Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab. 76 Operasi transplantasi liver


__ADS_3

Waktu terus berjalan hari berganti hari, satu Minggu pun telah terlewati.


Namun tidak ada perubahan dari kondisi Dhita, malah terlihat semakin memburuk membuat Arjuna dan keluarganya benar-benar khawatir.


" Bagaimana kondisinya dok?" tanya Arjuna dengan gusar, saat dokter Eina selesai memeriksa istrinya.


" Saya sarankan agar secepatnya mencari pendonor hati, agar pasien dapat segera melakukan operasi transplantasi liver." ucap dokter Eina.


" Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter Eina pergi meninggalkan Arjuna yang sedang kebingungan.


Telah berbagai cara ia lakukan untuk mendapatkan pendonor hati untuk istrinya, namun tidak juga berhasil.


Sedangkan Arjuna sendiri dan semua keluarga telah melakukan pemeriksaan transplantasi hati, namun tidak seorang pun yang cocok dengan hati Dhita.


Melihat tubuh istrinya yang terbujur tak berdaya, di tambah lagi dengan alat-alat medis yang melekat di seluruh tubuhnya membuat Arjuna tidak ingin meninggalkan wanita yang sangat dicintainya walau hanya satu detik pun.


" Aku berjanji akan segera membawakan seseorang untuk mendonorkan hatinya untukmu." gumam Arjuna lirih, sambil terus memegang tangan istrinya yang terlihat semakin kurus.


Seberapa pun Arjuna berusaha berbicara kepada Dhita tidak pernah ada reaksi, namun hari ini terasa berbeda.


Arjuna melihat tetes air mata mulai mengalir dari pelupuk mata istrinya.


" Dhita, kau mendengar ku, kau menangis?" tanya Arjuna, kini ia merasa ada secercah harapan untuk kesembuhan istrinya.


Arjuna segera menekan tombol emergency untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian dokter pun datang bersama dengan seorang perawat.


" Dokter, dokter lihat istri saya dok, dia sadar, dia menangis!" seru Arjuna bahagia saat melihat dokter Eina memasuki ruangan tersebut.


" Biar saya periksa dulu tuan." jawab dokter Eina, lalu membuka kedua kelopak mata Dhita dan menyenternya secara bergantian.


" Bagaimana dok, dia mulai sadar bukan?" tanya Arjuna tidak sabar.


" Air mata yang keluar itu berasal dari keinginan pasien untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, mungkin anda terlalu sering mengajaknya berbicara." ucap dokter Eina menjelaskan.


Arjuna mengangguk.


" Saran saya jangan terlalu banyak berbicara pada pasien, memang tubuhnya tidak dapat bereaksi, akan tetapi ia bisa mendengar dan hatinya mungkin masih bisa merasakan dan membuat ia berusaha lebih keras untuk berinteraksi dengan anda, dan itu bisa membuat kondisi hatinya semakin memburuk karena terlalu dipaksakan." dokter Eina menjelaskan panjang lebar.


Arjuna hanya diam dan semakin merasa bersalah.


" Saya permisi dulu, ingat pesan saya jangan terlalu banyak di ajak bicara demi kebaikannya!" perintah dokter Eina sebelum ia pergi karena harus menangani pasien lain.

__ADS_1


" Baik dok, terima kasih sarannya." jawab Arjuna.


Dokter Eina pun berlalu.


Di tengah kegalauan yang di rasakan Arjuna, tiba-tiba di kejutkan oleh kedatangan Puri dan Citra.


" Untuk apa kau kemari?" Arjuna memalingkan wajahnya ketika melihat Citra yang berada di belakang Puri.


"Ar, dia kesini untuk meminta maaf dan menyadari semua kesalahannya," Puri menjawab pertanyaan Arjuna di karenakan Citra bersembunyi di balik punggung Puri dan tidak berani menjawab sepatah katapun.


Entah apa yang merasuki Citra hingga membuat ia berubah 180 derajat.


Citra yang selama ini di kenal sangat egois dan menyebalkan ternyata bisa berubah lebih kalem dan pemalu.


Kini Citra benar-benar menjadi sosok yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya oleh semua orang yang termasuk Arjuna, ia merasa heran dengan perubahan pada diri Citra yang sangat drastis.


" Apa rencana mu selanjutnya, lihatlah dia sudah tidak berdaya lagi, apa kau masih ingin menyakitinya?" Arjuna tidak bisa menahan emosi yang berpadu dengan rasa bersalah. Ia berbicara sambil menunjuk ke arah Dhita yang terbujur tak berdaya.


