
Sebenarnya kedatangan Bu Safitri ke mansion menantunya hanya untuk memberikan info sekaligus ingin mengajak Arjuna, Dhita dan juga besannya yaitu, mommy Rita untuk ikut dalam acara lamaran Citra dan juga Bastian.
Karena beberapa hari yang lalu bu Safitri dan pak Setyo telah meminang Citra untuk Bastian. Oleh karena itu, bu Safitri maupun pak Setyo menjadi jarang berkunjung ke mansion itu di karenakan kesibukannya sebagai wali dari Bastian.
Saat itu Dhita yang telah menidurkan Diana di kamarnya, segera turun berbaur dengan seluruh keluarga di ruang tamu, rupanya mereka semua sedang berbincang-bincang mengenai kelanjutan hubungan Bastian dan juga Citra.
"Saya kemari ingin mengajak Bu Rita dan juga nak Arjuna agar ikut bersama kami di acara lamaran Bastian dan Citra," ucap pak Setyo membuka pembicaraan yang lebih serius setelah agak lama mereka bercanda.
"Ya, saya harap kalian semua bersedia untuk ikut bersama kami memeriahkan acara lamaran nya, sebab Bastian tidak memiliki sanak family selain kita semua." sahut Bu Safitri menimpali ucapan suaminya.
"Insyaallah Bu Safitri, jika tidak ada halangan pasti kami ikut." jawab mommy Rita, yang saat itu sedang duduk bersama Dhita.
" Aku pasti ikut dan juga istriku, kami pasti ikut!" seru Arjuna penuh kegirangan.
Arjuna seribu persen akan mendukung hubungan Bastian dan Citra. Bukan tanpa alasan ia melakukan semua itu, di karenakan Arjuna merasa sangat terbantu dengan adanya lamaran ini, itu berarti Bastian tidak akan memiliki peluang lagi untuk mendekati Dhita seperti sebelumnya.
"Terima kasih nak Arjuna telah bersedia membantu kami," ucap Bu Safitri dengan penuh haru.
Walau bagaimanapun Arjuna bukankah siapa-siapa, tidak ada hubungan darah atau apapun. Akan tetapi Arjuna telah banyak membantu dalam hal ini.
Dari ia yang rela berpisah dari Citra, agar Bastian bisa melamarnya. Namun tak hanya itu, Bahkan yang menjadikan Bu Safitri dan pak Setyo lebih mengagumi Arjuna adalah ia yang sangat mampu mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh Citra sama sekali, walaupun wanita itu telah berstatus sebagai istrinya saat itu.
Hingga hal itu membuat Bastian merasa sangat bersyukur walau telah meminang seorang janda tapi masih perawan.
"Sudah seharusnya ayah, ibu kita melakukan hal itu, walau bagaimanapun kita adalah saudara." ucap Dhita.
Ya, memang setelah menikahi Dhita, bersedia atau tidak, Arjuna harus menganggap Bastian sebagai kakak iparnya.
Walau sebelumnya mereka sempat saling berseteru.
"Ya, terimakasih untuk semuanya!" ucap pak Setyo.
"Justru aku lah yang harus berterimakasih kepada kalian, jika bukan karena ide ayah dan ibu, mungkin sampai sekarang aku masih berada di dalam dilema besar."
Arjuna merasa bersyukur atas rencana kedua mertuanya, berkat mereka yang merencanakan perjodohan antara Bastian dan Citra hingga membuat dirinya terbebas dari belenggu pernikahan.
"Kira-kira kapan acara lamarannya?" tanya mommy Rita, karena sejak tadi kedua besannya belum mengatakan kapan tanggal acaranya.
__ADS_1
"Oh iya, maaf kami sampai lupa, acaranya lusa," jawab Bu Safitri tersenyum karena merasa geli, telah hampir satu jam mereka berbincang-bincang namun, masih belum memberitahukan kapan hari jadinya.
"Lusa ya, HM, ya saya bisa kebetulan lusa saya libur dari kantor." ucap mommy Rita.
"Syukurlah!" Bu Devina merasa lega.
"Kalau boleh kami tahu, bagaimana proses pencarian cucu kami?" tanya pak Setyo.
