
Bu Devina mengendarai mobilnya dengan cepat, tangannya sangat cekatan melenggak-lenggokkan setir mobil ke kanan dan ke kiri.
Dan setelah beberapa menit menuju perjalanan, akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan sebuah butik. Bu Devina pun keluar dari mobil melangkah menuju ke dalam butik.
"Lama sekali, dari mana saja?" tanya seseorang yang telah sejak lama menunggu dirinya.
"Iya, tadi ada sebuah masalah kecil di rumahnya," jawab Bu Devina mendengar pertanyaan dari orang tadi yang ternyata seorang wanita.
"Ada apa kau ingin kita bertemu? bukankah semua sudah jelas, dan kita tidak boleh bertemu Kembali!" ucap wanita itu dengan tatapan kesal kepada Bu Devina.
"Ada suatu hal yang harus aku ceritakan kepadamu secepatnya." ucap Bu Devina.
"Dan ini tidak bisa ku katakan ditelpon saja." lanjut Bu Devina.
"Cepat katakan jangan bertele-tele, aku tidak punya banyak waktu!" sahut wanita itu.
"Fanny." ucap Bu Devina memanggil nama wanita itu yang ternyata adalah Fanny.
Ya, Fanny yang telah menculik baby boy Ardhi Calvin Dharmendra, yang di beri nama lain yaitu Ansel Abraham.
Sebuah nama yang telah merubah jatidiri baby boy hingga ia tidak di kenali oleh keluarganya sendiri.
"Mereka telah mencurigai ku." Bu Devina melanjutkan ucapannya.
"Siapa maksudmu?" Fanny bertanya dengan sikapnya yang santai namun secara mendadak berubah sedikit panik dan khawatir.
"Tentu saja Arjuna dan ibunya!" jawab Bu Devina segera.
"Bagaimana bisa mereka mencurigaimu? bukankah kau tidak turut andil dalam penculikan ini, dan hanya aku sendiri yang melakukannya!" Fanny merasa heran.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." ucap Bu Devina tidak habis pikir, Bagaimana bisa mereka mencurigai dirinya, sedangkan dirinya sama sekali tidak terlibat dari aksi penculikan itu, hanya saja ia yang memberikan informasi tentang kelahiran bayi Arjuna dan menginformasikan keberadaannya di rumah sakit itu.
"Mungkin ini hanya gertakan mereka saja, saran ku, kau harus tetap bersikap seperti biasanya, Jangan sampai kau membuat mereka semakin curiga." ucap Fanny.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." ucap Bu Devina dengan segera pergi dari tempat itu.
Dengan sangat hati-hati Bu Devina keluar dari butik itu dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Fanny berpura-pura membeli sebuah pakaian di butik itu, agar tidak mencurigakan.
__ADS_1
Setelah membayarnya di kasir, Fanny pun segera pergi dan berniat langsung pulang ke rumahnya. Mengingat kondisi Ansel belum pulih secara total.
*
*
*
Sementara itu, bi Murni yang sedang sibuk membereskan rumah majikannya sesekali berhenti untuk melihat keadaan Ansel yang sedang tertidur di kamarnya.
Bu Murni hanya takut jika terjadi sesuatu kepada tuan mudanya itu.
Ya, walaupun sebagai tuan muda yang tak di anggap, setidaknya itulah julukan yang di terima Ansel saat itu.
"Bi, dimana Ansel?" tanya Fanny ketika baru saja tiba di rumahnya.
"Ada di kamar nyonya" jawab Bi Murni yang baru saja melihat keadaan tuan kecilnya.
"Bagus, pastikan dia tidak kemana-mana !" perintah Fanny begitu saja.
Mendengar perintah dari majikannya membuat bi Murni mengerutkan dahinya yang sedikit berkeriput.
"Bagaimana mungkin tuan kecil bisa kemana-mana nyonya, tuan kecil masih sangat kecil belum bisa berjalan." bi Murni menjawab ucapan majikannya.
Seingatnya saat pergi kerumah sakit kemaren, itu pun karena ia sendiri yang memaksa agar tuan kecilnya segera mendapatkan pertolongan, karena sakit perut yang dialami tuan kecilnya semalaman.
