
Namun, Ans telah terlanjur turun dari mobil dan membuka pintu di sebelah Diana.
"Turun!" perintah Ans dengan serius.
"What? kau menyuruhku turun dari mobil di tempat sepi seperti ini?" Diana terperanjat hingga membuat kedua matanya membulat.
"Cepat, turun kataku!" ulang Ans masih dengan nada suara yang sama.
Karena Dia tetap tidak ingin turun, Ans terpaksa menarik lengannya dengan sedikit kasar.
Setelah Diana turun, Ans segera membuka pintu depan mobil dan mendudukkan Diana di sana.
Setelah itu, Ans kembali ke tempat semula.
"Mengapa kau pindahkan aku ke depan?" sungut Diana dengan sedikit kesal.
"Agar kau tidak bisa berpaling dariku." jawab Ans menatap Diana.
"Apa maksudmu, apakah aku harus selalu memandang mu dan mengagumi dirimu? Hey! Ans kau pikir kau ini siapa? kau ini bukan siapa-siapa jadi jangan pernah memaksa diriku!" suara Diana sedikit lantang.
Mendengar celotehan Diana, Ans merasa kesal hingga tanpa ia sadari tangannya telah menutup mulut Diana, dan jarak di antara mereka begitu dekat.
Diana yang telah terlanjur cemburu kepada Ans, tanpa terasa menitikkan air mata ketika ia menatap wajah tampan Ans. Karena hatinya telah terlanjur sakit, terlanjur patah berkeping-keping.
"Lepaskan Ans!" tangan Diana mendorong Ans hingga pria itu terpental ke kursinya.
Segera Diana memalingkan wajahnya, karena ia tidak ingin Ans melihat air mata yang mulai mengalir deras di kedua pipinya. Walaupun begitu Ans telah terlanjur melihat Diana yang menangis. Tiba-tiba saja hatinya menjadi pilu melihat wanita yang duduk di sampingnya sedang menangis.
"Dia," panggil Ans, kali ini suaranya lebih lembut.
Diana tidak menjawab panggilan Ans, melainkan dirinya tetap memalingkan wajah ke luar jendela.
karena tidak mendapatkan respon dari Diana, terpaksa Ans meraih wajah Diana dan membuat wajah itu menoleh ke padanya.
Terlihatlah oleh Ans, wajah yang telah basah oleh air mata, wajah yang menangis karena patah hati.
Melihat hal itu, membuat hati Ans menjadi pilu. Lagi-lagi Ans merasakan hal yang sama, suatu getaran aneh yang membuatnya menjadi bingung sendiri.
"Bagaimana aku bisa membalaskan dendam mama, jika hati ini selalu merasa tidak tega melihat nya menangis, apalagi harus menyakitinya," gerutu Ans dalam hati.
"Ada apa, mengapa kau menangis?" Ans tetap bertanya walau tidak mendapat jawaban dari Diana.
Ans menyeka air mata yang mengalir membasahi pipi Diana, dan itu membuat Diana semakin sesenggukan.
Sebenarnya perasaan yang dimiliki oleh Diana kepada ans adalah sebuah perasaan dari adik kepada kakaknya. Namun, karena Diana tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya, maka ia beranggapan kalau perasaan itu adalah rasa cinta.
"Tidak perlu berpura-pura baik di depanku, sedangkan di belakang kau merayu wanita lain." sungut Diana dengan suaranya yang semakin serak.
"Ada apa, mengapa kau berkata seperti itu?" Ans masih belum memahami perasaan Diana terhadapnya. Sedangkan tangannya telah di tepis oleh Diana.
__ADS_1
"Cepat antarkan aku pulang, jika tidak, maka aku akan turun saat ini juga." Diana Mengancam karena tidak ingin berlama-lama bersama dengan Ans.
Dan, itu akan semakin membuat dirinya semakin terluka.
"Baiklah aku antarkan kau pulang saat ini juga." ucap Ans.
Kemudian Ans menjalankan mobilnya menuju ke arah mansion Diana.
Tidak ada suara percakapan selama di perjalanan, karena baik Diana maupun Ans sama-sama hanya terdiam.
Memang sangat unik cara Tuhan mempertemukan sepasang bayi kembar yang terpisah selama dua puluh tahun. Namun, sayangnya mereka sama-sama tidak menyadari akan hal itu.
