
" Hussst!" Rena memberi kode kepada Puri, ia mengerlingkan matanya ke arah Dhita.
" Kenapa?" tanya Puri heran.
Rena mengangkat kedua bahunya.
Rena dan Puri memandang Dhita dengan penuh heran.
Dhita yang saat itu sedang berusaha mencerna semua ucapan Puri, membuatnya lebih banyak diam.
" Ya Allah, ini semua salahku, aku telah meminta kepada suamiku tentang sesuatu yang tidak mungkin bisa ia lakukan." bisik Dhita lirih namun masih bisa di dengar oleh Rena dan Puri.
" Dhi, aku hanya bercanda, Jangan di ambil hati!" Puri langsung merasa bersalah setelah mendengar bisikan lirih sahabatnya.
Dhita tidak menjawab, melainkan ia menangis dalam diam. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Melihat hal itu Puri segera menghampiri Dhita.
" Dhi, kamu tidak apa-apa kan?" Rena mulai khawatir melihat keadaan sahabatnya yang hanya diam tertegun.
" Awww....! aaww hhhh...hhhh!" Dhita merintih kesakitan, napasnya kian memburu.
Dhita memegangi perutnya, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Melihat hal itu, Puri dan Rena bertambah cemas.
" Dhi, kau kenapa? apa yang terjadi?" Puri menangis, masih teringat jelas di ingatannya betapa tersiksanya hidup sahabatnya dulu karena sakit, di tambah lagi dengan masalah-masalah yang lain.
" Aww..hh..hhh.." Dhita mengatur napas.
" Perutku, rasanya sakit sekali!" rintih Dhita dalam kesakitan.
Rasa sakit kontraksi palsu membuat Dhita kehabisan banyak tenaga, hingga membuat ia menjadi lemas seketika.
" Dhi, bangun Dhi! kau kenapa?" Puri mengguncang-guncang tubuh Dhita, namun tubuh itu tetap tidak merespon.
Rena yang melihat semua itu ikut panik, tanpa terasa ia berteriak dengan keras memanggil nama ibu mertuanya.
" Mommy! Mommy Dhita mom!" pekik Rena. Suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan.
Ednan dan Rere yang merasa kaget langsung saja menangis menambah kepanikan di ruangan itu.
Mendengar suara ribut-ribut di bawah, mommy Rita yang sedang menghubungi pusat chatering, untuk acara tujuh bulanan Dhita. Segera berlari dan turun ke bawah.
" Ada apa ini ?" tanya mommy Rita ketika baru saja sampai di sana.
" Dhita !" teriak mommy Rita, berusaha menyadarkan menantunya, Namun tetap saja Dhita tidak sadarkan diri.
" Ayo cepat bawa dia kerumah sakit !" perintah mommy Rita.
Rena memanggil pak sopir untuk mengangkat tubuh Dhita menuju ke mobil.
Lalu Mereka membawa Dhita ke rumah sakit terdekat.
*
*
*
Di kantor Arjuna.
__ADS_1
Arjuna yang sedang sibuk memeriksa setiap laporan di kantornya, tiba-tiba saja tangannya menyenggol sebuah gelas.
PRAANG.
Suara gelas terjatuh dan pecah, Arjuna yang sedang terkejut, tiba-tiba merasa khawatir.
Pikirannya hanya tertuju kepada istrinya, Dhita.
" Ada apa ini? mengapa perasaanku tidak enak?" gumam Arjuna.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk di dalam ponselnya.
" Mommy!" gumam Arjuna seraya mengangkat panggilan itu.
" Hall...!" belum selesai Arjuna mengucapkan kata hallo, mommy Rita telah menukas nya terlebih dahulu.
" Arjuna cepat kerumah sakit, Dhita dalam keadaan darurat!"
TUUTT
TUUUT
TUUUT
Panggilan berakhir.
" Hallo..hallo ...hallo!" namun panggilan telah di tutup sepihak oleh mommy Rita.
" Ada apa ini? mengapa mommy mengatakan Dhita dalam keadaan darurat!"
Dalam kebingungan Arjuna menuju ke rumah sakit, dimana istrinya sedang di rawat saat ini.
" Bagaimana keadaannya mom?" tanya Arjuna kepada mommy Rita yang terlihat sangat bersedih.
Tak hanya mommy Rita, seluruh orang yang berada di sana juga menampakkan raut wajah kesedihan.
