Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 117 Menantu Baru


__ADS_3

" Ya, tidak apa-apa, saya mengerti!" jawab pak penghulu dengan sedikit senyum.


Setelah itu pak penghulu melanjutkan membaca doa yang belum sempat ia bacakan karena tertunda oleh insiden tadi.


Setelah selesai membaca doa pak penghulu pun pamit. Sementara itu para tamu beranjak dari tempat duduk masing-masing tanpa mengucapkan sepatah katapun, sebagai ucapan selamat.


Ya, karena tidak satu pun di antara mereka yang mengharapkan pernikahan ini terjadi, hingga membuat mereka bersikap dingin. Apalagi dengan adanya insiden tadi semakin membuat mereka bad mood.


Hanya Dhita dan mommy Rita lah yang selalu bersama dengan Citra yang wajahnya di tekuk sedari tadi. Citra merasa sangat sedih karena di hari pernikahannya yang ia harapkan akan mendapat kebahagiaan, justru mendapatkan rasa malu dari seorang Andrian yang selalu menuding dirinya sebagai perebut suami orang.


" Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, yang penting sekarang kalian telah resmi menikah." ucap mommy Rita Mencoba menghibur menantu barunya. tangannya mengusap pundak Citra berusaha menyalurkan kekuatan untuk menghadapi semua cobaan ini.


" Ya, jangan terlalu di pikirkan, sekarang kalian telah menjadi suami istri, mama yakin suatu hari nanti Arjuna pasti bisa menerima dirimu seutuhnya!" Bu Devina pun berusaha menghibur putrinya, karena ia tidak ingin peristiwa seperti kemarin terulang kembali.


Citra masih saja diam, tanpa ada niatan untuk menjawab semua perkataan dari ibu dan ibu mertuanya.


" Ayo sekarang kita pulang, aku telah menyiapkan sesuatu untuk mu!" Dhita pun angkat bicara, karena ia pun tidak ingin Citra kembali mengalami strres dan depresi seperti kemarin.


" Benarkah?" mata Citra berbinar ketika mendengar Dhita telah menyiapkan sesuatu untuknya.


Dhita mengangguk seraya tersenyum, yang langsung mendapat balasan dari Citra dengan sebuah senyuman pula.


" Jeng, saya mewakili putraku, ingin membawa putrimu ke rumah kami," ucap mommy Rita meminta izin untuk membawa menantu barunya tinggal di rumahnya.


" Iya jeng, mulai sekarang Citra adalah anggota keluarga jeng, jadi saya hanya meminta kepada jeng Rita dan nak Dhita untuk menjaga dan mengawasi putri saya." jawab Bu Devina merasa senang, jika putri nya tinggal di mansion mommy Rita, maka cepat atau lambat putrinya pasti mampu meluluhkan hati suaminya.


" Terima kasih jeng, saya janji akan menjaga putri jeng sebaik mungkin!" mommy Rita meyakinkan.


" Iya, jeng saya percaya dengan mu jeng." balas Bu Devina seraya tersenyum memeluk putrinya sebelum mereka berpisah.


" Jaga diri baik-baik ya nak!" pesan pak Aditya yang sedari tadi hanya diam saja, mengikuti acara sakral putrinya.


Pak Aditya tidak tahu harus bahagia atau bersedih ketika melihat putri tunggalnya menikah dengan suami wanita lain. Apalagi wanita itu sedang hamil, pak Aditya hanya khawatir masyarakat akan menjuluki putrinya dengan sebutan pelakor.

__ADS_1


Citra mengangguk lalu memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


Kemudian mereka berjalan keluar dari ruangan itu. Namun apa yang mereka lihat di luar sana, Arjuna dan Andrian lagi-lagi bertarung dengan sengit.


" Kau telah membuat diriku malu di depan semua orang, maka sekarang terimalah pembalasan ku!" teriak Arjuna dengan wajah dan bola mata yang memerah karena menahan amarah.


" Maafkan aku Ar, aku hanya salah paham!" Andrian yang merasa bersalah karena telah mengahajar Arjuna tanpa mengetahui alasan dari balik semua itu.


