
( Bab 19 nggak di kasih judul karna masih kelanjutan bab 18 ya...🙏 ). jangan pernah bosan ya ... simak terus yuk...Readers tercinta.
...****************...
Rena dan puri sedang sibuk menyiapkan acara penyambutan sahabat tercinta mereka, dhita pratiwi akan pulang hari itu juga.
Semalam eza menghubungi puri bahwa sahabatnya telah di temukan dalam keadaan baik-baik saja.
Betapa bahagia mereka berdua, hingga mereka kompak memutuskan untuk cuti kerja hari itu juga. Demi menyambut sahabat tercinta mereka memasak makanan kesukaan dhita, Opor ayam dan capcai, lezat sekali aromanya menggoda merasuk indra penciuman. Masakan kampung halaman kesukaan dhita.
Setelah hampir 3 jam, semuanya telah siap, tinggal menunggu kedatangan sang sahabat.
" Aku mandi dulu ya..." ucap puri
" Bau acem ." lanjutnya.
" Buruan .. aku juga mu mandi kali.." jawab rena, ia mencium ke kanan kiri badannya.
Tak lama kemudian keduanya telah siap dengan dandanan masing-masing. kini mereka duduk di ruang tamu, menantikan kehadiran sahabat yang mereka rindukan.
Eza dan reyhan juga datang, reyhan sengaja menyempatkan diri di tengah kesibukannya untuk berkumpul bersama sang kekasih dan juga teman-temanya.
" Maaf ya.. aku baru bisa datang sekarang, aku gak bisa bantu ikut mencari dhita karna papa lagi sakit." ucap reyhan.
" Gak apa-apa beib... aku udah bilang kok sama mereka, kalo kamu gak bisa bantu karna ngerawat papa kamu." jawab rena.
" Aku juga minta maaf ya.. gak bisa bantu ngejagain papa kamu." lanjutnya.
" Gak apa-apa kok sayang.." reyhan .
puri mendekati eza, kekasihnya. Ia berbisik di telinga pria itu.
" Udah nyampek mana mereka, kok belum datang juga, udah siang nih..."
" Sabar... bentar lagi juga nyampek." eza berbisik pula, ia tak ingin kehilangan kesempatan saat itu juga.
" Eh apaan tuh..." eza pura -pura menunjuk sesuatu.
Puri menoleh seketika, dilihatnya arah yang di tunjukkan oleh sang kekasih.
Eza sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah puri yang sedang menoleh ke samping. menatap wajah cantik kekasihnya. Ia tersenyum.
" Gak ada apa-apa kok beib...." ucap puri.
Reflek ia menoleh ke arah eza, kekasihnya.
Bbebbb....
Wajah mereka bersentuhan, kedua hidung mancung saling beradu satu sama lain.
Deggghh...
jantung kedua insan yang saling mencintai berdebar- debar, agak lama mereka dalam posisi itu, se akan merasakan sesuatu yang berbeda.
" Ih... kamu curang beib..." Pekik puri, ia menarik mundur wajahnya. Melirik ke arah rena dan reyhan yang sedang duduk berbincang di sebelah mereka, serius sekali. Hingga mereka tak menyadari sebuah adegan romantis terlewati begitu saja.
Puri memukul-mukul punggung eza dengan kedua belah tangannya.
Pukkk...
pukkk...
__ADS_1
pukkk...
" Awhh ... sakit.. yang.. jangan keras-keras mukulnya." eza mengaduh kesakitan.
" Biarin, kalo perlu ku tambah lagi." puri melayangkan sebelah tangannya, siap meninju pria di sebelahnya, yang tak lain adalah kekasihnya.
" Kalian kenapa sich, hah..? Rena menatap heran, ke arah puri dan eza, sontrak keduanya terdiam.
" Udah lah yang... biarin aja mungkin itu cara mereka kangen-kangenan." reyhan menengahi, ia tersenyum melihat tingkah kedua orang di depannya.
" Kangen-kangenan apaan.. orang di gebukin." gerutu eza, wajahnya mengkerut.
" Siapa suruh cari kesempatan....n !" ucap puri keceplosan. Ia segera menutup mulutnya dengan tangannya.
Reyhan dan rena saling beradu pandang, kemudian sama-sama tersenyum.Seolah mereka tau apa yang telah terjadi.
" Sayang nya ... ya.. beib...kita kelewat drama serialnya.." rena menahan senyum.
" Iya serial drama korea romantis." timpal reyhan, ia pun tersenyum.
Kemudian mereka ber empat sama-sama tersenyum.
Ting...tong...
ting...tong...
Suara bel berbunyi, seketika rena bangkit dari duduknya.
" Itu pasti mereka.." gumamnya, sambil berlalu melangkah mendekati pintu depan, puri mengekor di belakangnya.
" Dhita....." teriak keduanya, ketika membuka pintu wajah cantik sahabatnya terlihat tersenyum di depan mereka.
" Apa kabar bestie? kamu baik-baik aja kan?" rena. Ia memutar-mutar badan dhita,meneliti kalau-kalau ada yang terluka.
" Aku baik -baik aja kok, kalian gak usah khawatir ya.." dhita memeluk kedua sahabatnya.
