Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 84 Menjenguk


__ADS_3

" Glen biar ku gendong, kau bisa bersiap-siap sekarang." ucap Andrian ketika melihat putranya tertidur setelah selesai *******.


Bukan tanpa alasan Andrian menyuruh istrinya bersiap terlebih dahulu, karena biasanya wanita akan lebih lama jika berdandan.


" Memangnya kita mau kemana?" Bellinda merasa heran karena seingatnya hari ini tidak ada acara apapun.


" Kita akan segera pergi menjenguk Dhita, sejak pulang dari rumah sakit kita belum menjenguknya sama sekali," jawab Andrian merentangkan tangannya meraih Glen yang sedang tertidur pulas.


" Ya, kau benar kasihan dia bukankah kau telah menganggapnya sebagai adik angkatmu?" Bellinda mengingat kembali ketika Andrian bercerita tentang hubungannya dengan Dhita.


" Karena aku melahirkan kita tidak memiliki waktu untuk menjenguknya, waktu ku tersita untuk mengurus putra kita." lanjut Bellinda lagi.


Bellinda beranjak dari tempatnya saat sebelumnya melihat Glen yang tertidur pulas.


Andrian menatap wajah putranya yang sangat mirip dengan dirinya.


" Jadilah anak yang baik yang membanggakan kedua orangtua mu." gumam Andrian seraya mencium mulut putranya berkali-kali.


Andrian suka saja mencium mulut Glen yang berbau asi.


Mendapat ciuman dari ayahnya yang sedikit berjambang tipis, membuat Glen merasa geli.


Bayi itu menggeliat hampir menangis, namun dengan segera Andrian menimang-nimang bayinya dan membuat Glen tertidur lagi.


Jika tidak maka Bellinda tidak akan mengampuninya, wanita itu akan mengomel terus menerus hingga puas.


Biasanya wanita memang sedikit lebih cerewet jika telah memiliki anak.


Bellinda menuruni tangga dengan gayanya yang Anggun, tidak terlihat jika wanita ini pernah melahirkan.


Wajahnya yang cantik alami semakin cantik dengan sedikit polesan make up.


Andrian hampir tak percaya jika wanita itu adalah istrinya, melihat penampilan Bellinda yang tak seperti biasanya membuat Andrian semakin jatuh cinta.


" Waw Amazing, cantiknya istriku!" seru Andrian menggoda Bellinda yang sedang duduk di sampingnya.


" Sudah jangan menggodaku lagi, sekarang lebih baik kau mandi badanmu bau keringat," tutur Bellinda seraya meraih Glen dari pangkuan suaminya.


Bukan tanpa alasan Bellinda tampil beda, mengingat mereka akan pergi menjenguk Dhita yang sebelumnya pernah mengisi ruang hati Andrian.


Ia hanya ingin berjaga-jaga saja.


" Berkat dari bau keringat ini kita semua hidup berkecukupan." ucap Andrian menyerahkan bayi dalam gendongannya.


" Jangan marah suamiku, sebau apapun keringatmu itu adalah surga bagiku." Ucap Bellinda, ia takut kalau Andrian marah karena itu akan menjadi masalah baginya.


" Ayo pa cepat mandi, nanti kita kemaleman." Bellinda sengaja bertingkah seperti anak kecil agar tidak membuat suaminya marah.


Beruntung sebelumnya ia memandikan Glen terlebih dahulu kalau tidak ia akan terpaksa membangunkan putranya yang sedang tertidur pulas.


Tak berapa lama Andrian pun siap dengan memakai kemeja berwarna cream dan celana panjang berwarna hitam.

__ADS_1


Sangat serasi dengan penampilan Bellinda yang memakai dress pendek selutut berwarna cream-hitam.


" Wah, kau sangat gagah dengan penampilan seperti itu," goda Bellinda.


Andrian hanya tersenyum mendapat pujian dari istrinya.


" Jika kau berpenampilan seperti ini setiap hari maka aku harus mengekor di belakang mu," lanjut Bellinda lagi seraya tersenyum.


" Kenapa harus mengekor ku?" tanya Andrian tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.


" Karena ku takut kau akan tergoda wanita lain di luar sana." jawab Bellinda seraya tertawa cekikikan.


" Justru aku yang harus mempekerjakan bodyguart di rumah untuk menjaga mu, aku khawatir akan ada tetangga kita yang melirik dirimu," Andrian menanggapi seloroh istrinya.


Akhirnya setelah beberapa lama menempuh perjalanan mereka pun sampai di rumah Arjuna.


" Bellinda!" seru Dhita saat melihat wanita yang notabenenya adalah istri dari kakak angkatnya.


Saat itu mereka sedang berada di ruang tamu.


