
Hari menjelang sore, sang mentari mulai merangkak ke ufuk barat, menyisakan bayang-bayang panjang di seluruh semesta.
Arjuna yang sedang bersiap hendak menjemput istrinya, menatap heran kepada pak sopir yang sedang membersihkan mobil.
" Kenapa anda di sini pak, bukankah aku telah menugaskan anda untuk menjaga istriku kemana pun ia pergi?" tanya Arjuna terkesan emosi.
" Maaf tuan, nyonya yang menyuruh saya kemari, nyonya mengatakan tidak perlu untuk di jaga." jawab pak sopir dengan gemetar.
Mendapat pertanyaan menelisik dari majikannya membuat pak sopir ketakutan.
" Kebiasaan, bagaimana kalau dia ingin membeli sesuatu?" Arjuna kesal.
" Ada tuan Bastian yang akan mengantarnya tuan." jawab pak sopir sejujurnya.
Mendengar nama Bastian membuat Arjuna mengepalkan tangannya.
" Ayo kita berangkat!" perintah Arjuna lalu masuk ke dalam mobilnya, tanpa menghiraukan mommy Rita yang tengah memanggil dirinya.
Sebenarnya Mommy Rita ingin menitipkan sesuatu untuk besannya, akan tetapi ia urungkan, karena Arjuna tidak menghiraukan.
" Lebih cepat!" perintah Arjuna dengan nada suara kasar.
Mendengar istrinya sering di antar Bastian membuat hatinya sedikit panas.
Walaupun telah di percepat laju mobilnya, Arjuna tetap saja menyuruh pak sopir untuk menambah kecepatannya.
"Edan, ini sudah ngebut masih kurang ngebut juga, cari mati dia." gumam pak sopir namun hanya dalam hati.
Mana berani dia mengatakan hal itu kepada majikannya, apalagi di saat sedang marah seperti sekarang ini.
Dengan kecepatan tinggi, mobil melaju dengan sangat kencang.
Setelah melewati jalan berbatu dan berkelok-kelok, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Arjuna segera turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Ia ingin segera berjumpa dengan istrinya.
Melihat menantunya kembali dengan selamat, pak Setyo dan Bu Safitri merasa sangat bahagia.
Dengan segera mereka menyambut kedatangan Arjuna.
" Dhita mana yah, bu?" tanya Arjuna berusaha tetap sopan, meskipun di hatinya sedang kesal.
" Istrimu sedang pergi nak, ke desa sebelah." jawab Bu Safitri.
" Bersama siapa?" Arjuna kembali bertanya.
" Bastian." sahut pak Setyo.
Bu Safitri dan pak Setyo tidak mengetahui kalau Arjuna cemburu berat kepada Bastian.
Mendengar nama Bastian, Arjuna merasa seperti terbakar, dengan penuh amarah ia berusaha menguasai emosinya.
" Saya permisi dulu yah, Bu." Arjuna pamit hendak ke kamar.
Dari pada emosinya meledak di depan kedua mertuanya, ia rasa lebih baik untuk berdiam diri di dalam kamar sembari menunggu istrinya pulang.
Sedangkan pak Setyo dan Bu Safitri hanya mengangguk, mereka mengira kalau menantu mereka sedang kelelahan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Dhita dan Bastian telah kembali.
Mereka terlihat begitu akrab, seperti telah terbiasa bersama.
Arjuna mengawasi mereka dari celah jendela,
Arjuna mengepalkan tangannya ketika melihat mereka sangat akrab.
Bastian lebih memilih tidak turun dari mobil di karenakan ia ada urusan di kantor.
Bastian segera menjalankan mobilnya, setelah Dhita turun dari dalam mobil itu.
" Hubungi aku jika kau ingin pergi lagi," ucap Bastian sebelum ia benar-benar pergi.
" Terimakasih kak," jawab Dhita seraya mengiringi kepergian kakak sepupunya.
Dengan hati riang, Dhita berjalan memasuki rumahnya.
Sebenarnya kedua orang tuanya ingin mengatakan kalau suaminya telah datang, namun Dhita tidak menggubrisnya, ia terus berjalan menuju kamarnya.
Dan apa yang dilihatnya saat membuka pintu.
Seorang pria dengan memakai setelan jas sedang berdiri membelakanginya.
" Mas-!" seru Dhita dengan senyum lebar di bibirnya.
" Kejutan mas, mengapa tidak memberi kabar terlebih dahulu." lanjut Dhita penuh semangat.