Melihat Citra ia teringat dengan semua kesalahannya yang di sebabkan oleh wanita itu.


" Tidak Ar, aku benar-benar tulus meminta maaf," Citra menjawab pertanyaan dari Arjuna dengan linangan air matanya.


Apakah itu Air mata ketulusan atau hanya sandiwara tak seorang pun yang dapat mengetahuinya.


Citra berlutut di depan Arjuna.


Sambil menangis ia berkata.


" Sungguh Ar, aku telah benar-benar berubah,"


" Apa buktinya?" Arjuna meminta bukti atas pengakuan Citra.


" Aku bersedia mendonorkan hatiku untuk Dhita." jawab Citra yang membuat Arjuna maupun Puri tercengang.


" Tidak semudah itu, kau harus melewati beberapa pemeriksaan terlebih dahulu." ucap Arjuna.


" Jika cocok kau bisa mendonorkan hatimu untuk Dhita," lanjutnya lagi, bukan apa-apa Arjuna berkata seperti itu, karena sampai detik ini tidak seorang pun yang cocok untuk menjadi pendonor hati Dhita.


Bahkan kedua orangtua Dhita sekalipun di nyatakan tidak cocok setelah melewati pemeriksaan.


Citra mengangguk pertanda ia setuju untuk menjalani pemeriksaan awal.


Akhirnya Citra pun di periksa oleh dokter.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian hasil pemeriksaan itu pun keluar, dan dokter menyatakan bahwa hati Citra cocok untuk di donorkan kepada Dhita.


" Benarkah?" Arjuna serasa tak percaya dengan pendengarannya, namun sebuah senyum terukir di bibirnya saat dokter Eina meyakinkan dirinya sekali lagi.


Arjuna tidak menyangka jika sang pendonor yang di kirim oleh Tuhan untuk istrinya ternyata adalah Citra.


Saat itu Arjuna sedang berada di dalam ruang kerja milik dokter Eina.


" Benar tuan, operasi bisa dilakukan hari ini juga." ucap dokter Eina memberikan keputusan.


" Alhamdulillaah akhirnya kau akan segera sembuh sayang," Arjuna bergumam seolah di sana ada Dhita yang akan mendengarnya.


" Cepat lakukan yang terbaik untuk istriku dok, berapa pun biayanya akan ku bayar, asal istriku bisa sembuh." ucap Arjuna dengan tegas.


" Pasti tuan." jawab dokter Eina.


Pada hari itu juga operasi transplantasi liver untuk Dhita segera dilakukan.


Semua anggota keluarga yang telah di hubungi terlebih dahulu oleh Arjuna sedang menunggu dengan penuh harapan.


Semua berkumpul di depan pintu ruang operasi dengan harap-harap cemas.


" Ya Allah berikanlah yang terbaik untuk putri kami." gumam bu Safitri di dalam do'a nya dengan kedua mata terpejam.


Sedangkan pak Setyo dan Arjuna tampak gelisah, berkali-kali mereka menengok ke arah pintu jika saja operasi telah selesai.


Mommy Rita, Eza, Puri, Reyhan dan Rena juga ada di sana, semua menunggu dengan hati yang berdebar-debar.


Operasi berlangsung cukup lama, didalam ruang operasi tampak beberapa orang dokter dan beberapa perawat sedang sibuk melaksanakan operasi tersebut.


Mereka megambil hati Dhita yang telah rusak dan menggantinya dengan hati yang mereka ambil dari sebagian organ hati Citra.


Sekitar Enam jam proses operasi berlangsung dan akhirnya selesai saat Dokter keluar dari ruang tersebut dengan sebuah senyuman di wajahnya.


Semua orang saling mendahului untuk menanyakan kondisi Dhita saat ini.


" Alhamdulillaah, proses operasi berjalan lancar, dan kondisi pasien semakin membaik." jawab Dokter Eina dengan tenang.


" Alhamdulillaah!" seru semua orang tak terkecuali Arjuna, ia yang merasa paling bahagia saat itu.


Setelah menginformasikan berita tersebut, dokter Eina pun berlalu yang di ikuti oleh beberapa orang perawat dengan mendorong Brankar Dhita dan Citra yang masih sama-sama tidak sadarkan diri.


Citra belum sadarkan diri di karenakan efek samping obat bius yang belum hilang pasca operasi transplantasi liver.

__ADS_1


__ADS_2