Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 55 Tamparan keras.


__ADS_3

Sementara itu sebelum Arjuna dan Eza tiba di tempat Dhita, Citra terlebih dahulu sampai di sana. Citra datang dengan pakaian yang sobek di bagian dadanya dan penampilan yang sangat berantakan.


" Citra!" seru Dhita dengan tatapan penuh tanya, melihat penampilan wanita itu yang tak seperti biasanya.


" Dhita, aku... aku tidak tau lagi harus bagaimana, aku juga tidak tau harus mengeluh pada siapa hiks...hiks...." tangis Citra penuh ratapan hingga membuat hati nurani Dhita menjadi iba padanya.


" Ada apa ini, Citra katakanlah kamu kenapa, apa yang terjadi sama kamu?" tanya Dhita bertubi-tubi.


Citra menangis sesenggukan hingga membuat seluruh tubuhnya berguncang.


Dhita yang merasa tidak tega langsung memeluk wanita di depannya, wanita yang telah merenggut kebahagiaannya.


Mendapat pelukan hangat dari Dhita, Citra merasa cukup puas rencananya berhasil.


Ya Citra telah merencanakan ini sebelumnya, seperti biasanya ia selalu menggunakan cara licik untuk mendapatkan apa yang di inginkannya.


Setelah rencananya gagal untuk menjebak Arjuna, Citra memutar otak berpikir keras melakukan langkah selanjutnya.


Akhirnya Citra memutuskan untuk pergi menemui Dhita, hanya dialah satu-satunya orang yang bisa memuluskan rencananya. Tentunya dengan akting yang sangat mengharukan, layaknya seorang aktris papan atas.


" Arjuna dia....hiks..hiks.." Citra sesenggukan hingga tak mampu meneruskan kata-katanya.


" Apa yang telah dilakukan Arjuna padamu?" tanya Dhita, ia cukup terkejut mendengar nama pria itu di sebut-sebut.


Citra melerai pelukan Dhita, menundukkan kepala dengan air mata yang terus bercucuran.


Melihat sikap Citra akhirnya Dhita mengerti, sebagai sesama wanita ia tak perlu mendapatkan jawaban dari Citra karena semua jawaban itu telah terlihat jelas di depan matanya.


" Sabarlah, aku mengerti perasaanmu." Dhita berusaha menenangkan Citra, walau Dhita sebenarnya masih memiliki rasa kecewa kepada wanita itu namun hati nurani nya tidak akan pernah tega membiarkan wanita lain dalam keadaan seperti itu.


Dhita meraih sehelai hijab pasmina yang terletak di atas sofa, lalu memakaikannya pada Citra. Hingga membuat bagian atas tubuh Citra tertutupi.


" Aku takut Dhi, aku takut kalau dia akan meninggalkanku walau bagaimanapun dia melakukan semuanya padaku dalam keadaan mabuk, " ucap Citra di antara Isak tangis yang sengaja di buat-buat.


Dhita terdiam, masih terlintas di dalam ingatannya beberapa bulan yang lalu, saat Arjuna ingin melakukan sesuatu padanya, meski pria itu mengatakan tanpa sengaja. Beruntung ia masih bisa menghindar dan melindungi dirinya dari kesesatan hingga ia tidak perlu mengalami kenyataan yang sedang di alami Citra saat ini.


Setidaknya itulah yang sedang di pikirkan Dhita.


" Mabuk? Mas Arjuna mabuk?" tanya Dhita hampir tak percaya. Selama ini Dhita tidak pernah melihat ataupun mendengar pria itu dengan kata-kata mabuk, sebab yang ia kenal Arjuna adalah pria yang baik.


Citra menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Ya, dia mabuk bahkan terang-terangan dia memaksa ku untuk....." Citra tak meneruskan perkataannya. Ia harap Dhita akan percaya dengan semua kebohongannya.


" Kuatkan dirimu Citra, aku yakin kamu wanita yang tegar." ucap Dhita berusaha menenangkan Citra, rupanya ia telah termakan dusta yang di katakan oleh Citra.


" Aku tidak yakin kalau hubungan ini tidak akan menumbuhkan benih di dalam rahimku." ucap Citra dengan sengaja mengaduk emosi Dhita.


" Aku yang akan membuat Arjuna tetap bersamamu!" seru Dhita, suaranya terdengar sedikit bergetar menahan amarah yang mulai melanda hatinya.


