
Mendengar ajakan dari adik iparnya, David pun masuk bersama Bastian.
Sedangkan Bu Safitri menyuruh Dhita dan Arjuna untuk menemui tamunya, karena ia sendiri ingin mencuci tangannya yang kotor terlebih dahulu.
Arjuna dan Dhita berjalan beriringan menemui tamu mereka yang tak lain dan tak bukan adalah David dan Bastian.
" Yah!" seru Dhita memanggil pak Setyo, karena ia sendiri merasa canggung akan mengatakan apa pada tamunya.
" Dhita!" seru Bastian tersenyum sambil menahan rasa malu, ditambah lagi Arjuna yang memandangnya dengan tatapan intens.
" Kak Bastian, paman, sudah dari tadi?" sapa Dhita dengan sedikit canggung, kemudian ia bersalaman dengan mencium tangan David sebagai pamannya.
" Baru saja nak Dhita," jawab David.
Namun ketika Dhita hendak bersalaman dengan Bastian.
" Ehheeemm!" Arjuna berdehem, membuat Dhita mengurungkan niatnya.
Dhita menyadari kalau suaminya masih marah kepada Bastian. Lebih tepatnya cemburu.
Oleh karena itu, ia lebih memilih pergi kebelakang untuk membuat minuman.
Sedangkan Arjuna duduk di samping ayah mertuanya tanpa mengatakan sepatah katapun, hanya gerahamnya yang terdengar mengerutup menahan amarah.
Ya, jika di pikir-pikir bukankah David juga mertuanya, secara dia adalah kakak kandung dari Bu Safitri dan Bastian adalah kakak iparnya karena ia adalah putra dari David.
Namun perlakuan Bastian yang membuat Arjuna bersikap demikian, masih sangat terasa semua penghinaan Bastian kepadanya bahkan dia terang-terangan mengakui kalau dirinya juga mencintai Dhita dan ingin memperistrinya.
Sungguh sebuah kesalahan yang tak akan pernah terlupakan.
" Dimana mereka?" tanya bu Safitri, sambil menyodorkan sebuah nampan berisi Empat gelas teh hangat, rupanya ia telah selesai membuat minuman untuk tamunya.
" Di depan Bu." jawab Dhita sambil meraih nampan tersebut dan membawanya ke ruang tamu.
Sedangkan Bu Safitri mengikuti dari belakang.
" Sudah dari tadi?" tanya Bu Safitri sedikit berbasa-basi, kemudian ia menyalami kedua tamunya.
__ADS_1
" Maksud kedatangan kami kemari ingin menyerahkan surat warisan sebagian dari harta keluarga kita." ucap David to the poin.
" Warisan?" Bu Safitri bertanya.
Mendengar kata warisan membuat Arjuna yang sedari tadi hanya diam saja, kini angkat bicara.
" Istri ku tidak membutuhkan sedekah dari anda!" sentak Arjuna dengan suara agak keras dan terdengar tegas.
" Seluruh kebutuhan hidupnya telah di tanggung, jadi anda tidak perlu repot-repot untuk berbagi dengannya," lanjut Arjuna lagi.
Mendengar sentakan dari pria yang notabenenya adalah suami dari saudara sepupunya membuat Bastian mengepalkan tangan, namun apalah daya ia hanya bisa menahan rasa kesal karena Bastian tidak ingin kedatangannya membuat keributan.
" Maksud saya bukan begitu nak Arjuna, saya hanya ingin mengembalikan hak adik saya kepadanya, karena sebagian dari harta itu ada pada saya," jawab David.
Arjuna hanya diam, ketika ia mendengar bahwa harta warisan itu memang untuk ibu mertuanya.
Karena ia tidak mengetahui apapun yang terjadi mengenai harta warisan dari ayahnya dan David, selain paman mertua David juga adik kandung dari ayah tirinya, Calvin Dharmendra.
" Saya rasa itu tidak perlu mas, karena selama ini kami hidup serba kecukupan walaupun tanpa adanya harta warisan." tolak Bu Safitri yang memanggil David dengan sebutan " Mas ".
" Saya mohon terimalah, atau jika tidak mas Calvin tidak akan pernah tenang di alam sana," sahut David mengiba, raut wajahnya menunjukkan ketulusan.
