Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 174 Kebiasaan yang Menyebalkan


__ADS_3

Suasana pagi yang indah, bunga-bunga bermekaran di halaman mansion. Harumnya bunga mawar memberikan sensasi yang berbeda.


Pagi itu Dhita sedang mengamati tingkah putrinya yang sangat menyebalkan, bagaimana tidak, ia yang sedari tadi menunggu di depan pintu kamar tidak di izinkan masuk ke dalam kamar, oleh putrinya sendiri. Namun, ia merasa sangat bersyukur memilikinya, bayi cantik dan mungil kini telah tumbuh dewasa menjadi wanita yang sangat cantik.


Meskipun terkadang Dia, Ya, Dia. Itulah nama panggilan untuk Diana. Wanita muda yang cantik itu tidak pernah suka jika di panggil dengan nama Diana, ia hanya ingin di panggil sebagai Dia saja.


"Cepat, nanti kau terlambat!" seru Dhita kepada putrinya.


"Ya mom, sebentar lagi, masih belum selesai!!" teriak Dia dari dalam kamarnya.


Saat ini Dia sedang merapikan dirinya di depan cermin, rambutnya yang telah ia sisir, kemudian ia sisir kembali. Hingga membuat pekerjaan itu tidak kunjung selesai.


"Dia cepatlah sedikit, Daddy mu telah menunggu!" Dhita berseru kembali dari arah luar kamar.


Ya, Dhita tidak bisa memasuki kamar itu di karenakan Dia mengunci pintunya dari dalam.


Kemudian Dhita turun ke lantai bawah menemui suaminya yang sedang menunggu di ruang makan.


Semenjak usianya menginjak dewasa, Dia tidak pernah mengijinkan siapapun memasuki kamarnya, bahkan kedua orang tuanya sekalipun.


Dia tumbuh menjadi wanita yang tertutup, dia tidak pernah berbagi cerita dengan siapapun. Kecuali dengan Omanya, yaitu mommy Rita yang kini semakin menua.


Tak lama kemudian, dengan langkah yang berirama Dia menuruni tangga. Kakinya terlihat sangat lincah memijak satu persatu dari anak tangga tersebut.


"Akhirnya kau selesai juga!" seru Dhita kepada putrinya yang saat itu masih berdiri di samping kursi meja makan.


"Sudah lah mom, biarkan saja, anak perawan memang suka seperti itu," tukas Arjuna membela putrinya, lebih tepatnya putri kesayangannya.


Ya, semenjak menghilangnya Ardhi, bayi laki-lakinya yang hilang. Arjuna sangat memanjakan Dia, apapun yang diinginkannya tidak satupun yang tidak terlaksana.


Bahkan Dia selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan, sebelum Dia memintanya terlebih dahulu.


Dan, itu membuat Dia sedikit manja kepada ayahnya.


"Ini mom, rambut ini selalu saja berantakan, jadi harus ku sisir berkali-kali biar terlihat rapi!" ujar Dia seraya mengibaskan rambutnya ke belakang, lalu duduk di samping ayah dan ibunya.


"Makanya, kau harus mendengarkan apa yang mom katakan, lebih baik pakai hijab saja, jadi tidak perlu khawatir dengan rambutmu!" Dhita memberikan saran kepada putrinya.


Mendengar ucapan dari ibunya, membuat Dia sedikit cemberut.

__ADS_1


"Sudahlah, mungkin putri kita masih belum siap untuk berhijab," celetuk Arjuna, sekali lagi ia membela putrinya.


"Ya, benar apa yang dikatakan Daddy, dari pada buka tutup hijab, lebih baik tidak sama sekali." Dia merasa senang karena merasa selalu di bela oleh ayahnya.


"Itu keyakinan yang salah, lebih baik buka tutup hijab sambil belajar Istiqomah, dari pada tidak sama sekali." sergah Dhita, ia merasa semakin kesal dengan tingkah kelakuan putrinya yang semakin hari semakin menyebalkan.


Bagaimana tidak akan kesal, jika Dhita telah berkali-kali mengingatkan kepada Dia bahwa sebagai wanita muslimah sebaiknya menggunakan hijab dan itu di wajibkan di dalam agama bagi kaum perempuan.


Namun, rupanya Dia tidak pernah menggubris apapun yang nasehat yang di berikan oleh ibunya. Dia lebih suka dengan penampilan wanita kekinian, itu lebih modis, itulah kata-kata yang selalu di ulang oleh Dia ketika sedang di nasehati.


