
"Dimana kalian?" teriak Fanny.
Suara itu terdengar dari dalam ponsel bi Murni, karena saat itu mereka sedang melakukan panggilan suara.
Fanny yang sempat panik karena tidak mendapatkan asisten dan Ansel di rumahnya, bernapas lega ketika panggilan ponselnya di angkat oleh Bi Murni.
"Maaf nyonya, saya telah berkali-kali sebelumya menghubungi nyonya, namun nyonya tidak menjawab nya!" jawab Bi Murni.
"Jangan berbasa-basi cepat katakan dimana kalian berada?"Fanny terdengar marah sekali.
"Di rumah sakit terdekat nyonya." jawab Bi Murni dengan sedikit ketakutan, ia masih teringat beberapa waktu yang lalu, sebelum Ansel hadir di dalam kehidupan majikannya.
Fanny dalam kemarahan yang meledak-ledak, hanya karena satu kesalahan sepele yang di lakukan oleh bi Murni.
"Kenapa di rumah sakit? apa Ansel sakit lagi?" Fanny terdengar sangat khawatir.
"Ya nyonya, tuan kecil menderita penyakit perut yang di akibatkan karena terinfeksi oleh bakteri." jawab Bi Murni mengulang penjelasan dari dokter Ine.
"Bagaimana bisa?" namun sebelum bi Murni menjawab, Fanny telah terlebih dahulu memutuskan panggilan ponselnya.
"Hallo, hallo!"
TUUT...
TUUT...
TUUT...
Bi Murni menggelengkan kepala dengan perlakuan majikannya.
"Nyonya, setega itukah anda kepada tuan kecil? jangan sampai anda menyesal jika sampai terjadi sesuatu kepada tuan kecil." gumam bi Murni.
*
*
*
Sedangkan di tempat berbeda, Tampak Fanny sedang berusaha menyembunyikan semua kenyataan tentang Ansel dari Jason.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu kepada Ansel?" tanya Jason ketika melihat Fanny gugup setelah melakukan panggilan suara kepada bi Murni.
"Ah, tidak bi Murni hanya bilang kalau popok Ansel telah habis." Fanny berbohong.
Melihat gelagat aneh dari wanitanya membuat Jason merasa curiga.
__ADS_1
"Mengapa kau terlihat khawatir?" tanya Jason menelisik, ia hanya ingin tahu apakah dugaannya benar atau salah.
"Ya, seharian ini aku tidak melihatnya sama sekali, dari pagi-pagi buta aku telah bersama dengan mu di sini!" jawab Fanny.
Tidak sulit bagi seorang Fanny untuk berbohong. Karen ia memang telah terbiasa dengan segala kebohogannya.
"Apakah uang bulanan untuk Ansel kurang?" tanya Jason lagi.
"Keperluan seorang bayi itu tidak dapat di tentukan oleh kita, karena sering kali ia membutuhkan sesuatu secara tiba-tiba!" jawab Fanny.
Dan jawaban itu lebih mengarah kalau ia merasa kurang dengan uang bulanan yang di berikan oleh Jason untuk Ansel.
Dasar Fanny, si wanita materialistis yang tidak akan pernah berubah.
"Baiklah, akan ku transfer saat ini juga uang untuk Ansel, ku harap bayi itu tidak mengalami kekurangan suatu apapun."
Mendengar ucapan Jason, Fanny merasa benar-benar bahagia. Ia mengira sangat mudah membohongi Jason.
Namun tidak dengan Jason, ia merasa Fanny telah sengaja membohongi dirinya yang selama ini telah mati-matian membela wanita itu, bahkan ketika Fanny di ceraikan oleh Arjuna. Jason lah satu-satunya orang yang selalu ada bersamanya, walaupun hanya di jadikan sebagi wanita simpanan.
"Thankyou Honey, baby I love you!" seru Fanny manja di pelukan Jason.
Dan jason selalu menyukai apapun yang di lakukan oleh wanita itu.
"Kalau begitu pulanglah, berikan apapun yang Ansel butuhkan!" ucap Jason dengan tegas.
Setelah mengecup pipi pria tua itu, Fanny langsung bergegas pergi dari kantor Jason. Dengan senyum sumringah Fanny melangkahkan kakinya.
