Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 90 Harta Warisan


__ADS_3

Setelah sekian lama, David dan Bastian memutuskan untuk menemui Dhita.


Mereka ingin menyampaikan keinginan mereka untuk membagi sebagian harta warisan yang menjadi hak milik Bu Safitri( Diana ) dan putrinya Dhita.


Pagi ini juga sebelum kembali ke paris, David dan Bastian berniat mengunjungi Dhita di rumah Arjuna.


Semenjak keponakannya itu pulang dari rumah sakit, David belum pernah menjenguknya sama sekali. Di karenakan ia sangat sibuk menanggapi berbagai macam pertanyaan para wartawan tentang dirinya dan juga putranya yang pernah di jebloskan ke dalam penjara, namun pada akhirnya mereka bisa di bebaskan karena kebaikan Dhita.


Sedangkan Bastian belum berani bertemu dengan Dhita karena ia merasa sangat malu atas semua perbuatannya yang pernah ia lakukan kepada Dhita dan Arjuna.


Di dalam penyesalannya ia berjanji untuk tidak akan pernah mengulanginya lagi, dan saat ini mereka benar-benar telah bertaubat.


TING..TONG....


TING..TONG...


Bunyi bel pintu yang ditekan oleh David.


KREEEK.....


Suara pintu terbuka.


Seorang pelayan sedang berdiri di ambang pintu, pelayan itu menyapa David dan juga Bastian seraya tersenyum.


" Selamat pagi tuan-tuan, ada yang bisa saya bantu," sapa pelayan itu sambil menatap tamunya satu per satu.


" Pagi, kami ingin bertemu dengan Dhita dan Arjuna." ucap David menjawab sapaan pelayan itu.


" Kebetulan sekali, tuan Arjuna dan Nyonya Dhita sedang tidak ada di rumah, nyonya besar juga sedang pergi." jawab pelayan itu dengan sopan.


Mendengar bahwa tidak ada seorangpun di mansion itu, membuat David dan Bastian mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mansion.


Sedangkan mommy Rita telah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini, mengingat Arjuna yang telah melimpahkan semua urusan kantor kepadanya.


Di karenakan Eza tidak bisa menghandle nya seorang diri.


Sebab Eza harus menjaga Puri yang sedang hamil.


" Kalau boleh tahu Arjuna dan Dhita pergi kemana?" tanya David penasaran, karena sepagi ini mereka telah pergi keluar.


" Ke desa Kulon Progo tuan, rumah nyonya Dhita," jawab Pelayan itu.

__ADS_1


" Boleh saya tahu alamatnya?" tanya David berharap pelayan itu tidak akan keberatan untuk memberikan alamat Dhita di kampung.


Setelah menerima alamat dari pelayan itu, David dan Bastian pergi dari mansion tersebut.


David dan Bastian pergi menuju desa Kulon Progo.


Setelah beberapa jam lamanya mereka berkeliling mengitari perkampungan kulon Progo, di karenakan mereka kebingungan mencari alamat yang tertulis di kertas itu.


Tepat jam 12.00 siang, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti setelah lelah mengelilingi perkampungan tersebut.


Di tepi jalan, Bastian yang sedang berdiri merasa jenuh karena setengah hari waktu mereka habiskan untuk berputar-putar saja mencari alamat itu.


" Pa, itu ada orang kita tanyakan padanya saja," usul Bastian saat melihat seorang lelaki paruh baya berjalan ke arah mereka.


" Boleh juga." jawab David menyetujui ide putranya.


Kemudian David dan Bastian menunggu hingga lelaki itu benar-benar mendekat ke arah mereka.


" Permisi pak!" seru David kepada lelaki paruh baya itu.


Dan begitu lelaki itu menoleh, betapa terkejutnya David dan Bastian menatap wajah lelaki itu dengan tatapan bingung.


" Anda pak Setyo?" David hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Yang saat itu pak Setyo hendak pergi ke sawah untuk menjaga tanaman padinya dari amukan burung-burung pemakan padi.


Melihat dua orang itu membuat hati pak Setyo kembali panas, ingin rasanya ia memberikan pelajaran kepada David dan Bastian.


Gara-gara mereka berdua putrinya harus menderita.


