
Ans sengaja mengubah nama panjangnya, Ansel Abraham hanya Ans saja, karena Jason yang telah memerintah semua itu, dengan tujuan agar Arjuna maupun Dhita tidak mengenali Ans.
"Wah, dari Amerika Serikat?" gumam Dia, semakin mengagumi pria tampan itu.
Kini giliran Jimmy untuk memperkenalkan diri.
"Hai teman, perkenalkan namaku Jimmy Prayoga, asal Indonesia dan di besarkan di Indonesia." ujar Jimmy.
Sontak mendapatkan teriakan dan sorakan dari para mahasiswa.
"Ya, kalau bukan dari Indonesia dari mana lagi, model seperti mu mana mungkin dari Amrik atau Paris!" seru seseorang dengan nada mengejek.
"Aku bersyukur karena memiliki wajah asli Indonesia," ucap Jimmy sedikit berseloroh untuk menyembunyikan suasana hatinya yang mulai menciut.
Dan sekali lagi mendapatkan teriakan ejekan dari para mahasiswa.
"Sekarang kalian boleh kembali ke tempat masing-masing." ucap Mr. Riyadi, karena tidak tega melihat Jimmy selalu di bully.
Setelah di persilahkan oleh dosennya, Ans dan Jimmy kembali ke tempat masing-masing.
"Sekarang pembelajaran akan di mulai!" seru Mr. Riyadi.
Semua Mahasiswa menyimak pembelajaran yang di berikan oleh dosennya. Tidak satupun dari mereka yang tidak mendengarkan penjelasan materi dari Mr. Riyadi.
Kurang lebih dua jam pembelajaran berlangsung.
Jarum Jam Menunjukkan pukul 10.00, Mr. Riyadi pun menutup pembelajaran hari itu.
"Baiklah, saya kira cukup sampai disini, sampai jumpa kembali di pembahasan berikutnya!" Mr. Riyadi mengakhiri pembelajarannya.
Suasana mendadak riuh, ketika Mr. Riyadi keluar dari kelas itu. Para mahasiswa saling berebut untuk keluar dari kelas tersebut.
Namun, tidak dengan Dia. Wanita cantik itu tampak diam saja tidak bergeming dari tempatnya. Dia menatap Ans yang sedang merapikan buku-bukunya.
"Kau tidak keluar?" tanya Ans, ia menatap sekeliling.
Tampak sepi karena semua mahasiswa telah pergi keluar untuk membeli makanan. Begitu pun dengan Jimmy, pria itu sudah tidak lagi berada di tempat itu.
"Apa maksud dari perkataan mu tadi?" Dia bukannya menjawab malah bertanya balik.
Ans mengerutkan keningnya, mencoba mengarah pada pertanyaan wanita itu.
__ADS_1
"Perkataan yang mana?" Ans pura-pura tidak tahu.
"Mengapa kau mengatakan aku ini pacarmu, bukankah kita baru kenal hari ini?" Dia mengulangi pertanyaannya.
"Ya, memangnya kenapa, ada yang salah?"
"Mungkin bagi mu tidak masalah mengatakan hal itu, karena mungkin di Amerika telah biasa kau lakukan. Tapi ingat, di sini Indonesia, tidak boleh berbicara sembarangan, karena aku tidak ingin menjadi bahan gosip orang-orang." Dia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tetu saja ia akan menjadi bahan perbincangan para mahasiswa di kampus itu, terutama para wanita.
"Tenang saja, aku hanya tidak ingin kau terus di ganggu oleh pria-pria itu." jawab Ans dengan santai.
Dia pun terdiam. Ans menghampirinya.
"Tapi... jika kau mau, kita bisa buat ucapan ku itu menjadi nyata." Ans menatap bola mata Dia yang terbilang sama persis dengannya.
"Apa maksudmu?" sebenarnya Dia mengerti dengan tujuan dari ucapan Ans, hanya saja ia tidak ingin terlalu terlihat berharap kepada pria itu.
"Aku menyukai mu, sejak pertama kita bertemu," Ans mulai melancarkan misinya.
DEGH.
Dia menunduk, seluruh tubuhnya serasa bergetar hebat. Dia tidak mampu menatap wajah tampan di depannya, Dia menunduk seolah mengamati sepatunya, namun pikirannya melayang kemana-mana.
