
Hampir sebulan Dhita menghabiskan waktunya untuk berdiam di dalam rumah tanpa melakukan aktifitas apapun.
Semenjak ia pulang dari rumah sakit, Dhita dilarang oleh Arjuna untuk melakukan hal-hal yang membuat dirinya kelelahan.
Dulu Dhita tidak merasa keberatan dengan keputusan suaminya itu. Namun kini berbeda, dengan kondisinya yang semakin membaik hampir bisa dikatakan sembuh total Dhita mulai merasa bosan.
" Huh, andai saja aku bisa keluar," gumam Dhita seorang diri, sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
Dhita melemparkan pandangannya ke luar jendela.
Saat itu ia sedang duduk di dekat jendela kamarnya, menikmati indahnya pemandangan di halaman mansion mewah milik suaminya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
KREEKK.
Tampaklah seorang pria tampan bertubuh tinggi tegap berjalan ke arah nya.
Namun Dhita tidak menghiraukannya Karena saat ini pikirannya sedang melayang entah kemana.
" Apa yang kau pikirkan?" tanya Arjuna membuat istrinya terkejut.
" Mas Ar, kapan pulang?" Dhita balik bertanya.
Dhita bangkit dari duduknya menghampiri suaminya.
Ia meraih tangan suaminya lalu mencium tangan itu.
Itulah kebiasaan Dhita semenjak menikah, ia sangat menghormati Arjuna sebagai suaminya.
" Apa yang sedang kau pikirkan?" bukannya menjawab Arjuna justru malah bertanya.
" Tidak ada mas," jawab Dhita berbohong.
" Aku rasa kau bukanlah wanita yang pandai berbohong." ucap Arjuna mengintimidasi istrinya.
Merasa ada gelagat aneh pada istrinya, Arjuna yakin bahwa istrinya benar-benar berbohong.
" Cepat katakan apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Arjuna lagi.
" Aku... aku ingin pergi jalan-jalan mas," Jawab Dhita jujur, karena tidak ada gunanya lagi bagi dirinya untuk berbohong.
" Healling maksudnya?" tanya Arjuna memastikan.
Dhita segera menganggukkan kepalanya.
" Aku bosan mas di rumah terus." papar Dhita.
Seketika Arjuna langsung memeluk istrinya.
" Maaf kan suamimu ini istriku, karena sibuk dengan urusan kantor aku jadi mengabaikan mu." ucap Arjuna masih memeluk Dhita dengan penuh kasih sayang.
Memang sejak istrinya sakit Arjuna hampir tidak pernah ke kantor, ia melimpahkan semua urusan kantor kepada Eza, sahabatnya.
Oleh karena itu banyak dari pekerjaan kantor yang terabaikan. Karena Eza sendirian ia menjadi kewalahan.
Dan sekarang Arjuna harus menanganinya sendiri.
" Mas, aku ingin pulang kampung." ucap Dhita mengutarakan keinginannya seraya melerai pelukan dari suaminya.
" Baiklah!" jawab Arjuna dengan penuh cinta kasih.
__ADS_1
Bayangan akan segera pulang kampung menari-nari di benak Dhita.
Apalagi ia sangat merindukan keluarganya disana, ayah dan ibunya adalah dua orang yang sangat ia rindukan.
Bu Safitri menolak untuk tinggal di kota, walau ia juga memiliki hak atas rumah itu. Karena ia merasa jauh lebih nyaman di rumah suaminya, rumah yang menyimpan sejuta kenangan terindah di dalam hidupnya.
Dengan tersenyum Dhita melepaskan jas yang di pakai oleh suaminya.
" Jangan senyum-senyum, nanti aku tidak tahan!" seru Arjuna menggoda Istrinya.
" Kamu pasti haus kan mas?" tanya Dhita mengalihkan pembicaraan tanpa menghiraukan Ucapan suaminya.
Arjuna hanya mengangguk kecil mengiyakan ucapan istrinya. Karena ia masih mengingat pesan penting dari dokter Eina yang mengatakan bahwa Dhita tidak sepenuhnya pulih meskipun fisiknya telah kembali normal.
Pasca operasi transplantasi liver membuat Dhita mengalami penurunan pada sistem kepekaan di dalam tubuhnya.
Oleh karena itu Dhita tidak pernah menyadari akan kekurangan nya yang tidak pernah memenuhi hasrat suaminya.
" Ya Tuhan, kuatkan aku!" pinta Arjuna didalam do'a nya, namun setelah istrinya keluar dari kamar tersebut.
Arjuna berjanji tidak akan pernah memaksa kan kehendaknya sebelum Dhita sendiri yang datang kepadanya.
Karena bagi Arjuna kesembuhan istrinya secara fisik ataupun mental lebih berarti dari pada hasrat dan keinginannya.
Sedangkan Dhita yang saat ini sedang berada di dapur di cegah oleh para pelayannya. Mengingat istri dari majikannya itu tidak di perbolehkan untuk melakukan hal-hal yang berat.
" Tolonglah jangan hentikan aku, biarkan aku membuat kopi untuk suamiku." Dhita memohon kepada para pelayan yang di tugaskan untuk menjaga dirinya.
