Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 141 Di madu


__ADS_3

Suasana mansion kembali lengang, karena semua kerabat dan para sahabat telah kembali ke rumah masing-masing.


Di mansion itu, hanya tinggal Bu Safitri dan pak Setyo saja, karena mereka akan menginap malam itu dan akan kembali ke kampung pada esok harinya.


" Citra tidak pulang?" tanya Bu Safitri karena Bu Devina telah pulang sedari tadi. Bu Safitri merasa heran, begitu pula dengan pak Setyo.


Saat itu mereka sedang berkumpul di ruang tamu.


Mommy Rita terkejut mendengar pertanyaan dari besannya, ia juga masih belum mempersiapkan jawabannya. Dan tidak mungkin baginya untuk mengatakan bahwa Citra hanyalah istri kedua Arjuna yang di nikahi nya dengan terpaksa.


" E .e..Citra... dia... menantu saya Bu Safitri." jawab mommy Rita terbata-bata.


" Menantu?" Bu Safitri menatap besannya dengan tatapan penuh tanya.


Mommy Rita hanya mengangguk, sedangkan jantungnya terdengar bergemuruh.


" Oo, jadi anda punya putra lagi selain Arjuna?" Bu Safitri mengira Arjuna memiliki saudara.


Ya, Arjuna memang memiliki seorang saudara dan itu hanya Reyhan, suami dari Dhita.


" Bu... bukan Maksud saya, Arjuna menikah kembali dengan Citra." dan itu membuat Bu Safitri maupun pak Setyo terkejut seperti tersengat aliran listrik seratus ribu volt.


" Apa? jadi putra anda me madu putri kami, dan anda biarkan itu!" suara pak Setyo terdengar keras menggelegar.


Memang tidak ada satupun ayah di dunia ini, yang menginginkan putrinya di madu apalagi di duakan dengan orang yang jelas-jelas telah membuat ia menderita selama ini.


Walaupun Dhita tidak pernah bercerita kepadanya, pak Setyo mengetahui segala yang terjadi di dalam kehidupan putrinya selama ini. Dan ia masih bisa bersabar.


Namun tidak untuk kali ini, perbuatan Arjuna menurutnya telah di luar batas. Dan itu membuat pak Setyo sangat emosi.


" Maksud saya... bukan begitu pak Setyo, ada alasannya,"


" Tidak ada alasan untuk ini bu Rita, Putri saya kurang apa? putri saya tidak becus ngurus suami?" tanya pak Setyo dengan penuh emosi yang tak terbendung lagi.


" Pak sabar pak, kontrol emosi bapak." ucap Bu Safitri berusaha meredam emosi suaminya.


" Tidak bisa Bu, kehormatan putri kita telah di injak-injak, kita tidak bisa membiarkannya!" pak Setyo sedikit menyentak istrinya.


Citra yang mendengar itu semua hanya bisa menangis, Karena terpaksa menikahinya pernikahan Arjuna dan Dhita berada dalam masalah.

__ADS_1


Dan suara ribut-ribut yang di sertai dengan suara tangisan menarik Indra pendengaran Arjuna dan juga Dhita yang sedang meletakkan buah kelapa muda yang tadi di berikan kepada mommy Rita di kamarnya.


" Ada apa mas?" tanya Dhita merasa heran, karena tidak biasanya di dalam mansion itu terdengar suara ribut-ribut apalagi suara tangis.


" Entahlah!" jawab Arjuna lalu bergegas keluar dari kamarnya.


" Nah itu dia!" Seru pak Setyo ketika melihat Arjuna sedang menuruni tangga.


Pak Setyo terlihat penuh amarah dengan tangan yang mengepal dan geraham yang mengerutup.


" Berani-beraninya kau!" teriak pak Setyo menarik baju Koko Arjuna dan bersiap hendak memukulnya.


" Ayah!!" teriak Dhita dari atas.


Dan mendengar suara teriakan putrinya, membuat pak Setyo mengurungkan niatnya.


Di karenakan pak Setyo tidak ingin menghajar pria tidak tahu diri ini di depan putrinya.


Dhita bergegas menuruni tangga dengan cepat tanpa memperdulikan dirinya yang bisa saja terjatuh.


" Ayah, ada apa ini?" Dhita menatap mata pak Setyo.


