
"Sudah, jangan dibahas lagi!" protes Arjuna.
"Ya, maaf," sahut Eza sembari cengar-cengir.
Maklumlah Arjuna tidak ingin membahas tentang Fanny, mantan istrinya. Karena itu sama saja dengan dirinya menoreh luka lama.
"Ada apa dengan Fanny? apa ada kaitannya dengan hal ini?" Eza yang penasaran masih saja bertanya tentang hal itu.
"Kami pernah bertemu sebelumnya," jawab Arjuna.
Tiba -tiba Arjuna teringat tentang pertemuannya dengan wanita itu.
"Dia pernah mengaku-ngaku sebagai ibu dari Ansel!" lanjut Arjuna.
"Kok bisa?" Eza terperangah mendengar ucapan sahabatnya.
Sontak membuat Eza menghentikan mobil yang sedang di kemudikannya.
SREEET.....!
"Aw, hati-hati Za!" pekik Arjuna ketika kepalanya membentur kaca mobil.
"Sorry Bro!" seru Eza.
"Bagaimana bisa, Fanny mengaku-ngaku menjadi ibu dari putramu?" lanjut Eza merasa heran.
"Pasti dia yang telah menculik putraku, karena saat kedua bayi ku hilang, anak buahku menemukan Diana di dalam kamar mandi sedang menangis." jawab Arjuna, mengingat saat pertama kali di temukan putrinya di kamar mandi rumah sakit.
Eza kembali menjalankan mobilnya secara perlahan.
"Mungkin karena Diana menangis, makanya Fanny meninggalkannya di kamar mandi!" celetuk Eza.
"Ya, jika saja tidak, maka dapat di pastikan kalau kedua bayiku pasti akan di bawanya pergi." Arjuna membenarkan ucapan sahabatnya.
"Mari kita kesana, kita buktikan kepada wanita ****** itu siapa kita sebenarnya, dia belum tahu sedang berhadapan dengan siapa," celetuk Eza sembari menyetir mobil, namun kali ini lebih hati-hati.
"Tidak semudah itu Za, Fanny memiliki komplotan kelompok yang sangat sadis,"ujar Arjuna memandang wajah sahabatnya dengan dengan serius.
"Komplotan sadis?" Eza mengulang perkataan Arjuna.
"Ya, bahkan saat ini Reyhan telah di serang oleh mereka,"
"Bagaimana bisa Reyhan di serang?"
"Karena Reyhan berhasil mengikuti komplotan itu dan mendengarkan obrolan salah satu dari mereka dengan seorang wanita, aku rasa wanita itu adalah Fanny." papar Arjuna dan membuat Eza menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana kondisi Reyhan?" tanya Eza, merasa khawatir dengan keadaan adik dari sahabatnya.
"Buta, Reyhan mengalami kebutaan akibat dari perbuatan mereka yang sadis, untung dia berhasil di selamatkan!"
Eza mendengarkan cerita Arjuna dengan seksama, telah terbayang di dalam benaknya betapa bahayanya mereka.
Tepat jam 02.45 siang, Arjuna dan Eza telah sampai di depan rumah yang mereka tuju.
"Alamatnya benar, tapi mengapa sepi?" bisik Eza kepada Arjuna yang langsung membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Entahlah!" jawab Arjuna seraya melihat sekeliling kalau-kalau ada seseorang yang bisa ia tanyai.
"Maaf pak boleh saya bertanya?" ucap Arjuna ketika ia melihat seorang pria sedang berjalan ke arahnya.
"Ya, silahkan!" jawab Orang itu.
"Kemana pemilik rumah ini pak? kok terlihat sepi?" tanya Arjuna dengan sopan.
Semarah apapun dirinya, Arjuna harus tetap bersikap sopan kepada orang lain, apalagi orang itu tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan masalah yang sedang menimpa dirinya.
"Oh Nona Fanny, baru tadi pagi dia pindah." jawab orang itu yang membuat Arjuna terkejut seketika.
"Apa dia membawa seorang bayi pak?" Eza pun ikut bertanya.
"Ya, Nona Fanny membawa putranya juga asisten rumah tangganya."
"Saya dengar sih, keluar negri, tapi tidak tahu dimana." jawab Orang itu kemudian pergi setelah Arjuna dan Eza mengucapkan terima kasih.
Arjuna terdiam, begitu pula dengan Eza.
