
Hari menjelang sore.
Suasana di kampus Universitas Negeri Yogyakarta, tengah ramai. Para mahasiswa berbondong-bondong pergi meninggalkan kampus tersebut.
Ada yang menggunakan kendaraan pribadi dan ada pula yang menggunakan jasa gojek.
Begitupun dengan Diana, ia yang sedang menunggu sopir pribadinya di depan pintu gerbang kampus. Dia melirik jam arloji di tangan kirinya, nampak ia sedang gelisah.
"Menunggu siapa?"
Dia terkejut mendengar suara yang datang tiba-tiba dari arah belakangnya.
"Ans?" Dia menyebut nama pemilik suara itu.
Melihat Dia yang terkejut, Ans tertawa. Entah mengapa perasaan Ans begitu bahagia ketika sedang bersama dengan wanita itu. Seperti mereka telah saling mengenal begitu lama.
"Aku, sedang menunggu jemputan." jawab Dia setelah hilang rasa terkejutnya.
"Mau ku antar?" Ans menawarkan.
Di dalam hati ia berharap wanita ini akan menyetujui tawarannya, karena dengan begitu Ans tidak perlu repot-repot mencari alamatnya.
"Tidak usah, sebentar lagi pasti datang." Dia berusaha menolak, Karena ia tidak ingin akan mendapatkan berbagai pertanyaan dari ibunya. Walaupun sebenarnya ini adalah kesempatan Dia untuk mengenal Ans lebih dekat.
Memang, Dhita sangat sensi jika putrinya berhubungan dengan orang yang tidak di kenal. Dan itu terjadi sejak hilangnya Ardhi.
"Ayolah, ini sudah sore, tidak baik sendirian disini." Ans membujuk Dia.
Benar saja, Dia melayangkan pandangannya ke sekeliling kampus, tampak suasana sangat lengang. Para mahasiswa tidak terlihat lagi.
Hanya beberapa dosen yang sedang berada di ruangannya.
"Apa tidak merepotkan mu?" Dia masih terlihat ragu.
Ans tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari Dia, lalu dengan menatap mata Dia, Ans bertanya.
"Jika aku merasa kerepotan, apa aku akan menawarkan tumpangan padamu?"
Dia pun terdiam mendengar ucapan Ans.
Dan pada detik berikutnya, Dia pun setuju dengan ajakan Ans.
Dengan seringai mengerikan, Ans membukakan pintu untuk Dia. Namun, Dia tidak melihat seringai itu, karena Ans terlebih dahulu merubahnya menjadi senyuman yang sangat manis.
Sehingga membuat Dia semakin terpana melihat wajah tampan pria itu.
Ans merasa sangat senang, akhirnya rencananya untuk membawa putri tunggal Arjuna hampir berhasil.
__ADS_1
Ya, dikatakan hampir berhasil, di karenakan ada seorang pria yang tidak kalah tampannya sedang menarik lengan Dia saat ini. Dan itu membuat Ans sangat terkejut.
Diana yang juga sedang terkejut karena secara tiba-tiba tangannya di tarik, sontak berteriak.
"Uda!"
Rupanya pria itu adalah Ednan, putra dari Eza dan Puri. Sedari kecil, Ednan memang telah menyukai Dia, dan itu membuat Ednan ingin selalu bersama dan menjaga Dia.
"Apa yang kau lakukan dengan pria ini?" tanya Ednan dengan suara yang sedikit berat karena menahan rasa cemburu.
Ya, Ednan seringkali merasa cemburu jika Dia sedang bersama pria lain, terlebih lagi pria itu sangat tampan.
Dia meronta-ronta berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Ednan. Dengan setengah berteriak Dia berkata.
"Lepaskan aku uda, lepas!"
Namun, Ednan bukannya melepaskan, malah semakin mempererat cengkeraman tangannya.
"Maaf, kau siapa? cepat lepaskan dia!" Ans yang melihat semua itu, merasa kasihan terhadap Dia. Ans mencoba melepaskan tangan Dia dari Ednan.
Ednan yang tidak suka jika ada orang lain yang terlalu ikut campur dalam masalahnya, berkata dengan mengetatkan rahangnya.
"Diam, dan jangan ikut campur!"
Ednan menatap Ans dalam-dalam, terpancar di dalam bola matanya suatu kebencian yang menyala-nyala.