Ans berjongkok, memegang tangan Dia yang mulai terasa dingin seperti es.
Ans merasakan hal yang berbeda, biasanya setiap kali ia menyentuh wanita, nalurinya sebagai 'Playboy' mulai bertraveling. Namun, tidak disaat ia menyentuh Dia.
Sentuhan itu terasa begitu membahagiakan hatinya, tetapi bukan sebagai orang yang mencintai lawan jenisnya. Melainkan sebuah perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya selama ini.
"Apa yang terjadi, mengapa perasaanku tiba-tiba berubah." pikir Ans merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya.
Melihat ada yang aneh dengan pria di depannya, membuat Dia menegakkan kembali kepalanya dan memandang wajah tampan itu.
"Ada apa?" kini giliran Dia yang bertanya.
Ans tersentak mendengar pertanyaan Dia, sebenarnya pertanyaan itu tidak terdengar terlalu keras, bahkan suara Dia terkesan lembut.
Namun, karena terlalu banyak berpikir membuat Ans terkejut.
"Oh, ti..tidak, tidak apa-apa !" jawab Ans terbata-bata.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Ans bersikap demikian dengan seorang wanita, biasanya Ans lah yang sering membuat para wanita menjadi salting, bukan dirinya yang malah gugup.
Tiba-tiba terdengar suara memanggil nama 'Dia' dari arah pintu, membuat Dia terkejut. Seketika itu juga Dia menarik tangannya.
"Ya, Almira!" sahut Dia dengan wajah yang sedikit memerah.
Sedangkan Ans telah berdiri, karena tidak mungkin baginya untuk merayu Dia di depan Almira, wanita yang jelas-jelas ia sukai.
"Kenapa kalian di sini, kenapa tidak pergi keluar?" tanya Almira dengan sedikit mendongkol.
"Bagaimana aku bisa pergi, lihatlah pergelangan kaki ku telah membengkak," jawab Dia, rupanya ia mendapat alasan dari bengkak yang ada di kakinya.
"Untung saja ads Ans, dia yang membantu mengurut kaki ku." Dia mulai mengarang cerita.
Mendengar ucapan dari Dia, Ans segera menganggukkan kepalanya.
"Oh, terimakasih ya, kau telah membantu sepupuku," ucap Almira senang.
"Jadi kau mengambil kejuruan yang sama dengan sepupuku?" tanya Almira kemudian.
"Ya, karena aku akan menggantikan posisi ayah ku nanti, sama seperti Dia," jawab Ans, kini ia mulai terlihat santai karena melihat wajah cantik Almira.
"Sebenarnya Dia dan Almira lebih cantik dan menawan Dia, tapi mengapa perasaanku jauh lebih kuat kepada Almira?" Ans kembali di buat bingung oleh perasaanya sendiri.
"Ayo kita ke kantin, aku lapar!" ajak Almira kepada Dia, dan Dia pun mengangguk.
"Biar ku bantu," Ans menawarkan diri.
"Boleh," Almira tidak merasa keberatan, karena ia sendiri juga ingin lebih lama melihat wajah tampan Ans.
Dan sikap jutek yang ia tampilkan tadi pagi, itu hanya demi menjaga imej Dia dan dirinya, agar tidak salah bergaul dengan orang lain.
Namun, melihat sikap Ans yang menunjukkan kalau ia adalah orang baik, membuat Almira merubah cara pandangnya.
Akhirnya Almira dan Ans memapah Dia, mereka berjalan bertiga menuju ke kantin. Dan ini membuat Dia merasa kesal karena tidak bisa menjawab pernyataan isi hati dari Ans.
Sedangkan Ans sendiri tidak masalah, asal bisa menatap dari dekat saja wajah Almira yang cantik mempesona, itu telah cukup baginya. Walaupun belum mendapat jawaban dari wanita yang bernama Dia.
Di kantin.
Jimmy yang telah sedari tadi berada di kantin itu, merasa heran ketika melihat Ans datang bersama dua orang wanita cantik sekaligus. Ingin rasanya ia menyapa majikannya itu, dan menggoda. Namun, semua itu di urungkannya karena ia tidak ingin menimbulkan rasa curiga di hati kedua wanita itu.
__ADS_1