Tiba-tiba saja ia teringat akan cucunya yang hilang beberapa hari yang lalu.
"Masih dalam proses pencarian yah, polisi dan tim SAR belum mendapatkan petunjuk apapun terkait putra kami." jawab Arjuna.
"Tim SAR?" Bu Safitri merasa aneh, menurutnya hanya korban kecelakaan yang di hilang saja yang menggunakan jasa tim SAR.
"Ya, karena aku khawatir, putra kami di bawa ke tempat-tempat yang berbahaya!" jawab Arjuna.
"Lagi pula dengan melakukan kerja sama antara polisi dan tim SAR itu akan mempermudah proses pencarian!" lanjut Arjuna.
"Oh, begitu." Bu Safitri manggut-manggut mendengarkan penjelasan menantunya.
Rena yang masih berada di sana seger turun dari kamarnya ketika mendengar suara pak Setyo dan Bu Safitri.
"Ya, lumayan sudah lama!" jawab pak Setyo.
"Almira mana?" tanya bu Safitri karena ia tidak melihat anak kecil itu.
"Sedang tidur bibi, semalam dia rewel sekali." jawab Rena.
"Oh mungkin kurang enak badan!" Bu Safitri menduga.
"Tidak keadaannya baik-baik saja!"
"Apakah suamimu belum pulang?" pak Setyo ikut nimbrung percakapan antara Rena dan istrinya.
"Belum, oleh karena itu aku masih disini." jawab Rena.
Ya, jika saja Reyhan telah pulang dari luar kota tentu saja ia dan putrinya telah pulang ke rumah Reyhan.
__ADS_1
"Mungkin Almira merindukan papanya!" ucap bu Safitri menduga-duga.
"Bisa jadi bibi!"
"Tidak hanya Rere yang merindukan papanya, karena aku juga sangat merindukan kehadirannya di setiap hariku!" batin Rena.
Hampir sepuluh hari mereka tidak bertemu, VC pun sangat jarang di karenakan Reyhan sangat sibuk dengan pekerjaannya.
"Ya, sudah kalau begitu kami pamit dulu," pak Setyo mengundurkan diri, setelah ia rasa tidak ada lagi yang harus di bicarakan.
"Ayah, ibu, tidak menginap di sini saja!" ucap Dhita.
"Tidak nak, masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan." jawab pak Setyo.
"Ya, kami masih belum melakukan persiapan untuk acara lamaran ini." Bu Safitri menimpali.
"Ya sudah, kalau begitu ayah dan ibu hati-hati jaga diri kalian baik-baik !" ucap Dhita.
Sebenarnya Dhita masih merasa sangat merindukan kedua orang tuanya, namun apa daya ia harus rela kedua orang tuanya pergi, Karna Bastian lebih membutuhkan mereka dari pada dirinya.
"Assalamualaikum!" ucap pak Setyo dan Bu Safitri lalu melangkah keluar dari mansion mewah milik menantunya.
"Wa'alaikumsalam!" sahut Dhita dan Arjuna bersamaan.
Dhita membuntuti kedua orang tuanya dari belakang, dan Dhita berhenti ketika kedua orang tuanya masuk ke dalam mobil milik Bastian.
Pak Setyo dan Bu Safitri di antar oleh sopir yang telah di tugaskan oleh Bastian untuk mengantarkan paman dan bibinya kemanapun mereka ingin pergi.
Dhita melambaikan tangan ketika mobil itu mulai berjalan. Pak Setyo dan Bu Safitri membalas lambaian tangan putri mereka.
"yok masuk!" ajak Rena yang juga berdiri bersama Dhita.
"Ayok!" Jawab Dhita.
Kemudian mereka melangkah bersama memasuki mansion.
Sejak masih remaja Dhita dan Rena telah bersama menjalani hari penuh canda tawa.
__ADS_1
Siapa sangka setelah menikah pun mereka akan tetap bersama, karena mereka berdua menikah dengan sepasang kakak beradik.
Sungguh sebuah takdir yang indah bukan, Bersama sejak remaja hingga sampai berkeluarga sekalipun masih tetap bersama.