" Masih ditangani dokter!" jawab Mommy Rita singkat.
" Apa yang terjadi mom?" Arjuna menatap intens ke arah ibunya.
" Mommy juga tidak tahu Ar, saat mommy tiba keadaannya memang sudah seperti itu!"
Tiba-tiba seorang perawat membuka pintu, yang langsung membuat semua orang yang berada di sana menoleh ke arahnya.
" Maaf, dengan suami ibu Dhita?" tanya perawat itu tanpa memperdulikan pertanyaan dari orang lain.
" Ya, saya sendiri sus!" jawab Arjuna
" Mari ikut saya!"
Kemudian Arjuna pun mengikuti perawat memasuki ruangan itu.
" Tuan Arjuna!" sapa seorang dokter yang saat itu sedang berdiri di samping Dhita.
" Ya dok, bagaimana keadaan istri saya?"
" Saya tidak bisa mengatakan apapun, kondisi istri anda sangat lemah, lihatlah istri anda tampak gelisah" Dokter itu menunjuk ke arah Dhita yang tampak sedang gelisah, namun sebenarnya ia sedang tidak sadarkan diri.
" Kami telah mencoba segala cara, tapi tidak membuahkan Hasil!" ucap dokter itu.
__ADS_1
" Mungkin jika anda yang berusaha menenangkannya, istri anda akan lebih mendengarkan." lanjut Dhita.
" Baik dok!"
Arjuna melangkah mendekati istrinya, kemudian ia mengelus perut istrinya perlahan. Sama seperti dulu yang pernah diminta oleh istrinya.
" Sayang, sadarlah! demi anak-anak kau harus bertahan, keselamatan bayi-bayi kita ada padamu!" Arjuna menitikkan air mata.
Berkali-kali Arjuna mengecup kening Dhita, dan pada akhirnya sebuah harapan mulai tampak di depannya.
" Mas!" panggil Dhita, yang telah mulai sadar, meskipun masih sangat lemah.
" HM, ada apa?" Sebuah senyum terukir di wajah tampan itu.
" Maafkan aku mas!" ucap Dhita lirih.
Mendengar ucapan istrinya, hati Arjuna terenyuh.
" Kau tidak bersalah, mengapa kau meminta maaf?"
Namun dokter memberikan ia isyarat untuk tetap mendengarkannya saja.
Arjuna mengangguk.
" Semua ini salah ku mas, aku yang telah memaksamu untuk menikahi Citra, maafkan aku mas, aku telah membuatmu terluka!" Suara Dhita terdengar sangat lemah.
" Ya, aku telah memaafkan mu, tapi dengan satu syarat!"
" Apa mas?"
" Cepat sembuh dan lahirkan kedua buah hatiku, dengan selamat!"
Dhita mengangguk.
" Pasti mas!" ucapnya, lalu tersenyum.
Dhita memejamkan kedua matanya dengan sebuah senyum di bibirnya. Perlahan keadaannya mulai membaik.
Dokter itupun tersenyum. Ia merasa lega, Karena rencananya menenangkan Dhita tanpa menggunakan obat penenang pun berhasil. Karena obat penenang sangat berbahaya bagi ibu hamil, dan bisa berdampak buruk untuk janin.
Walaupun kondisi istrinya telah jauh lebih baik, namun Arjuna tidak ingin beranjak dari tempat itu.
" Dokter, jadikan tempat ini sebagai ruangan untuk istri saya beristirahat, Karena saya tidak ingin ketenangan istri saya terganggu dan emosionalnya kembali naik." putus Arjuna.
" Tapi tuan..!"
" Saya akan membayarnya berapa pun, asal istri saya bisa beristirahat dengan tenang disini!"
Dokter itupun terdiam, karena ia tahu seberapa pun ia berusaha tapi, Arjuna tidak akan pernah ingin mendengarkannya.
" Baiklah, terserah tuan saja!" jawab dokter itu.
Sembari ia berpikir bagaimana caranya agar setiap pasien bisa mendapatkan pelayanan yang baik.
Tanpa menjawab Arjuna masih tetap bersama dengan istrinya, di dalam hati ia terus saja bersibah
Arjuna menggenggam erat tangan Dhita yang lembut, matanya memandang wajah ayu di depannya. Sementara Dhita telah tertidur setelah keadaannya semakin membaik.
Sesekali Arjuna mengelus perut istrinya dengan lembut.
__ADS_1