" Ih lucunya," ucap Dhita lagi ketika melihat bayi yang di gendong oleh Bellinda.


Bellinda hanya tersenyum karena Dhita tidak membiarkan dirinya bicara.


" Boleh ku gendong?" tanya Dhita tanpa mau berhenti berbicara.


" Boleh, tapi..." Bellinda terlihat ragu.


Dengan sangat hati-hati Dhita meraih bayi lucu dari dekapan Bellinda.


Andrian dan Arjuna tampak semakin akrab, mereka bercerita tentang petualangan masing-masing.


Sejak masih remaja hingga masa-masa mereka kini.


Mommy Rita yang mendengar suara ramai orang bersenda gurau di ruang tamu, karena merasa penasaran mommy Rita berjalan mendekati ruang tamu.


" Wah, ada tamu rupanya!" seru mommy Rita dari arah dalam ruangan.


" Tante, apa kabar?" sapa Andrian lalu menyalami mommy Rita yang di ikuti oleh Bellinda.


" Wah, lucunya bayi kalian!" seru mommy Rita, pandangannya langsung tertuju ke arah Glen yang sedang menggeliat di pangkuan Dhita.


" HM, siapa namanya?" tanya mommy Rita, sembari duduk di samping menantunya.


" Dia lucu kan mom," gumam Dhita tersenyum senang melihat bayi lucu di dalam pangkuannya.


" Iya Dhi, lucu sekali," jawab mommy Rita mengiyakan.


" Namanya Glen Alvaro, Tante!" seru Bellinda menjawab pertanyaan mommy Rita yang entah pada siapa.


" Bagus, namanya!" puji mommy Rita sambil meraih bayi Glen di pangkuan menantunya.

__ADS_1


Telah lama mommy Rita mendambakan hadirnya seorang cucu, keberadaan Glen di sana, membuat keinginan mommy Rita sedikit terobati.


" Selamat ya buat kalian berdua sudah mendapatkan momongan." mommy Rita memberikan ucapan selamat kepada Andrian dan Bellinda.


" Dan buat Arjuna sama Dhita, mommy ingin sekali melihat kalian memiliki momongan juga, ingat mommy sudah tua ingin segera menimang cucu mommy." ucap mommy Rita yang kemudian membuat Dhita INSECURE.


Dhita yang mendengar harapan ibu mertuanya, seolah di sambar petir di siang hari.


Sekujur tubuh Dhita bergetar dan berkeringat.


Namun Dhita masih menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dengan berpura-pura ingin pergi ke toilet.


" Maaf, aku ke toilet sebentar," ucap Dhita langsung beranjak dari tempatnya.


Beruntung Bellinda dan Andrian tidak menghiraukan perubahan yang terjadi pada tubuh Dhita.


Merasa ada yang aneh, Arjuna yang sedang berbincang dengan Andrian ikut beranjak mengikuti istrinya.


Dan benar saja dugaannya, ia menemukan istrinya sedang menangis sesenggukan di dalam kamarnya.


" Hiks....hiks.....hiks ...." tangisan Dhita namun tidak menimbulkan suara, karena Dhita menelungkup kan kepalanya ke atas bantal.


Hingga membuat suara tangisannya hampir tak terdengar, hanya seluruh tubuhnya yang terguncang.


" Aku mengerti perasaanmu," ucap Arjuna mendekati istrinya yang sedang menangis.


" Maaf kan aku mas, aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu!" lirih Dhita di sela tangisnya.


" Sudah, kau tidak perlu meminta maaf, ini juga bukan salahmu." Arjuna mencoba menenangkan istrinya.


Dhita bangun dari atas ranjangnya, menatap Arjuna yang berada di sampingnya.


" Apa mommy akan berpikir sama seperti kamu mas, apa dia bisa menerima aku apa adanya?" air mata Dhita kembali mengalir.


Sedangkan Arjuna hanya terdiam.


" Mommy sangat menginginkan seorang cucu mas, aku takut dia akan marah jika mengetahui yang sebenarnya, aku takut mommy akan menyuruhmu menikah dengan orang lain mas, hiks....hiks....!" tangisan Dhita semakin menjadi-jadi.


Apalagi saat mengingat ibu mertuanya yang ingin segera memiliki cucu, membuat Dhita merasa takut sekaligus bersalah.


Namun apa daya kondisinya memang tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu.


Sedangkan Arjuna hanya bisa diam, diam, dan diam.


Ia tidak tahu lagi harus berkata apa, jujur ia juga berada di dalam dilema.


Hai Readers ku tercinta jangan lupa like, komen, vote.


Di tunggu ya sama Author !


Dukungan mu inspirasi hidup ku 😘

__ADS_1


__ADS_2