" Kau masih bertanya kepada ayah? apa kau tidak merasa sedang di khianati?" pak Setyo menjawab dengan pertanyaan pula.


" Mengapa kau tersenyum?" kini giliran pak Setyo dan Bu Safitri yang bertanya-tanya.


Mereka tidak habis pikir, putrinya bisa tersenyum di tengah pengkhianatan Yang di lakukan suaminya. Itulah pemikiran pak Setyo dan Bu Safitri.


" Apa kau sudah tidak waras?" pak Setyo kembali bertanya. Di hatinya ia merasa sangat kesal kepada putrinya sendiri. Di saat genting seperti ini masih bisa saja tersenyum.


" Ayah, biar ku jelaskan tapi lepaskan dulu suamiku," ucap Dhita tetap santai.


Bu Safitri saja yang merupakan ibu kandung dari Dhita tidak habis pikir dengan sikap putrinya, jika saja ia yang berada di dalam posisi itu, maka sudah bisa di pastikan ia akan pergi meninggalkan suami yang tidak tahu diri itu.


Menikah kembali di saat berstatus seorang suami, bukanlah lambang dari kesetiaan.


Mendengar permintaan dari putrinya, akhirnya pak Setyo melepaskan cengkraman tangannya di badan pria itu.


" Ayah, ibu! Dhita minta maaf karena telah berani mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat kalian." ucap Dhita serius.

__ADS_1


Semua orang terdiam, mendengar penuturan Dhita.


" Tapi sungguh, mas Ar tidak bermaksud mengkhianati ku." lanjut Dhita, dan itu membuat pak Setyo kembali bertanya.


" Kalau bukan pengkhianat, lalu apa namanya?"


" Yah, dengarkan Dhita dulu," Dhita menghela napas.


" Pernikahan ini terjadi karena aku yang memintanya yah, jadi ini seratus persen bukan salah mas Ar." ucap Dhita menjelaskan.


Sontak membuat kedua orang tuanya terperangah, mereka tidak mengira pemikiran Putri mereka akan sepolos itu.


" Hah, apa yang telah merasuki jalan pikiranmu?" tanya Bu Safitri mendengar penjelasan putrinya.


" Bagaimana bisa kau meminta suamimu menikahi wanita lain?" pak Setyo pun ikut bertanya, s


seraya menunjuk ke arah menantunya.


" Ceritanya panjang yah!" Arjuna ikut menyahut, karena ia tidak tega melihat istrinya di introgasi oleh kedua orang tuanya sendiri.


" Cepat ceritakan dan jelaskan!" perintah pak Setyo kepada anak dan menantunya.


Ia telah tidak sabar ingin mendengarkan apa penyebab dari pernikahan kedua menantunya, dan mengapa putrinya sampai serela itu, suaminya menikahi wanita lain.


Akhirnya Dhita dan Arjuna menjelaskan semua nya dari awal, tanpa ada satupun yang tersisa.


Mendengar penjelasan dari anak dan menantunya, pak Setyo dan Bu Safitri sedikit bisa mengerti dan meringankan emosinya.


" Dan kami juga tidak pernah berhubungan sekalipun, karena aku masih sangat menjaga diri dan hatiku untuk putri ayah dan ibu." lanjut Arjuna mengakhiri penjelasannya.


Namun ketika Citra telah tidak ada lagi di ruangan itu, Citra yang sedang menangis tidak tahan mendengar keberadaan dirinya di pertanyakan.


Dan Dhita yang melihat kepergian Citra sambil menangis segera mengejarnya.


" Citra!" seru Dhita dengan nada suara yang tertahan, jujur ia juga ikut merasakan apa yang sedang di rasakan wanita itu saat ini.


Citra membenamkan wajahnya di atas bantal, malu rasanya ia menunjukkan wajah itu di muka umum.


" Citra, aku mengerti perasaanmu," ucap Dhita pelan.

__ADS_1


" Tidak seharusnya, hiks...hiks...tidak seharusnya aku berada di antara Kalian." Citra mengangkat kepalanya menatap Dhita yang duduk di sisinya.


" Kau tidak bersalah, semua ini karena takdir." ucap Dhita berusaha menenangkan hati Citra yang sedang gundah gulana.


__ADS_2