
...****************...
" Dhi, kamu mau kemana? " tanya Rena.
Ia melihat sahabatnya sedang mengemasi barang-barang miliknya di satukan dalam sebuah koper.
" Aku mau pergi " jawab Dhita seenaknya.
" Kamu mau ninggalin aku ?" tanya Rena.
" Bukannya kamu gak butuh temen? kamu bisa buat apa aja dengan uangmu, tapi bukan dengan persahabatan kita. " jawab Dhita.
" So kamu gak usah pedulikan aku lagi urus saja dirimu sendiri serta egomu. " dhita menekan suaranya pada perkataan "egomu".
Rena terdiam.
Sebenarnya Dhita hanya menggertaknya saja.
" Sebelum kamu minta maaf dan meminta Puri tinggal di sini bersama kita, maka jangan harap aku akan disini bersamamu ." ucap Dhita.
" Tidakkah kau pikirkan persahabatan kita kenangan kita bertiga, mengapa kamu berubah Ren ?" Dhita menitikkan air mata teringat betapa hangatnya persahabatan mereka kala dulu. Berkali-kali ia menasehati Rena untuk menemui Puri namun tidak di gubrisnya, dan kali ini dia sudah kehilangan batas kesabaran.
Rena masih saja terdiam.
" Dhi, kamu sahabat aku.. jangan tinggalin aku.." Rena mulai bicara.
" Kalau Puri bukan begitu? kamu anggap apa dia ? " Sergah Dhita menatap Rena dengan tajam.
" Dhi, maaf ku mohon jangan pergi ." Rena memelas.
" Baik aku akan minta maaf pada Puri ." lanjutnya.
" Bener? yakin?" Dhita masih merasa belum yakin dengan ucapan Rena.
" Iya, aku akan meminta maaf secara langsung sama Puri ." ucap Rena sungguh-sungguh.
" Kalau gitu kamu ikut aku sekarang ." ajak Dhita.
Dhita meletakkan kembali kopernya kemudian meraih tangan Rena.
" Kemana ? " tanya Rena saat Dhita mulai melangkah.
" Ke tempat Puri " jawab Dhita cepat.
Mereka naik taxi online yang dipesan sebelumnya. Di sepanjang jalan mereka membisu tak sepatah katapun terucap dari bibir mereka. Sesekali Rena membuang pandangan keluar jendela.
Tak sampai setengah jam mereka tiba di suatu tempat yang pernah mereka tinggali sebelum nya. Sebuah rumah sederhana yang menyimpan begitu banyak kenangan. Betapa indahnya sebuah persahabatan penuh canda tawa, tapi sekarang tali persahabatan itu hampir putus hanya karna sebuah keegoisan.
" Kok kita kesini? " tanya Rena.
" Ya disinilah Puri tinggal seorang diri". jawab Dhita sambil terus mengayunkan langkahnya.
Hati Rena tersentuh, terlihat dari raut wajahnya suatu penyesalan.
Tok.
Tok.
Tok.
Mereka mengetuk pintu.
Kreeekk
Pintu terbuka.
Seorang gadis cantik yang tak asing lagi bagi mereka berdiri di depan pintu.
" Dhita.... " seru Puri sumringah ia senang sahabatnya datang.
Namun ia memalingkan muka ketika melihat Rena berdiri di belakang Dhita. Terlihat ia masih marah.
" Puri.. kami kesini datang untuk menjemputmu! " Dhita mengutarakan maksud kedatangannya.
" Gak perlu aku udah nyaman di sini. " ucap Puri.
" Puri.. aku minta maaf aku tau, aku salah seharusnya aku gak bersikap kayak gitu sama kamu! " Rena.
Rena melangkah menghampiri Puri.
" Kamu mau kan maafin aku ?" Rena.
Puri terdiam.
" Kamu berhak marah padaku Ri, aku egois aku udah nyakitin perasaanmu " ucap Rena menyesal.
Dhita angkat bicara membujuk Puri.
__ADS_1
" Ayolah Ri, dia udah minta maaf masa' kamu gak mau maafin dia ". ucap Dhita.
" Aku udah maafin kamu kok ." jawab Puri.
Puri tersenyum ia merentangkan tangannya, seketika Rena memeluknya.
" Aku janji bestie aku gak akan ngulangin lagi kesalahanku ." Rena penuh haru serta bahagia. Air mata keduanya tumpah seketika.
