Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 65 Kerusuhan


__ADS_3

" Maaf nona lebih baik anda pergi dari sini, jangan membuat keonaran di pesta ini nona," ucap security sambil memegang lengan Citra untuk membawanya pergi dari tempat itu.


" Kau berani mengusirku, awas Kau !" teriak Citra meronta-ronta saat security tersebut mencengkram lengannya dengan kuat.


Merasa dirinya terdesak Citra mengangkat kakinya menginjak kaki security dengan sangat keras, membuat security tersebut mengaduh kesakitan akibat hantaman sepatu high heels yang dipakai wanita itu.


Seketika itu security melepas cengkraman tangannya karena tangannya beralih memegang kaki nya yang terasa berdenyut.


Merasa memiliki kesempatan Citra langsung berlari memasuki area pesta dan membuat keonaran di sana.


" Oh, jadi ini wanita yang telah merebut calon suami wanita lain, dasar pelakor!" teriak Citra membuat semua para tamu menoleh ke arahnya. Saat itu Citra sedang berjalan ke arah Arjuna dan Dhita.


" Dia pelakor, dia perebut calon suami ku," lanjut Citra dengan emosi. Wajahnya memerah, hatinya terasa panas menyaksikan mempelai pengantin yang telah mengoyakkan hatinya.


Mendapatkan tuduhan sebagai pelakor Dhita tidak terima, kemarahan mulai menyelubungi hati kecilnya namun ia berusaha bersikap tenang. Karena jika sampai ia meladeni atau terpancing emosinya oleh Citra berarti itu sama saja dengan membenarkan tuduhan Citra terhadapnya.


Dengan tenang Dhita bangkit dari duduknya lalu melangkah menghampiri Citra.


" Ku rasa kau tau siapa yang lebih pantas untuk menjadi seorang pelakor, karena wanita baik-baik tidak akan pernah merampas hak milik orang lain apapun alasannya." Dhita berkata dengan tenang namun dengan tatapan menghunus.


Mendapat tatapan dari wanita yang jauh lebih cantik dan anggun dari dirinya, membuat Citra merasa INSECURE.


" Apa perlu aku ungkap semua kebusukan mu di depan banyak orang?" lanjut Dhita mengitari Citra yang sedang berdiri mematung.


Citra melayang kan tangannya berniat untuk menampar Dhita namun tangan itu berhenti saat seseorang menangkap tangannya.


" Jangan pernah berani untuk menyakitinya, karena aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun yang akan menyakitinya." Arjuna berkata dengan tegas, ia semakin mempererat cengkraman tangannya lalu menghempaskan tangan itu dengan kasar.


Ya orang itu adalah Arjuna.


Amarah Citra semakin memuncak ketika pria yang di cintainya memihak pada wanita lain. Walaupun mereka telah menikah itu tidak membuat Citra menyerah. Malah ia semakin gigih untuk merebut Arjuna kembali.


" What, kau membelanya Ar, lihatlah apa yang kurang dari ku?" tanya Citra dengan penuh kecewa. Lagi-lagi ia membandingkan dirinya dengan Dhita.


" Banyak." jawab Arjuna dengan cepat dan tegas. Membuat Citra memicingkan matanya.

__ADS_1


" Dia lebih cantik, lebih baik dan dia wanita Sholeha, bukan seperti dirimu wanita yang selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanmu" lanjut Arjuna.


" Bahkan kau tidak ada rasa malu sedikitpun menggoda pria untuk menidurimu!" ucap Arjuna dengan penuh penekanan di setiap perkataannya.


" Kau membelanya Ar?" Citra tak percaya pria ini akan menghina dirinya dan memihak pada wanita yang berdiri di sampingnya.


" Ya, Karna dia istriku, aku akan selalu menjaganya tak akan ku biarkan siapapun menyakitinya, termasuk dirimu."


Merasa dirinya dihina, Sontrak Citra memukul dada bidang Arjuna dengan kedua belah tangannya.


" Kau jahat Ar, kau jahat." teriak Citra lalu tangannya beralih ke arah Dhita hendak memukul wanita itu. Namun sesuai dengan ucapannya Arjuna segera menghalanginya, ia kembali mencengkram kedua lengan Citra.


" Security cepat seret dia keluar!" perintah Arjuna dengan beringas. Tampak seorang security sedang berjalan ke arah mereka dengan langkah pincang.


