
" Apa maksudmu dia menyandang disabilitas?" tanya Arjuna heran melihat tingkah sahabatnya yang tertawa keras mendengar ia telah berhasil menipu wanita yang notabenenya adalah saudara sepupu Eza.
" Ya penyandang disabilitas mental." jawab Eza masih di antara tawanya.
" Terus terang saja bro aku lebih suka kamu sama Dhita dari pada si Citra ." jawab Eza lagi setelah tawanya mereda.
Arjuna memijat kepalanya yang teras pusing.
" Unlucky, dasar wanita ******." gerutu Arjuna dengan terus memijat kepalanya.
" Akan ku ambilkan perasan air lemon, agar bisa membuat pusing di kepalamu sedikit reda ," ucap Eza lalu beranjak pergi menuju dapur.
Arjuna tidak menjawab, ia berusaha mengingat-ingat peristiwa sebelum dirinya mabuk.
Ia teringat bagaimana ia minum dengan jumlah yang sangat banyak dan Citra yang selalu menuangkan minuman beralkohol di gelasnya, hingga ia mabuk berat.
" Oh God, untung saja tidak sampai.....," ucapan Arjuna terpotong ketika sebuah suara berseru dari belakang.
" Tidak sampai apa Ar, kau masih membayangkan citra dan kegatelannya ?" tanya Eza sambil membawa segelas perasan air lemon di tangannya. Eza merasa tidak suka ketika Arjuna memikirkan Citra, sepupunya.
Walaupun mereka saudara sepupu tapi Eza merasa mereka sangat jauh bahkan seperti tidak saling mengenal karena sikap Citra yang angkuh dan sombong.
Arjuna menghela napas panjang, lalu menerima segelas air lemon yang di sodorkan sahabatnya.
" Minumlah, karena di saat aku memberitahukan semua bukti ini, aku ingin kau sepenuhnya sadar." ucap Eza memandang terus sahabatnya.
Glek.
Glek.
Glek.
Arjuna meneguk habis segelas air lemon tersebut.
" Bagaimana, apakah pusingnya sudah sedikit reda?" tanya Eza setelah beberapa saat.
" Ya, sekarang sudah lebih mendingan." jawab Arjuna, ia merasakan kepalanya tidak seberat tadi sebelum ia meminum perasan air lemon.
" Bagus, sekarang aku akan memberimu fakta penting yang terjadi sebenarnya," ucap Eza.
__ADS_1
" Katakanlah ." ucap Arjuna merasa tidak sabar.
Eza mengambil ponsel lalu menampilkan bukti yang telah berhasil di pindainya dari laptop Citra ke ponsel miliknya.
Kedua mata Arjuna membulat sempurna ketika melihat bukti yang di tunjukkan sahabatnya.
" Aku benar-benar bodoh, mengapa aku tidak mendengarkan penjelasan Dhita terlebih dulu," ucap Arjuna menyesal, ia semakin menyesal setelah tau bahwa Dhita, wanita yang pernah menjadi kekasihnya tidak bersalah sama sekali.
" Karna rasa cemburu yang tidak beralasan kau menjadikan Dhita sebagai pelampiasan amarahmu!" seru Eza.
" Ya, sekarang aku benar-benar menyesal, maafkan aku Dhita," bisik Arjuna pelan hampir tak terdengar. Tak terasa air matanya berlinang ketika mengingat kembali semua perlakuannya yang tidak adil pada mantan kekasihnya itu. Ia telah menjadikan Dhita sebagai kambing hitam.
Wanita yang sama sekali tidak bersalah tapi justru menerima semua perlakuan buruknya, Arjuna lebih menyesal lagi ketika teringat pertemuannya dengan Dhita di restoran tadi, wanita itu mengatakan telah memaafkannya dan tidak membencinya sama sekali.
" Sekarang apa yang harus aku lakukan Za?" tanya Arjuna di tengah kebingungannya.
" Kita harus mengatakan kepadanya dan kau juga harus meminta maaf atas semua perlakuan mu padanya." ucap Eza memberikan saran.
Mendengar saran dari sahabatnya Arjuna semakin menundukkan kepalanya.
" Ada apa Ar?" tanya Eza melihat wajah sahabatnya yang semakin menunjukkan kesedihan. Melebihi dari sekedar menyesal.
