
"Apa? istrimu memberikan ASI nya kepada bayi itu?" mommy Rita terperanjat mendengar perkataan putranya.
"Ya mom!"
"Lalu, kau masih belum menyadari bayi itu adalah putramu? asal kau tahu Ar, tidak sembarang bayi mau di berikan ASI oleh seseorang jika mereka tidak memiliki ikatan batin." mommy Rita terlihat kecewa.
"Selama ini kau menyuruh anak buah mu untuk mencari keberadaan putramu, dia yang berada di sekitarmu malah kau abaikan." ucap mommy Rita penuh penekanan.
"Aku benar-benar tidak tahu akan hal itu mom, aku tidak pernah berpikir sampai kesana."
Ya, memang karena Arjuna mengira Ansel adalah putra dari Fanny dengan pria selingkuhannya.
"Kau orang yang sangat pintar, kau selalu sukses dalam kariermu, namun, kau tidak memilik cukup pengetahuan tentang ikatan batin." Mommy Rita terdengar begitu emosi.
Arjuna menyesal akan perbuatannya yang tidak mendukung ucapan istrinya sama sekali, andaikan saja, ia mempercayai apa yang telah di katakan oleh Dhita, tentu saat ini mereka telah bersama.
"Maafkan aku mom, ini semua adalah salahku, aku yang selalu menyangkal ucapan Dhita kalau bayi itu adalah putra kami." ucap Arjuna menyesal.
"Seharusnya kau tahu, naluri seorang ibu tidak akan pernah salah Ar!"
Arjuna terdiam, rasa sesal semakin membelenggu hatinya.
"Sekarang lebih baik kakak temui bayi itu, jika memang kakak mengetahui dimana tempat ia berada." Rena yang hanya mendengarkan, angkat bicara.
"Selamatkan putramu kak, selamatkan dia," lirih Reyhan.
Reyhan pun merasa khawatir, akan jadi apa jika keponakannya tumbuh di antara orang-orang seperti mereka.
Walaupun saat ini ia tidak bisa melihat apapun, namun ia yakin saat ini semua orang yang berada di ruangan itu, sedang merasakan kesedihan yang mendalam.
Akhirnya Arjuna memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menemui bi Murni dan Ansel.
Namun,sebelum ia pergi, Arjuna terlebih dahulu menghubungi sahabatnya, yaitu Eza.
Dia yang sedang menerima tugas dari Arjuna untuk turut andil dalam pencarian putranya.
Oleh karena itulah, Eza tidak hadir dalam acara pertunangan Bastian dan Citra.
"Temui aku di rumah sakit xxxxxx sekarang!" perintah Arjuna sebelum memutuskan panggilan di ponselnya.
"Mom, aku pergi dulu, ku mohon restu mu mom,"
__ADS_1
Kemudian Arjuna berjongkok mencium kaki ibunya sebagai tanda meminta restu.
"Pergilah, do'a restuku selalu bersama mu!" ucap mommy Rita seraya mengelus kepala putranya.
Setelah melakukan hal itu, kemudian Arjuna pun pergi tanpa berbasa-basi dengan Reyhan ataupun Rena.
"Ya Tuhan, kabulkan lah keinginan putraku, selamatkan lah dia, lindungilah dari segala bahaya." mommy Rita berdo'a di dalam hati.
"Aamiin!" seru Rena dan Reyhan bersamaan.
*
*
*
Setibanya di rumah sakit, Arjuna langsung di sambut oleh Eza yang telah sejak beberapa menit yang lalu tiba di rumah sakit itu.
"Bagaimana Ar? langkah apa yang akan kita lakukan terlebih dahulu?" Eza langsung bertanya ketika Arjuna telah turun dari mobil, karena ia tidak ingin membuang-buang waktu.
"Ayo ikut aku!" Ajak Arjuna tanpa menjawab pertanyaan dari sahabat sekaligus asisten pribadinya.
Arjuna melangkah menuju ruang rawat inap VVIP di mana ruangan tersebut pernah ditempati oleh Ansel saat ia di rawat di rumah sakit tersebut.
"CK, sial, rupanya mereka telah membawa putraku pergi!" geram Arjuna seraya mengepalkan sebelah tangannya, lalu menghantamkannya ke dinding.
BUUKK.