"Mudah sekali mengakali pria tua itu, uang yang sebelumnya masih banyak dalam rekeningku, sekarang dia tambah lagi." Pikir Fanny.
Ya, memang uang yang sebelumnya yang di berikan oleh Jason untuk membeli seluruh kebutuhan Ansel, malah di simpan oleh Fanny kedalam rekening tabungannya.
Tidak sedikitpun ia memberikannya kepada Ansel.
"Aku harus cepat-cepat pergi kerumah sakit untuk melihat bagaimana kondisi Ansel sekarang." gumam Fanny seraya terus melangkahkan kakinya keluar dari area perkantoran itu.
Beberapa menit kemudian.
Fanny tiba di rumah sakit tempat Ansel di rawat, Fanny tidak merasa kerepotan mencari alamat rumah sakit itu, di karenakan ia telah pernah pergi kesana beberapa hari yang lalu untuk memeriksakan Ansel.
"Bagaimana keadaannya bi?" tanya Fanny ketika memasuki kamar tempat Ansel di rawat.
"Sudah lebih baik nyonya!" jawab Bi Murni.
Fanny mendekatkan wajahnya ke wajah Ansel, karena ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya.
__ADS_1
"Bau ini, bukan bau susu formula, katakan bi, ini bau apa?" Fanny merasa curiga.
Seingatnya itu adalah bau ASI dari seorang ibu.
"E~ anu nyonya, tadi itu di berikan dokter, katanya untuk menambah kekebalan tubuh." jawab Bi Murni terbata-bata.
Bi Murni merutuki dirinya sendiri karena tidak pernah terpikir kan olehnya untuk mengusap bekas ASI di pipi Ansel dengan air. Sehingga tidak perlu membuat majikannya curiga.
"Ini ASI kan?" Fanny mengulangi pertanyaannya dengan memandang lekat wajah bi Murni.
"Iya nyonya, tapi saya tidak tahu itu ASI dari siapa." bohong bi Murni.
"Katakan siapa nama dokter yang telah memeriksa Ansel?"
"Saya juga tidak tahu nyonya."
Mendengar jawaban dari asistennya membuat Fanny merasa kesal, namun apa dayanya bi Murni memang tidak bisa membaca. Jadi mana mungkin ia bisa membaca tulisan nama yang ada di pakaian para dokter.
Fanny memandang sekeliling ruangan, kedua matanya menyala menatap ruangan itu
"Ini ruangan VVIP!" ucap Fanny seraya memandang bi Murni dengan beringas.
"Benar nyonya!"
"Siapa yang memutuskan Ansel akan di rawat di ruangan ini?" tanya Fanny lagi, masih menatap asistennya dengan intens.
"Saya nyonya, saya rasa kalau di rawat di ruangan yang lebih bagus, kesehatan tuan kecil akan cepat membaik." jawab Bi Murni sejujurnya.
Memang bi Murni lah yang memutuskan untuk merawat Ansel di ruangan VVIP.
"Apa kau yang akan membayarnya?"
"Maksud nyonya apa? mana mungkin saya mampu untuk membayarnya!" bi Murni terlihat bingung mendengar pertanyaan dari majikannya.
"Kalau begitu pindahkan dia ke kamar kelas tiga!" perintah Fanny yang sontak mengejutkan bi Murni.
"Apa? nyonya, saya tidak salah dengar?" tanya bi Murni memberanikan diri.
"Cepat lakukan perintahku, atau kalau tidak kau yang akan membayar semuanya!!" perintah Fanny dengan tegas.
Dan itu membuat bi Murni semakin ketakutan.
"Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak ini, gaji saya saja sebulan tidak akan cukup untuk membayar biaya rumah sakit ini." batin bi Murni.
Memang uang gaji bi Murni tidak pernah ia pegang sendiri, di karenakan ia memiliki suami dan dua orang anak di kampung.
__ADS_1
Jadi, setiap sebulan sekali bi Murni selalu mentransfer gajinya kepada suaminya untuk kebutuhan anak-anak nya di kampung.
"Baik nyonya!" ucap bi Murni seraya pergi untuk melaporkan kepada petugas rumah sakit kalau Ansel akan di pindahkan ke kamar kelas tiga.