Namun sebelum Bu Safitri menjawab, Arjuna telah terlebih dahulu menjawabnya.
" Simpan saja untuk kalian, dari pada kalian harus repot-repot mengambil alih harta milik almarhum ayah saya." Arjuna sengaja menyindir Bastian, mengingat pria ini sampai hati menyandera dirinya hanya karna harta dunia semata.
Karena takut akan terjadi keributan, di sebabkan menantunya selalu menyinggung perasaan kakak dan keponakannya, Bu Safitri angkat bicara.
" Baiklah, saya terima warisannya tapi dengan catatan harta itu akan saya sumbangkan ke panti asuhan dan pembangunan masjid." ucap Bu Safitri mengambil keputusan.
Pak Setyo tersenyum mendengar keputusan dari istrinya yang sangatlah bijak menurutnya.
" Saya setuju dengan keputusan istri saya." sahut pak Setyo yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan perdebatan itu.
" Ya, ibu benar lebih baik uang itu di sumbangkan saja agar lebih berguna," ucap Dhita, ia pun menyetujui keputusan ibunya.
Karena semua keluarga telah setuju, maka Arjuna pun ikut menyetujui, tidak mungkin baginya untuk terus menerus menentang hal itu, walau bagaimanapun David dan Bastian masih kerabat mereka.
__ADS_1
" Saya juga setuju, jika itu adalah keputusan yang terbaik." ucap Arjuna dengan suara yang lebih kalem.
Seluruh keluarga merasa lega, mendengar persetujuan dari Arjuna. Setelah semua setuju akhirnya mereka sepakat akan menyumbangkan semua harta itu saat itu juga, karena sore ini David akan segera berangkat ke Paris.
Karena keputusan yang begitu mendadak, mereka sepakat akan memberikan sumbangan itu dalam bentuk cek. Mengingat waktu mereka sangat terbatas untuk mencairkan dana tersebut.
Tak lama kemudian mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil masing-masing.
*
*
Sesampainya di panti asuhan Ibnul Fatah, merupakan panti asuhan terdekat di desa Kulon Progo. Mereka segera menemui pemilik panti dan menyerahkan sumbangan tersebut.
" Ini tidak salah tuan?" tanya ibu panti dengan sangat terkejut ketika melihat nominal yang tertulis di dalam cek tersebut.
" Seratus lima puluh milyar, ini bukan jumlah yang biasa kami terima." lanjut ibu panti masih sulit untuk mempercayai apa yang terlihat di depannya.
" Anggap saja ini rejeki untuk anak-anak di panti ini Bu," jawab Bu Safitri sembari tersenyum melihat ekspresi ibu panti yang selalu melongo.
" Ini untuk biaya mereka sehari-hari dan juga untuk biaya pendidikan mereka Bu, saya ingin anak-anak panti memiliki ilmu pendidikan yang tinggi." timpal Dhita, ia berpikir kalau anak-anak panti adalah generasi bangsa, sama seperti anak-anak pada umumnya.
"Simpanlah sebagian untuk pendidikan mereka di masa mendatang." ujar pak Setyo.
" Baiklah, saya ucapkan terima kasih kepada tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang sangat dermawan ini," sahut ibu panti dengan penuh haru, pasalnya baru sekarang ia menerima dana yang demikian banyak dari para donatur.
" Saya do'a kan semoga seluruh impian dan harapan kalian semua segera tercapai." doa ibu panti dengan penuh kesungguhan.
" Aamiin.....!" ucap yang lain mengaminkan.
Selesai pergi ke panti asuhan, mereka pun melanjutkan pergi ke masjid Jami' untuk kembali memberikan sumbangan pembangunan masjid jami' itu yang saat ini sedang dalam proses.
Setibanya di masjid jami' mereka segera menemui takmir masjid, untuk menyerahkan sumbangan yang akan di gunakan untuk pembangunan masjid.
Karena waktu yang terus berjalan membuat mereka harus segera menyelesaikan hal tersebut.
Mengingat David yang akan segera berangkat ke Paris sore itu juga.
__ADS_1
Setelah berbincang sebentar dengan takmir masjid, akhirnya mereka pun berpamitan.