Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 176 Hari pertama di kampus


__ADS_3

Ans sengaja mengambil jurusan yang sama dengan Dia, agar ia selalu bisa dekat dengannya.


Namun, tidak dengan Almira, wanita itu lebih menyukai dunia pendidikan. Oleh karena itu, Almira mengambil jurusan PGSD.


"Hai!" sapa Ans ketika telah berada di dalam kelas bersama Jimmy.


Ans sengaja duduk di sebelah samping Dia agar bisa lebih leluasa untuk mendekatinya. Kebetulan bangku itu masih terlihat kosong.


"Hai juga!" jawab Dia tanpa menoleh.


Bukan apa-apa, melainkan karena banyak pasang mata yang menatapnya karena Ans yang tiba-tiba saja langsung duduk di bangku sebelah sampingnya.


"Almira kemana dia?" tanya Ans karena tidak mendapat perhatian dari dia.


"Di kelasnya!" jawab Dia singkat.


"Dia mengambil jurusan apa?" tanya Ans lagi.


"PGSD."


Ans melirik ke arah Jimmy yang duduk tepat di belakang Dia, Ans mengerlingkan matanya. Seolah meminta bantuan dari pengawalnya itu.


Melihat kode yang di berikan oleh Ans, Jimmy langsung bangkit dari duduknya bergerak menghampiri Dia, wanita cantik yang menjadi sorotan di kampusnya.


"Hai, nona!" Jimmy menyapa Dia, berdiri di depan wanita cantik itu menatap matanya dalam-dalam.


"Hai." jawaban dia masih sama seperti sebelumnya, singkat dan jelas.


"Boleh kenalan?"


Dia tidak menyahut, justru ia memalingkan mukanya menatap pada layar ponsel yang di mainkannya, malas rasanya ia meladeni pria yang bermodel seperti Jimmy. Mengingat betapa banyaknya para pria di kampus itu yang bermodel sama seperti Jimmy, selalu mengejar-ngejar dirinya.


Sehingga ia terpaksa mendatangkan ayahnya, agar para pria itu berhenti mengejar-ngejar dirinya.


Dan, akibatnya dia lah yang harus menanggung semua ocehan dan nasehat panjang dan lebar dari kedua orang tuanya.


Tidak mendapat respon dari Dia, membuat Jimmy sedikit geram. Tiba-tiba saja Jimmy merebut ponsel itu dari tangan Dia.


Sedangkan Ans berpura-pura tidak melihatnya. Ia lebih memilih untuk bermain ponselnya, namun sesekali melirik ke arah Dia. Melihat kelakuan Jimmy, hampir saja Ans tertawa.


"Apa maumu?" suara Dia terdengar lebih keras.


"Aku hanya ingin kita berkenalan!" jawab Jimmy seenaknya.


"Berikan ponselku!" seru Dia dengan tangan menggapai.

__ADS_1


Namun Jimmy malah semakin menjauhkan ponsel itu. Karena kakinya masih sakit, Dia tetap duduk saja.


"Kenalan dulu, baru ku kembalikan." ucap Jimmy menggoda.


Dia memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Baiklah," Dia mengulurkan tangannya.


"Kenalkan, aku Dia, Diana Pratiwi Dharmendra!" suara yang sedikit lantang keluar dari mulut nya.


Dia seakan bangga dengan nama yang berakhiran Dharmendra, nama seseorang yang terkaya di kota itu.


Mendengar betapa bangganya Dia terhadap nama itu, membuat Ans mengepalkan tangannya. Namun, ia masih mengontrol emosinya.


"Jimmy Prayoga." Jimmy menyambut uluran tangan Dia.


"Sepertinya kita jodoh," lanjut Jimmy.


Dan membuat mata dia membulat sempurna.


"Maksudku, nama kita hampir sama, kau Pratiwi, aku Prayoga." Jimmy terkekeh.


Mendengar celoteh pria itu, Dia memicingkan matanya. Sungguh, Dia merasa tidak suka dengan perilaku pria kampungan yang sedang memegang tangannya seakan tidak ingin di lepas.


"Lepaskan tanganku," Dia menarik tangannya.


Kapan lagi Jimmy bisa menyentuh tangan putih mulus tiada noda sedikitpun.


Dia mulai merasa tidak nyaman, ia meronta-ronta agar tangannya segera di lepaskan. Ans yang memang sengaja membiarkan hal itu, akhirnya merasa tidak tega juga.


