Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 52 Menemukan Tanda Bukti


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, Eza sedang berusaha mencari sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya. Ia memeriksa di setiap tempat seperti laci, bawah kasur bahkan di setiap sudut ruangan tidak ada yang luput dari pencariannya.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu, Laptop. Ya di laptop itulah semua tanda bukti bersemayam.


Perlahan tapi pasti Eza segera membuka layar monitor di laptop.


Saat ini ia sedang berada di sebuah kamar milik citra, sepupunya. Karena rasa curiga yang semakin menumpuk membuat Eza nekat melakukannya.


Secara diam-diam Eza menyelinap masuk kedalam rumah citra setelah ia memeriksa terlebih dahulu keamanan di rumah itu.


Kebetulan di rumah itu sedang tidak ada orang lain kecuali si pembantu yang sedang berada di dapur, karena semua orang termasuk orang tua citra sedang pergi keluar.


betapa terkejutnya ia hampir tak percaya ketika jari-jarinya mengetik akun citra dan ternyata akun Dhita yang keluar.


" Ternyata benar dugaan ku, heh, citra tunggu saja aku pasti akan buktikan kemampuanku di depanmu ." gumam Eza dengan senyum sinis nya. Sudah lama ia ingin membalas setiap perkataan citra yang selama ini selalu mengatakan dirinya pecundang.


Dengan cekatan tangan Eza segera memindai tanda bukti tersebut ke ponselnya, dan jadilah kini semua tanda bukti tersebut telah berpindah ke dalam ponselnya.


Setelah mengamankan semua tanda bukti Eza segera keluar dari rumah itu, tentunya dengan cara sembunyi-sembunyi.


" CK, Kemana saja kau Ar ?" tanya Eza pada dirinya sendiri.


" Giliran ada yang penting ponselnya malah gak bisa di hubungi." gerutu eza sambil terus mencoba menghubungi sahabatnya kembali, meskipun yang ia dengar hanyalah suara operator yang mengatakan.


" Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi tuuut... tuuut... tuuut..." panggilan berakhir.


" Sial, " umpat Eza sambil mengirim pesan singkat kepada Arjuna, ia berharap Arjuna akan membaca pesannya ketika ponsel sahabatnya itu kembali aktif.


Selanjutnya Eza bergegas pulang menemui istrinya untuk menceritakan apa yang telah ia dapatkan saat ini.


*


*


*


" Apa ?" serius ?" pekik Puri hampir tak percaya, sambil membelalakkan kedua matanya Karna saking terkejutnya.

__ADS_1


" Iya, aku jadi kasihan pada Dhita, Karna kelicikan Citra dia harus menanggung akibatnya." ucap Eza dengan raut wajah sedih.


" Mari kita temui Dhita, kita ceritakan semua ini padanya, dia harus tau apa yang sebenarnya terjadi, mungkin dengan begitu Dhita akan kembali memikirkan keputusannya untuk melupakan Arjuna ." sahut Puri, ia tau bahwa sahabatnya itu masih sangat mencintai mantan kekasihnya dan ia berharap dengan adanya bukti ini akan membuat mereka bersatu kembali.


Akhirnya mereka pun pergi ke apartemennya Rena, dimana Dhita tinggal selama ini.


Setelah mereka di persilahkan masuk tanpa berbasa-basi Eza dan Puri menceritakan semua nya sambil menunjukkan bukti yang ada padanya.


" Wah pantas saja !" seru Dhita dengan terkejut pula.


" Pantas apanya ?" tanya Puri tak memahami ucapan sahabatnya.


" Aku pernah mendapat email kalo kata sandi ku udah di ubah, dan ada peringatan keamanan juga." jawab Dhita mengingat-ingat notifikasi yang masuk ke ponselnya sebulan yang lalu, namun kini ia telah menghapusnya Karna tak mengerti dengan notifikasi tersebut.


" Terus apa ada lagi ?" tanya Eza antusias.


Dhita mengangguk.


" Ya, ada sebuah email yang terkirim dari akun ku, padahal aku gak ngerasa ngirim apapun waktu itu." jawab Dhita dengan yakin.


" Lalu apa yang harus kita lakukan ?" tanya Puri pada suaminya.


" Kita harus ceritakan semuanya pada Arjuna," jawab Eza.


