
Mendengar persetujuan Arjuna, Akhirnya Dhita merasa lega, apalagi Bu Devina, ia sungguh merasa sangat puas, akhirnya keinginannya untuk menikahkan putrinya dengan Arjuna, orang terkaya di kota itu, akan segera menjadi kenyataan.
" Tidak perlu nak Arjuna, tidak perlu menikahi putriku," gumam bu Devina berpura-pura, meskipun sebenarnya ia sangat senang.
" Tidak apa-apa Tante, hanya sekedar menikahinya bukan, bagiku itu tidak masalah!" Arjuna menatap istrinya dengan pandangan yang menakutkan.
Jika saja permintaan itu bukanlah berasal dari wanita yang sangat di cintainya, tidak mungkin ia akan menurutinya. Di tambah lagi wanita itu sedang mengandung buah hatinya, jadi Arjuna menganggap permintaan itu di sebabkan karena ngidam.
" Pernikahan ini harus dilakukan secepatnya, Tante bukankah lebih cepat itu lebih baik?" Dhita meminta persetujuan dari Bu Devina.
" Terserah nak Dhita saja!" jawab Bu Devina, di dalam hati ia bersorak gembira.
" Baiklah, pernikahannya akan di adakan besok pagi." Dhita mengejutkan Arjuna yang sedang cemberut.
" Apa? bagaimana bisa secepat itu?" Arjuna melotot dengan rahang yang mengeras.
" Bukankan kau telah menyetujuinya, jadi apa masalahnya?" Dhita tidak menghiraukan Arjuna yang sedang terkejut.
" Aneh, benar-benar wanita aneh," batin Arjuna, ia merasa sikap istrinya terhadap Citra sangatlah berlebihan.
" Nak Dhita dan Nak Arjuna mari kita makan dulu!" ajak bu Devina, setelah asisten rumah tangganya menginformasikan bahwa makanan telah siap.
" Tidak perlu Tante," tolak Arjuna.
" Kami permisi dulu!"
Arjuna kemudian melangkah keluar dari kamar itu, Dengan perasaan kesal dan marah berbaur menjadi satu. Namun apa daya, ia hanya bisa menuruti keinginan istrinya yang tidak masuk akal.
Melihat suaminya telah menghilang di balik pintu, Dhita segera berpamitan, setelah sebelumnya ia terlebih dahulu membelai rambut Citra dengan penuh kasih sayang.
" Aku pulang dulu ya Cit, besok aku akan kembali bersama calon suamimu." ucap Dhita dengan tulus.
Namun ketulusan itu mungkin akan di tertawakan oleh banyak orang.
Ya, itulah Dhita wanita yang bisa melakukan apapun yang tidak bisa di lakukan oleh orang lain.
Setelah berpamitan, Dhita segera pergi mengejar suaminya yang telah menunggunya di dalam mobil.
Walaupun Berkali-kali Dhita mencoba untuk bercanda dengan Arjuna, namun pria itu tetap menunjukkan sikap dingin dan wajah yang cemberut.
" Awww !" pekik Dhita tiba-tiba, membuat Arjuna terkejut dan membanting setirnya mencoba untuk menghentikan mobil.
" Kau kenapa?" Arjuna terlihat begitu cemas. Saat ini ia telah memarkirkan mobilnya di tepi jalan.
__ADS_1
" AW, sakit mas." Dhita mengeluh sembari memegang perutnya. Terlihat ia sedang kesakitan.
" Apa kau akan melahirkan?" Arjuna semakin khawatir, mengingat kandungan istrinya yang baru menginjak tujuh bulan.
" Sini mas, lebih dekat," Dhita menarik lengan suaminya agar mendekat ke arahnya.
" Di mana yang sakit?" Arjuna masih terlihat begitu cemas. Melihat istrinya yang sedang kesakitan, rasa kesal dan amarahnya tiba-tiba hilang, berganti dengan rasa peduli dan penuh kasih.
CUP.
CUP.
Tiba-tiba saja Dhita yang sedang merasa kesakitan, mengecup pipi Arjuna. Hingga membuat pria itu terbelalak. Rupanya Dhita hanya berpura-pura saja.
" Maaf!" Dhita membuat mimik lucu di wajahnya. Mau tak mau Arjuna pun tersenyum melihat kelakuan istrinya yang alay menurutnya.
" Kau memang selalu bisa membuatku tersenyum." Arjuna ******* bibir wanitanya.