" Kamu kemana aja ? kami semua khawatir padamu ?" puri mengulangi pertanyaannya.
" Ceritanya panjang bestie, nanti aku ceritakan ya.!" dhita.
" Arjuna, makasih ya, udah ngejagain dhita." ucap rena.
Arjuna mengangguk.
Kemudian mereka melangkah memasuki apartement.
" Dhit, kaki kamu kenapa? kok jalannya pincang gitu." tanya puri, terkejut ketika melihat sahabatnya berjalan pincang.
Dhita tersenyum, masih belum menjawab, ia teringat peristiwa kemaren di villa. Mengejar cinta arjuna hingga ia terjatuh.
" Loh kok malah bengong sih dhit, ?" rena juga ikut penasaran.
" Gak apa -apa kok, aku cuma terjatuh aja kemaren karna kurang hati-hati." jawab dhita berbohong.
" Luka itu adalah saksi bersatunya cinta kami berdua." ucap arjuna. ia merebahkan dirinya di sofa, duduk di sebelah eza.
" Apa? cinta? jadi ...kalian udah jadian?" rena kebingungan.
" Kok bisa? emangnya kamu udah Move on dhit?" tanya puri ia juga tak percaya.
" Nanti aku ceritain, sekarang makan yuk, aku udah lapar nih." ucap dhita, ia mencium aroma masakan kesukaannya.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun makan bersama-sama.Dengan di iringi canda tawa, mereka menikmati hidangan sederhana tapi sangat memuaskan. Karna cita rasanya sangat pas di lidah.
Selesai makan Reyhan, arjuna dan eza kembali ke ruang tamu, sedangakan ke tiga gadis nya tetap duduk santai di meja makan.
" Eh, dhit.. ceritain dong... " pinta rena
" Iya dhit, kita penasaran nih... kenapa tiba-tiba kamu menghilang gitu aja." puri juga terlihat penasaran, rupanya eza belum menceritakan apapun padanya.
" Bang andrian, dia lah dalang dari semua ini ." ucap dhita, membuat kedua sahabatnya melotot dengan mulut menganga.
" What? yang benar kamu dhit..? " rena seakan tak percaya.
" Waktu kami nyariin kamu... kami sempat ketemu dia, tapi si andrian gak ada ngomong apapun." puri juga ikut tak percaya.
" Bukan cuma itu, bang andrian juga ngajak balikan, dia bilang..... dia nggak mencintai istrnya...pernikahan mereka hanya karna terpaksa." lanjut dhita .
" Terus..terus.. gimana? kamu gak mau kan di ajak balikan ?" Rena bertanya seakan menyelidiki.
" Ya... nggaklah... emang nya aku ini cewek apaan, aku gak mau jadi pelakor kali ren..." dhita.
" Syukurlah bestie ... ternyata otak kamu masih waras." gumam puri.
" Emangnya aku orang gila apa... pakek bilang waras...waras segala." dhita mendengus.
" Ya... bukan gitu, karna kamu belum bisa move on kemaren.. kemaren, " puri
" Itu sebelum aku sadar, kalo aku... mencintai mas Ar, " ucap dhita dengan mantap.
" Wah... rupanya si Arjuna udah mulai nyuri hati kamu nih.." rena
" Bukan cuma nyuri, tapi mas Ar udah ambil hati aku sepenuhnya." dhita
" Ih... bucin banget sih... kemaren..kemaren aja, nangis...nangis..." goda puri.
" Tapi... kamu tau gak sih, kata eza dia duda loh." puri teringat cerita kekasihnya beberapa hari yang lalu.
Dhita mengangguk.
" Mas, Ar udah cerita kok, semuanya ke aku, bagiku... duda gak masalah, asal dia benar-benar mencintai aku." dhita.
" Syukurlah... " ucap puri.
" Ya... mendingan duda kalii dhit, apalagi dia kan Duren.." seloroh rena.
" Yo'i ... Duren.. daripada nangka benyok.." puri juga ikut-ikutan berseloroh.
" Kokk jadi ngomongin buah sih apa hubungannya Duren ama Nangka benyok." dhita mendengus kesal.
" Itu... si Arjuna, Duren... duda keren, daripada si andrian, udah punya istri masih aja ngajak selingkuh, apaan tuh namanya kalo bukan nangka benyok.." Rena.
Sontrak ketiganya tertawa cekikikan, merasa geli dengan selorohan sendiri.
" Tapi sekarang bang andrian udah berubah." ucap dhita.
" Malah sekarang dia jadi kakak angkat aku." lanjutnya.
" Loh kok bisa? " ucap rena dan puri serempak.
Untuk yang kedua kalinya, mereka di buat menganga oleh dhita.
" Kamu hebat dhit, kami sebagai sahabat, bangga sama kamu." ucap puri.
__ADS_1
Rena dan puri mangakui dhita sebagai wanita yang hebat, bagaimana tidak, jika saja ia lebih memilih si andrian pasti semua orang akan berpikir buruk tentangnya, bukan hanya itu, bisa jadi Arjuna akan menghancurkan semua hal-hal yang berhubungan dengan andrian.