Bunyi hantaman begitu keras, berasal dari tangan Arjuna yang membentur dinding. Rasa sakit di tangannya tidak seberapa, jika Di bandingkan dengan rasa sakit yang mendera hati dan jiwanya.
"Ar sudah, jangan kau sakiti dirimu sendiri!" cegah Eza saat ia melihat sahabatnya hendak menghantamkan tangannya kembali ke arah dinding.
"Biarkan aku Za, biar ku hancurkan tangan ini, karena dengan tangan ini aku telah mencegah istriku untuk menemui putranya sendiri!" teriak Arjuna penuh sesal.
Masih lekat di ingatannya hari kemarin, ketika Dhita meminta izin untuk menemui Ansel di rumah sakit. Namun, dengan egoisnya Arjuna melarang Dhita dengan alasan, ia tidak ingin putrinya kekurangan kasih sayang dari ibunya sendiri.
Dan dengan terpaksa Dhita harus menurut akan perintah suaminya, walaupun jauh di dalam hatinya, ia merasa sangat tersiksa. Apalagi bayang-bayang serta tangisan Ansel selalu berputar-putar di kepalanya.
"Asal kau tahu Za, akulah laki-laki yang tidak berguna sama sekali, aku malu dengan diriku sendiri." keluh Arjuna, kini suaranya terdengar lebih rendah.
"Tidak Ar, kau tidak boleh mengatakan hal itu, aku sebagai sahabatmu merasa bangga padamu," bujuk Eza.
__ADS_1
"Kau ingat, saat kau telah resmi menjadi suami dari Citra, kau bahkan tidak pernah menyentuhnya sama sekali." ucap Eza.
"Jujur, jika aku yang berada di posisimu, aku tidak bisa menjamin kalau diriku akan mampu untuk mencegah nafsu ku!" ucap Eza memuji sahabatnya.
Arjuna terdiam sejenak, kemudian ia berkata.
"Yang aku butuhkan bukan pujian darimu, melainkan sebuah saran atau misi untuk langkah kita selanjutnya." Tukas Arjuna.
Mendengar ucapan sahabatnya, Eza terdiam sembari berpikir.
"Ayo, ikut aku!" kali ini Eza yang menarik lengan Arjuna keluar dari dalam ruangan itu menuju ke ruang Admission.
Tanpa Banyak berkata Arjuna mengikuti langkah sahabatnya.
"Maaf sus, kami ingin bertanya alamat pasien yang bernama Ansel Abraham?" Eza bertanya dengan sopan setelah mereka tiba di ruang Admission.
"Saudara-saudara ini siapa ya?" Admissi yang sedang bertugas balik bertanya.
"Kami adalah kerabat pasien, kami ingin menjenguknya, tapi pasien tidak ada di kamarnya, apa pasien sudah pulang?" jawab Eza sangat hati-hati agar tidak mencurigakan.
"Sebentar ya tuan, saya cek dulu!"
Arjuna dan Eza menunggu Admissi itu dengan tenang, walaupun sebenarnya di dalam hati mereka sedang gelisah.
"Pasien A/N Ansel Abraham, telah pulang sejak tadi pagi tuan." ucap Admissi.
"Lalu, alamatnya di mana sus?" Arjuna bertanya mengulang pertanyaan sahabatnya.
"Di jalan xxxxxxx no xxx!"
"Baik, terimakasih banyak sus!" Eza mewakili sahabatnya.
Kemudian mereka pergi dengan membawa sebuah harapan, harapan bagi Arjuna tentang keutuhan keluarganya.
Dengan hati bahagia yang berdebar-debar, Arjuna meninggalkan rumah sakit itu. Tidak ada yang lebih berharga baginya, selain keutuhan keluarganya yang telah terombang-ambing akibat dari ulah para manusia yang tidak bertanggung jawab.
"Awas, jika sampai aku menemukan mereka, tidak akan aku ampuni dia!" Arjuna menggertakkan giginya dengan penuh amarah.
"Dia? dia siapa yang kau maksud?" Eza merasa aneh, mengapa sahabatnya tiba-tiba menyebut 'Dia'.
"Fanny!" jawab Arjuna singkat.
__ADS_1
"Fanny? mantan istrimu yang ~," Eza tidak meneruskan ucapannya karena Arjuna terlebih dahulu memotong ucapannya.