Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 129 Pertikaian


__ADS_3

BRAAAKK.


BRUUUKK.


PRAAANG.


" Hentikan Bel, ada apa ini?" Andrian yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, langsung mendapatkan hadiah dari istrinya.


Bukan hadiah keberuntungan melainkan sebuah insiden dimana istrinya sedang melemparkan semua barang-barang nya tak tentu arah.


Di sana sini, bahkan di setiap sudut ruangan, baju-baju Andrian terlempar. Dengan pandangan yang beringas, Bellinda menatap suaminya.


" Ada apa? kau masih bertanya ada apa?" Bellinda menuding suaminya dengan napas yang turun naik.


" Bell, please jangan bertingkah seperti anak kecil!" Andrian berusaha mendekati istrinya, namun tangan Bellinda langsung mendorongnya.


" Jangan pernah sentuh aku, kau pembohong kau pengkhianat!" teriak Bellinda dengan emosi yang meledak-ledak.


" Aku? pengkhianat? apa maksudnya?" Andrian terlihat bingung dengan tuduhan yang di berikan oleh istrinya.


Seingatnya ia tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar batas.


" Oh, jadi sekarang tuan Andrian yang terhormat ini telah lupa ingatan tentang kehidupannya, namun tidak dengan masa lalunya!"


" Jelaskan padaku, ada apa sebenarnya?"


" Kau kira aku tuli? kau kira aku buta? hei tuan, aku masih bisa memahami semua tingkah mu!" Belinda masih saja bertele-tele.


" Aku tahu kau masih menyimpan perasaan kepada mantan kekasihmu itu, kalian masih sering mengirim pesan singkat melalui WhatsApp." lanjut Bellinda yang langsung membuat Andrian terperanjat.


Memang semalam Bellinda yang terbangun dari tidurnya karena haus, tanpa sengaja mendengar bunyi notifikasi masuk ke dalam ponsel suaminya.


Karena saat itu suaminya sedang tertidur, maka Bellinda memutuskan untuk melihat isi dari notif tersebut dan akan memberitahukan kepada Andrian keesokan harinya.


Namun apa yang terjadi?.


Tangan Bellinda terasa bergetar saat melihat isi dari notif itu yang ternyata sebuah chat.


" Malam-malam seperti ini, dia mengirim chat kepada suamiku? dasar wanita tidak tahu malu!" umpat Bellinda seraya menyimpan kembali ponselnya.


Lalu dengan menahan rasa cemburu yang teramat dalam, ia mencoba untuk memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


Lama ia berusaha namun tidak dapat juga terlelap. Hingga keesokan harinya.


Dan terjadilah sebuah pertikaian seru antara suami istri tersebut.


"Apa maksudmu? ku mohon jelaskan padaku, jangan bertele-tele." Andrian masih saja kebingungan.


" Lihat ini!" Bellinda memperlihatkan ponsel Andrian.


Dan tertulis dengan jelas sebuah pesan yang berisi kalimat mesra dari seorang wanita yang bernama Dhita adikku.


Ya, Andrian menamai kontak Dhita dengan nama Dhita adikku.


Kedua mata Andrian membulat sempurna, dengan mulut yang terbuka ia membaca pesan itu.


" Tidak mungkin, ini pasti ada orang lain yang telah merekayasa." bantah Andrian.


Karena seingatnya Dhita tidak pernah menghubunginya sejak pernikahan Arjuna dengan Citra.


" Akui saja kecerdasanmu, kecerdasan yang selalu kau gunakan untuk membodohiku!


tapi maaf aku tidak sebodoh yang kau kira." Bellinda masih emosi, kedua matanya memerah dan berkaca-kaca.


Lalu bergegas keluar kamar dengan membawa sebuah koper yang telah ia siapkan sebelumnya.


" Oh ya, satu lagi, Glenn akan ikut bersamaku, karena aku tidak akan membiarkan dia tinggal bersama ayah yang sepertimu!" Kemudian Bellinda segera bergegas.


" Tunggu Bell, kau salah paham!" Andrian berusaha menghentikan istrinya.


" Lepaskan!" Bellinda menghempaskan tangan Andrian yang hendak memeluknya.