"Bagaimana ini Za, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Arjuna merasa gelisah.
"Kita tidak tahu mereka pergi kemana, tapi kalau keluar negri, kurasa mereka harus melewati bandara dulu." jawab Eza.. yang kemudian membuat Arjuna membulatkan kedua matanya.
"Ya, kau benar, mari kita ke bandara!"
Dengan penuh semangat, Arjuna maupun Eza segera pergi menuju ke bandara.
Sekitar setengah jam mereka menghabiskan waktu menuju ke bandara dengan kecepatan yang begitu tinggi. Akhirnya mereka sampai di tempat itu.
Di bandara Yogyakarta Internasional Airport ( YIA ), tampak banyak orang berlalu lalang dengan aktifitas masing-masing.
Arjuna maupun Eza, segera mencari keberadaan Fanny. Mereka pergi menuju ke ke ruang staff informan atau boarding gate, untuk mengetahui keberadaan Fanny saat ini, di karenakan tidak mungkin bagi mereka untuk mencari wanita itu di tengah ramainya para penumpang.
Benar saja, Staff informan atau boarding gate itu mengatakan kalau pesawat yang akan di tumpangi oleh Fanny akan berangkat lima menit lagi.
__ADS_1
Dan itu membuat Arjuna maupun Eza, segera bergegas mencari keberadaan mereka di boarding launge.
Para penumpang termasuk Fanny dan bi Murni, secara tertib menaiki Garbarata atau di sebut juga tangga belalai yang menghubungkan ruang tunggu penumpang dengan pintu pesawat.
Arjuna dan Eza berlari sangat kencang karena mereka tidak ingin ketinggalan pesawat itu, yang akan membawa buah hati Arjuna.
Terdengar suara informan.
"Perhatian-perhatian, pesawat Air Asia Indonesia akan segera Take off satu menit lagi, demikian informasi dari kami, terimakasih!"
Mendengar suara informan tersebut, Arjuna maupun Eza semakin mempercepat langkah mereka berlari.
"Ardhi, tunggu Daddy!" teriak Arjuna seakan suaranya akan terdengar oleh putranya.
Karena jarak yang begitu jauh, membuat mereka membutuhkan waktu sedikit lama untuk sampai di boarding launge.
Dengan napas terengah-engah, Arjuna dan Eza tiba disana. namun, pintu pesawat telah tertutup.
Seorang pilot mulai melakukan aksinya, dan beberapa detik kemudian roda pesawat bergerak perlahan semakin lama semakin cepat dan akhirnya lepas landas di udara.
Melihat hal itu Arjuna berteriak.
"ARDHI....!!" suara Arjuna menggema memenuhi seluruh bandara.
Napas Arjuna terengah-engah dengan tatapan mata lurus ke atas memandangi pesawat Air Asia Indonesia yang telah membubung tinggi di angkasa.
Tubuh Arjuna terasa lemas, seketika ia berlutut dengan air mata yang berurai.
"Aku gagal, sekali lagi aku gagal...!!" Arjuna masih berteriak dengan suaranya yang lantang.
Rasa sesal telah menyelimuti seluruh hati dan jiwanya.
"Ar sabar, aku mengerti perasaanmu!" hibur Eza, mencoba menenangkan sahabatnya.
"Aku benar-benar manusia tidak berguna, berulang kali putraku memberikan isyarat. Namun, aku sama sekali tidak memperdulikannya." dengus Arjuna kepada dirinya sendiri.
"Ar, jangan seperti itu, malu di lihat banyak orang." ucap Eza yang saat itu menyadari begitu banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.
Arjuna menatap sekeliling, dan benar saja apa yang di katakan oleh sahabatnya. Hampir tujuh puluh persen pasang mata menatap dirinya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Mereka pasti bingung, mengapa seorang CEO ternama menangis di tengah boarding launge."
"Biarkan saja mereka berpikir seperti apapun, aku tidak perduli!" sentak Arjuna entah kepada siapa, karena saat itu ia tidak sedang mengajak bicara Eza.
"Aku mengerti perasaanmu, lebih baik sekarang kau pulang, biar ku antar." Eza berusaha membujuk sahabatnya yang masih berlutut di tempat itu.
__ADS_1
Mau atau tidak, akhirnya Arjuna dapat di bujuk oleh Eza. Namun, setelah melalui proses yang panjang hingga membuat Eza kehilangan kata-kata untuk membujuk sahabatnya.