" Maaf nyonya, kami hanya menjalankan tugas," jawab salah satu pelayan karena ia tidak ingin di salahkan jika terjadi sesuatu kepada nyonya mereka.
Mau atau tidak Dhita harus mengalah, percuma saja ia memaksa sebab para pelayan itu akan terus melarang dan melarangnya.
" Mari kami antar ke kamar mu nyonya." ucap salah seorang pelayan nya.
" Terserahlah," jawab Dhita pasrah.
" Kami akan mengantarkan kopinya ke kamar sebentar lagi nyonya," timpal yang lain.
Akhirnya bagai orang sakit parah Dhita diantarkan ke kamarnya.
" Kalian boleh pergi." kata Dhita dengan ketus.
Setelah memasuki kamarnya.
" Baik nyonya." jawab para pelayan dengan patuh.
" Mas, kau lihat kan seperti apa aku di perlakukan Dirumah ini?" tanya Dhita saat melihat suaminya sedang berbaring di atas ranjang.
Namun Arjuna yang sedang membalas chat dari seseorang memilih untuk tidak menghiraukannya.
" Mas!" pekik Dhita mengejutkan Arjuna hingga membuat pria itu sontak menarik tubuhnya dan mengukungnya.
Namun reaksi Dhita biasa saja.
Seandainya saja ia masih peka, tentulah ia akan merasakan adanya sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya dengan posisi sedekat itu.
Karena Arjuna saat ini dapat merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya.
Mereka saling menatap satu sama lain.
" Tubuhmu banyak keringatnya mas." celetuk Dhita membuyarkan pikiran Arjuna yang mulai bertraveling kemana-mana.
__ADS_1
Sontak Arjuna berdiri karena ingin menghindari kemungkinan yang akan terjadi.
" Mandilah mas, sebentar lagi kopinya akan datang." perintah Dhita kepada suaminya.
Arjuna pun menurut melangkah ke dalam bathroom untuk membersihkan tubuhnya.
Benar saja apa yang di katakan Dhita, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
" Masuk!" seru Dhita.
Pintu pun terbuka, tampak seorang pelayan memasuki kamar dan menaruh secangkir kopi yang dipegangnya di atas end table.
" Terima kasih," ucap Dhita sebelum pelayan itu pergi.
" Jika perlu sesuatu nyonya bisa hubungi saya saja." pesan pelayan tersebut.
" Baiklah terimakasih," jawab Dhita mengiyakan.
Tak lama kemudian Arjuna pun keluar dari dalam bathroom, ia yang telah selesai mandi hanya mengenakan towel yang menutupi sebagian tubuhnya.
Dhita hanya melirik suaminya sekilas, lalu berjalan menghampiri sebuah almari untuk mengambil pakaian suaminya.
Melihat reaksi istrinya Arjuna hanya termangu.
" Ternyata istri ku benar-benar kehilangan kepekaannya, dia tidak tergoda dengan tubuhku meskipun aku tidak mengenakan pakaian sekalipun," Arjuna membatin.
Ya, siapa saja yang melihat Pria tampan dan gagah bak model iklan di TV, pasti akan tergoda dengan gestur tubuh yang kekar atletis.
Namun itu tidak terjadi kepada Dhita, ia hanya tersenyum dan bersikap biasa saja.
" Ini baju mu mas," ucap Dhita seraya menyodorkan pakaian yang baru saja di ambilnya dari dalam almari.
" Haruskah aku memakainya?" Arjuna mencoba menggoda istrinya, ia ingin membuktikan seberapa persen hilangnya kepekaan sang istri.
" Apa maksudmu mas?" Dhita bertanya seolah tak mengerti.
Arjuna tidak menjawab melainkan terus berjalan mendekati istrinya yang sedang kebingungan.
Arjuna semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Dhita, kini diantara mereka telah tak berjarak lagi.
" Mas!" panggil Dhita lebih keras.
Namun Arjuna hanya menatap wajah cantik istrinya, wajah yang tidak pernah bosan ia pandangi.
" Kau tau kewajiban seorang istri itu apa saja?" tanya Arjuna yang saat ini telah memeluk istrinya.
" Ya, aku tau mas," jawab Dhita dengan tegas.
" Apa saja?" Kembali Arjuna ingin menguji kepekaan istrinya.
" Melayani mu mas," jawab Dhita dengan tenang.
" Melayani dalam bentuk apa?" Arjuna semakin memperdalam pertanyaannya.
" Semuanya mas, mulai dari kebutuhanmu hingga..." jawaban Dhita terjeda.
Ia menundukkan kepalanya.
Dhita menyadari kalau dirinya tidak pernah menunaikan kewajibannya yang satu ini.
Tubuhnya bergetar hebat air mata mulai mengalir di pipinya.
__ADS_1
" Mengapa aku tidak pernah menyadarinya mas, mengapa seolah aku tidak memiliki rasa untuk itu?" pertanyaan Dhita bertubi-tubi.
Arjuna yang tidak tega melihat kondisi istrinya, segera berusaha menenangkannya.