Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 61 Teringat


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul 04:35, Arjuna melepas napasnya dengan lega, ketika mereka telah kembali tiba di kota Jogja, kita impian, kota harapan.


Eza menggeliat lalu menguap sambil membuka kedua matanya.


" Kita sudah sampai bro?" tanya Eza saat ia kembali tiba di apartemen milik Rena, tempat yang membuat dirinya kesal semalam.


" Ya tuan muda kita sudah sampai, silahkan turun." jawab Arjuna berseloroh, memang dirinya lah yang membawa mobil selama perjalanan pulang dari kampung kulon Progo.


Sebab Eza merasa tidak kuat lagi menahan kantuk, karena itu ia meminta Arjuna untuk membawa mobilnya sendiri. Mengingat ia ingin beristirahat.


" Baiklah pak sopir nanti tolong sekalian antar kan saya ke rumah, karena saya ingin mandi!" jawab Eza meladeni selorohan Arjuna.


Kemudian keduanya sama-sama tertawa, namun seketika berhenti saat mereka teringat di belakang mereka tengah duduk di orang yang akan menjadi calon mertua Arjuna.


Sementara itu pak Setyo dan istrinya tersenyum-senyum melihat keakraban di antara kedua anak muda yang sedang duduk di depannya.


Arjuna segera turun dari mobil, kemudian bergegas ke arah samping belakang mobil untuk membuka pintu.


"Silahkan pak, bu," ucap Arjuna tetap dengan sopan.


" Terima kasih nak," ucap pak Setyo. Setelah berada di luar mobil.


" kamu sangat baik nak, semoga hidupmu berkah." ucap bu Safitri penuh syukur, ternyata Tuhan maha adil. Setelah putrinya pernah terluka, kini mendapat pengganti yang lebih baik.


" Mari ," Eza segera mengajak kedua orang tua Dhita untuk segera memasuki apartemen. Bukan apa-apa karena ia ingin secepatnya pulang ke rumah, sebab ia sudah sangat merindukan istrinya.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di depan pintu apartemen.


" Maaf pak, Bu saya tidak bisa menemani kalian di sini, sebab saya harus mengurus keperluan yang lainnya." ucap Arjuna ketika mereka sedang berdiri di depan pintu menunggu pintu itu akan terbuka.


" Baiklah nak Arjuna dan nak Eza terimakasih, jaga diri kalian baik-baik." jawab pak Setyo.


Tanpa menunggu pintu terbuka, Arjuna dan Eza telah lebih dulu pergi dari tempat itu karena ia ingin secepatnya membatalkan pertunangannya dengan Citra.


" Ar, antar kan aku pulang dulu." pinta Eza kepada Arjuna yang sedang menyetir mobilnya dengan cepat.


" Tidak bisa Za, kamu harus ikut aku ke rumah Citra!" jawab Arjuna.

__ADS_1


" Kamu harus menjadi saksi tentang semua kelicikan Citra." Arjuna melanjutkan ucapannya.


" Ok Boss siap," ucap Eza dengan menghembus kan napasnya secara kasar.


" Beginilah nasib bawahan." lanjut Eza sambil memutar kedua bola matanya dengan malas.


*


*


*


Sementara itu Dhita hampir saja berteriak karena bahagia melihat kedatangan kedua orang tuanya. Tanpa sadar Dhita terlonjak gembira karena senangnya hingga membuat ia berjingkrak-jingkrak.


" Ayah, ibu sudah dari tadi?" tanya Dhita yang melihat kedua orang tua nya duduk di ruang tamu. Karena yang membukakan pintunya adalah Puri, yang sengaja datang ke apartemen tersebut karena ingin mendampingi sahabatnya, yaitu Rena di hari pernikahannya.


" Iya sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Bu Safitri dengan senyum di wajahnya, namun melihat buah hatinya yang sangat ia rindukan tak terasa air mata jatuh menetes di pipinya.


" Ibu aku baik-baik saja kok, ibu tidak perlu khawatir!" jawab Dhita sembari memeluk erat ibu tercinta.


Pak Setyo mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


" Kau tidak salah memilih Arjuna sebagai calon suamimu nak, dia pria yang baik bahkan dia sangat menghormati kami." ucap pak Setyo dengan sebuah senyuman di wajah nya yang telah keriput namun sangat berwibawa.


