Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 56 Terungkap


__ADS_3

Eza mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya. Benda berwarna hitam berbentuk pipih yang akan membongkar semua kelicikan Citra. Apalagi kalau bukan ponsel yang telah berisi bukti kelicikan Citra.


" Kau masih ingat dengan ini?" Eza memperlihatkan ponsel yang telah ia nyalakan terlebih dahulu dan menampilkan akun Citra yang telah menghack akun Dhita.


Dengan wajah tersenyum Eza yakin sepupunya tidak akan mampu berkutik lagi.


Citra terkesiap, sekujur tubuhnya gemetar bagai di sengat listrik bervolume tinggi.


" Da.... dari mana kamu dapatkan semua itu?" tanya Citra terbata-bata. Wajahnya pucat pasi seperti tak di aliri darah.


" CK, kamu sudah tidak bisa menyangkal lagi, lebih baik kamu akui saja semua kesalahanmu, mungkin dengan begitu Arjuna dan Dhita bisa memaafkan mu." ucap Eza memberikan saran pada sepupunya yang amat sangat menyebalkan.


Citra terdiam, ia berusaha memutar otak mencari cara yang paling tepat untuk mengamankan dirinya.


Sedangkan Arjuna hanya menatap Citra dengan sorotan tajam, karena sebelumnya ia telah mengetahui semua bukti itu.


Lain dengan Dhita yang syok melihat semua bukti itu.


Dhita menghampiri Citra, memberikan tatapan tajam yang penuh dengan berbagai


pertanyaan.


" Apa benar semua bukti itu Citra?" tanya Dhita dengan suara yang bergetar, antara percaya dan tidak.


" A...aku... Dhita...aku...!" Citra tak meneruskan perkataannya, rasanya seperti tercekik di leher.


Plaakk.


Sebuah tamparan kembali melayang dari tangan Dhita, walau hanya sekali tampar namun mampu membuat Citra terjungkal kebelakang karena ia tak pernah mengira akan mendapat serangan mendadak dari wanita yang ia kenal sangat lembut.


" Awww." pekik Citra saat ia terjatuh, Citra mengaduh kesakitan saat bokongnya menyentuh lantai dengan cukup keras.


" Dhita, kau," Citra tak meneruskan kata-katanya lagi saat melihat Dhita yang langsung berdiri tepat di atas tubuhnya, Dhita mengukung Citra membuat Citra semakin gemetar.


" Dhita apa yang akan kau lakukan?" tanya Citra semakin ketakutan mendapat sorotan mata tajam dari Dhita, padahal sebelumnya mata itu tampak indah dan memancarkan kelembutan.


Srett.


Sekali tarik hijab pasmina yang beberapa menit yang lalu Dhita kenakan pada Citra kini telah terlepas dari tubuh Citra. Memperlihatkan keadaannya yang berantakan.

__ADS_1


" Dhita, kau, kembalikan Dhita," teriak Citra meminta penutup tubuhnya kembali. Citra merasa risih karena di sana ada sepupunya yaitu Eza.


Eza dan Arjuna terkejut melihat Citra dengan pakaiannya yang sobek di bagian dada, memperlihatkan kedua gunung kembarnya.


Merasa di perhatikan Citra langsung menutup area dadanya dengan kedua tangannya.


" Katakan padaku mas Ar, apa ini kamu pelakunya?" tanya Dhita menunjuk ke arah Citra yang masih berada dalam kukungan dirinya.


" Sudah ku katakan aku tidak berminat dengannya, bagaimana mungkin aku melakukan perbuatan itu padanya." jawab Arjuna dengan santai, ia merasa sedikit lega saat Dhita tak lagi memandangnya dengan tatapan tajam.


" Bodoh, sungguh kau bodoh, citra." ucap Eza yang mengepalkan tangannya erat-erat, ia sendiri merasa malu karena harus memiiki saudara sepupu murahan seperti Citra.


" Kau jangan ikut campur." teriak Citra, yang berusaha berdiri setelah terlepas dari kukungan Dhita.


" Jika robekan itu berada di depan, itu karena ulah mu sendiri, seharusnya kau merobek nya di belakang agar terkesan di paksa, licik kok nanggung." ucap Eza masih dalam kemarahannya.


" Aku sangat kecewa sama kamu Citra, selama ini kamu telah mempermainkan perasaan kami,".Dhita menyebut kami untuk dirinya dan Arjuna.


