
" E... maksud mama!" Bu Devina bingung harus berkata apa, rasanya pertanyaan itu membuat dirinya malu sendiri.
" Apa?" desak Citra mulai tidak sabar ingin mendengar jawaban dari ibunya.
" E... anu...e...itu.., tadi mama lihat baju Arjuna sedikit robek di bagian depan, mama pikir itu karena....!" yang langsung di potong oleh Citra.
" Astaga ma! apa yang mama pikirkan?" sekarang Citra mulai mengerti apa maksud dari pertanyaan ibunya.
Bu Devina hanya cengar-cengir, karena merasa malu.
" Ma, mungkin itu semua terjadi karena baju Arjuna tersangkut di gelang ku ma!" ucap Citra seraya memperlihatkan gelang yang di pakai di lengan kirinya, tampak lah beberapa benang kecil di gelangnya.
" Oh!" wajah Bu Devina berubah kontras, yang sebelumnya terlihat ceria, kini menjadi lebih datar dan cenderung murung.
Melihat perubahan pada wajah ibunya yang sangat kontras, membuat Citra tertawa geli.
Malam pun semakin larut, perlahan merangkak menemui pagi.
*
*
*
Acara tujuh bulanan untuk Dhita, akan segera dipersiapkan.
Siang itu juga Mommy Rita dan Rena berangkat ke mansion.
Sedangkan di depan mansion telah berdiri Puri yang baru saja turun dari mobilnya.
Setelah menekan tombol pintu, terdengar suara pintu di buka. Tampak lah seorang pelayan yang sedang berdiri di depannya.
" Mbak Puri, silahkan masuk!" ajak pelayan itu yang telah mengenal Puri dengan baik.
" Iya terima kasih!" ucap Puri seraya berjalan mengikuti di belakang pelayan itu.
" Silahkan duduk, saya akan memanggil nyonya Dhita." ucap pelayan itu, yang langsung berlalu menuju kamar majikannya.
" Puri!" Pekik Dhita yang telah berdiri tidak jauh dari Puri.
" Dhita" jawab Puri.
Seketika membuat mereka berdua berpelukan.
" Aku merindukanmu Bestie!" ucap Dhita lalu melerai pelukannya.
" Ya, aku pun begitu!"
" Mama!" panggil seorang anak lelaki yang sedang memperhatikan ibunya.
" Ednan." Puri yang hampir saja melupakan putranya, terkejut saat melihat Ednan yang sedang menatapnya.
__ADS_1
" Ma, haus!" ucap Ednan yang baru saja meletakkan snack di atas meja makan.
Sebelum Puri menjawab, seorang pelayan telah tiba di sana dengan membawa dua gelas minuman.
" Ini Ednan sayang!" Dhita menyodorkan segelas minuman itu kepada Ednan, namun Puri membantu Ednan untuk memegang gelas itu, dikarenakan ia khawatir putranya itu akan menjatuhkan gelas itu.
GLEK.
GLEK.
GLEK
Ednan meneguk habis minuman nya.
" Makacih tante!" ucap Ednan setelah menghabiskan minuman itu.
" Ya, sama-sama anak ganteng!" jawab Dhita sembari mengusap kepala bocah kecil itu.
" Tante tantik!" rupanya Ednan telah belajar menggombal.
" Iya, Bogan !" jawab Dhita, sambil tertawa geli melihat kepintaran dari anak sahabatnya.
" Bogan? apa sih?" Puri yang belum terbiasa mendengar panggilan itu, merasa aneh.
" Bogan, bocah ganteng!" sahut Dhita seraya tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
Tak lama kemudian datanglah Rena dan mommy Rita, membuat suasana semakin hangat.
" Hei, Dhita !" Rena berteriak memanggil nama sahabatnya, lalu Rena berbaur dengan Dhita dan Puri.
" Iya, Tante, Rere masih tidur, nanti ya kita mainnya!" Rena Berbicara seperti anak kecil pada umumnya.
Seketika membuat ketiga sahabat itu tertawa, tawa yang hampir hilang selama se tahun terakhir.
" Mommy !" ucap Dhita yang kemudian membuat ibu mertuanya menatap kepadanya.
" Ada apa?" tanya mommy Rita setelah tiba di samping menantunya.
