
Di dalam mobil Eza dan mommy Rita duduk di depan, sedangkan Arjuna yang sedang memangku Dhita duduk di belakang bersama Bu Safitri sedangkan pak Setyo bersama dengan Reyhan mengendarai mobil nya sendiri.
Sementara Andrian di tugaskan untuk mengejar Bastian bersama dengan beberapa anggota polisi.
Dhita yang tidak sadarkan diri segera di larikan ke rumah sakit terdekat, Eza yang sedang menyetir membawa mobil dengan sangat cepat.
" Tolong lebih cepat lagi Za!" seru Arjuna ia khawatir akan keselamatan istrinya karena begitu banyak darah yang mengalir.
" Ya Allah, tolong selamatkan putriku satu-satunya hanya dia harapanku ya Allah." do'a ibu Safitri dalam tangisnya.
" Ini semua salahku Bu, jika saja kami tidak pernah bertemu mungkin putri ibu tidak akan menjadi korban," ucap Arjuna merasa bersalah.
" Tidak nak, jangan pernah kau sesalkan apa yang telah terjadi, semua ini tidak lepas dari takdir ilahi." jawab bu Safitri sambil memandang wajah menantunya.
" Bastian dendam kepada ku Bu, tapi Dhita malah ...." Arjuna tak kuasa meneruskan kata-katanya, mengingat peristiwa itu saja membuat dirinya sangat terguncang.
" Sudah lah nak, lebih baik kita berdo'a saja kepada Allah, semoga istrimu di selamatkan." Bu Safitri berusaha membesarkan hati Arjuna.
" Terima kasih Bu, aku sangat beruntung memiliki keluarga seperti kalian!" ucap Arjuna penuh rasa syukur karen telah di kirimkan istri dan mertua yang baik.
Mobil pun berhenti tepat di depan sebuah rumah sakit.
Hospital Bethesda Husada.
Arjuna segera berlari keluar dari mobil dengan membawa Dhita di dalam dekapannya.
Eza dan Bu Safitri serta mommy Rita mengikutinya dari belakang.
" Suster...suster ... Help me!" teriak Arjuna sambil terus berlari memasuki koridor rumah sakit.
Arjuna yang saat ini sedang tidak mengenakan baju ataupun kemeja menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di rumah sakit tersebut. Terlebih lagi dengan kondisinya tubuhnya yang banyak mengala
mi luka-luka.
Namun Arjuna tidak mempedulikan semua itu, yang terpenting sekarang baginya adalah keselamatan sang istri.
Mendengar teriakan Arjuna beberapa orang perawat datang dengan membawa sebuah Brankar dorong.
Arjuna meletakkan Dhita ke atas Brankar dorong itu dan kemudian langsung di bawa oleh para perawat tersebut.
" Bertahanlah Dhi, aku yakin kau pasti selamat ." ucap Arjuna kepada Dhita yang masih tak sadarkan diri.
Bu Safitri menemani anak dan menantunya tanpa berhenti berdo'a.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka berhenti tepat di depan sebuah ruang operasi.
" Maaf tuan dan nyonya, lebih baik kalian menunggu di luar." ucap salah seorang perawat dengan sopan, dan tanpa mendengar jawaban dari pihak keluarga suster tersebut langsung menutup pintu dengan rapat.
Tak lama kemudian lampu berwarna merah yang terletak di atas pintu ruang operasi itu menyala.
Pertanda operasi sedang berlangsung.
" Ya Tuhan, selamatkan istriku," bisik Arjuna di dalam frustasinya.
Saat ini hati dan pikirannya sangat kalut, ia tidak mampu melakukan apapun lagi hanya air mata yang selalu menetes.
" Sabar nak, sabar semua pasti akan baik-baik saja teruslah berdo'a kepada Allah jangan berputus asa nak." ucap bu Safitri berusaha menenangkan menantunya walau sebenarnya ia sendiri juga sangat mengkhawatirkan putrinya tercinta.
" Apa yang di katakan ibu mertuamu itu benar Ar, bersabarlah!" mommy Rita menimpali.
Arjuna hanya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
Eza memahami apa yang sedang di alami oleh sahabatnya bukanlah hal yang mudah.