" Percayalah, aku dan Dhita tidak memiliki hubungan yang istimewa, kami hanya saling menganggap sebagai adik dan kakak!" Andrian membela diri.


" Lalu aku harus percaya dengan semua bualanmu?" Bellinda masih bersikeras dengan keyakinannya, keyakinan yang berhasil membuatnya cemburu.


" Bell, ku mohon dengarkan aku!" Andrian tetap berusaha meyakinkan istrinya.


" Lep.." belum sempat Bellinda meneruskan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara Glenn memanggilnya.


" Mama, papa ada apa ribut-ribut?" tanya Glen yang saat itu baru saja selesai bersiap hendak berangkat ke sekolah.


Glen Alvaro, bocah yang berumur 4 tahun memulai pendidikan dasarnya di taman kanak-kanak Budi Asih. Glen yang hendak menemui ibunya di kamar, ternyata malah di suguhi dengan pemandangan yang tidak seharusnya ia dapatkan.

__ADS_1


Sebuah pertengkaran dari kedua orang tuanya, yang membuat Glen bertanya-tanya.


" Papa, mama kalian bertengkar? kata bu guru sebagai orang yang baik kita harus hidup rukun dan saling menyayangi, bukan bertengkar!" Glen menirukan ucapan ibu gurunya di sekolah.


Ya, Glen memang tergolong anak yang pintar, ia mampu mengingat semua penjelasan yang di berikan ibu gurunya di sekolah. Bahkan ia terlihat sangat berwibawa saat menirukan ucapan gurunya itu.


" A...ya Glen, itu semua benar! siapa bilang kami bertengkar, mama dan papa hanya berlatih untuk mengikuti casting saja! benar kan ma?" Andrian beralasan karena ia tidak ingin harga dirinya sebagai orang tua harus jatuh di depan putranya sendiri.


" I..iya!" jawab Bellinda tergagap. Di karenakan ia tidak tahu harus mengatakan apa. Haruskah ia menyetujui alasan suaminya yang baru saja ia bertengkar dengannya, atau membenarkan bahwa mereka memang sedang bertengkar.


Namun pada akhirnya ia memilih untuk menyetujui alasan suaminya.


" Tapi kok bawa koper?" Glen masih belum percaya dengan ucapan kedua orang tuanya.


Memang Glen termasuk anak yang aktif dalam berpikir, jadi ia tahu kalau kedua orang tuanya sedang berbohong.


" I.. ini karena drama nya memang harus membawa koper, tenang saja mama akan meletakkan kembali ke tempatnya." jawab Bellinda seraya menarik koper ditangannya, lalu meletakkan di depan lemari.


Hal itu di jadikan kesempatan oleh Andrian untuk menaruh kembali pakaian istrinya ke dalam lemari.


Dan hal itu membuat Glen kembali bertanya.


" Katanya cuma latihan casting, kok ada bajunya mama? kayak pengen pergi beneran!"


Dan pertanyaan itu membuat Andrian dan Bellinda terbelalak. Mereka mengakui kecerdikan putra mereka, yang mampu membuat mereka INSECURE.


" Ini untuk lebih meyakinkan Glen, bukankah seorang aktor yang baik harus benar-benar menjiwai bukan?" Lagi-lagi Andrian harus mencari alasan yang tepat.


" Ma, hampir Jam tujuh, ayo kita berangkat ke sekolah!" ajak Glen, ia hampir saja melupakan tujuannya pergi ke kamar itu.


" Iya, Sayang! sebentar lagi mama bersiap dulu, kau tunggu saja di bawah!" sahut Bellinda.


Bukan tanpa alasan ia menyuruh putranya itu untuk turun terlebih dahulu, karena ia masih akan melanjutkan pertikaian nya dengan Andrian.


Mendapat tatapan yang menghunus dari istrinya, membuat Andrian angkat tangan.


" Sudahlah jangan di teruskan lagi, kau hanya salah paham!" Andrian berusaha sebisa mungkin agar istrinya tidak kembali marah kepadanya.


Namun kali ini, Bellinda tidak menyahut melainkan ia langsung mengambil dompet di dalam kopernya. Lalu bergegas keluar dari kamarnya.


Andrian mengusap dadanya, ia merasa bersyukur karena kedatangan putranya, Bellinda merubah pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2