Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 98 Pembalasan


__ADS_3

Dengan tangan terkepal erat, Arjuna melangkah mendekati Dhita.


" Lebih baik kau istirahat di kamar, jangan terlalu lelah," Arjuna berbicara kepada istrinya, dengan menahan amarah yang tengah bergejolak.


Seolah mendapat kode dari suaminya, kalau pria itu tidak suka ia bersama dengan Bastian. Dhita segera beranjak dari tempat itu setelah mengucapkan kata permisi terlebih dahulu kepada Bastian.


Bastian yang merasa tidak enak hati dengan sikap Arjuna, segera undur diri.


" Tunggu!" seru Arjuna dengan suara lantang.


Suara yang langsung menghentikan langkah Bastian.


Di depan pintu utama, Bastian berbalik badan menghadap ke arah Arjuna yang sedang mendekat kepadanya.


" Ada apa Ar?" Bastian merasa bingung, mengapa pria ini tiba-tiba memanggilnya.


Biasanya ia akan merasa senang jika dirinya pergi dari hadapannya.


" Brengsek, bajingan." Arjuna melayangkan tinjunya ke wajah Bastian.


Karena serangan yang terlalu mendadak, membuat Bastian tidak sempat mengelak.


BUMM..


Tendangan Arjuna tepat mengenai tubuh Bastian, yang langsung terjungkal ke belakang.


Bastian pun membalas kembali serangan Arjuna.


BUKK...


BUKK...


BUKK...


Suara pukulan dan tendangan beradu di dalam mansion itu.


Beruntung mommy Rita telah berangkat lebih dulu ke kantor, hingga Arjuna merasa lebih leluasa menyerang Bastian.


HOSH...HOSH...HOSH...


Deru napas mereka kian memburu, pergulatan pun semakin hebat.


" Berhenti Ar, ada apa ini?" Bastian bertanya seraya terus menangkis serangan dari Arjuna yang semakin membabi buta.


" Sekian lama aku menunggu saat-saat seperti ini!" jawab Arjuna dengan terus melayangkan beberapa tinju dan tendangannya.


AAKKHH....

__ADS_1


Bastian berteriak ketika satu tendangan Arjuna berhasil mendarat tepat di bagian dadanya.


" Hentikan Ar, hentikan!" Suara Bastian sambil terus berusaha menahan serangan Arjuna.


Ini merupakan kesempatan bagi Arjuna untuk membalaskan sakit hatinya, telah lama ia menunggu titik temu antara dirinya dan Bastian.


Arjuna terus menyerang hingga akhirnya terdengar sebuah teriakan.


" Berhenti! Stop! stop!" suara itu berasal dari atas, dimana disana seorang wanita sedang berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga dengan begitu cepatnya.


" Hentikan mas, hentikan!" teriak Dhita.


Merasa tidak di gubris, akhirnya ia nekat maju dan membelakangi Bastian yang telah babak belur di tangan Arjuna.


WASSH...


Arjuna menghentikan gerakan tangannya yang melayang di udara.


" Minggir, kataku!" seru Arjuna ketika melihat istrinya menghalangi dirinya dan Bastian.


" Hentikan mas, ada apa denganmu?" suara Dhita sedikit lantang dengan wajah yang beringas.


" Pertanyaan itu bukan untukku, tapi untuk kalian, apa yang telah kalian lakukan di belakangku?" Arjuna membenarkan letak jas dan dasinya yang telah berantakan.


Mendengar pertanyaan dari Arjuna, membuat Bastian yang terkapar di lantai ikut bicara sambil berusaha bangkit dari tempatnya.


Beruntung sepupunya datang tepat waktu, kalau tidak, bisa di pastikan ia akan habis di tangan Arjuna.


" Cih, tidak usah berpura-pura polos, dasar munafik !" Arjuna hendak melayangkan tinjunya kembali, namun ditahan oleh Dhita.


" Oh, jadi kau lebih berpihak kepada kekasih gelap mu ini, wajar saja, karena dia adalah ayah dari bayi yang ada di dalam perut mu."


PLAAAKK....


Tamparan keras mendarat di pipi Arjuna.