"Sudah, berhenti disini!" tiba-tiba saja Diana menyuruh Ans untuk menghentikan mobilnya.
"Di mana rumahmu?" Ans bertanya ketika mobil telah berhenti di pinggir jalan.
Ans mengamati sekitar, tempat itu sepi.
"Terimakasih atas tumpangannya," ucap Diana tanpa menjawab pertanyaan dari ans, kemudian turun dari mobil.
Ans hanya menatap kepergian Diana, dengan tatapan penuh tanda tanya. Apalagi ia melihat Diana yang berjalan setengah berlari ke arah sebuah mansion mewah yang terletak tidak begitu jauh dari tempat nya.
"Mengapa harus turun disini, dan mengapa pula harus berlari ke sana? dasar wanita aneh!" Ans bergumam kepada dirinya sendiri.
Ya, Diana memang sengaja melakukan hal itu, agar tidak mendapat teguran dari ibunya. Berbeda dengan Ednan, justru ibunya akan merasa sangat senang sekali jika Diana di antar pulang oleh pria itu. Mengingat mereka memang telah di jodohkan.
Ans mengiringi langkah Diana hingga wanita itu menghilang di balik pintu gerbang mansion.
Dengan penuh amarah dan seringai yang menakutkan ia berkata.
"Setidaknya aku tahu keberadaan mereka dan ini akan semakin mempermudah bagiku untuk menyelesaikan misi ku." Ans geram hingga mengerutup kan gigi gerahamnya.
Kemudian Ans menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya.
Di dalam mansion.
"Mana Ednan, kenapa tidak mampir?" tanya Dhita ketika melihat putrinya menutup pintu.
Ya, pintu utama yang menghubungkan ruang dalam mansion dengan halaman depan yang luas.
"Oh, Uda sedang terburu-buru mom, jadi tidak sempat mampir, tapi Uda titip salam untuk Mom." jawab Diana berbohong.
Ya, karena alasan inilah Diana rela berjalan kaki menuju ke mansionnya.
Dhita mengangguk lalu berkata.
"Ya sudah, sampaikan kepadanya, mom titip salam." ucap Dhita dengan rasa senang.
"Baik mom!" Sahut Diana lalu beranjak pergi menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan di tempat berbeda, tampak Ednan sedang gelisah memikirkan tentang Diana.
"Jika Almira sampai dirumahnya itu berarti mereka hanya berdua." gumam Ednan.
Saat itu ia sedang berada di dalam kamarnya.
"Ah, lebih baik aku hubungi saja Dia."
Kemudian Ednan menekan nomor ponsel Diana. Terlihat dilayar ponselnya bertuliskan
DIANA
berdering
Tak lama kemudian terdengar suara merdu dari seberang.
"Hallo."
"Hallo Di, kau sudah sampai?" tanya Ednan dengan nada suara yang terdengar khawatir.
"Ya Uda, baru saja sampai," jawab Diana.
"Syukurlah," ucap Ednan lega.
"Apakah tante Dhita melihat kau di antar Ans?" Ednan bertanya menyelidik.
"Tidak Uda, mom tidak melihat karena aku turun di pinggir jalan agak jauh dari mansion."
"Oh syukurlah, kalau begitu cepat mandi bersihkan dirimu!"
"Baik Uda." Diana tidak ingin terlalu lama menerima telpon dari Ednan, pria yang terlalu perhatian kepadanya.
Sedangkan Ednan hanya tidak ingin calon tunangannya berlama-lama berbau Ans.
Diana merebahkan dirinya di atas ranjang, sembari Kembali mengingat-ingat sesuatu yang baru saja di alaminya. Dimana tangan Ans menyentuh wajah dan mengusap air matanya.
"Ah, andai saja kaulah pria yang akan di tunangkan denganku, pasti aku akan bahagia sekali." gumam Diana seraya memejamkan kedua matanya.
Kembali bayang-bayang wajah Ans menggoda di benaknya.
BERSAMBUNG!!!
Maaf ya, para reader tercinta sampai disini dulu perjumpaan kita, nanti Author akan up episode selanjutnya pada karya baru berikutnya!
Nah, ini karya baru Author
Yuk kepoin karya baru Author !!
__ADS_1
Jangan lupa kasih rate, like, komen dan vote sebagai dukungan darimu untuk karyaku ini ya reader. LOVE YOU.