" Ah, tidak mom, itu, ada Tante Devina dia semalam menginap disini." jawab Dhita agak gugup, karena ia khawatir ibu mertuanya akan merasa keberatan. Sebab ia sendiri yang mengambil keputusan itu, tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepada ibu mertuanya.
Lalu Dhita meraih tangan mommy Rita dan mencium tangan itu.
" Sekarang dia dimana?" tanya mommy Rita sambil mencari-cari keberadaan Bu Devina.
" Masih di atas mom! mungkin sedang berberes." jawab Dhita.
Ya, memang Bu Devina baru saja kembali dari dalam dapur. Sejak pagi-pagi sekali ia di dapur membantu para pelayan untuk memasak. Sebenarnya Dhita dan Citra telah melarangnya, namun bu Devina tidak mengindahkan larangan dari Dhita dan Citra.
Mommy Rita mengangguk.
" Ya sudah, mommy tingggal dulu ya!" ucap mommy Rita seraya melangkah meninggalkan ruang tamu.
__ADS_1
Ketiga Bestie itu masih tetap asyik mengobrol, menumpahkan semua rasa yang mereka rasakan selama ini.
Sesekali obrolan mereka di iringi canda dan tawa. Melihat ke asyikan ketiga sahabatnya itu membuat Citra Menghampiri mereka.
" Sudah lama kalian disini?" tanya Citra yang saat itu telah duduk di sebelah Dhita.
Karena tidak ada satu pun di antara kedua sahabatnya. Dhita terpaksa menjawab.
" Ya, lumayan lama lah Cit?!" jawab Dhita menatap ke arah lawan bicaranya, Yang saat itu Citra telah sedang menatap ke arah Puri dan Rena.
Mendapat tatapan menelisik dari istri muda nya Arjuna, akan tetapi mereka tidak kalah menelisik dengan pandangan yang begitu mematikan.
" Maaf, apa boleh aku menggendong bayi lucu ini?" tanya Citra, memandang penuh Arti.
" Boleh!" jawab Dhita, kemudian ia meraih bayi cantik Rere dari dekapan ibunya.
Tampak lah senyum dari bibir Citra memandang lekat bayi cantik Rere.
" Ah, seandainya saja!" gumam Citra yang dapat di dengar oleh Dhita.
Kemudian Dhita pun berkata.
" Citra!" panggil Dhita.
" Kemari!" lanjut Dhita.
Mendengar permintaan Dhita, yang membuat Citra langsung menghampirinya. Karena saat. itu Citra sedang berdiri menimang-nimang bayi cantik Rere.
" Ada apa?" tanya Citra yang saat itu telah kembali duduk di samping Dhita. Pandangannya tertuju kepada Puri dan Rena yang sedang asyik mengobrol.
Namun Dhita merasa tidak enak hati jika harus mengatakan nya saat itu juga, karena ia khawatir Citra akan merasa tersinggung.
" Ah, tidak nanti saja!" Dhita mengurungkan niatnya.
Mendengar hal itu, Citra kembali menimang-nimang bayi mungil itu. Sementara Rena dan Puri masih saja asyik bercengkrama.
Kemudian Ednan yang merasa bosan melihat ibunya terus mengobrol tanpa menghiraukan dirinya, beranjak mendekati Citra yang saat ini sedang duduk di samping Dhita.
" Tante, adiknya tantik cekali! ucap Ednan seraya mengelus pipi lembut Rere.
" Ya, adiknya memang cantik, apa Ednan ingin mencium nya?" Citra menggoda Ednan.
" Boleh?" Ednan seakan meminta pendapat dari Dhita, yang saat itu sedang memperhatikan nya.
" Boleh, tapi sebelum cium adiknya, cium Tante dulu dong!" goda Dhita kepada Ednan yang langsung meraih wajah Dhita kemudian menciumnya.
MMUAH.
Satu ciuman Ednan mendarat di pipi Dhita dan membuat semua orang yang berada di sana tertawa.
" Makasih sayang!" ucap Dhita sambil memeluk bocah kecil Ednan yang lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
" Semoga nanti anak-anakku, akan menjadi sepintar kau nak!" gumam Dhita masih memeluk Ednan.
" Tante, tolong lepaskan aku! aku ingin cium adik bayinya!" pinta Ednan ketika tubuhnya masih dipeluk oleh Dhita.