
Alam semesta tak secerah seperti biasanya, langit mendung, awan berkabut menghiasi sang cakrawala. Gerimis mulai turun menyapa bumi yang sedang gersang.
Pagi-pagi sekali arjuna berniat mengantarkan dhita pulang. Mereka berdua duduk di ruang tamu sedang menantikan mommy Rita.
Arjuna melirik jam tangan nya.
" Pukul 06:35 Wib." gumam arjuna, kemudian melihat ke atas, ke kamar ibunya.
" Kenapa mas?" dhita bertanya, dari tadi ia memperhatikan kekasihnya seperti sedang gelisah.
" Aku ada meeting pagi ini, mommy mana ya, kok belum turun ?" arjuna, ia merasa heran mengapa ibunya belum juga turun. Padahal biasanya dialah yang pertama duduk di ruangan itu.
Tap...
Tap...
Tap...
Suara langkah kaki mendekat, dhita menoleh.
" Pagi tante.." Sapa dhita ramah. Dhita beranjak dari duduknya ketika melihat ibu dari kekasihnya datang mendekat.
" Pagi... Ar ayo kita sarapan ." ajak mommy Rita pada arjuna, tanpa memperdulikan dhita yang berdiri di sampingnya.
Dhita merasakan suasana yang tidak nyaman di hatinya. Merasa di acuhkan.
" Sebenarnya kami nunggu mommy cuma pengen pamit aja mom ." ucap arjuna.
" Setidaknya sarapan dulu, biar perut kamu gak kosong nanti kena maagh gimana ?" mommy.
" Pagi ini ada meeting mom, sarapannya nanti aja selesai meeting ." jawab arjuna.
" Kami jalan dulu ya mom ." arjuna pamit yang di ikuti oleh dhita.
" Aku pulang dulu tan..." pamit dhita, mommy Rita mengangguk pelan dengan wajah datar.
" Hati-hati." pesan mommy Rita. " Sejak kenal wanita ini arjuna berubah. " Mommy Rita membatin.
Arjuna dan dhita menyalami mommy Rita secara bergantian, kemudian melangkah pergi meninggalkan mommy Rita.
Di luar rumah gerimis masih turun rintik-rintik. Cuaca berkabut menghalangi pandangan mata.
Arjuna memutuskan untuk mengantar kekasihnya pulang terlebih dahulu, baru setelah itu ia akan berangkat ke kantor.
Dengan sangat hati-hati arjuna mengemudikan mobilnya.
Jalan raya saat itu mengalami kemacetan, karna kabut tebal membuat para pengemudi kesulitan untuk mengendarai mobilnya.para pengemudi saling berdesak-desakan. Ada-ada saja tingkah mereka, ada yang menggerutu, mengumpat karna rasa kesal, ada juga yang berusaha mendahului pengemudi yang lain. Membuat kemacetan semakin panjang.
Tiba-tiba terdengar suara berdentam.
Braaaaakkkkkk.......
Bruuuuuukkkkk.........
Suara tersebut terdengar cukup keras, memekakkan telinga.
" Suara apa itu mas ?" tanya dhita, ia terkejut.
" Sepertinya ada kecelakaan di depan." jawab arjuna seraya terus mengemudikan mobilnya perlahan-lahan.
" Hati-hati mas, gak usah buru-buru." dhita mengingatkan kekasihnya.
" Iya, kamu tenang aja." arjuna.
Benar saja apa yang di ucapkan arjuna, tampak di depan mereka orang-orang sedang berkerumun, suaranya sangat riuh.
Arjuna menghentikan mobilnya karna memang tidak bisa lewat.
" Aku lihat dulu ya... Siapa tau ada yang butuh bantuan." ucapnya seraya melepaskan sabuk pengaman.
" Mas, aku ikut ." ucap dhita. Ia mengikuti langkah kekasihnya.
" Siapa yang kecelakaan mas?" tanya dhita memegang lengan arjuna, ia merasa takut.
__ADS_1
" Entahlah ayo kita lihat."
Mereka berjalan di antara mobil-mobil yang penuh sesak.
Sesampainya di tempat kecelakaan. Orang-orang berkerumun mengelilingi korban.
Arjuna menghambur ke dalam kerumunan orang tadi.
Ia sangat syok dengan apa yang di lihatnya.
" Reyhan..." teriak arjuna setengah panik. Ia melihat reyhan tergeletak bersimbah darah.
" Anda mengenalnya tuan ?" tanya seseorang.
" Iya, tolong bawa kemobil, saya akan membawanya ke rumah sakit." pinta arjuna pada orang-orang yang berkerumun di sana.