Namun Arjuna tidak memperdulikan ucapan Andrian, justru ia semakin gencar menyerang hingga membuat Andrian kewalahan.


" Stop mas, hentikan!" lagi-lagi Dhita harus berteriak untuk menghentikan kedua pria itu.


Bukannya berhenti, keduanya malah semakin gencar saling menyerang satu sama lain.


Hingga pada akhirnya mereka berhenti ketika mendengar Dhita yang mengaduh kesakitan.


Entah mengapa akhir-akhir ini Dhita sering mengalami kontraksi padahal usia kandungannya baru menginjak tujuh bulan.


" Awwhhh, sakit!" pekik Dhita perlahan bersimpuh di lantai karena tidak tahan menahan rasa sakit.


" Dhita!" Arjuna langsung menghambur ke arah istrinya yang duduk bersimpuh sambil terus merintih.


Melihat hal itu mommy Rita sangat khawatir.


Namun tidak dengan Bu Devina, justru ia berdoa agar Dhita dan bayinya tidak selamat.


" Cepat bawa istrimu ke rumah sakit!" perintah mommy Rita, namun di tolak oleh Dhita.


" Tidak usah mom, kita pulang saja," sahut Dhita di antara menahan rasa sakitnya.


" Tapi sayang...!" Arjuna merasa tidak yakin jika istrinya di bawa langsung ke rumah.


" Ayo mas, cepat bawa aku pulang !" pinta Dhita, wajahnya meringis kesakitan.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Arjuna segera meraih tubuh sang istri lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Tanpa memperdulikan yang lain, Arjuna segera memerintahkan kepada pak sopir untuk segera berlaju.


Sementara mommy Rita dan Citra di antar oleh Andrian, karena tidak ada siapapun lagi ditempat itu selain dirinya.


Di dalam mobil Arjuna merasa khawatir dengan kondisi istrinya yang terus merintih kesakitan, tangannya terkepal erat menahan rasa sakit. Sebisa mungkin Dhita berusaha untuk tidak mengeluh, walau rasa sakit seperti menindih perutnya.


" Kita ke dokter saja, aku khawatir kau dan bayi kita....!" Dhita meletakkan jari telunjuknya di bibir suaminya. Membuat Arjuna berhenti berbicara.


" Ssstttt... jangan katakan hal itu, aku dan bayi kita baik-baik saja," Dhita meraih tangan Arjuna kemudian meletakkannya di atas perutnya.


" Usap lah perlahan," pinta Dhita, yang langsung di turuti oleh Arjuna.


Perlahan Arjuna mengelus perut istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dan secara perlahan juga rasa sakitnya mulai mereda.


" Bagaimana sekarang sudah lebih baik?" tanya Arjuna ketika melihat istrinya lebih relax.


Dhita mengangguk, namun masih dengan napas yang memburu. Arjuna menyeka keringat di wajah istrinya. Kemudian mengecup mesra kening sang istri.


" Kau selalu membuatku Khawatir, kau tahu, aku lebih baik babak belur dari pada melihatmu kesakitan." ucap Arjuna seraya merentangkan sebelah tangannya dan membawa Dhita ke dalam pelukannya.


Dhita meraba bibir suaminya yang sedikit berdarah akibat dari pergulatannya dengan Andrian.


" Sakit mas?" tanya Dhita menatap wajah tampan suaminya, walau wajah itu telah babak belur kebiruan. Namun aura ketampanan masih lekat di sana.


" Tidak!" jawab Arjuna berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.


Walaupun suaminya mengatakan tidak, akan tetapi Dhita tahu itu hanya untuk menenangkan dirinya saja.


CUP.


Dhita mengecup bibir indah sang suami dengan lembut.


Dan membuat pak sopir harus berpura-pura tidak melihat adegan mesra yang sedang tayang perdana di belakangnya.

__ADS_1


Dengan pandangan lurus kedepan pak sopir berusaha tetap fokus menyetir walau konsentrasinya mulai terganggu.


Sementara Arjuna dan Dhita seolah tidak memperdulikan kehadiran sopirnya, mereka terus saja berpeluk mesra sambil sesekali Arjuna mencium perut istrinya yang sangat membuncit.


__ADS_2