Tiba-tiba.


Tok.


Tok.


Tok.


Terdengar suara pintu diketuk.


" Sebentar !" seru Dhita sambil beranjak dari duduknya, melangkah menuju pintu.


Tap.


Tap.


Tap.


Arjuna.


Orang itu adalah Arjuna yang datang bersama Eza.


" Dhi !" seru Arjuna berusaha untuk meraih Dhita. Namun tangan Dhita segera menepisnya.


" Bagus kamu datang mas," ucap Dhita dengan nada sinis.


Arjuna dan Eza mengerutkan dahi mendengar ucapan Dhita.


Namun Itu tak berlangsung lama ketika mereka melihat Citra yang sedang duduk di atas sofa.


Arjuna dan Eza pun memiliki pemikiran yang sama. Sama-sama menduga bahwa Citra memiliki rencana busuk.


" Untuk apa kau kemari!" seru Arjuna menatap Citra dengan beringas.

__ADS_1


" Jangan pernah berkata kasar pada wanita." namun ucapan tersebut bukan berasal dari Citra melainkan dari Dhita yang sedang menatap Arjuna dengan tatapan yang menghunus mematikan.


" Apalagi wanita itu telah kau renggut segalanya." lanjut Dhita masih tetap dengan tatapannya yang mematikan.


" Apa maksudmu?" tanya Arjuna tidak mengerti tujuan dari ucapan Dhita.


" Cih, haruskah aku jelaskan panjang dan lebar, kau yakin tidak akan malu sendiri." jawab Dhita dengan mengangkat sebelah bibirnya, tersenyum sinis.


" Apa yang telah kau katakan padanya?" kali ini Arjuna bertanya kepada Citra.


" Mengapa kamu masih bertanya Ar, kau lupa malam indah kita?" Citra bangkit dari duduknya menghadap Arjuna yang sedang menatapnya dengan intens.


" Malam indah, malam indah yang mana, seujung kuku pun aku tak sudi menyentuhmu, dasar wanita ******." Arjuna mulai kehilangan kesabarannya hingga tanpa terasa ia telah memaki Citra


Praakk.


Sebuah tamparan keras mendarat di sebelah pipi Arjuna, bukan dari Citra melainkan dari Dhita yang sejak tadi mengepalkan tangannya erat-erat.


Mendapat tamparan yang cukup keras Arjuna terkejut, jika saja tamparan itu bukan dari Dhita, wanita yang sangat di cintainya maka bukan tak mungkin ia akan membalas nya dengan seribu kali tamparan.


Arjuna hanya diam sambil mengusap bagian pipi sebelahnya yang mulai memerah.


" Wahai tuan Arjuna yang terhormat, aku kira anda adalah pria yang baik dan tidak akan lari dari tanggung jawab." ucap Dhita sambil memicingkan matanya, bahkan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


Citra tersenyum merasa dirinya di bela, kini Dhita mulai mendukungnya.


" Dhita, kamu salah paham ini semua tidak seperti apa yang di katakan oleh Citra." ucap Eza menyela pembicaraan Dhita dan Arjuna. Kedua matanya melotot, wajahnya merah padam. Eza tidak terima sahabatnya di perlakukan seperti itu.


Arjuna mengangkat sebelah tangannya.


" Biarkan saja Za, biar dia mengatakan apapun yang ingin ia katakan, aku disini untuk mendengarnya." ucap Arjuna kemudian.


" Tidak Ar, dia harus tau apa yang sebenarnya terjadi," Ucap Eza.


" Arjuna sama sekali tidak bersalah, dia tidak melakukan apapun padanya, jadi jangan pernah kau percaya pada wanita ini." Eza menunjuk ke arah Citra dengan jari telunjuknya. Eza terlihat sangat marah pada Citra.


Eza merasa tidak terima sahabatnya di fitnah seperti itu.


" Dan kau Citra, berhentilah untuk selalu membuat masalah, sadarlah Arjuna bukan untukmu jadi kau jangan terlalu memaksakan diri." ucap Eza pada Citra, seketika Citra yang berpura-pura sedih kini melototkan kedua matanya.


" Apa maksudmu Za, kau menuduhku berbohong?" tanya Citra berpura-pura naif.

__ADS_1


__ADS_2