
BRAAAKK.
Suara pintu mobil di banting dengan sangat keras, Ans berlari menuju kedalam rumah dengan cepat.
Di dalam ruang tamu, Ans membanting apapun yang ia temui di sana. Meja, sofa, buku-buku, dan apapun yang ia jumpai semua di bantingnya hingga berserakan dimana-mana.
"Sial!!" umpat Ans dalam kemarahannya.
Ans mengepalkan tangannya, dengan rahang yang mulai mengeras menahan amarah. Ans berkata sambil memukulkan tangannya ke atas meja.
BRAAAKK.
"Gara-gara pria itu, aku gagal!!" Ans menggertakkan giginya hingga membuat rahangnya sedikit bergetar.
"Its oke, hari ini dia bisa menghentikan ku tapi tidak di kesempatan yang lain." Ans mengatur napasnya.
Jimmy yang baru saja tiba tertegun dengan apa yang telah di lihatnya. Seluruh barang berserakan di mana-mana, memenuhi ruangan itu.
Di dalam kebingungan Jimmy pun bertanya.
"Ada apa tuan, mengapa sampai berantakan seperti ini?"
Ans tidak menjawab hanya rahangnya yang terdengar menggerutup.
Tidak mendapatkan respon dari majikannya, membuat Jimmy memutuskan untuk membereskan saja barang-barang yang telah berserakan dimana-mana.
Tanpa bertanya lagi, Jimmy meletakkan kembali barang-barang itu ke tempat semula.Kemudian ia bergegas pergi ke belakang, dan tidak lama kemudian ia telah kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas air putih.
Dengan tangan sedikit gemetar, Jimmy menyodorkan gelar itu kepada Ans.
"Minumlah tuan agar hati tuan sedikit lebih tenang,"
Ans segera meraih gelas tersebut, kemudian meneguknya hingga tak bersisa.
PRAAANG.
Ans membanting gelas itu ke lantai, hingga pecah tak terbentuk lagi.
Ans mengambil pecahan gelas itu, dengan seringai yang menyeramkan.
"Tunggu saja pembalasan ku, kalian semua tidak ada yang bisa selamat dariku!" Ans menatap pecahan gelas di tangannya.
Karena emosinya yang meledak-ledak, tanpa di sadari Ans menggenggam erat pecahan gelas itu, hingga telapak tangannya telah mengucurkan darah segar, Ans menyeringai menyeramkan dengan pandangan menghunus ke depan. Entah apa yang ia pikirkan.
Jimmy yang melihat darah mulai menetes dari tangan Ans, berseru dalam kepanikannya.
"Tuan! tanganmu tuan!"
Ans hanya melirik tangannya sekilas, lalu tertawa terbahak-bahak.
Sungguh sikap Ans, membuat Jimmy semakin panik.
"Tuan, apa yang telah terjadi padamu tuan, tanganmu berdarah, mengapa tuan hanya tertawa!?" tanya Jimmy bingung dengan sikap tuannya.
__ADS_1
Jimmy teringat dengan nomor ponsel majikan seniornya, tuan Jason. Jimmy meraih ponsel dalam saku celananya lalu menekan nomor ponsel Jason.
DREEETTT....
DREEETTT....
Ponsel berdering.
"Tuan, ada masalah dengan tuan muda Ans!" seru Jimmy sebelum Jason sempat mengucapkan hallo.
"What?!" pekik suara di seberang, rupanya suara seorang wanita.
"Kenapa dengan putraku, apa yang terjadi padanya?" ternyata suara itu milik Fanny, wanita itu terdengar sangat khawatir.
"Tuan muda, dia tangannya berdarah nyonya," jawab Jimmy memberanikan diri, walau jauh didalam hatinya, ia merasa sangat ketakutan akan mendapat kemarahan majikannya.
Jimmy pun menceritakan apa yang telah terjadi.
"Stupid!" hardik Fanny dari seberang.
"Apa saja yang kau lakukan, hingga putraku sampai terluka seperti itu?" suara Fanny terdengar geram.
Jimmy hanya mampu mendengarnya tanpa berkata apapun.
"Cepat, berikan dia obat yang telah ku sediakan di dalam kotak obat pribadinya!" perintah Fanny dengan tegasnya.
"Baik nyonya," Jimmy memutuskan sambungan ponselnya.
