
Sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, di ufuk timur sang mentari belum menampakkan wajahnya.
Pagi itu Three girl sweet terbangun bersama, melakukan rutinitas pun bersama terlihat bak saudara.
" Aku berangkat Dhi, puri duluan ya.. " ucap Rena terburu-buru.
" Loh kok buru-buru Ren? " tanya Dhita.
Namun tak dijawab oleh Rena karna ia telah berada di luar apartement.
" Aneh tuh anak" cetus Puri.
" Ya mungkin dia ada kerja tambahan kali" Dhita memahami.
...****************...
Di restoran
Rena berlari-lari kecil memasuki area restoran tempat kerjanya, ia menerima info kalau Reyhan anak sang bos akan mengunjungi tempat itu, ia tak ingin di permasalahkan lagi karna itu bisa mengganggu reputasinya sebagai karyawan terbaik dan berprestasi.
" Selamat pagi tuan" sapa Rena saat melihat Reyhan telah berada di depan pintu.
" Rupanya seperti ini karyawan terbaik yang di pilih papa, datang gak tepat waktu udah jam berapa nih?" namun bukannya menjawab, Reyhan malah berkata sinis mencari gara gara.
" Jam 07 kurang lima menit tuan" ucap Rena masih menjawab dengan sopan walau di hatinya terasa sedikit panas mendengar ucapan putra dari bosnya.
" Itu sudah telat, harusnya kamu datang jam 06:00 " ucap Reyhan tegas.
" Hah, apa? " Rena tak percaya dengan ucapan gila anak bosnya ini.
" Sekarang bikinin aku kopi, ingat gak boleh terlalu manis dan gak boleh terasa pahit. " ucap Reyhan memerintah, ia senang melihat wajah Rena yang cemberut.
" apa-apaan nih emangnya aku ini babunya apa, main perintah seenaknya dasar cowok gila" Rena menggerutu dengan suara lirih.
Ia segera ke dapur membuat kopi sesuai perintah anak bosnya.
Tak berapa lama ia kembali dengan membawa secangkir kopi di tangannya, dengan penuh kesopanan ia menaruh kopi di meja.
" Silahkan di minum tuan " Rena mempersilahkan putra bosnya untuk meminum kopi buatannya.
" Oh iya tadi aku lupa sarapan, tolong bikinin aku nasi goreng dan omellet ya.. " perintah Reyhan lagi
" Jangan ngebantah cepat bikinin sana" ucap Reyhan melotot ia tak suka perintah nya di bantah.
" Baik tuan" jawab Rena, walaupun masih kesal tapi ia tetap melakukan perintah dari putra bosnya, Karna itu lebih baik menurutnya dari pada berdebat dengan pria itu.
Lagi-lagi Rena dibuat kesal, tapi ia masih menahan emosi yang mulai memuncak.
" Gila, benar-benar gila tuh orang" ucap Rena dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Kemudian ia kembali kedapur.
Setelah semua makanan siap Rena meletakkan nya di atas meja kerja Reyhan, tanpa berbasa basi ia pergi meninggalkan ruangan itu. Bukan apa-apa dia hanya ingin jauh-jauh dari Reyhan dan tak ingin pertahanan emosinya jadi sia-sia.
" Rena... " panggil Reyhan namun yang di panggil malah berlalu begitu saja tanpa menoleh atau berkata sepatah katapun.
" Sialan tuh cewek rupanya dia gak tau siapa aku, awas aja nanti ku buat perhitungan dengannya" **Re**yhan merasa kesal.
Pkl 12:00 waktunya jam makan siang, Ren posa melangkah tergesa-gesa perutnya keroncongan minta di isi, namun baru saja ia hendak membuka pintu ruangannya.
__ADS_1
Krek...
krek...
krekk...
Bunyi pintu tak bisa di buka. Rupanya ada yang menguncinya dari luar. Reyhan siapa lagi.
" Hei.. apa ada orang di luar tolong saya..saya terkunci di dalam.... " teriak Rena.
" Di luar memang ada orang nona manis tapi sayang dia gak mau nolong kamu" suara Reyhan dari arah luar, terdengar suaranya begitu senang.
" Oh rupanya kamu pelakunya laki-laki pengecut" Rena emosi.
" Nikmatilah di dalam sana dan jangan berisik" Reyhan tertawa puas.
" Bukain pintunya" Teriak Rena lagi.
" Sampai kapanpun aku gak akan pernah bukain pintu, saya permisi dulu ya nona manis" ucap Reyhan sambil tersenyum kecut.
Terdengar suara Reyhan bersiul-siul semakin lama semakin menjauh.
Rena duduk memegang lututnya, ia bersandar pada daun pintu rasa lapar benar-benar mengaduk isi perutnya.
" Tolong saya.... saya terkunci.... " ucap Rena mulai lemas, wajahnya pucat.
Rena memiliki riwayat penyakit maagh akut, ia tak boleh sampai telat makan karna akibatnya bisa fatal.
Tok..
tok...
Tangan Rena yang lemah mencoba menggedor pintu. Dengan sisa tenaga nya ia masih mencoba berteriak meminta pertolongan.ya Rena tak bisa melakukan panggilan di ponselnya nya karna sedang lowbet. Kali ini ia pasrah.
Kriiik...
Terdengar suara pintu terbuka. Rupanya Reyhan. Pria yang dengan tega melakukan semua itu padanya. Ia mengira sudah cukup menakut-nakuti gadis itu.
