
Mommy Rita memijat kepalanya yang tak sakit, sambil berpikir bagaimana caranya agar Bu Devina mau mengakui kesalahannya.
" Kemungkinan besar dia yang membawa ponsel menantuku!" gumam mommy Rita seorang diri
" Bagaimana caranya aku bisa membuktikan kalau memang dia pelakunya!" mommy Rita kembali bergumam.
" Dan apa motivasinya hingga ia sampai hati melakukan semua ini?" namun ia tidak bisa menjawab nya sendiri.
Ya, memang ketika Dhita di bawa ke rumah sakit, Bu Devina tidak ikut. Bu Devina mengatakan kalau ia sedang di telfon oleh pak Aditya, suaminya.
Namun, setelah sesaat dari peristiwa itu, Bu Devina tidak terlihat lagi di mansion itu.
Mommy Rita mendapatkan semua informasi itu dari para pelayan yang bekerja di mansion nya.
" Aku harus pergi ke sana!" gumam mommy Rita.
Kemudian mommy Rita meraih tas kecilnya, lalu beranjak dari tempat ia duduk.
Mommy Rita berniat hendak pergi ke rumah Bu Devina, untuk memastikan kecurigaannya.
*
*
*
Di rumah Bu Devina.
Bu Devina yang saat itu sedang makan siang bersama suaminya, yaitu pak Aditya.
Mereka hanya makan berdua saja di ruang makan, mengingat Putri tunggal mereka, Citra telah tinggal bersama keluarga suaminya.
" Papa merindukan Citra ma," ucap pak Aditya kepada istrinya. Saat itu ia sedang menyuapkan sesuap nasi ke mulutnya..
" Ya papa benar, saat-saat seperti ini dia selalu membuat mama atau papa merasa kesal kepadanya, dia selalu saja berulah." sahut Bu Devina memandang wajah suaminya, seakan ia ingin mengatakan kalau dirinya juga merasakan hal yang sama seperti yang suaminya rasakan. Walaupun baru kemarin ia pulang dari rumah putrinya.
" Dan ulahnya itulah yang selalu membuat kita merindukan dirinya." ucap pak Aditya, seraya mengunyah makanannya.
__ADS_1
Mengingat betapa menyebalkan putrinya ketika dulu, bahkan saat di meja makan pun putrinya itu selalu saja bertingkah yang selalu membuat pak Aditya dan Bu Devina Merasa kesal dan jengkel.
Namun kini saat semua itu telah tidak dapat di rasakan lagi, justru mereka merasa sangat merindukan kehadiran putri mereka. Bukan hanya itu, mereka juga merindukan ulah putrinya yang konyol.
" Dulu kau pernah berkata kalau kau ingin hidup tenang walaupun hanya di meja makan." ucap Bu Devina yang teringat dengan ucapan suaminya dikala sedang kesal menghadapi kekonyolan putrinya.
" Ya, dan sekarang aku menyesal pernah mengatakan hal itu kepadanya, andai saja waktu bisa ku ulang kembali aku tidak akan pernah menghentikannya." ucap pak Aditya dengan penuh rasa sesal di hatinya.
Tak lama kemudian seorang pembantu datang menghampiri Bu Devina dan pak Aditya.
" Maaf tuan, nyonya! di luar ada tamu!" ucap pembantu itu dengan sikap sopan.
" Siapa bi?" tanya Bu Devina.
" Nyonya Rita!" jawab pembantu itu lagi.
" Ya, suruh dia masuk Bi, sebentar lagi saya akan ke sana!" perintah bu Devina lagi.
" Baik nyonya !" ucap pembantu itu lalu beranjak keluar untuk mempersilahkan tamunya masuk.
" Ada apadia kesini?" tanya pak Aditya yang merasa ada yang aneh degan kedatangan besannya ke dalam rumahnya.
Sedangkan mommy Rita yang sedang duduk di sebuah sofa panjang, sesekali melirik arloji di tangan nya.
" Jeng, sudah lama menunggu?" tanya Bu Devina ketika telah berada di samping Mommy Rita.
" Tidak jeng, baru beberapa menit yang lalu," jawab mommy Rita, karena memang sekitar sepuluh menit yang lalu, ia di suruh menunggu di ruangan itu.