Sesuai perintah dari majikannya, Jimmy berjalan tergesa-gesa menuju kamar Ans, dengan segera ia mencari kotak obat yang di maksud.
Dengan segera Jimmy mengambil kotak itu kemudian membukanya. Sebuah senyum terbit di bibirnya, dengan senang ia berkata.
"Semoga saja ini obat yang di maksud nyonya,"
Kemudian Jimmy segera meraih kotak obat itu, serta ia tidak lupa mengambil air putih dan membawanya keruang tamu, dimana Ans berada.
Jimmy menyodorkan obat di kotak itu kepada Ans.
"Pilih obat mana yang biasanya tuan minum," karena memang Jimmy tidak mengetahui obat mana yang harus di minum.
Ans melirik kotak obat itu sekilas, lalu berkata dengan geram.
"Aku tidak membutuhkan obat apapun, cukup dengan melihat Arjuna dan keluarganya menderita, itu sudah cukup bagiku!" Ans kembali menatap darah yang menetes dari tangannya tanpa ada keinginan untuk membersihkannya.
Jimmy terperanjat mendengar ucapan tuan mudanya. Namun, bertanya di saat genting seperti ini bukanlah waktu yang tepat.
"Setidaknya biarkan aku membersihkan darah di luka mu tuan." pinta Jimmy.
"Terserah!" Ans tidak perduli apa yang telah terjadi kepada dirinya, bahkan ia seperti tidak merasakan rasa sakit.
Jimmy bergegas mengambil baskom berisi air hangat dan kain kassa steril untuk membersihkan luka di tangan Ans.
Dengan perlahan Jimmy menarik pecahan gelas yang menancap pada luka di telapak tangan Ans, kemudian membersihkan luka itu dari darah yang terus saja menetes.
__ADS_1
Jimmy bergidik, "Pasti rasanya sakit sekali," batinnya.
Namun, Ans tidak mengeluh sedikitpun. Hanya rahangnya yang mengeras mungkin karena menahan rasa sakit.
"Sudah selesai tuan." ucap Jimmy ketika telah selesai memperban tangan Ans.
"Sekarang minumlah obatnya tuan, ini perintah dari nyonya." Jimmy kembali menyodorkan kotak obat itu.
Mendengar kata perintah yang di berikan ibunya, sontak membuat Ans segera mengambil obat yang biasa ia minum.
GLEK.
GLEK.
GLEK.
Ans meminum obat tersebut, obat penenang yang biasa ia minum ketika sedang emosi yang meledak-ledak. Ans telah terbiasa meminum obat itu, sejak tinggal di A.S.
Beberapa menit kemudian, Ans merebahkan tubuhnya di atas sofa, rasa kantuk mulai menyerangnya.
"Zzzzzzz...."
Tak sampai satu menit pun, Ans telah tertidur pulas. Tampak raut wajahnya melukiskan sebuah kekecewaan yang sangat mendalam.
Jimmy memandangi wajah majikannya, dengan rasa iba ia pun berkata.
"Apa sebenarnya yang telah kau alami tuan, mengapa sejak bertemu denganmu, aku merasa ada yang aneh, sebentar kau ramah, sebentar kau terlihat menyeramkan."
Pandangannya masih tetap tertuju kepada Ans, yang sedang tertidur pulas.
Terdengar suara ponsel berdering. Rupanya Fanny menghubungi Ans.
"Dimana putraku?" suara Fanny masih terdengar penuh amarah.
Fanny merasa terkejut karena yang mengangkat panggilannya bukanlah Ans, melainkan Jimmy.
"Tuan muda, sedang istirahat nyonya," jawab Jimmy.
"Oh, baiklah, apa dia telah meminum obatnya?"
"Sudah nyonya."
"Aku mempekerjakan dirimu, untuk mengawasi Ans, jadi jaga dia baik-baik, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk kepadanya!" perintah Fanny lebih tegas dari sebelumnya.
"Baik, Nyonya!" jawab Jimmy segera.
TUUT.
TUUT.
TUUT.
Panggilan berakhir.
__ADS_1
Jimmy menghela napas panjang, berusaha menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi.
"Jika kedua orang tuamu sangat menyayangimu, mengapa mereka menjauhkan dirimu dengan mereka, dan mengapa mereka takut kalau tuan Arjuna mengetahui kalau kau ini putra mereka?" berbagai pertanyaan bersarang di dalam pikiran Jimmy.