" Maafkan aku mas, tapi aku harus melakukan ini agar kau sadar, berkali-kali aku mengatakan kalau aku tidak hamil, mengapa kau tidak percaya mas?" air mata Dhita mulai mengambang, membuat kedua sudut matanya berkaca-kaca.


Arjuna menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


" Sungguh mengharukan, insiden yang sangat romantis, seorang istri lebih membela selingkuhannya dari pada suaminya sendiri." Arjuna menatap tajam kearah Dhita yang mendapat tatapan tak kalah tajamnya dari wanita itu.


" Aku rasa kau masih waras mas, kau masih mampu berpikir, bagaimana bisa seorang wanita yang tidak pernah tersentuh oleh laki-laki termasuk suaminya sendiri, akan bisa hamil mas?" suara Dhita dengan lantang.


Mendengar hal itu membuat Bastian cukup terperanjat.


Ia tidak pernah mengira kalau pasangan suami istri ini, belum pernah melakukan kewajiban mereka.

__ADS_1


Tatapan Bastian yang mengandung tanda tanya seakan menghunus Arjuna.


" Apa aku tidak salah dengar?" Bastian sangat terkejut.


Bagaimana tidak akan terkejut baru beberapa menit yang lalu, ia mendengar dari mommy Rita bahwa Dhita sedang hamil.


Mendengar pertanyaan dari Bastian, sontak membuat Arjuna dan Dhita terperangah.


Karena rasa kesalnya kepada Arjuna, membuat dhita melupakan kalau di dalam mansion itu juga ada Bastian. Hingga membuat pria itu mendengar semuanya.


" Ya, itu benar, kami memang tidak pernah melakukan apapun, dan itu karena kau!" Arjuna menunjuk wajah Bastian dengan beringas.


Jika saja penculikan itu tidak terjadi, pastilah mereka berdua tidak akan mengalami hal itu.


Bastian tertunduk membayangkan betapa jahatnya dirinya ketika dulu.


" Maaf, karena diriku kalian harus menderita." terucap kata-kata penuh penyesalan dari Bastian.


" Tidak kak, mungkin ini semua memang takdir yang harus kami lalui." Dhita teringat akan pesan Mbah Ijah yang mengatakan ujian dan cobaan di dalam rumah tangga mereka akan semakin menyakitkan.


Oleh karena itu, Dhita memilih untuk bersabar menghadapi sikap dan perlakuan Arjuna.


Sedangkan Arjuna, ia telah melupakan semua pesan dari Mbah Ijah hanya karena rasa cemburu yang tak beralasan.


" Kau tidak perlu berbohong, akui saja semua itu benar, lagi pula di sini hanya ada kita bertiga." Arjuna masih saja belum bisa mempercayai penjelasan istrinya, karena menurutnya, hasil pemeriksaan di rumah sakit itu lebih terpercaya.


" Aku bersumpah mas, aku tidak pernah tersentuh oleh siapa pun, dan orang yang pertama kali dan untuk selamanya, hanya dirimu mas, bukan orang lain." Dhita menegaskan di setiap kata-katanya.


" Aku bukanlah cecurut, yang dengan mudah bisa kalian bodohi," sinis Arjuna dengan tatapan mata yang mengejek.


" Katakan Ar, apa yang harus aku lakukan, agar kau percaya kepada kami." Bastian meminta kepastian.


" Aku tidak ada waktu, banyak yang harus aku kerjakan." Arjuna berlalu namun beberapa langkah kemudian, ia berhenti.


" Masuklah, di dalam kamar lebih baik untukmu!" Arjuna berkata kepada Dhita.


Bukan apa-apa ia berkata seperti itu, hanya karena ia tidak ingin istrinya itu berlama-lama berduaan dengan Bastian.


Seperti biasanya, Dhita selalu patuh dengan perintah suaminya, tanpa memperdulikan sepupunya yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.


" Apa yang kau tunggu, apa kau tidak memiliki pekerjaan lain?" Arjuna sengaja mengatakan semua itu, agar Bastian segera pergi dari mansion miliknya.


Mendengar ucapan Arjuna yang sengaja membuat dirinya merasa tersinggung, Bastian pergi dengan hati yang mendongkol.


" Rumah tangga seperti apa yang di jalani sepupuku ini," batin Bastian sambil berlalu.


Di dalam hati ia berharap, saudara sepupunya akan segera mendapatkan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2