" Ini hukuman untukmu!" ucap Arjuna saat tautan bibir mereka terlepas.
CUPPP.
Arjuna kembali menautkan bibirnya, bahkan lebih dalam lagi ia ******* bibir manis nan kenyal milik wanitanya.
Desah Dhita namun tertahan oleh bibir suaminya.
" Sudah mas, hentikan!" lirih Dhita saat pria itu melepas tautan bibirnya untuk yang kesekian kali.
" Kok, dibalas mas, aku kan hanya bercanda," Dhita menekuk wajahnya. mengerucutkan bibirnya kedepan.
Arjuna tidak menjawab, ia hanya tersenyum puas telah membalaskan rasa kesal di hatinya akibat ulah sang istri.
Arjuna melirik istrinya sekilas, sambil menggelengkan kepala ia menjalankan mobilnya kembali.
" Aku tidak bisa berlama-lama disini, aku takut nanti kebablasan." batin Arjuna yang mulai merasa libidonya mulai naik.
Sedangkan Dhita hanya memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela, namun di dalam hati ia merasa bersyukur memiliki suami yang tidak pernah main tangan. Meskipun sering kali ia membuatnya emosi. Hanya saja ia harus menjalani hukuman ritual wajibnya setiap kali ia melakukan kesalahan.
*
*
KEMBALI KE CITRA.
__ADS_1
Di dalam kamarnya yang telah amat sangat berantakan. Citra yang baru saja tersadar dari pingsannya, sedang duduk bersandar di tepi ranjang.
Ia berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi hingga membuat dirinya tak sadarkan diri.
" Apa yang kau rasakan?" tanya Bu Devina sambil mengelus rambut putrinya.
Lama Citra menatap wajah ibunya, namun tak sepatah katapun yang ia katakan.
" Kau lapar?" tanya Bu Devina lagi. Namun Citra tetap saja diam.
Memang seperti ini kondisi Citra sehari-hari, ia bersikap normal ketika ada keinginan di dalam dirinya, dan jika tidak maka ia akan tetap diam walau siapapun yang ingin berbicara kepadanya.
" Oh iya, besok adalah hari pernikahanmu dengan Arjuna." barulah ketika mendengar nama Arjuna, Citra mulai merespon.
Wajahnya tampak bersinar memancarkan kebahagiaan. Perlahan senyum manis mulai mengembang di bibirnya.
" Menikah?" suara nya terdengar sedikit bergetar, namun tersirat suatu kebahagiaan.
" Ya, besok kau akan menikah!" Bu Devina menegaskan kalimatnya.
Citra terlihat bingung, dengan siapa ia akan menikah. Dan Citra tidak ingin bertanya kepada ibunya.
" Arjuna, dia akan menikahimu."
" Kenapa?" Citra bertanya seolah sedang kebingungan.
" Dhita, istrinya yang bodoh itu, dia yang telah memaksa Arjuna untuk menikahimu." Bu Devina membayangkan bagaimana ia yang menyaksikan perdebatan di antara suami istri itu, ia hampir sakit perut karena menahan tawanya.
" Benarkah? dia baik sekali!" ucap Citra dengan senyum tipis di bibirnya.
" Ya, kau benar, selain baik dia juga bodoh." gumam Bu Devina.
" Ma, Dhita bukan orang bodoh, justru kita yang bodoh karena tidak bisa melihat kebaikan dan ketulusan orang lain." Citra merasa tidak terima kalau bu Devina mengatakan Dhita itu bodoh.
Kini gaya bicaranya mulai normal kembali, mungkin karena mendengar kabar tentang pernikahannya yang membuat daya pikirnya menjadi lebih aktif.
" Apakah ada ma, di dunia ini seorang istri yang rela suaminya menikahi wanita lain?" tanya Citra, yang langsung membuat Bu Devina terkesiap.
" Ya, kau benar, bahkan aku sendiri pun tidak akan pernah rela jika papa mu sampai ingin menikahi wanita lain, apapun alasannya." pikir Bu Devina.
" Sekarang kau harus mandi, jangan sampai calon suamimu melihat keadaan mu yang berantakan seperti ini." bujuk Bu Devina agar putrinya menurut untuk membersihkan dirinya.
Sejak sering sakit-sakitan, Citra jadi jarang mandi, ia lebih suka berdiam diri di kamar, melamun dan terus melamun.
__ADS_1