" Aku rasa gak perlu, semuanya udah terlambat." ucap Dhita dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Nggak Di, mungkin kamu bisa menerima semua ini tapi gak dengan aku, aku gak bisa melihat kamu di fitnah seperti ini, ini namanya pencemaran nama baik." ucap Puri tegas.


Dhita hanya bisa terdiam, namun di hatinya ia sangat berharap bahwa Arjuna akan percaya. Dengan adanya bukti ini, dan nama baiknya di mata semua orang yang telah terhasut fitnah tersebut akan kembali membaik.


*


*


*


Sementara itu Arjuna yang sedang mabuk berjalan sempoyongan masuk ke dalam sebuah kamar yang tersedia di klub malam, tentunya di temani oleh citra yang selalu mengekor di belakangnya.

__ADS_1


" Kau tega sekali, kau pergi dengan laki-laki lain di depan mataku, aku benci kamu aku benci!" umpat Arjuna dalam mabuknya. Sambil terus berjalan memasuki kamar.


Citra sengaja melakukan semua itu demi mendapatkan apa yang ia inginkan, ia ingin melakukan hubungan intim untuk bisa menjerat pria yang berstatus sebagai tunangannya tersebut. Mengingat selama ini ia tidak di acuhkan oleh Arjuna.


Flashback off.


Arjuna yang sedang di landa api cemburu ketika melihat Dhita dinner dengan pria lain, ia tak lagi memikirkan tentang dirinya, dalam kecemburuannya Arjuna pergi meninggalkan restoran tersebut dengan rasa amarah. Ia tak memperdulikan lagi Citra, sang tunangan yang berlari-lari mengejar di belakangnya.


Arjuna mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju sebuah klub malam. Pikirannya yang sedang kalut membuat ia tak mampu lagi untuk mengontrol emosinya.


Arjuna berjalan memasuki klub tersebut menuju meja bartender. Arjuna meneguk segelas minuman beralkohol tinggi yang telah di pesannya dengan kandas, lalu menambah lagi, meneguk lagi begitu pun seterusnya.


Dengan senang hati Citra menuangkan minuman beralkohol tinggi tersebut ke gelas yang sedang di pegang oleh Arjuna berharap pria itu akan mabuk dan ia bisa mengambil kesempatan untuk itu.


Sebelumnya Arjuna memang sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada seseorang pun yang bisa menghubunginya dan mengetahui keadaannya. Oleh sebab itulah Eza tidak bisa menghubunginya.


" Tambah lagi !" pinta Arjuna yang mulai mabuk. Bicaranya pun semakin ngelantur.


" Kau siapa? mengapa disini, pergi jauh-jauh aku ingin sendiri." ucap Arjuna sambil meneguk kembali segelas minuman beralkohol tinggi tersebut dengan kandas.


" Tenanglah, aku milikmu aku adalah wanita mu yang akan setia menemanimu ," ucap citra sambil mengusap wajah Arjuna yang mulai berkeringat Karna mabuk.


" Ayo, kita pergi dari sini !" ajak Citra ketika ia melihat Arjuna yang mulai mabuk.


" Kita mau kemana? di sini lebih asyik tidak ada dia yang menyebalkan itu !" Arjuna menunjuk-nunjuk wajah Citra, menandakan ia semakin mabuk.


" Ayolah, kita pergi dari sini Karna ada tempat yang lebih asyik lagi !" bisik Citra di telinga Arjuna. Kemudian tersenyum menggoda.


" What? tempat yang lebih asyik? mana?" tanya Arjuna sambil tertawa Karna mabuk.


" Ayo ikut denganku !" Citra menarik lengan Arjuna berusaha membantu pria tersebut bangkit dari duduknya lalu memapahnya berjalan.


Arjuna mengikuti saja ke mana Citra akan membawanya dengan terus berbicara di dalam mabuknya. Dengan sabar Citra membantu Arjuna menaiki tangga, walaupun Arjuna sering berhenti setiap kali menginjak anak tangga tersebut.


" Kau, mengapa disini? pergi cepat, kalau kau di sini semua orang akan menginjak-injak mu !" ucap Arjuna pada anak tangga sebelum ia menginjaknya. Itulah ucapan yang keluar dari mulut Arjuna setiap kali ia akan menginjak anak tangga.


Citra membawa Arjuna memasuki sebuah kamar yang sengaja ia pesan sebelumnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2