"Rena... Ren... bangun Ren... " Reyhan panik saat menemukan Rena tergeletak di lantai dengan tubuh dingin dan wajah yang pucat.
" Aku tadi hanya bercanda.... aku gak bermaksud menyakiti mu " ucap Reyhan memeluk Rena, kemudian ia berteriak meminta pertolongan.
Para karyawan dan security berdatangan memberikan pertolongan. Tak lama kemudian mobil ambulance datang dengan suara riuhnya. Setelah seseorang menelfon salah satu rumah sakit di kota itu.
...****************...
Di rumah sakit
Rena segera mendapatkan pertolongan.
" Bagaimana keadaannya dok" tanya Reyhan panik setelah melihat seorang dokter keluar dari ruangan ICU.
" Untung segera di bawa kemari hingga tidak terlambat memberikan pertolongan. " ucap dokter.
" Kalau tidak akibatnya bisa fatal" lanjutnya.
" Apa dia mengidap suatu penyakit? " tanya Reyhan ingin tau.
__ADS_1
" Ya maagh akut, kedengarannya sepele tapi bila di biarkan berlarut-larut, gadis ini bisa kehilangan nyawanya. " dokter menjelaskan.
Reyhan menyesal, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Asal Rena selamat ia akan melakukan apa saja untuknya.
Setelah kondisi Rena membaik ia di pindahkan ke kamar perawatan. Rena masih tak sadarkan diri.
" Gimana keadaan Rena? " tanya Dhita pada Reyhan. Ia datang kerumah sakit setelah mendengar kabar bahwa sahabatnya sedang di bawa ke rumah sakit, setelah meminta izin terlebih dahulu kepada manager nya.
" Kata dokter dia baik-baik aja sebentar lagi juga siuman" ucap Reyhan berbohong. Ia takut di salahkan Karna perbuatannya yang konyol.
" Ren... kau sudah siuman? " tanya Dhita ketika melihat sahabatnya membuka mata.
Samar- samar Rena melihat sekelilingnya. Namun matanya membulat kala melihat Reyhan duduk di sampingnya.
" Kau... " ucap Rena terputus. Karna ia melihat Dhita juga ada di sana.
" Kau gak apa-apa? " Dhita mengulangi pertanyaannya.
" Ya... gak papa kok cuma kecelakaan dikit aja. " ucap Rena masih agak lemah, Rena berusaha menyembunyikan kejadian sebenarnya, cukup ia saja yang tau.
" Ya udah... kalo gitu aku balik kerja dulu ya... " ucap Dhita merasa lega ketika mendengar penuturan dari sahabatnya, bahwa keadaannya baik-baik saja.
" Iya, kamu kerja lagi gih sana, aku baik-baik aja kok, jangan khawatir ." ucap Rena meyakinkan sahabatnya.
Dhita merasa ada sesuatu yang aneh di antara Rena dan Reyhan, oleh karna itu ia tak ingin berlama-lama berada di sana. Ia segera undur diri karena tak ingin mengganggu keduanya.
Setelah Dhita benar-benar keluar dari kamar rumah sakit itu, Reyhan menghampiri Rena yang sedang menatapnya seolah meminta penjelasan, apa maksud Reyhan menyakiti dirinya.
" Aku minta maaf ya... aku gak bermaksud untuk... " Reyhan tak meneruskan perkataanya karena Rena terlebih dahulu memotong ucapannya.
" Sudahlah tuan anda tidak perlu meminta maaf, nyawa orang kecil seperti ku mungkin bagi anda gak ada artinya" Rena memalingkan muka, terlihat betapa kecewa dirinya.
" Sungguh.. aku gak akan mengulanginya lagi... aku menyesal " ucap Reyhan bersungguh-sungguh.
" Kau bisa menghukumku asal kau bisa memaafkanku" Reyhan memohon.
Rena terdiam, tiba-tiba terlintas di benak nya sebuah rencana jahil untuk mengerjai pemuda egois itu.
" Baiklah aku maafin kamu tuan ," ucap Rena kemudian.
Reyhan menarik nafas lega karena kesalahannya telah di maafkan.
" Tapi ada syaratnya... " ucap Rena lagi dengan sebuah senyum tipis di bibirnya.
Mata Reyhan terbelalak, melihat senyum tipis Rena, ia menjadi tak enak hati.
" Apa? " ucapnya setengah tak percaya, jika ada persyaratan di balik permintaan maafnya.
" Kamu harus menemani ku shopping selama satu bulan dan aku juga ingin cuti selama 2 minggu ." ucap Rena seenaknya saja.
" Dan satu lagi , kau harus mentraktir ku selama itu ." Persyaratan yang di berikan Rena bertubi-tubi, membuat wajah Reyhan yang semula tersenyum kini berubah menjadi kecut, namun itu tak berlangsung lama karena pada detik berikutnya Reyhan malah tersenyum membayangkan hari-harinya bersama gadis si tukang jahil itu.
Rena merasa puas telah membalas perbuatan pria itu.
Tapi yang di usilin bukannya bete'malah tersenyum geli baginya itu bukanlah hukuman tapi kesempatan.
Ya, rupanya si Reyhan dah mulai bucin nih sama Rena.
__ADS_1
" Jadi mulai kapan aku bisa melakukan semua itu nona" Reyhan mulai merayu Rena.
" Besok" ucap Rena tersenyum tipis.