Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 86 Kekuatan ikatan Cinta


__ADS_3

" Melihat mu bahagia membawa berkah dalam hidup ku " ucap Arjuna sembari memeluk istrinya dengan lembut.


Dhita memejamkan matanya setelah bersandar di dada Arjuna yang membelainya dengan penuh kasih sayang.


Melihat insiden itu pak sopir tersenyum sambil sesekali melirik ke arah kaca spion.


" Sudah menikah tapi seperti orang yang sedang pacaran," gumam pak sopir pelan namun masih bisa di dengar oleh Arjuna.


" Seharusnya memang begitu kan pak, semakin lama menikah ikatan cinta semakin kuat," sahut Arjuna menatap pak sopir dengan tersenyum.


Mendengar ucapan dari majikannya, pak sopir merasa malu cepat-cepat ia meminta maaf karena takut mendapat marah dari majikannya.


" Maafkan saya tuan, saya hanya...."


" Tidak apa-apa pak, aku senang kau berkata begitu, itu tandanya bapak cukup memperhatikan kami." sahut Arjuna dengan santai.


Memang Arjuna selalu bersikap baik kepada para pekerjanya. Walaupun ia notabenenya seorang majikan Arjuna tidak pernah merendahkan siapapun, ia memandang semua orang itu sama.


Pemikiran yang seperti inilah yang membuat Arjuna di segani di kalangannya.


Dhita yang awalnya mengira bahwa suaminya akan marah ketika mendengar ucapan sopirnya, namun bersyukur di dalam hati setelah mendengar ucapan Arjuna karena telah mendapatkan suami yang baik budi pekertinya.


Setelah dua jam lamanya menghabiskan waktu di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di desa Kulon Progo.


Bu Safitri yang saat itu sedang akan berangkat ke kebun, mengurungkan niatnya setelah mobil Arjuna parkir di depan rumahnya.


" Assalamualaikum," sapa Arjuna kepada ibu mertuanya ketika mereka telah turun dari mobil.


" Walalaikumsalam," bi Safitri menjawab salam menantunya.


" Ibu!" seru Dhita sambil berlari ke arah bu Safitri, kemudian mereka saling berpelukan.


" Siapa yang datang bu?" tanya pak Setyo dari dalam rumah.


" Ayah!"seru Dhita melerai pelukannya kemudian pergi menyongsong sang ayah.


Arjuna bersalaman dengan Bu Safitri. Kemudian bersama-sama memasuki rumah yang telah ada Dhita dan pak Setyo di dalamnya.


" Assalamualaikum pak," sapa Arjuna sembari meraih tangan pak Setyo dan mencium tangan itu.


" Wa'alaikumsalam." jawab pak Setyo tersenyum sumringah.


Pak Setyo dan Bu Safitri merasa bahagia dengan kedatangan anak dan menantu mereka.


Sedangkan pak Sopir mengangkat barang-barang yang di bawa oleh kedua majikannya dan meletakkannya di dalam rumah.

__ADS_1


" Bagaimana keadaanmu?" tanya pak Setyo kepada Dhita saat mereka telah duduk diruang tamu.


" Baik yah." jawab Dhita.


" Kami rencananya ingin tinggal di sini sampai beberapa hari." Tutur Arjuna menyampaikan maksud kedatangannya


" Beberapa hari?" tanya Bu Safitri menatap putri dan menantunya bergantian.


" Iya Bu, sampai Dhita benar-benar sembuh." jawab Arjuna.


Bu Safitri dan pak Setyo merasa senang anak dan menantunya akan tinggal bersama mereka walaupun hanya beberapa hari saja, setidaknya mereka akan berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.


Mendengar Dhita dan suaminya pulang kampung, seluruh kerabat dekat datang untuk menjenguk Dhita, maklum mereka belum sempat menjenguknya ketika Dhita masih di kota.


" Syukurlah kamu sudah sehat, kami semua khawatir dengan dirimu," ucap salah satu sepupu Dhita yang bernama Sukma.


Sukma adalah anak dari saudara pak Setyo yang tinggal tidak jauh dari rumah mereka.


Sukma telah menikah dan memiliki dua orang anak, dulu waktu Dhita masih belum pergi ke kota ia yang selalu membantu mengasuh kedua anak Sukma, dikarenakan Sukma sibuk bekerja.


