Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 121 Pertanyaan Absurd


__ADS_3

Dengan cepat Arjuna bergegas turun dari mobil, ia terlihat sangat tergesa-gesa di karenakan jam meeting sebentar lagi.


Arjuna memasuki kantornya dengan sikap tegas dan berwibawa, banyak dari para karyawannya yang menunduk penuh hormat kepadanya. Dan Arjuna membalas dengan sebuah anggukan pula, membuat auranya semakin kharismatik.


" Selamat pagi tuan!" ucap salah satu karyawan yang berpapasan dengannya.


" Selamat pagi!" jawab Arjuna singkat.


Kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju ke arah ruangannya. Namun tak seberapa lama tiba-tiba Eza menyapanya.


" Lama sekali kau Ar, meeting sebentar lagi di mulai." Sergah Eza yang mulai kesal karena telah lama menunggu kedatangan sahabatnya.


" Sorry Za, istriku sedang tidak enak badan, jadi aku mengurusnya sebentar!" jawab Arjuna apa adanya.


" Mengurusi yang bagaimana?"


Arjuna terkejut mendengar pertanyaan absurd dari sahabatnya.


" Kalau mengurus ya bagaimana? kalau istrimu sakit kau urus yang bagaimana?" jawab Arjuna kesal, menatap tajam kepada Eza.


Mengurus istri sendiri masih saja di pertanyakan.


" Ya, baiklah mari kita ke ruang meeting!" ajak Eza sembari melangkah mendahului Sahabatnya. Karena ia tidak ingin menjadi pelampiasan kemarahan Arjuna.


Sedangkan Arjuna mengikutinya dari belakang.


Di ruang meeting.


Arjuna segera duduk di tempatnya, sambil sesekali melihat ke arah depan menatap persentase dari para rekannya.


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar. Seorang sopir pribadi Arjuna memanggilnya agar keluar dari ruangan itu.


Arjuna melirik Eza yang sedang sibuk menulis mencatat sesuatu, lalu beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah sopirnya.


Sedangkan Eza yang hanya berpura-pura, melirik sahabatnya sambil menahan tawa ketika ia melihat Arjuna yang kembali dengan membawa rantang makanan.


Sontak membuat seisi ruangan meeting itu gaduh karena menertawakannya.


" Tuan Arjuna yang terhormat, rupanya anda sekarang memiliki kebiasaan baru!" seru salah seorang dari rekannya menatap ke arah Arjuna yang sedang berjalan dengan menenteng rantang berisi bekal makanan itu.


BRAAK.


Arjuna meletakkan rantang itu di depannya dengan kasar. Ia yang memang sengaja meninggalkan rantang itu didalam mobil, merasa sangat marah ketika mendapatkan rantang itu kembali di antarkan oleh seorang sopir.


" Sejak kapan kau suka membawa bekal Ar?".tanya Eza yang merasa heran dengan sikap Sahabatnya.


Ya, sejak mereka bersahabat baru sekarang ini, ia melihat Arjuna menenteng rantang makanan.


Arjuna tetap tidak menjawab, dari raut wajahnya sangat terlihat kalau ia sedang jengkel.

__ADS_1


Akhirnya mau atau tidak, Eza yang sedang ingin bertanya lagi harus diam seperti Arjuna.


Akhirnya yang terjadi adalah mereka saling membisu sambil mengikuti acara meeting itu, entah mereka bisa mendengarkannya dengan seksama atau tidak.


*


*


Di mansion Arjuna.


Dhita yang telah selesai mandi dan berpakaian rapi, berniat untuk berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan itu.


" Mau kemana Dhi?" tanya Citra yang baru saja keluar dari kamarnya.


" Aku ingin keluar jalan-jalan!" jawab Dhita yang hampir saja ia melangkah.


" Aku ikut!" pinta Citra.


" Boleh!" jawab Dhita, sembari tersenyum.


Dhita merasa sangat senang ketika melihat keadaan Citra yang semakin membaik.


Dhita dan Citra berjalan beriringan keluar dari mansion.


Sambil bercanda ria mereka melewati jalan kompleks, tanpa memperdulikan para warga yang menatap mereka dengan tatapan intens.


" Lihatlah si pelakor itu, tidak tahu malu Kan!" seru seorang wanita hampir paruh baya.


Dan selanjutnya para warga tengah sibuk memperguncingkan Citra sebagai si pelakor.