Mengingat Arjuna yang baru saja menikah dengan wanita yang sangat di cintainya.
Seharusnya mereka sedang menikmati malam pertama saat ini, namun apalah daya takdir berkata lain.
" Tabahkan hatimu Ar, aku yakin kau pasti bisa melewati semua ini, yakinlah setelah ini kalian berdua pasti akan bahagia," ucap Eza sambil menepuk pundak sahabatnya.
" Terima kasih Za, kau memang sahabatku yang terbaik." ucap Arjuna menghapus air matanya.
Dari kejauhan tampak pak Setyo dan Reyhan sedang berlari-lari ke arah mereka.
" Sorry kak, kami terlambat," ucap Reyhan dengan napas terengah-engah karena telah berlari sejak keluar dari mobil.
Arjuna tidak menjawab ia lebih memilih untuk duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di koridor rumah sakit.
Melihat kakaknya tidak mengenakan pakaian, Reyhan langsung melepas jaket sweeternya kemudian ia langsung memakaikan jaket itu kepada Arjuna.
Kebetulan saat itu Reyhan sedang mengenakan T-shert, sedangkan jaket itu untuk sekedar penghangat tubuhnya.
" Thankyou Rey!" seru Arjuna sambil memasang sliter jaketnya.
" Aku khawatir kau sakit kak karena kedinginan." jawab Reyhan, memang saat itu AC di rumah sakit sangat kencang.
" Bagaimana kondisi Putriku?" tanya pak Setyo gelisah. Menatap semua orang yang berada di tempat itu.
__ADS_1
" Masih di dalam pak." jawab bu Safitri sambil berjalan mendekati suaminya.
" Nak Dhita sedang di operasi." mommy Rita menimpali.
Pak Setyo hanya mengangguk perlahan, di dalam hatinya ia berdo'a semoga putrinya di berikan keselamatan dan kesembuhan.
Melihat wajah suaminya penuh kesedihan Bu Safitri mengajaknya untuk duduk di kursi.
" Mari duduk dulu pak!" ajak bu Safitri.
Pak Setyo menurut kemudian duduk di samping Arjuna yang masih frustasi memikirkan istrinya.
" Kau seorang lelaki tabahkan hatimu." ucap pak Setyo seolah ia mengerti perasaan menantunya.
" Terima kasih pak." jawab Arjuna singkat.
Sedangkan yang lain masih berdiri di tempat masing-masing.
Tak lama kemudian lampu di matikan pertanda operasi telah selesai.
Pintu pun terbuka.
Tampak seorang dokter perempuan bernama Eina dengan wajah lesu keluar dari ruangan tersebut.
Semua orang menyambutnya termasuk Arjuna yang telah berdiri terlebih dahulu.
" Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Arjuna penuh harapan. Ia berharap istrinya segera sembuh setelah di operasi.
" Maaf, kami telah berusaha semampu kami tapi....." ucap dokter itu terpotong karena Arjuna yang tiba-tiba menyela.
" Tapi apa dok?"
" Istri anda memang masih hidup, tapi seluruh tubuhnya tidak dapat berfungsi dengan baik." jawab dokter Eina.
" Tidak dok, ini tidak mungkin!" teriak Arjuna semakin frustasi mendengar keadaan istrinya.
" Bukan hanya itu kami juga menemukan kerusakan di bagian fungsi hati mungkin di sebabkan oleh salah satu faktor yang membebani fungsi hati dan pikirannya." lanjut dokter Eina.
Pernyataan ini yang membuat Arjuna semakin menyesal, ia berpikir kerusakan pada fungsi hati yang di alami Dhita di karenakan perbuatannya sendiri.
" Sudahlah Ar, tabahkan hatimu." ucap Eza, hanya kata itu yang bisa ia katakan. Karena ia tau kesedihan Arjuna tidak bisa di ukur dengan kata-kata lagi.
Tak lama kemudian seorang perawat membawa Dhita keluar dari ruang operasi menggunakan brankar dorong.
__ADS_1
Melihat kondisi tubuh Dhita yang tidak berdaya dengan di lengkapi peralatan medis di sekujur tubuhnya membuat pihak keluarga tidak tega melihatnya, termasuk Arjuna.