" Terimakasih mbak, atas perhatiannya." ucap Dhita yang saat itu sedang di peluk oleh Sukma.


Sukma dan Dhita saling melepaskan rasa rindu.


Melihat keakraban mereka, Arjuna berharap Sukma akan bisa membantu Dhita untuk mengembalikan semua rasa yang hilang darinya.


Melihat menantunya diam, pak Setyo bertanya.


" Ada yang sedang kau pikirkan nak?"


" Oh, tidak pak, saya hanya senang melihat istri saya senang hari ini," jawab Arjuna tergagap karena sontak mendapat pertanyaan dari ayah mertuanya.


" Jangan panggil bapak mas, panggil saja ayah." celetuk Dhita menggoda suaminya.


" Ah, ya maaf, ayah." ucap Arjuna tersipu malu.


Membuat semua orang tertawa.


Cukup lama mereka berbincang-bincang hingga pada akhirnya seluruh kerabat berpamitan satu-persatu Karena masih ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan.


" Sekarang kalian istirahat lah, kalian pasti sangat lelah bukan," saran pak Setyo.


" Aku masih ingin jalan-jalan melihat seluruh desa ini yah," jawab Dhita.


" Nanti sore saja, sekarang terlalu panas Dhi," ucap Bu Safitri sambil melirik menantunya yang sedang kelelahan.

__ADS_1


Ya, Arjuna terlihat lesu di karenakan semalam ia tidak bisa tidur memikirkan ucapan istrinya.


Ucapan Dhita yang khawatir jika mommy Rita mengetahui kebenarannya dan memaksa ia menikah lagi dengan wanita lain seperti yang pernah dilakukannya selama ini.


" Ayo mas, kita istirahat," ucapan Dhita membuyarkan lamunannya.


" Ah ya," jawab Arjuna yang terkejut.


Pak Setyo dan Bu Safitri saling berpandangan melihat perilaku menantunya.


" Seperti ada yang mengganggu pikirannya pak." ucap bu Safitri saat anak dan menantunya telah memasuki kamarnya.


" Iya Bu, bapak rasa juga begitu kita tanyakan nanti saja Bu, sekarang biarkan mereka beristirahat." saran pak Setyo yang langsung di angguki oleh Bu Safitri.


Siang hari di desa itu cuaca sangat panas, matahari seakan memanggang bumi membuat semua orang di desa itu meninggalkan aktifitasnya.


Mereka hanya duduk santai di teras rumah, ada yang berbincang-bincang dan ada pula yang sambil rujakan.


Jam menunjukkan pukul 03.45 WIB, Dhita yang telah selesai shalat ashar berjemaah dengan keluarganya sedang bersiap untuk keliling kampung.


Ia merasa sangat rindu dengan panorama di desa itu yang terkesan indah dan menakjubkan di kala sore hari.


Arjuna lebih memilih untuk mengendarai motor Vespa milik pak Setyo dari pada harus membawa mobil miliknya.


Ia merasa lebih baik jalan-jalan sambil mengendarai motor untuk mengitari perkampungan tersebut.


TREEETTTEETTTTEEETTTT.....


Bunyi motor Vespa milik pak Setyo, maklumlah motor itu telah tua karena telah bertahun-tahun di gunakan oleh pak Setyo.


Walaupun telah tua dan hampir menjadi rongsokan, namun pak Setyo sangat menyayangi motor itu, maklumlah motor itu merupakan motor bersejarah bagi pak Setyo dan Bu Safitri.


Motor itulah yang menemani kisah perjalanan hidup mereka.


" Memangnya kau bisa mas, naik motor begitu?" tanya Dhita sedikit ragu karena selama ini ia tidak pernah melihat suaminya itu mengendarai motor.


Maklumlah di kota Arjuna kemanapun selalu Menggunakan mobil sebagai alat transport nya.


" Jangan khawatir mas mu ini dulu juga pernah punya motor." jawab Arjuna seraya menjalankan motornya.


Dhita berbonceng di belakang memeluk suaminya dengan erat, dikarenakan ia takut terjatuh.


Arjuna yang telah lama tidak mengendarai motor, terasa kaku dan sedikit oleng.


" Hati-hatilah mas," ucap Dhita yang semakin berdebar saat Arjuna semakin kencang membawa mu motornya.

__ADS_1


Namun pada akhirnya Arjuna berhasil mengendarai motor dengan baik.


__ADS_2