" Jadi kalian merestui hubungan kami?" Dhita hampir tak percaya dengan ucapan ayahnya.


" Ya, kami sangat merestui hubungan kalian, kami sebagai orang tua berharap secepatnya kalian bisa menyusul Rena!" jawab bu Safitri setelah melepas pelukannya.


Tiba-tiba dari arah dalam terdengar sebuah suara.


" Iya mbak yu, apa kamu tau suami Rena adalah adik kandung dari calonnya si Dhita," rupanya pemilik suara tersebut adalah Bu Asri, ibu dari Rena yang datang semalam di jemput oleh pengawal pribadi Reyhan. ia datang bersama suaminya, pak Bambang.


" Loh dek Asri, sudah dari tadi kamu di sini?" tanya Bu Safitri.


" Iya mbak yu, sudah sejak semalam." jawab bu Asri yang mulai mendekat ke arah pak Setyo dan bu Safitri.


" Di mana suamimu, dek Asri?" tanya pak Setyo karena ia tidak melihat suami Bu Asri.

__ADS_1


" Ada di kamar cak, selesai sholat langsung tiduran katanya badannya pegal-pegal semua." jawab bu Asri.


" Lalu Rena dimana dek?" tanya Bu Safitri karena ia juga tidak melihat sahabat dari putrinya itu.


" Rena sedang di rias di kamarnya mbak yu, selesai sholat subuh tadi." Bu asri menjawab pertanyaan bu Safitri, memang kedua keluarga ini memiliki hubungan yang sangat baik, walau pada kenyataannya mereka tidak memiliki ikatan sebagai keluarga sama sekali.


" Jadi setelah ini kita akan jadi kreluarga kan dek Asri?" tanya pak Setyo lalu tersenyum.


" Iya cak, tidak menyangka ya !" jawab bu Asri.


Rena yang sedang dirias di kama ditemani oleh Puri menatap dirinya di cermin, memakai baju pengantin adat Jawa.


Kebaya putih yang ia kenakan serta bawahan yang bermotif batik di lengkapi sanggul di belakang kepalanya, membuat Rena terlihat sangat cantik. Namun riasan ini masih belum lengkap tanpa kerudung putih yang menutupi kepalanya sehingga ia terlihat begitu menawan.


" Kamu cantik banget Ren!" seru Dhita yang baru saja membuka pintu. Rupanya ia baru dari ruang tamu.


" Ya Dhi, Rena luar biasa cantik ya, aku jadi ingat dulu, waktu aku menikah." timpal Puri memuji kecantikan Rena.


" Kalian bisa saja, kamu juga bakalan cantik banget Dhi, nanti kalau menikah sama Arjuna, kamu pasti seperti ratu." jawab Rena menengahi di antara kedua sahabatnya yang tengah memuji dirinya.


Masih teringat waktu dulu, ketika Dhita hampir menikah dengan Andrian. Ya mereka di katakan hampir menikah karena pada akhirnya pernikahan itu di batalkan karena penghianatan salah satu pihak.


Dhita menundukkan kepala.


"Kamu kenapa Dhi?" tanya Rena heran saat melihat perubahan pada wajah sahabatnya.


" Iya Dhi, ada apa, kamu sakit?" tanya Puri. Ia juga merasa aneh mengapa tiba-tiba sahabatnya berubah sedih.


" Tidak apa-apa kok, aku cuma teringat saat-saat aku pernah berada di posisi ini, walau pada akhirnya aku harus menelan pahitnya kenyataan." Jawab Dhita sambil berusaha tersenyum, mengingat masa lalunya membuat Dhita merasa takut, takut akan peristiwa itu terjadi lagi. Jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa takut kalau Arjuna akan berkhianat seperti Andrian.


" Percayalah, tuhan tidak akan menguji hambanya di batas luar kemampuan, bukankah begitu Bestie?" ucap Puri meminta pendapat Rena.


" Ya itu benar, aku yakin Arjuna yang terbaik untukmu, kamu lupa, aku akan menjadi adik iparnya nanti kalau dia macam-macam biar aku yang akan memberinya pelajaran." ucap Rena, lalu ketiganya sama-sama tersenyum.


" Sudah selesai!" seru salah seorang perias pengantin, yang di temani oleh kedua temannya.


Kini pakaian pengantin Rena telah lengkap, ia semakin menawan dengan pakaian pengantin adat Jawa tersebut.

__ADS_1


__ADS_2