Akan tetapi ketika mengingat kembali bagaimana cara Dhita memaafkan paman dan saudara sepupunya itu membuat pak Setyo menahan amarahnya.


" Ada apa kalian kemari?" tanya pak Setyo mengintimidasi David dan Bastian.


" Kami datang untuk menyerahkan bukti pembagian harta warisan." jawab David seraya menyodorkan sebuah map kepada pak Setyo.


Pak Setyo menerima map itu dengan kening mengkerut.


" Maaf, saya rasa istri dan putri saya Dhita tidak membutuhkan harta warisan ini," tolak pak Setyo setelah selesai membaca tulisan yang tertera di kertas putih tersebut. Mengingat selama ini baik istri ataupun putrinya tidak pernah mengalami kekurangan suatu apapun, kebutuhan mereka selalu tercukupi.


Pak Setyo menyerahkan kembali map itu kepada David.

__ADS_1


" Kami ingin mendengar langsung keputusan dari Safitri dan Dhita, oleh karena itu saya mohon izinkan kami bertemu dengan mereka." pinta David mengiba.


" Iya pak Setyo, saya sadar saya salah, saya telah menyakiti saudara saya sendiri, izinkanlah kami bertemu setidaknya sekali ini sebelum papa berangkat ke Paris." Bastian pun ikut mengiba, ia menangkupkan kedua tangannya.


Melihat kesungguhan di wajah mereka membuat pak Setyo tidak tega bila harus melarang mereka berjumpa dengan saudara mereka sendiri.


" Saya bukannya melarang, tapi saya hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa istri dan putri ku." ucap pak Setyo, masih teringat jelas di ingatannya bagaimana cara David dan Bastian melakukan kejahatan kepada putri dan menantunya.


" Kami berjanji tidak akan menyakiti mereka lagi, kami menyesal telah melakukan itu semua kepada mereka." ucap David dengan sungguh-sungguh.


" Baiklah," jawab pak Setyo, lalu berbalik badan hendak berjalan ke rumahnya, namun tiba-tiba David menghentikannya dan menawari untuk menaiki mobil bersama-sama.


" Silahkan." ucap David sembari membuka pintu mobilnya mempersilahkan pak Setyo yang notabenenya adalah adik iparnya masuk ke dalam mobil.


Sebenarnya pak Setyo ingin menolak, tetapi karena paksaan dari David dan Bastian akhirnya ia mengalah.


Melihat perubahan David dan Bastian yang begitu tulus, membuat pak Setyo merasa yakin bahwa mereka benar-benar telah bertaubat dan menyadari semua kesalahannya.


Dengan mengendarai mobil Bastian , pak Setyo menuntun mereka ke arah rumahnya.


Dhita dan Arjuna yang sedang asyik bersenda gurau di halaman rumah, sambil menemani Bu Safitri yang sedang menanam bibit sayuran, terkejut ketika melihat sebuah mobil parkir di depan rumahnya.


" Sepertinya ada tamu." gumam Arjuna memandang ke arah mobil itu.


" Itu kan mobil Bastian!" seru Dhita.


Ya, Dhita mengenali mobil itu karena dulu sewaktu ia bekerja di perusahaan milik Bastian, ia sering menemaninya meeting di luar kantor dengan mengendarai mobil tersebut.


" Dari mana kau tahu?" Arjuna merasa terkejut ketika istrinya mengenali mobil itu.


" Kau lupa, dulu aku pernah bekerja di perusahaan Bastian." jawab Dhita sambil terus memandang mobil itu.


Mendengar percakapan anak dan menantunya membuat bu Safitri meninggalkan pekerjaannya, ia penasaran siapa yang mereka maksud.


" Ada apa?" tanya Bu Safitri menghampiri Arjuna dan Dhita.


" Tuh!" Dhita menunjukkan jarinya ke arah mobil yang sedang parkir di depan rumahnya.


Sontak mereka bertiga di kejutkan dengan keberadaan pak Setyo yang turun dari dalam mobil tersebut.


Lalu di ikuti David dan Bastian yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


" Assalamualaikum Bu..ibu..!" seru pak Setyo memanggil istrinya sembari masuk kedalam rumah.


" Mari masuk!" ajak pak Setyo kepada David dan Bastian.


__ADS_2