Tanpa banyak bicara orang-orang tadi menggotong tubuh korban ke mobil arjuna. Dhita ikutan syok saat melihat siapa korbannya.
Sesampainya di mobil, arjuna langsung menyalakan mesin, hendak membawa Reyhan ke rumah sakit. Para pengemudi yang lain menepi, memberi jalan pada arjuna.
Reyhan tak sadarkan diri, karna begitu banyak ia mengeluarkan darah.
" Cepat hubungi keluarganya." perintah arjuna.
" Iya mas." sahut dhita, kemudian ia menghubungi rena, sahabatnya. Karna ia juga tidak tau no ponsel keluarga reyhan. Jadi ia memutuskan untuk menghubungi rena, kekasih reyhan.
Panggilan tersambung.
Terdengar suara dari sebrang.
" Hallo dhi..." saat itu rena sedang berada di cafe, ia baru saja tiba.
" Hallo ren.. Reyhan mengalami kecelakaan." sahut dhita To the point.
Mendengar kabar itu rena syok, tubuhnya bergetar.
" Apa? Reyhan kecelakaan?" rena seakan tak percaya.
" Ini kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, nanti aku share lok ya..." ucap dhita.
" Baiklah, aku segera kesana." ucap rena dengan lemas, seluruh tubuhnya terasa lunglai. Air mata membasahi pipinya, hatinya terasa pilu membayangkan keadaan kekasihnya.
RS PKU Muhammadiyah, JL. KH Ahmad dahlan no 20, ngupasan, kec Gondomanan. Dhita mengirim sharelok pada rena. Setelah di beritahukan oleh arjuna. Sesekali dhita menoleh kebelakang, melihat keadaan reyhan yang tak sadarkan diri.
Arjuna berusaha secepat mungkin melajukan mobilnya, ia sekuat tenaga ingin menyelamatkan reyhan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit besar yang mereka tuju. Dengan sigap para perawat memberikan bantuan. Reyhan di bawa ke ruang ICU, untuk di periksa.
Rena datang, ia langsung menghambur ke dalam pelukan sahabatnya. Menangis sejadinya.
" Sabar ren, kamu harus kuat." dhita berusaha menenangkan sahabatnya, walau ia sendiri juga tak mampu menahan tangis.
" Bagaimana keadaannya ?" tanya rena setelah puas menangis. Menumpahkan semua rasa pilu di hatinya.
" Masih di dalam di periksa dokter."
Tiba-tiba pintu terbuka, seorang dokter berdiri di ambang pintu, dengan wajah lesu ia mengatakan.
" Dengan keluarga pasien ?" tanya dokter.
" Iya saya keluarganya dok." ucap reyhan, ia terpaksa mengaku karna ia juga tidak tau keluarga reyhan yang sebenarnya. Yang ia tau bahwa ayah reyhan sedang sakit. Jadi tidak mungkin menghubunginya.
" Maaf ke adaan pasien cukup parah, ia mengalami cedera pada tulang belakangnya, ia membutuhkan donor sumsum tulang belakang dan harus segera melakukan operasi." Tutur dokter yang bernama Weny. Ia seorang dokter spesialis bedah. Kebetulan ia sedang bertugas saat itu.
Mendengar hal itu semua menjadi panik.
" Saya bersedia mendonorkan sumsum tulang belakang saya dok." ucap arjuna tiba-tiba, entah mengapa hal itu terpikir olehnya.
" Baik, mari ikut saya keruang pemeriksaan, jika cocok kita bisa langsung lakukan operasi."
Dokter weny bergegas pergi ke suatu ruangan, arjuna mengikutinya dari belakang berharap hasil tesnya cocok.
Setelah melakukan pemeriksaan arjuna, rena dan dhita menunggu hasilnya.
__ADS_1
" Bagaimana kalo hasilnya gak cocok?" tanya rena dalam kegelisahannya. Air mata tak hentinya mengalir membasahi kedua pipinya.
" Berdo'a saja semoga semuanya lancar dan reyhan bisa segera di selamatkan." ucap dhita, padahal ia sendiri juga bingung.
" bagaimana kalo...." rena tak meneruskan ucapannya, ia menangis sesenggukan.
" Aku gak sanggup kalo harus kehilangan dia.." lanjutnya lirih.
" Sssstttt.... Jangan berkata begitu, yakinlah semua pasti baik-baik saja." dhita.
Dokter weny keluar dari ruang pemeriksaan. Ia membawa sebuah kertas berwarna putih rupanya hasil tes.
" Selamat, dari hasil pemeriksaan sumsum tulang belakang anda cocok, jadi anda bisa mendonorkan nya." ucap dokter weny.