Kini dua pasang mata pria saling beradu, saling menatap dengan bara api yang menyala-nyala.
Dia tahu apa yang akan terjadi, Ednan bukanlah tipe pria yang lembut dan penurut. Ednan pasti akan menghajar Ans jika mereka tetap berseteru.
Melihat semua itu, Dia terpaksa mengalah. Dengan suara perlahan ia berkata.
"Uda, sudah,"
Kini tangan Dia tidak lagi meronta justru tangan itu menahan dada bidang Ednan yang semakin mendekat ke arah Ans.
"Uda, ku mohon jangan lakukan apapun," bujuk Dia dengan air mata yang mulai mengambang.
Melihat perubahan pada sikap Dia, membuat Ans bertanya-tanya.
"Siapa pria ini di?" Ans melirik kepada Ednan dengan sudut matanya.
Sebelum Dia menjawab, Ednan terlebih dahulu berkata.
"Harusnya aku yang bertanya, siapa kau berani-beraninya kau menyentuh calon tunangan ku!" Dengan rahang yang mengeras, Ednan mengepalkan tangannya. Bersiap melayangkan tinjunya ke arah Ans.
Mendengar jawaban dari mulut Ednan, Ans melebarkan kelopak matanya.
__ADS_1
"Calon tunangan?" Ans serasa tidak percaya dengan jawaban itu.
"Uda, ku mohon, jangan sakiti dia, Ans hanya ingin mengantarkan diriku pulang, tidak lebih!" suara Dia mengiba, membuat Ednan menurunkan kepalan tangannya.
"Ans pergilah, aku akan pulang dengan Uda saja," ujar Dia kemudian.
Karena pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban langsung dari Dia, Ans kembali bertanya. Namun, kali ini ia hanya menatap Dia, kini yang telah berada di dalam rangkulan tangan Ednan.
"Siapa pria ini Di, mengapa kau sangat menurut kepadanya?"
"Calon tunangan ku." jawab Dia dengan raut wajah muram.
"Sekarang cepatlah pulang," lanjut Dia yang kemudian berlalu dengan tetap berada di dalam pelukan tangan Ednan.
Tidak ada yang bisa di lakukan oleh Ans, selain memandangi kepergian Dia dengan Ednan, Ans merasa sangat marah karena tujuannya gagal.
"Sepertinya pria itu bukanlah orang sembarangan, aku harus berhati-hati dengannya." gumam Ans dengan tatapan masih lekat ke arah Dia, yang telah berlalu dengan menaiki mobil bersama Ednan.
Sementara Ednan melampiaskan kekesalannya dengan membawa mobil itu sangat cepat.
"Uda, hentikan mobilnya Uda, hentikan aku takut!" Teriak Dia dengan gemetar.
Namun, kemarahan Ednan tidak bisa di bendung lagi, karena tidak ingin menyakiti wanita yang ia cintai, Ednan melampiaskan kemarahannya dengan melajukan mobilnya secepat mungkin.
"Hentikan Uda, aku takut!!" Dia mengeraskan suaranya dengan tangisan yang mulai pecah.
Melihat wanita yang di cintainya menangis, membuat Ednan menghentikan mobilnya.
Ednan menatap Dia yang telah menangis dengan sekujur tubuh yang bergetar karena takut.
Ednan merentangkan tangannya membawa tubuh Dia yang bergetar karena ketakutan, kedalam pelukannya.
"Jangan lakukan lagi Uda, aku takut, hiks...hiks...hiks...," pinta Dia di dalam Isak tangisnya. Suaranya terdengar begitu lirih.
Tangan Ednan, mengelus kepala Dia seraya berkata.
"Maafkan aku, aku hanya tidak bisa melihat mu bersama pria lain."
"Kami tidak memiliki hubungan apapun Uda, hubungan kami hanya sebatas teman, aku mengenalnya hanya hari ini, dia anak baru yang sekelas denganku," ucap Dia mencoba untuk menjelaskan, entah Ednan percaya atau tidak.
"Ans, namanya Ans, dia pindahan dari A.S." lanjut Dia.
"A.S.?"
"Ya, Uda," jawab Dia cepat.
Ednan terdiam mendengar penjelasan dari Dia. Namun, jari tangannya mengusap air mata yang telah jatuh bergulir-gulir di pipi Dia.
__ADS_1