
" Lalu mengapa istriku bisa pingsan dok?" tanya Arjuna masih tidak mengerti dengan kondisi istrinya, secara tiba-tiba pingsan sedangkan kondisinya baik-baik saja.
" Sebentar, kita tunggu hasil pemeriksaan dari dokter Alya dulu." jawab dokter Eina.
" Mengapa harus menunggu dokter Alya dok, bukankah Anda adalah dokter yang biasa menangani istri ku?" Arjuna masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan dokter Eina.
Sebelum dokter Eina menjawab, tiba-tiba pintu pun terbuka.
Menampilkan sosok seorang dokter cantik dan muda seumuran dokter Eina.
" Selamat sore tuan," sapa dokter Alya seraya mengulurkan tangannya.
" Ya, selamat sore." jawab Arjuna menerima uluran tangan dokter Alya.
" Perkenalkan saya dokter Alya, dokter spesialis kandungan." papar dokter Alya.
" Spesialis kandungan?" Arjuna mengerutkan keningnya. Merasa heran mengapa Dhita di periksa dokter spesialis kandungan. Padahal ia tidak sedang hamil.
" Selamat tuan, anda akan menjadi seorang ayah,"
JEDDERRR.....
Sebuah pernyataan dari dokter Alya, yang mampu membuat Arjuna terperangah.
Syok dan tidak percaya.
Ia berharap semua ini hanyalah mimpi.
" Ba~bagaimana mungkin, bagaimana mungkin istriku bisa hamil?" gumam Arjuna lirih hampir tak terdengar.
" Selamat ya tuan Arjuna!" dokter Eina mengulurkan tangannya.
Tidak mendapat respon seperti orang-orang pada umumnya, membuat dokter Eina merasa heran.
" Ada apa tuan, apa anda belum percaya?" tanya dokter Eina.
" Pemeriksaan ini seratus persen akurat tuan, jadi, anda tidak perlu khawatir." timpal dokter Alya.
Pernyataan dari dokter Alya membuat Arjuna semakin syok.
Dokter Alya menulis resep obat yang harus ditebus oleh Arjuna.
" Ini resep obatnya tuan," dokter Alya menyerahkan resep obat yang telah selesai ia catat di selembar kertas.
" Istri anda boleh pulang hari ini juga." lanjut dokter Alya.
Dengan hati termangu, Arjuna menerima resep obat itu, lalu pergi dari ruangan tersebut tanpa pamit atau sepatah katapun.
Melihat hal itu, dokter Eina maupun dokter Alya saling berpandangan, kemudian sama-sama mengangkat kedua bahu mereka.
" Ada apa dengan tuan Arjuna?" tanya dokter Alya kepada dokter Eina dengan penuh keheranan.
" Entahlah, mungkin terkena sindrom calon ayah." jawab dokter Eina tertawa, membuat dokter Alya ikut tertawa pula.
*
__ADS_1
*
Sementara itu Dhita yang baru saja tersadar dari pingsannya, mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
Dhita mencoba untuk duduk, namun ia merasakan sakit pada bagian perutnya.
" Aww, sepertinya perutku kembung." gumam Dhita seorang diri.
Ia merasa perutnya sedikit mengeras.
karena kembung.
Dhita mendongakkan kepalanya, melihat seluruh isi ruangan.
" Aku dimana, sepertinya ini rumah sakit," gumam Dhita lagi.
" Kenapa aku bisa ada di sini?" Dhita masih bertanya-tanya seorang diri.
" Kau sakit, tadi kau pingsan." jawab Arjuna membuat Dhita terkejut.
Dhita yang sedang terkejut segera menoleh ke arah belakang.
Dimana suaminya berada.
" Mas, aku sakit apa?" tanya Dhita merasa penasaran, karena yang ia rasakan saat itu hanyalah perut kembung.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari istrinya, Arjuna tidak menjawab. Melainkan ia hanya duduk terdiam di samping sang istri.
" Ada apa mas, mengapa kau mendiamkan aku?" tanya Dhita lagi.
" Ma~s," Dhita tidak meneruskan panggilannya karena saat itu Arjuna telah terlebih dahulu memotong kalimatnya.
" Ayo kita pulang!" ajak Arjuna dengan ketus, tanpa menoleh ke arah Dhita.
Arjuna bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu, meninggalkan tempat dimana Dhita sedang dirawat.