Ia menyerahkan kertas tersebut pada arjuna. Netra arjuna membulat ketika membaca isi surat tes tersebut, di sana di nyatakan 99,9 persen Gen mereka sama. Karna tes sumsum tulang belakang berkaitan dengan tes DNA. Mungkin ini cara tuhan mempertemukan mereka, saudara satu ayah.
" Bagaimana mungkin, kami sama sekali tidak memiliki hubungan darah, bagaimana bisa se cocok ini ?" arjuna membatin. Ia tak percaya.
Kemudian ia melipat surat tersebut, mengantonginya. Ia pikir lebih baik menyelamatkan nyawa reyhan dahulu, setelah itu baru ia akan membahas tentang surat keterangan tersebut.
Operasi pun dilakukan, terlihat dari layar monitor tampak denyut jantung reyhan bergelombang naik turun bagaikan grafik. Arjuna menatap reyhan yang tak berdaya." apa mungkin dia saudaraku ? Tapi mengapa mommy tidak pernah bercerita padaku ?" pikirnya.
Detik berikutnya ia pun pingsan tak sadarkan diri, akibat pengaruh obat bius yang di suntikkan padanya.
Operasi berlangsung cukup lama, membuat dhita dan rena semakin gelisah, mereka takut terjadi sesuatu pada keduanya. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan do'a memohon pertolongannya. Hanya yang kuasa yang mampu menolong mereka saat ini. Menyelamatkan orang-orang terkasih mereka. Keduanya berusaha saling menguatkan. Mata mereka menatap lampu yang menandakan bahwa operasi sedang berlangsung.
Lampu di matikan tanda operasi telah selesai. Dokter weny keluar dengan seulas senyuman di wajahnya.
" Alhamdulillaah.... operasi berjalan lancar, keduanya selamat."
" Alhamdulillaah.... Makasih dok.! Ucap dhita dan rena bersamaan. Mereka merasa lega. Rena bersujud memuji syukur atas karunianya yang telah menyelamatkan kekasihnya.
Arjuna dan reyhan dipindahkan ke kamar pemulihan. Kamar rawat inap vvip, mereka di baringkan di kamar yang bersebelahan.
Rena melihat kekasihnya terbaring lemah tak berdaya, selang nasogastric tube di pasang di hidungnya. Sungguh menyedihkan.
...****************...
Sedang kan di kamar sebelah, arjuna masih tak sadarkan diri. Rupanya efek obat bius pasca operasi belum juga hilang. Dhita dengan setia menemani, duduk di sebelahnya.
Arjuna membuka matanya perlahan, rupanya ia telah siuman. Ia merasakan pusing di kepalanya.
" Gimana keadaan reyhan ?" tanya arjuna, ia teringat akan saudaranya.
" Masih belum stabil mas, " Jawab dhita, ia tau tentang keadaan reyhan karna ia baru saja menerima pesan singkat di ponselnya, dari rena setelah ia bertanya pada nya lewat whatsaap.
" Aku ingin menemuinya." arjuna berusaha bangkit, dengan dibantu oleh dhita.
" Mas... KondisI kamu masih lemah...!"
" Aku ingin melihat keadaannya." arjuna menatap dhita. Dengan tatapan tajam.
Dhita mengangguk, kemudian ia membantu kekasihnya untuk duduk di kursi roda. Tidak mungkin berjalan baginya karna keadaannya masih lemah.
Dhita mendorong kursi roda menuju kamar sebelah tempat reyhan di rawat.
Arjuna memegang tangan reyhan berbagai macam petanyaan terlintas di benaknya. Ada hubungan apa ia sebenarnya dengan reyhan. Namun ia tak mampu untuk menjawabnya.
" Apakah keluarganya sudah di hubungi ?" tanya arjuna pada rena.
" Iya, sudah..., papanya sedang menuju kemari." jawab rena.
" Makasih ya... Kamu udah nolongin reyhan." ucap rena dengan rasa haru. Kalau saja tidak ada arjuna yang menolongnya entah apa yang akan terjadi dengan kekasihnya.
" Sudahlah .. ini hanya sebuah kebetulan saja." jawab arjuna.
" Walau bagaimana pun bantuan mu sangat berarti." rena kembali meneteskan air matanya. Dhita memeluknya berusaha menenangkan.
" Kamu gak sendirian ren, ada kami di sini, kami siap membantumu apapun itu." dhita.
" Kamu gak boleh lemah, kamu harus kuat demi reyhan." lanjutnya.
Rena mengangguk. Mereka berpelukan.
__ADS_1