" Jadi sekarang aku dilupain nih? " Dhita menggoda kedua sahabatnya. Ia tersenyum kemudian memeluk kedua sahabatnya.
Kini mereka saling berpelukan, itulah persahabatan yang sesungguhnya, bila yang satu melakukan kesalahan maka yang lain mengingatkan bukannya malah membiarkan.
Dhita tersenyum puas usahanya tidak sia-sia untuk menyatukan kembali persahabatan mereka.
" Ehhem... ehhem... "
Terdengar suara orang berdehem membuyarkan pelukan ke tiga nya.
" Eza.. " Puri tersenyum.
Eza membalas senyumnya.
" Siapa dia Ri ?" tanya Dhita ketika melihat pemuda tampan di depannya.
" Oh, aku tau dia ini orang yang ngikutin kamu waktu pulang kerja itu kan? aku pernah bilang sebelumnya sama kamu kan Ri ? iya kan ? " ucap Rena.
Rena teringat waktu Puri di ikuti oleh sebuah mobil saat pulang kerja ia sempat melihat wajah Eza walaupun hanya sekilas.
" Dia... " Puri kebingungan harus mengatakan apa.
" Iya benar. .. aku Eza pacarnya Puri, " ucap Eza.
" Benar Ri ? dia pacar kamu? wah selamat ya... " ucap Rena.
" Tapi... kami.. " Puri masih malu-malu untuk mengakui Eza sebagai kekasihnya.
" Gak apa kok Ri.., dia ganteng kok " ucap Dhita.
Dhita setengah berbisik namun masih bisa di dengar oleh Eza. Ia pun tersenyum. Eza merasa tersanjung dengan pujian dhita.
Siang itu juga mereka kembali ke apartement Rena dengan menaiki mobil Eza.
Saat itu Eza tengah menikmati indahnya pemandangan mata berada di antara gadis-gadis cantik jelita, ia bagaikan seorang pangeran di kelilingi bidadari-bidadari cantik. Sambil menyetir ia melirik ke arah Puri yang duduk di sampingnya, Puri pun membalasnya dengan senyuman.
" Tak kirain sedih dia tanpa kita eh ternyata nemu jodohnya. " Dhita berseloroh.
" Kok sampai pelaminan doang, doain bahagia selamanya dong.... dunia akhirat. " pinta Eza.
" Amiin.. " Rena dan Dhita bersamaan.
Mereka berencana mengadakan tasyakuran atas kembalinya persahabatan mereka sekaligus untuk merayakan hari jadinya Puri dan Eza.
" Eh kalau nanti misalnya aku bawa temen boleh gak ?" tanya Eza.
" Boleh, tapi yang jelas dia manusia juga kan?" Rena.
" Manusia lah masa' babi. " Eza mendengus.
" Takutnya kamu bawa siluman ." seloroh Rena.
" Manusia serigala maksudnya... " sambung Eza.
Kemudian mereka tertawa bersama se akan hilang segala perselisihan yang pernah mereka alami sebelumnya.
...****************...
Eza membujuk sahabatnya sekaligus atasannya di kantor. Eza bekerja di perusahaan milik Arjuna.
Arjuna lebih senang di panggil bro dari pada di panggil boss.
" Aku males Za" arjuna mengutak atik laptopnya.
" Kalo kamu ikut denganku mungkin itu bisa merubah nasib kamu ," ucap Eza.
" Nasib apaan" Arjuna menatap Eza.
" Eh denger ya.. pacarku tuh punya dua bestie tapi yang satu udah ada yang punya " ucap Eza.
" Teruss"
" Nah yang satunya lagi masih singgle mungkin bisa kamu gebet ."ucap Eza.
" Gak ah, aku kan udah bilang udah punya pandangan bukannya di bantuin malah di ajak macem-macem. " Arjuna menolak ia tak ingin mengenal gadis manapun kecuali Dhita. Gadis cantik yang ia lihat di toko buku.
Arjuna adalah orang yang tidak mudah menjatuhkan hati pada sembarang orang, walau ia sempat menikah itu pun karna sebuah perjodohan yang di paksakan sang mommy.
" Pandangan apaan ngarep banget sama cewek gak jelas ," dengus eza.
__ADS_1
" Tuh cewek cantik banget bro, kalo seandainya aja aku kenal dia lebih dulu pasti udah aku pacarin dia." lanjutnya mengingat paras cantiknya seorang Dhita.
" Gila kamu ya ...Puri mau di kemanain ?" Arjuna syok mendengar ucapan Eza.