" Oh, maaf ya jeng, telah membuat kamu menunggu, tadi saya masih ada pekerjaan di belakang." Bu Devina beralasan.
" Iya jeng tidak apa-apa." jawab Mommy Rita sembari tersenyum, namun kedua matanya tetap awas mengawasi gerak-gerik Bu Devina.
" Ngomong-ngomong bagaimana kondisi nak Dhita jeng?" tanya Bu Devina pura-pura perhatian.
" Alhamdulillah jeng, sudah lebih baik, mungkin nanti sore dia sudah pulang," jawab Mommy Rita.
" Tapi sekarang yang menjadi masalahnya, ponsel menantu saya itu hilang jeng, dan saya tidak bisa menemukannya di manapun." ucap mommy Rita dengan pandangan tetap menelisik kearah bu Devina.
__ADS_1
Mendengar ucapan mommy Rita, Bu Devina terperanjat. namun ia tetap berusaha untuk bersikap tenang.
" Hilang? di mana jeng?" tanya Bu Devina berpura-pura terkejut.
" Entahlah jeng, saya cari di ruang tamu dan kamar menantu saya tidak ada jeng!" jawab mommy Rita dengan pandangan menatap intens ke arah bu Devina.
" Mungkin terbawa ke rumah sakit jeng?" Bu Devina mencoba untuk mengalihkan perhatian mommy Rita dari dirinya.
Bu Devina merasa kalau mommy Rita sengaja datang kesana untuk menelisik dirinya.
" Tidak jeng! saya ingat betul, ponsel menantu saya itu tertinggal di ruang tamu!" mommy Rita memang sekilas melihat ponsel menantunya itu tergeletak di sofa tempat menantunya duduk, namun tiba-tiba saja ponsel itu menghilang.
Bu Devina terdiam, seakan ia juga berusaha mengingat keberadaan ponsel itu.
" Apa jeng pernah melihatnya?" tanya mommy Rita, sebuah pertanyaan yang terdengar sederhana, namun mampu membuat Bu Devina terperanjat hingga menjadi rikuh.
Tampak terlihat jelas oleh mommy Rita tentang perubahan pada wajah Bu Devina.
" Kenapa jeng? ada yang salah dengan pembicaraan kita?" mommy Rita berpura-pura, meski didalam hatinya ia mulai curiga terhadap sikap mommy Rita.
" Ah, tidak jeng saya hanya ingin bertanya bukankah hari ini acara tujuh bulanan nak Dhita jeng?" Bu Devina berusaha mengalihkan pembicaraan. Karena ia tidak ingin kalau sampai mommy Rita mencurigainya.
Karena memang dirinya lah yang telah mengambil ponsel itu, dan demi melancarkan aksinya, Bu Devina rela mengorbankan Dhita dari semua rencana yang telah di susunnya matang-matang.
Tentu saja dengan bantuan seseorang yang sangat lihai dalam hal ini.
" Ya, untuk sementara ini acaranya ditunda dulu jeng, mungkin besok atau lusa, jika kondisi menantu saya telah benar-benar pulih." jawab mommy Rita menjelaskan.
Dan dengan pertanyaan Bu Devina yang terkesan memaksa mengalihkan percakapan, membuat mommy Rita yakin bahwa dialah pelaku dari manipulasi itu.
Namun meskipun telah merasa begitu yakin, mommy Rita tidak bisa berbuat apa-apa. Sebelum ia memiliki bukti yang kuat dan akurat.
" Jeng tolong kirim pesan kepada saya melalui WhatsApp ya jeng resep kuenya karena sering lupa," ucap mommy Rita menjalankan rencananya.
" Pasti jeng, tenang saja, nanti akan saya kirim resepnya." jawab Bu Devina.
" Baiklah jeng, saya permisi dulu sekalian nanti saya akan langsung ke rumah sakit." ucap mommy Rita mengakhiri pembicaraan mereka.
__ADS_1
" Ya jeng, titip salam untuk nak Dhita, semoga cepat pulih, maaf saya masih belum bisa menjenguknya!" jawab Bu Devina sembari tersenyum, sebuah senyuman yang di paksakan.