"Ya, apalah itu yang penting jangan pernah bawa Ansel keluar dari rumah ini, mengerti !!" perintah Fanny dan kali ini ia terlihat begitu serius, hingga membuat bi Murni tidak berani untuk bertanya.
Setelah memberikan perintah kepada pembantunya, Fanny pun berlalu kembali keluar dari rumahnya.
"Ya Tuhan, jadi nyonya pulang hanya untuk memperingatkan aku, sama sekali dia tidak ingin melihat keadaan tuan kecil." gumam bi Murni seorang diri.
Kemudian bi Murni melanjutkan pekerjaannya yang masih belum terselesaikan.
"Semoga saja kau kelak menjadi orang yang baik den, bukan orang seperti nyonya yang tidak perduli kepada siapa pun." Bu Murni kembali menggumam.
"Ooeekkkk~ooeekkk~!" terdengar suara tangis Ansel, dan mau tidak mau bi Murni harus menghentikan pekerjaannya dan berlari ke kamar, Dimana tuan kecilnya berada.
"Tuan kecil, kenapa nangis lagi? haus?" Bi Murni menyodorkan botol susu.
__ADS_1
Namun, Ansel tidak juga berhenti menangis. Ansel masih terus menjerit-jerit dengan suaranya yang keras hingga membuat seluruh tubuhnya memerah.
Bi Murni semakin panik melihat kondisi tuan kecilnya, yang terus saja menangis.
"Tuan kecil, jagoan bibi ayo minum susu dulu," bi Murni masih saja berusaha memberikan susu formula kepada Ansel.
Namun masih tetap sama, Ansel masih saja menangis.
"Ya Tuhan, ada apa ini? mengapa den Ansel masih saja menangis." ucap bi Murni seraya menimang-nimang Ansel.
Kemudian bi Murni meraba perut Ansel, dan benar saja apa yang dipikirkannya. Ansel mengalami perut kembung kembali.
"Ooeeekk~ ooeeekk~!"suara tangis Ansel seraya menggeliat-menggeliat karena rasa sakit di perutnya.
"Sabar Aden, mari kita ke rumah sakit!" ucap bi Murni sambil terus menimang-nimang Ansel yang masih menangis di gendongannya.
Kemudian bi Murni mengambil ponselnya, menghubungi Fanny, majikannya.
Namun tidak ada jawaban dari majikannya itu.
Tak hanya sekali bahkan berkali-kali, bi Murni mencoba untuk menghubungi nyonya Fanny, namun tetap saja tidak ada yang mengangkat panggilannya.
Karena telah berkali-kali mecoba untuk menghubungi, dan tidak di angkat juga, akhirnya bi Murni memutuskan untuk segera membawa tuan kecilnya ke rumah sakit.
"Ayo Aden, kita berangkat berdua, bibi takut terjadi sesuatu pada mu aden!" bi Murni mengecup kening Ansel yang terasa sangat panas.
Bekerja sebagai asisten rumah tangga sekaligus merangkap sebagai Babysitter, membuat Bu Murni merasa sangat lelah. Di tambah lagi dengan usianya yang tak lagi muda membuat bi Murni sangat mudah lelah.
Walau pun terasa sangat melelahkan, namun bi Murni menjalaninya dengan penuh semangat. Kasih sayang yang ia curahkan untuk Ansel, selayaknya kasih sayang dari seorang ibu kepada anaknya.
*
*
*
Sesampainya di rumah sakit, Ansel langsung segera di periksa oleh dokter spesialis anak.
Kebetulan hari itu suasana rumah sakit sedang sepi, hingga mereka tidak perlu menunggu untuk mengantri.
__ADS_1
"Apa sebenarnya penyakit tuan kecil ini dok?" tanya bi Murni kepada dokter Ine yang sedang bertugas.
"Anak ini menderita penyakit yang tidak main-main Bu, untung saja anda segera membawanya ke mari, hingga dengan cepat anak ini bisa mendapatkan pertolongan." jawab dokter Ine.