnya telah melewati ******** bersama suaminya.
Akhirnya mereka berjalan dengan begitu perlahan memasuki rumah sahabatnya.
" Kami turut berbela sungkawa." ucap pak Setyo kepada Reyhan.
" Iya pak, terima kasih." jawab Reyhan.
Akhirnya mereka bercakap-cakap penuh kekeluargaan.
" Mari makan dulu, makanan telah siap di hidangkan." tiba-tiba mommy Rita bersuara, setelah sedari tadi menghilang dan pergi kebelakang.
" Oh iya mari, mari mas Setyo dan Mbakyu Safitri, mari kita makan bersama." Pak Bambang juga mengajak pak Setyo dan Bu Safitri.
" Mari dik Bambang, nanti kami menyusul saja." jawab pak Setyo.
" Lebih baik kita makan bersama-sama." lanjut Dhita setelah sekian lama terdiam.
Sedangkan bagi Rena, hal yang paling di butuhkan adalah kasih sayang dan perhatian. Sama seperti yang di alami oleh Puri saat ini,
ia yang merasa bahagia berada di tengah-tengah keluarga yang sangat harmonis.
Tak lama kemudian, mereka telah berkumpul bersama di meja makan.
Belum selesai mereka makan, terdengar suara seseorang dari depan rumah.
__ADS_1
Kebetulan saat itu Dhita masih belum mengambil sedikit makanan pun untuk di makan. Akhirnya Dhita memutuskan untuk menemui nya, sebab di antara semua orang hanya dia yang belum makan.
" Kak Bastian!" seru Dhita bahagia setelah melihat sosok orang yang berdiri di depannya.
Mendengar suara Bastian, Arjuna yang sedang hendak menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya segera beranjak dari tempatnya.
" Oh, ada Bastian mari kita makan bersama." Arjuna mengajak Bastian untuk makan bersama.
Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu, melainkan ia tidak ingin istrinya terus berduaan dengan pria yang bernama Bastian tersebut.
Karena tidak ingin mencari masalah dengan menolak ajakan dari adik iparnya, Bastian terpaksa menuruti dan bergabung bersama dengan yang lainnya di meja makan.
" Apa kabar mu nak Andrian?" tanya pak Setyo kepada keponakannya.
" Baik paman, bibi kapan kalian kemari? mengapa tidak menghubungiku?" Bastian bertanya kepada pak Setyo.
" Baru tadi pagi nak Bastian," ucap pak Setyo.
Dhita yang melihat saudara sepupunya hanya diam saja, akhirnya dia memutuskan untuk mengambilkan makanan untuk Bastian. Melihat semua itu membuat Arjuna mengepalkan tangannya di samping meja makan.
Apalagi ketika ia melihat Bastian tersenyum kepada Dhita semakin membuat hatinya merasa panas.
" Awas jika sampai dia macam-macam, tak akan kubiarkan dia hidup tenang ." batin Arjuna, sedangkan Reyhan yang tidak mengetahui apapun tampak makan dengan lahapnya.
Kecuali Rena, ia hanya duduk diam di samping ibunya, Rena sama sekali tidak ingin menyentuh makanan itu, dikarenakan ia tidak ingin jika merusak kebahagiaan di antara para tamunya.
" Kau tidak makan Ren?" tanya Dhita ketika hanya melihat sahabatnya diam saja.
" Oh tidak, aku telah makan tadi, jadi masih kenyang." jawab Rena berbohong.
Mendapat jawaban yang meyakinkan dari Rena, Dhita pun meneruskan makannya.
Setelah selesai makan bersama, mereka pun kembali ke ruang tamu untuk saling berbagi pengalaman.
Tampak terlihat suatu kebersamaan yang harmonis di antara Mereka, dengan keakraban yang terjalin semakin mempererat tali persaudaraan mereka.
Setelah beberapa lama dan menyampaikan sebab kedatangannya, akhirnya Bastian pun undur diri.
" Ibu, ayah, malam ini kalian menginap di sini ya!" ucap Rena, yang masih sangat merindukan kedua orang tuanya.
" Tentu saja nak, kami akan menginap selama beberapa hari." jawab Bu Asri dengan tersenyum.
" Wah, aku sangat senang sekali!" jawab Rena.
" kalau begitu kami pulang dulu," ucap Bu Safitri, maksudnya pulang kerumah menantunya. Karena ia juga merasa akan menginap beberapa hari di sana.
Setelah berpamitan, mereka pun pergi. Puri lebih memilih agar di antarkan saja kerumahnya, dikarenakan ia ingin segera beristirahat karena terlalu lelah.
__ADS_1
*
*
Di mansion Arjuna.
Arjuna yang telah sampai di rumahnya, bersama istri dan kedua mertuanya. Kemudian Arjuna memerintahkan kepada pelayan untuk mengantarkan kedua mertuanya ke kamar yang telah di persiapkan sebelumnya.
" Sayang," panggil Arjuna kepada Dhita ketika mereka telah berada di dalam kamar.
" Ya mas, ada apa?" tanya Dhita tanpa menoleh ke arah suaminya,
Sedangkan tangannya sibuk mengotak Atik ponsel yang dipegangnya.
Merasa tidak begitu di respon oleh istrinya, Arjuna menghampiri Dhita yang masih memainkan ponselnya.
Tanpa banyak bicara Arjuna segera ******* bibir kenyal milik Dhita, sedangkan wanita itu hanya diam menikmati tautan bibir mereka.
" Mas!" desah Dhita lirih saat tautan bibir mereka lepas, namun itu hanya sebentar saja, karena pada detik berikutnya bibir mereka kembali bersatu.
Dan kali ini Dhita ikut membalas setiap tautan bibir mereka.
" Mas, sudah!" kata-kata itu terdengar bergetar keluar dari mulut manis seorang Dhita.
Tangannya berusaha menahan dada bidang suaminya saat pria itu mulai akan melancarkan aksinya.
" Diamlah, aku akan melakukannya dengan lembut!" bisik Arjuna ketika ia merasa istrinya ingin menghindar.
Mendengar ucapan suaminya, Dhita mulai melonggarkan tubuhnya, membuat Arjuna tersenyum puas.
Lama mereka saling terbuai dalam alunan asmara, menikmati setiap inchi kenikmatan dunia. Membuat mereka terlena dalam dekapan sang asmara.
Namun kali ini Dhita tidak merasakan sakit seperti semalam. Justru ia mulai belajar membalas setiap sentuhan suaminya.
" Terima kasih istriku," bisik Arjuna seraya mengecup kening istrinya dengan mesra, sebelum ia memindahkan tubuhnya dari tubuh sang istri.
Keringat bercucuran membasahi keduanya.
Arjuna merasa bahagia karena ia memiliki istri yang penurut dan patuh kepadanya.
" Mas, biarkan aku tidur." lirih Dhita karena ia telah tidak tahan menahan kantuknya, karena sejak semalam Arjuna tidak membiarkannya tidur nyenyak.
" Tidurlah sayang, mimpilah yang indah." ucap Arjuna sembari mengecup kembali, namun kali ini berbeda bukan di kening, melainkan di pipi Dhita.
Tanpa menjawab ucapan suaminya, Dhita langsung memejamkan kedua matanya. Bersiap untuk berkeliling di alam mimpi.
Arjuna memandang wajah cantik sang istri dengan tatapan penuh kasih sayang.
__ADS_1