" Ini semua ku lakukan karena aku mencintai Arjuna, aku tidak rela jika kamu yang bersamanya." ucap Citra, kini ia menunjukkan sifat aslinya, tidak lagi berpura-pura baik.


" Bukankan sudah kukatakan dulu, jika sudah jodoh maka tidak akan kemana." balas Dhita.


Jantung Arjuna berdebar, mendengar ucapan itu dari mulut Dhita.


" Apa sebenarnya Dhita masih sangat mencintaiku ?" bisik hati Arjuna, seulas senyum terbit di bibirnya yang seksi.


" Tidak Dhita hanya aku yang pantas untuknya, bukan dirimu!" teriak Citra tak terima dengan ucapan Dhita yang terkesan masih mengharapkan Arjuna.


" Oh, ya... kita lihat saja nanti." balas Dhita dengan tatapan yang menghunus.


Eza merasa kesal sekaligus marah melihat kelakuan Citra, sebagai seorang sepupu Eza merasa malu.


Seketika ia mencengkram lengan Citra dan bermaksud membawanya pergi.


" Apa tidak ada pekerjaan lain selain mempermalukan dirimu?" tanya Eza sambil terus menyeret Citra yang berusaha memberontak.


" Lepaskan, lepaskan aku Eza!" teriak Citra sambil meronta-ronta, namun karena tangan Eza begitu kuat mencengkram lengannya membuat Citra terpaksa harus menyerah, Karna kalau tidak sudah pasti lengannya itu akan patah karena cengkraman saudara sepupunya.


Tanpa memperdulikan Citra yang masih meronta, namun kali ini hanya gerakan kecil saja. Eza terus saja berjalan ke arah mobil.

__ADS_1


Ia berharap Arjuna dan Dhita mampu menyelesaikan masalah mereka dengan baik.


*


*


" Dhita sekarang aku benar-benar menyesal, aku meminta maaf." ucap Arjuna penuh penyesalan.


" Bukankah sudah kukatakan padamu mas, kalau aku sudah memaafkan mu." jawab Dhita, meski di hatinya masih ada sedikit luka.


" Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu, menjalin..."


" Jangan teruskan ucapanmu itu mas," Dhita memotong kata-kata Arjuna.


" Kenapa?" tanya Arjuna heran, bukankah tadi sudah terungkap semuanya gara-gara Citra.


" Sekarang lebih baik kamu pergi mas, ini sudah malam." Dhita mengalihkan pembicaraan.


" Tidak!" ucap Arjuna tegas.


" Aku tidak akan pernah pergi dari sini sebelum kamu memberikan aku penjelasan." lanjut Arjuna.


Arjuna berdiri tepat di depan Dhita, menilik wajah cantik yang selama ini ia rindukan. Namun Dhita hanya menunduk tak sekalipun ia menatap wajah Arjuna. Tentunya dengan beberapa alasan.


Melihat Wanita di depannya diam saja, Arjuna bergerak mendekatinya berniat hendak memeluknya. Namun Dhita malah menghindar berlari keluar apartement.


Di luar cuaca sedang tidak baik, malam gelap gulita. Hujan turun dengan derasnya di sertai petir yang menyambar-nyambar.


Dhita terus berlari memecah turunnya hujan. Ia terus saja berlari tak menghiraukan dirinya yang basah kuyup saat ini, hanya satu yang ada di pikirannya, pergi sejauh mungkin dari pria yang bernama Arjuna.


Dari kejauhan tampak Arjuna mengejarnya namun Arjuna berhenti saat jarak di antara mereka hanya beberapa meter.


" Ya Allah mengapa kau berikan aku cobaan seberat ini, susah payah aku berusaha melupakannya mengapa kau datangkan dia kembali," Teriak Dhita di antara gemuruhnya hujan. Air matanya berderai berbaur dengan turunnya air hujan.


" Aku ingin hidup tenang, aku juga berhak bahagia!" teriak Dhita lagi, seolah ia ingin menumpahkan semua rasa di hatinya.


" Hiks...Hiks...Hiks.!" Dhita menangis tergugu, ia bersimpuh di tengah jalan tak terpikirkan lagi olehnya tentang keselamatan.


Dan satu lagi yang membuat dirinya merasa bersalah.

__ADS_1


Dhita menengadahkan kedua tangannya. Menatap tangannya dalam-dalam.


__ADS_2