Seorang perawat memasuki ruangan itu, lalu menuntun Dhita keluar dari kamar tersebut.
Dhita hanya bisa memandangi punggung suaminya dari belakang.
Di dalam keheranan Dhita melangkah dari tempat nya. Ia bergerak perlahan karena di bagian perutnya masih terasa sakit.
Dhita melangkah perlahan, ia berusaha memanggil Suaminya, namun tidak di gubris oleh pria itu.
Dengan menahan rasa sakit, Dhita berjalan dengan di gandeng suster tersebut.
" Terimakasih suster." ucap Dhita kepada suster itu.
Saat ia telah duduk di dalam mobil.
" Sama-sama nyonya!" jawab Suster itu sembari tersenyum. Kemudian pergi kembali ke rumah sakit.
Arjuna yang telah selesai membayar atministrasi biaya Dhita di rumah sakit, segera pergi menuju mobilnya.
Dhita yang sedang duduk di bagian belakang menatap ke arah suaminya.
__ADS_1
Merasa dirinya diperhatikan membuat Arjuna semakin enggan untuk menatap istrinya.
Arjuna memilih untuk duduk di depan bersama pak sopir, bukan apa-apa ia melakukan hal itu, melainkan agar dirinya tidak terpancing emosi, mengingat Dhita yang di nyatakan hamil. Sedangkan mereka belum pernah berhubungan sekalipun.
Setengah jam perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di mansion milik Arjuna.
Mommy Rita yang secara kebetulan berada di depan mansion, segera menyongsong kedatangan anak dan menantunya.
" Kamu kenapa Dhi?" tanya mommy Rita ketika melihat menantunya meringis kesakitan turun dari mobil.
" Tidak apa-apa mom," jawab Dhita meraih tangan ibu mertuanya untuk dijadikan pegangan agar dirinya tidak terjatuh.
Mommy Rita memapah Dhita memasuki mansion miliknya.
Di dalam kamar, Dhita segera duduk di tepi ranjang, sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
Mommy Rita yang melihatnya merasa kasihan.
" Kau sakit apa nak?" tanya mommy Rita memperhatikan menantunya.
" Entahlah mom, tapi yang jelas perutku rasanya kembung." jawab Dhita tetap dengan memegang perutnya.
" Sekarang istirahatlah, mom akan membuatkan mu teh hangat agar rasa kembung mu reda," ucap mommy Rita, lalu beranjak pergi ke dapur.
" Jaga istrimu baik-baik Ar!" ucap mommy Rita kepada Arjuna, saat mereka berpapasan di depan pintu.
Arjuna tidak menyahut, hanya saja wajahnya menunjukkan rasa tidak suka.
Melihat hal itu, mommy Rita diam, ia tidak ingin menambah masalah apapun yang sedang di alami oleh putranya saat ini.
Arjuna memasuki kamarnya, bukan untuk menemui Dhita, melainkan hanya untuk meletakkan koper yang berisi pakaiannya.
" Mas!" seru Dhita saat Arjuna akan kembali keluar dari kamarnya, tanpa menghiraukan dirinya.
Mendengar panggilan dari istrinya, Arjuna terpaksa berhenti.
Dhita turun dari ranjangnya, perlahan berjalan mendekati Arjuna.
" Mas, katakan apa salahku, jangan diamkan aku seperti ini mas," pinta Dhita ketika telah berada di depan Arjuna.
" Mengapa diam saja mas, ayo katakan dimana letak kesalahanku?" Dhita mengiba.
" Apa yang telah kau lakukan dengannya?" suara Arjuna terdengar sangat jelas dan sedikit bergetar.
Arjuna memicingkan matanya.
Mendengar kalimat pertanyaan yang tidak masuk akal dari suaminya, membuat Dhita kembali bertanya.
" Apa maksud mu mas?" Dhita menatap Arjuna, yang sama menatap nya dengan tatapan intens.
Beberapa saat lamanya mereka saling beradu pandang.
" Kau melakukannya dengan siapa, apa yang telah kau lekukan selama aku berada di Amrik?" Dengan nada suara keras, setengah berteriak, Arjuna bertanya kepada Dhita.
Dhita yang tidak merasa melakukan apapun, terlihat bingung mendengar pertanyaan dari suaminya.
__ADS_1
" Melakukan apa mas, selama kau di Amrik aku tidak melakukan apapun, aku hanya menunggu mu mas." jawab Dhita, ia merasa bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan suaminya.