" Cepat bawa dia keluar, dan pastikan dia tidak membuat onar di tempat ini lagi." perintah Arjuna saat security itu telah sampai di tempat majikannya.


Ketika security tersebut hendak menyentuh tangannya berniat untuk mengajak nya pergi, Citra segera menarik tangannya.


" Tidak perlu, aku bisa sendiri." tolak Citra.


" Ingat, urusan kita belum selesai." lanjutnya


Sedangkan di sudut lain, pak Setyo sedang menghajar seorang pria, terlihat pak Setyo sangat murka dan berusaha mengusir pria tersebut.


Melihat hal itu, Dhita segera berlari menuju ke arah ayahnya.


BRUUKKK.


BRAAKK.


PLAAKK.


Bunyi suara tendangan pak Setyo. Walaupun telah lanjut usia pak Setyo masih terlihat perkasa, bahkan di setiap tendangannya mampu membuat pria itu jatuh terjungkal beberapa kali.


" AKKHHH." teriakan pria itu menerima setiap pukulan dan tendangan dari pak Setyo.

__ADS_1


Dhita melalui kerumunan orang-orang dengan susah payah karena saat ini ia sedang mengenakan gaun pengantin.


" Ayah, hentikan ayah!" teriak Dhita ketika melihat pak Setyo sedang menghajar pria itu, namun tidak ada perlawanan sama sekali dari pria tersebut.


" Ayah hentikan ku mohon!" kembali Dhita berteriak namun tidak di gubris sama sekali oleh ayahnya.


" Beraninya kamu menampakkan diri di hadapan ku, belum puas menyakiti hati putriku," ucap pak Setyo penuh amarah, sekali lagi satu tendangan mendarat di tubuh Andrian.


Ya pria itu ternyata adalah Andrian, pria yang telah mengkhianati cinta putrinya.


Melihat Andrian yang baru saja hadir di acara tersebut membuat pak Setyo seketika menjadi murka mengingat semua penghianatan yang dilakukan pria tersebut kepada putrinya. Hingga tanpa sadar pak Setyo menghajar Andrian dengan membabi buta.


" Stop, ayah hentikan!" Dhita menengahi antara pak Setyo dan Andrian.


Melihat putrinya berada di tengah-tengah dirinya dan Andrian, membuat pak Setyo menghentikan aksinya yang ingin menghajar Andrian kembali.


" Minggir lah putriku, biar ayah habisi pria tak tau diri ini," pak Setyo menghardik Dhita.


Sebelumnya ia yang telah tersulut emosi oleh kenyataan tentang hadirnya Citra ditambah lagi dengan kehadiran Andrian, sungguh membuat pak Setyo tidak bisa menahan diri.


" Jangan ayah, berhenti memukuli abang ku," bela Dhita, ia tetap tidak mau pergi berada di antara keduanya.


" Abang, kamu memanggil pria ini abang?" tanya pak Setyo hampir tak percaya dengan kata-kata yang terucap dari mulut putrinya.


" Ayah, bang Andrian telah berubah dia tidak seperti yang kita bayangkan selama ini, aku telah menganggap bang Andrian sebagai kakak ku sendiri, bukan hanya itu bang Andrian selalu ada untukku di saat aku sedang ada masalah." jelas Dhita panjang lebar, sedangkan Andrian hanya diam saja mendengar pembelaan yang telah Dhita berikan.


" Apakah kamu mengucapkan yang sebenarnya?" tanya pak Setyo mengintimidasi putrinya.


" Iya ayah, itu memang benar aku sudah memaafkan bang Andrian." jelas Dhita kepada ayahnya.


" Lagi pula saat ini istri nya bang Andrian sedang hamil yah, kasihan bang Andrian yah, jangan pukuli dia lagi ku Mohon yah maafkan dia." Dhita memelas agar sang ayah mau memaafkan Andrian yang babak belur. Sampai-sampai Dhita bersimpuh di kaki ayahnya.


" Bangun lah nak," pak Setyo membimbing Dhita agar mau berdiri.


" Saya memang salah pak, saya minta maaf," ucap Andrian memberanikan diri untuk berbicara kepada pak Setyo.

__ADS_1


Sementara itu Citra yang merasa ada kesempatan untuk memprovokasi lawannya langsung menghampiri pak Setyo.


__ADS_2