"Kau sudah siap?" tanya Arjuna kepada putrinya yang baru saja selesai menelan suapan makanan terakhirnya.


"Siap, Daddy!" seru Dia dengan mengangkat tangan kanannya di sejajarkan di depan dahi.


Memberi hormat kepada ayahnya.


"Mom, aku berangkat dulu ya," pamit Dia kepada ibunya.


"Ya, hati-hatilah!" pesan Dhita kepada putrinya.


"Mom, tenang oke, aku bisa jaga diri baik-baik." sahut Dia seraya melangkah keluar dari mansion mewah bersama dengan ayahnya, sedangkan Dhita mengikuti mereka dari belakang.


"Mas, hati-hati!" seru Dhita dari arah belakang dan itu membuat Arjuna membalikkan badannya.


Dan, itu terjadi di depan Dia yang telah menutup wajahnya dengan kedua tangannya terlebih dahulu.


"Ih, Mom and Daddy bikin ngiler saja,' pikir Dia.


Lalu berlari ke arah mobil dan menghambur masuk ke dalamnya.


"Kenapa non?" tanya pak sopir yang memang melihat insiden tadi.


"Tidak apa-apa pak sopir." jawab Dia tanpa menoleh ke arah sopirnya.


Karena saat ini pandangannya hanya tertuju ke arah kedua orang tuanya yang semakin tua semakin romantis saja, bahkan mereka sering melupakan keberadaan putrinya.


"Pacaran saja non, jika ingin ada yang memanjakan," ucap pak sopir dan langsung Mendapat tatapan yang menghunus dari Dia.


"Pak sopir jangan sembarangan bicara, nanti Daddy dengar." Dia merasa tidak suka jika ada yang ikut campur dalam urusan pribadinya, apalagi itu tentang hati.

__ADS_1


"Maaf non, saya hanya bercanda," sesal pak sopir dengan wajah sedikit ketakutan.


"Di maafkan!" seru Dia agak pelan, karena ia tidak ingin ayahnya yang sedang berjalan ke arahnya mendengar hal itu.


"Jalan pak sopir!" perintah Arjuna ketika telah duduk di samping putrinya di belakang pak sopir.


"Baik, tuan!"


Kemudian mobil mulai berjalan perlahan melewati halaman mansion.


"Bagaimana hari-hari mu di kampus?" tanya Arjuna kepada Dia yang hanya diam saja.


"Sangat menyenangkan," jawab Dia singkat.


"Bagaimana dengan teman-temanmu?"


"Semua baik Daddy, mereka selalu mendukung apapun yang aku lakukan." jawab Dia seraya memandang wajah sang ayah yang di tumbuhi kumis tipis.


Ya, di kampusnya Dia memang banyak di sukai oleh teman-temannya karena ia termasuk mahasiswi yang cerdas. Selain itu, Dia juga selalu membantu teman-teman nya yang mengalami kesusahan dalam materi yang di berikan oleh dosennya.


Sekitar sepuluh menit, Dia tiba di depan kampus, Universitas Negeri Yogyakarta.


"Da..h..!" Seru Dia melambaikan tangannya ke arah ayahnya yang duduk di dalam mobil.


"Da..h juga !" Arjuna pun membalas lambaian tangan putrinya.


Kemudian, mobil pun melaju dengan cepat menuju ke kantor perusahaan Arjuna.


Sementara itu, Dia segera berlari-lari kecil memasuki halaman kampus. Dengan bersiul-siul Dia melangkahkan kakinya.


"Aww!" pekik Dia, ketika tubuhnya membentur lantai.


"CK, sial kenapa harus terkilir segala." gerutu Dia.


Dia berusaha menahan rasa malu ketika tubuhnya terjerembab mengendus lantai. Apalagi saat itu, Banyak dari para mahasiswa memandang ke arahnya.


"Ah, aw!" Dia kembali mengerang ketika berusaha untuk bangkit dari tempat ia terjatuh. pergelangan kakinya sebelah kiri terasa begitu sakit.


Di saat Dia sedang berusaha keras untuk berdiri, tiba-tiba saja ada uluran tangan yang membentang di depannya.

__ADS_1


Sontak Dia memegang tangan itu, tanpa melihat siapa yang telah mengulurkan tangannya.


Dengan sangat hati-hati Dia berusaha berdiri kembali, walau sedikit kesusahan akhirnya ia bisa berdiri.


__ADS_2