"Hei bung, lepaskan dia!" seru Ans dari tempat duduknya, berpura-pura tidak mengenal Jimmy.


Namun, Jimmy masih bersikeras tidak ingin melepaskan tangan Dia.


Ans maju menghampiri Dia.


"Jika anda ingin menggoda wanita, cari yang lain saja, dia pacarku!" seru Ans, dan membuat Dia melebarkan matanya.


Mendengar perkataan Ans, yang memberikan ia kode dengan mengangkat sebelah alisnya, Jimmy pun melepaskan tangan mulus wanita itu.


"Sorry bro, aku kira dia masih single," ucap Jimmy seraya kembali ke kursinya.


Ans menghampiri Jimmy.


"Lain kali, jangan sembarangan mengambil milik orang lain,"

__ADS_1


Kemudian Ans meraih ponsel Dia dan memberikannya kepada wanita itu.


"Terimakasih." ucap Dia di antara kebingungannya.


"Sama-sama!" jawab Ans lalu berniat hendak kembali ke tempatnya.


"Tunggu!" seru Dia menghentikan langkah Ans.


"Ada apa? ada yang bisa saya bantu?" Ans berpura-pura tidak mengetahui apa yang ada di dalam pikiran wanita itu, walaupun sebenarnya ia telah mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Dia.


Dia menoleh ke sekeliling, masih banyak pasang mata yang menatap ke arahnya.


"Mungkin aku biarkan saja dulu, biar mereka menganggap aku ini pacar Ans," tiba-tiba saja muncul sebuah ide konyol di dalam pikiran Dia.


"Ah, nanti saja, aku hanya ingin mengobrol sebentar saja denganmu." jawab Dia setelah berpikir.


"Ok!" jawab Ans kemudian duduk di kursinya.


Tak lama kemudian, Seorang dosen datang memasuki ruang kelas, seketika suasana menjadi lengang. Semua mahasiswa tampak duduk dengan sopan dan penuh hormat kepada sang dosen.


Riyadi, nama sang dosen yang bertugas mengajar hari itu. Tampangnya yang sedikit sangar dengan kumis lebat melintang di atas bibirnya. Membuat seluruh mahasiswa hormat dengan kepala tertunduk.


"Good morning!" sapa Mr. Riyadi setelah duduk di kursi kebesarannya.


"Good morning Mr!!" jawab para mahasiswa dengan serempak.


Suasana kembali lengang, hingga Mr. Riyadi kembali meneruskan kata-katanya.


"Hari ini kita mendapatkan teman baru, Ans dan Jimmy." ucap Mr. Riyadi memandang ke arah Ans dan Jimmy.


Serentak semua mahasiswa pria maupun wanita, menatap Ans dan Jimmy. Namun, pada akhirnya mereka hanya menatap Ans saja.


Bukan tanpa alasan mereka hanya ingin menatap Ans, dikarenakan Ans jauh lebih segalanya dari Jimmy. Namun, tidak seorang pun yang mengetahui bahwa Ans adalah majikan Jimmy, dan begitupun sebaliknya. Tidak ada yang tahu, kalau Jimmy adalah pengawal pribadi Ans.


"Ans, Jimmy silahkan kedepan, dan perkenalkan diri kalian masing-masing!" perintah Mr. Riyadi.


Ans maupun Jimmy sama-sama mengangguk, lalu melangkah ke depan kelas.


"Wih, si Ans tampan ya," bisik seorang mahasiswi.


"Ya, lihatlah tubuhnya kekar berotot, aku jadi ngiler," jawab yang seorang lagi kembali berbisik.


Namun, semua itu tidak luput dari pendengaran Ans dan juga Jimmy. Namun, Jimmy tidak terlalu menanggapi akan hal itu. Telah terbiasa baginya, jika ia di banding-kan.


"Hai kawan, perkenalkan namaku Ans, aku terlahir di Indonesia, dan di besarkan di A.S. tepatnya di New York, City." ucap Ans memperkenalkan diri.

__ADS_1


Semua mahasiswa bertepuk tangan, mereka sangat mengagumi Ans yang selama ini tinggal di A.S.


Bukan hanya sesama mahasiswa saja, bahkan para Dosen pun merasa sangat beruntung memiliki mahasiswa yang pindahan dari A.S. Di karenakan itu sangat jarang sekali terjadi.


__ADS_2