Mendengar hal itu Citra terlihat bersedih, dirinya yang tulus dalam mencintai harus rela mendapat julukan si pelakor.


Dhita yang memahami perasaan Citra berusaha untuk menenangkannya.


" Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan!" ucap Dhita sembari mengusap pundak Citra.


" Ya, kau benar terimakasih Dhi," gumam Citra lirih.


Mendengar ucapan tidak enak membuat Citra benar-benar merasa malu.


" Ayo, lebih baik kita kembali ke mansion!" ajak Dhita, karena ia merasa iba kepada Citra jika terus menerus mendapat kecaman dari warga sekitar.


Kemudian mereka berdua berputar balik menuju ke mansion.


Sesampainya di sana, Dhita segera duduk di sebuah kursi yang tersedia di taman. Memang mansion itu selain indah dan mewah juga memiliki taman yang indah di pandang mata.


Dhita yang sangat menyukai tanaman bunga, merawatnya dan menyiramnya dua kali sehari.


" Bagus Dhi, bunga-bunga nya!" ucap Citra mengagumi keindahan taman tersebut.

__ADS_1


" Ya, aku juga sangat menyukainya!" jawab Dhita masih dengan pandangan tertuju ke arah bunga-bunga.


Dhita sendiri yang merawat taman itu, setiap hari ia menyirami bunga-bunga itu dua kali sehari.


" Dhi!" ucap Citra pelan, namun dengan nada yang lebih serius.


" Ya, ada apa?" Dhita bertanya dengan tatapan masih tertuju kepada taman tersebut.


" Jujur, aku ingin menjadi seperti mu Dhi,"


Dan ucapan Citra ini berhasil membuat Dhita mengalihkan pandangannya. Dhita menatap Citra dengan intens.


" Maksudnya?!" Dhita belum mengerti arah pembicaraan wanita yang sedang duduk di depannya.


" Ya, Arjuna memang telah menikahiku, tapi aku tidak bisa merasakan rasa cinta darinya." ucap Citra sambil menundukkan wajahnya.


Jujur, Citra merasa malu untuk mengatakan semua itu, namun tidak ada pilihan lain untuknya selain mengatakannya.


" Sabar Cit, semuanya butuh proses, tetaplah berusaha untuk tetap mencuri perhatian darinya!" ucap Dhita berusaha tenang, walaupun sebenarnya jauh didalam hatinya, ia merasa sangat cemburu, justru ia yang berusaha untuk tetap semangat.


Citra terdiam mendengar ucapan Dhita, perlahan Citra mengagumi sosok seorang Dhita, wanita yang kuat dan tangguh.


" Aku yakin suatu saat nanti, Mas Ar akan bisa menerima dirimu!" ucap Dhita berusaha untuk menghibur Citra.


" Semoga saja!" jawab Citra lirih.


Mengingat tentang Arjuna semakin membuat Citra merasa ingin memiliki pria itu seutuhnya.


Namun ia harus kembali menekan rasa itu ketika teringat kalau masih ada Dhita, wanita yang sangat di cintai oleh Arjuna.


" Kau ingin sesuatu?" tanya Citra kepada Dhita.


" Ya, aku haus!" jawab Dhita sambil memegang tenggorokannya.


Setelah mendengar jawaban dari Dhita, Citra menyuruh pelayan untuk membuat minuman hangat.


Dhita Yang sedari tadi hanya duduk bersama Citra, tiba-tiba mengaduh ketika kedua bayi yang masih berada didalam perutnya menendang dengan kuat.


" Oh lihatlah!" seru Citra seraya berjongkok mengusap perut Dhita.


" Lucu sekali!"lanjut Citra.


Kemudian datanglah pelayan yang mendapat tugas untuk membuat minuman hangat untuk Dhita.


" Minumlah,!".Citra menyodorkan minuman hangat itu kepada Dhita.


" Terimakasih!" ucap Dhita sambil meraih segelas minuman hangat, lalu meneguk nya sampai habis.


" Rupanya baby-baby di sini sangat haus!"gumam Citra, bukan tanpa alasan ia mengatakan hal itu, melainkan karena ia melihat Dhita yang meneguk minuman itu hingga habis.

__ADS_1


" Terimakasih Tante, karena dirimu haus kami terobati!" gurau Dhita.


__ADS_2