Tanpa mendengar jawaban dari suaminya, Dhita langsung memeluk Arjuna dari belakang.
Merasa tidak ada respon dari sang suami, Dhita mengurai kembali pelukannya.
Dhita maju beberapa langkah tepat di depan Arjuna.
" Mengapa mas, ada apa?" tanya Dhita penuh tanda tanya.
Matanya liar menatap wajah tampan di depannya.
Wajah yang memancarkan sebuah amarah, wajah yang memerah akibat terbakar api cemburu.
" Apa ini yang aku dapatkan?" Arjuna memalingkan muka menatap ke arah jendela.
" Apa maksudmu mas?" Dhita tidak mengerti dengan ucapan suaminya.
" Ayo kita pulang, mommy telah menunggu kita di rumah." ajak Arjuna tanpa menjawab pertanyaan istrinya, mengingat itu adalah rumah mertuanya. Tidak baik bagi mereka bila bertengkar di sana.
" Baiklah!" Dhita menyetujui ajakan suaminya, di karenakan ia tidak ingin berdebat.
Tanpa berpikir panjang, Dhita segera mengemasi semua barang-barang nya.
Sedangkan Arjuna hanya terdiam, menyaksikan istrinya yang sedang mengemasi barang-barang nya.
Setelah semua siap, mereka pun berpamitan kepada ayah dan ibunya.
" Hati-hatilah di jalan nak," ucap Bu Safitri kepada anak dan menantunya.
Setelah itu mereka pun memasuki mobil yang langsung di jalankan oleh pak sopir.
__ADS_1
Selama perjalanan pulang, Mereka berdua tidak ada yang saling berbicara satu sama lain.
Dhita membuang mukanya ke jendela. Berusaha menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi.
Tiba-tiba Dhita merasa sangat pusing,
perutnya serasa bergejolak. Pandangannya menjadi kabur. Dalam hitungan detik Dhita telah tak sadarkan diri.
Arjuna yang tidak menyadari apa yang terjadi kepada istrinya, secara tidak sengaja tangannya menyentuh tangan Dhita yang terasa sangat dingin.
" Kok dingin, apa yang terjadi?" gumam Arjuna merasa aneh.
Kemudian ia memeriksa seluruh tubuh istrinya yang terasa sangat dingin.
" Dhi, bangun Dhi, kau kenapa?" tanya Arjuna panik, berbagai dugaan berkecamuk di benaknya.
Apalagi ketika ia melihat wajah Dhita yang pucat, Arjuna semakin khawatir.
Arjuna takut kondisi istrinya drop kembali.
" Pak, langsung ke rumah sakit, cepat pak!" perintah Arjuna sambil menopang tubuh istri nya yang lemah tidak berdaya.
" Baik tuan." jawab pak sopir.
Lalu menambah kecepatan mobilnya, membuat nya melaju semakin kencang.
Sesampai nya di rumah sakit terdekat, Arjuna segera menggendong tubuh Dhita memasuki koridor rumah sakit.
Kebetulan mereka bertemu dengan dokter Eina yang saat itu sedang bertugas di rumah sakit tersebut.
" Tuan Arjuna," sapa dokter Eina dengan heran, seraya menatap ke arah Dhita yang sedang tak sadarkan diri di pelukan Arjuna.
" Tolong dok, tolong periksa istriku!" seru Arjuna dengan sangat khawatir.
" Mari tuan," Dokter Eina membuka salah satu pintu ruang pemeriksaan.
Di mana di dalam ruangan itu telah ada pasien yang lebih dahulu tiba beberapa menit sebelum Dhita.
Setelah membaringkan istrinya di atas streckher yang tersedia di rumah sakit tersebut, Arjuna berkata.
" Tolong periksa kondisinya dok!" pinta Arjuna sekali lagi.
" Baik tuan, silahkan tunggu di luar."
Arjuna melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Sementara istrinya sedang menjalani pemeriksaan.
Selain dokter Eina di dalam ruangan itu juga ada seorang dokter ahli kandungan. Dokter Alya.
Beberapa menit kemudian, Dokter Eina keluar dari ruangan tersebut dengan sebuah senyuman.
" Mari ikut ke ruangan saya tuan." ajak dokter Eina.
Arjuna pun mengangguk, tanpa bertanya sepatah katapun.
" Tidak ada yang perlu di khawatirkan tuan, kondisi istri anda baik-baik saja." ucap dokter Eina ketika mereka telah berada di dalam ruangannya.
__ADS_1