" Tapi apa Ar ?" tanya Eza penasaran.
" Dia mengembalikan cincin yang pernah aku berikan padanya tempo dulu." jawab Arjuna.
Eza manggut-manggut, kemudian ia teringat sesuatu yang pernah dilihat nya.
" Apa dia memberikan sesuatu yang lain padamu?" tanya Eza kemudian.
Arjuna mengerutkan kening.
" Apa maksudmu?" tanya Arjuna kemudian.
" Apa dia mengembalikan sapu tangan milikmu?" Eza bertanya lagi.
" Tidak." jawab Arjuna singkat.
" Kalau begitu tidak masalah, dia masih menyimpan rasa untukmu." ucap Eza tersenyum lega.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Arjuna masih belum memahami ucapan sahabatnya.
" Tidak masalah jika Dhita mengembalikan cincin darimu, itu tandanya dia bukan perempuan matre, dia tulus mencintaimu." ucap Eza masih dengan senyuman di wajahnya, setidak nya kini ia tau apa yang harus dilakukan untuk membantu sahabatnya. Setelah bertambah yakin Dhita adalah wanita yang baik dan tulus mencintai sahabatnya, Eza bertekad untuk menyatukan hubungan mereka kembali. Eza ingin sahabatnya juga merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang ia rasakan. Menikah dengan orang yang ia cintai
" Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Arjuna.
" Malam ini juga kita harus menemui Dhita, kita jelaskan semuanya semoga saja hatinya tidak terlalu hancur, hingga kau bisa memperbaiki hubungan kalian kembali." jawab Eza dengan yakin.
" Tapi Za ...." Arjuna terlihat ragu.
" Ada apa lagi?" Eza mulai merasa kesal dengan tingkah sahabatnya yang menurut dia terlalu mengulur waktu.
" Aku.... aku pernah mengatakan untuk mengharamkan cintaku untuknya." ucap Arjuna mengingat ucapannya sendiri tempo dulu.
" Apa?" Eza terkejut mendengar penuturan sahabatnya. Eza menepuk jidatnya sendiri.
" Oh tuhan, apa Yang kamu lakukan Ar, kau tau dia itu wanita yang sangat menjunjung tinggi nilai agama, kata-kata haram pasti akan membuat dia merasa sangat di hina." ucap Eza dengan tegas.
" lalu sekarang aku harus apa?" Arjuna semakin kebingungan.
" Entahlah, wajar saja jika selama ini dia terus menghindar darimu, dia pasti merasa sangat terhina dengan kata-katamu Ar!" Eza merengut kesal.
" Apalagi sekarang dia bekerja di perusahaan baru sebagai sekretaris, bisa saja bos barunya menyukai Dhita dan menikahinya, Dhita adalah kriteria wanita yang ideal untuk di jadikan istri, dan kau tidak akan menemukan nya lagi di manapun." ucap Eza panjang lebar di dalam kekesalannya.
Arjuna hanya terdiam membenarkan ucapan sahabatnya. Ia mulai merasa takut jika sampai ucapan sahabatnya itu menjadi kenyataan.
" Secepatnya kau harus membatalkan pertunangan mu dengan Citra, dan kejar kembali cinta mu dengan Dhita!" saran Eza dengan tegas.
" Sebelum semuanya terlambat !" lanjut nya lagi.
Arjuna hanya bisa diam membisu, tak tau lagi apa yang harus di lakukannya.
" Apa mungkin dia masih akan bersedia menerima ku kembali Za ?" tanya Arjuna dalam kebimbangannya.
" Semoga saja, ayo cepat kita temui dia, bagaimana hasilnya kita lihat saja nanti, yang penting kita harus mengatakan semuanya padanya walaupun sebenarnya tadi aku dan Puri telah menceritakan padanya aku ingin kau sendiri yang menjelaskan semuanya, semoga saja dia mau menerima mu kembali." ucap Eza dengan penuh harapan.
Arjuna dan Eza memutuskan untuk menemui Dhita malam itu juga, walaupun sudah larut malam, tetapi mereka ingin masalah ini secepatnya di luruskan. Agar tidak terjadi lagi kesalah pahaman kedepannya.
Akhirnya mereka pergi dengan membawa harapan.
__ADS_1