" Kan aku nya bilang kalo seandainya...sekarang ya gak lah cintaku cuma buat Puri sayangku ".
" Emang nama tuh cewek siapa sih?" Arjuna mulai penasaran. " lihat ekspresi eza pasti tuh cewek benar-benar cantik, tapi mana cantik di banding dhita". pikir Arjuna.
" Makanya kamu ikut aja deh ya ya mau ya.." bujuk Eza.
" Maksa amet nih anak ." gumam Arjuna.
" Tapi kalo gak cocok jangan maksa ". lanjutnya
" Berees...." . " Kita liat aja kamu pasti klepek-klepek."batin Eza.
...****************...
Dengan agak malas Arjuna si pria Rich man mengikuti Eza, kedua pria tampan ini memang menawan hati, siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona.
Postur tubuh atletis yang dimiliki mereka benar-benar indah dengan tinggi di atas rata-rata.
Keduanya berjalan memasuki area apartement.
" Aku di sini aja deh.." Arjuna menghentikan langkahnya ketika akan memasuki pintu apartement. Ia ragu.
" Udah... ayo masuk, kamu tuh cowok bro bukannya cewek pemalu banget ." ucap Eza kesal.
Eza menarik lengan sahabatnya , dengan langkah agak di seret Arjuna mengikutinya. Melangkah masuk ke dalam apartement.
" Hai .. semuanya... udah lama nunggu.?" Eza menyapa semua orang yang ada di ruang tamu.
" Waalaikum salam " Rena sengaja menjawab salam walau tamunya tak memberi salam, membuat Eza jadi malu dan salting.
Bukan apa-apa ia hanya ingin orang yang bertamu ke tempatnya terbiasa mengucapkan salam karna itu akan memberi berkah baginya.
" He..he... he.. maaf lupa ... Assalamualaikum " Eza memperbaiki kesalahannya.
Puri senyum-senyum melihat tingkah kekasihnya namun ia senang karna Eza orang yang berhati lembut bisa semudah itu memperbaiki kesalahannya.
" Gak lama kok beib, oh itu temen kamu ya?" Puri menunjuk pria yang berdiri di samping Eza.
Semuanya berdiri.
" Iya kenalin namanya Arjuna " Eza memperkenalkan sahabatnya sekaligus atasannya.
" Puri "
" Rena"
" Reyhan, pacarnya Rena"
" Arjuna "
Mereka bergantian saling berjabat tangan. Kecuali para cewek mereka hanya menganggukkan kepala,karna mereka tak ingin wudhu' mereka batal gara-gara menyentuh lawan jenis yang bukan muhrimnya.
" Silahkan duduk" Rena mempersilahkan tamunya untuk duduk.
" Ren, si Dhita mana kok gak keluar-keluar." Puri berbisik .
" Tau tuh anak, aku lihat dulu ya..." Rena melangkah pergi.
Sementara Arjuna celingak celinguk mencari keberadaan gadis yang di maksud Eza.
Tak berapa lama Rena kembali bersama Dhita di sampingnya. Semua mata tertuju pada Dhita, terlebih Arjuna netranya membulat tak ia sangka gadis itu adalah Dhita. Ia terlihat begitu cantik dengan gamis syar'i yang menutupi seluruh tubuhnya, karna temanya tasyakuran ketiga bestie memutuskan untuk berpenampilan syar'i agar terlihat lebih sopan.
" Dhi,..Dhita.." terdengar suara Arjuna ragu-ragu.
" Tuan Arjuna ya.." sapa Dhita ia masih ingat betul nama pria di depannya.
Di panggil dengan sebutan tuan membuat Arjuna menjadi rikuh.
" Iya .. gak nyangka ya.. kita bisa ketemu lagi ." ucap Arjuna tersenyum senang.
Eza menepuk pundak Arjuna.
Pukk.
Pukk.
" Jadi kalian udah saling kenal?" tanya Eza
" Ini dia gadisnya Za." bisik Arjuna.
" Ya bagus lah kalo gitu ." gumam Eza.
Tak lama kemudian acara pun di mulai. Setelah di buka dengan bacaan surat al-fatihah kemudian di lanjutkan dengan pembacaan surat yasin dan di tutup dengan doa. Semua orang mengikuti acara tasyakuran dengan khidmat.
__ADS_1
Selesai membaca doa mereka menikmati hidangan bersama. Memang acara itu terlihat sederhana tapi mereka menikmatinya dengan penuh rasa syukur.