
"Maaf, anda siapa? berani-beraninya anda mengaku-ngaku putra saya sebagai putra anda!" Fanny mulai tersulut emosi, karena Dhita tetap memaksa untuk menggendong baby boy dari dalam kereta dorongnya.
"Tidak, aku yakin dia Ardhi putraku yang hilang kemarin." Dhita tetap bersikeras memaksa untuk menggendong baby boy yang telah bernama Ansel Abraham.
Namun sebagai seorang ibu, Dhita mampu merasakan ikatan batin dengan bayi itu.
Arjuna yang baru saja selesai membayar biaya administrasi, terkejut ketika mendengar suara orang ribut-ribut di koridor rumah sakit.
Dan saat melihat istri nya juga terlibat di sana, Arjuna segera bergegas menghampirinya.
"Ada apa ini?" suara Arjuna menghentikan kedua wanita itu yang sedang berseteru.
Seketika membuat Fanny menoleh ke arah Arjuna, membuat pandangan mereka bertemu.
"Kau?" Arjuna tidak meneruskan ucapannya. Karena ia tidak ingin istrinya mengetahui tentang hal ini.
Tentang Fanny yang merupakan mantan istri pertamanya.
Arjuna menatap pada bayi yang berada di dalam kereta dorong itu.
"Bayi ini pasti hasil dari~!" pikir Arjuna, bergidik. Mengingat perbuatan Fanny yang *******.
"Kau~?" Fanny pun berpura-pura terkejut.
"Oh, jadi dia istri keduamu?" Fanny sengaja mengatakan hal itu, agar Arjuna segera pergi dari sana.
Walau bagaimanapun, jika telah ada istri kedua, pasti sebelumnya pernah ada istri pertama yang mungkin kisahnya tidak akan di kenang oleh siapapun karena posisinya telah tergantikan.
"Ayo sayang kita pergi!" Arjuna mengajak Dhita untuk kembali ke kamar tempat ia dirawat sebelumnya.
Arjuna yang merasa syok karena berjumpa kembali dengan wanita yang telah secara terang-terangan mengkhianati dirinya. Ia hanya ingin Dhita tidak mengetahui segala tentang wanita itu. Seorang wanita pengkhianat.
"Tidak mas! aku tidak akan pergi sebelum membawa Ardhi kita mas!" Dhita meronta-ronta berusaha melepaskan tangannya.
"Sayang lihat aku, dia bukan Ardhi, bayi itu adalah anak dari ibu ini!" ucap Arjuna, karena saat itu ia sedang melihat Fanny tengah menggendong baby boy yang tak lain adalah putranya yang hilang.
"Ansel, namanya Ansel Abraham." sahut Fanny dan semakin membuat Arjuna muak, dan ia tidak ingin mendengar apapun dari mulut wanita ini.
"Tidak mas! kau tidak akan pernah mengerti perasaan ku, aku ini ibunya bukan wanita itu, dan dia putraku bukan putra nya." Dhita masih saja bersikeras dengan keyakinannya. Sebuah keyakinan yang tidak akan pernah salah.
__ADS_1
Tiba-tiba datang seorang perawat dan menyuntikkan obat penenang pada punggung Dhita.
Dan lima detik kemudian, Dhita yang sejak tadi meronta-ronta, kini perlahan menjadi lemas, bertambah lemas, dan kemudian tak sadarkan diri.
Arjuna segera menggotong tubuh istrinya membawanya ke ruang perawatan yang sebelumnya ia tempati.
Fanny yang melihat semua itu, tersenyum karena telah berhasil membuat Arjuna merasa INSECURE kepadanya.
Jangankan untuk memeriksa baby boy yang sedang di gendong oleh Fannny, melihatnya saja membuat dirinya sangat muak. Tidak pernah terduga oleh Arjuna kalau bayi itu adalah putra kandungnya.
"Maaf tuan, kondisi nyonya Dhita drop kembali!" jelas dokter Alya setelah selesai memeriksa Dhita.
"Dan nyonya Dhita mengalami gejala baby blues!" ucap dokter Alya melanjutkan.
"Baby blues? apa itu dok?" tanya Arjuna yang baru pertama kalinya mendengar tentang penyakit itu.
"Baby blues adalah dimana seorang ibu mengalami sindrom pasca melahirkan di karenakan suasana hati yang tidak tenang, merasa sendirian dan ini juga di picu dengan perasaan hati yang merasa bersalah." jelas dokter Alya.
"Dan kondisi ini tidak boleh di biarkan berlarut-larut, karena akan menyebabkan depresi bahkan gangguan mental!" lanjut dokter Alya.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini," gumam Arjuna lirih.
"Lalu apa yang harus dilakukan dok, agar istri ku bisa secepatnya pulih?" Arjuna kembali bertanya.
"Di ajak bicara tentang suatu hal yang menyenangkan, dan selalu menjaga agar suasana hatinya tetap bahagia." jawab Dokter Alya.
Arjuna berusaha memahami semua penjelasan dari dokter Alya.
Setelah tidak ada lagi yang di tanyakan oleh Arjuna, akhirnya dokter Alya pamit mengundurkan diri, karena masih harus memeriksa pasien yang lain.
Arjuna duduk di samping istrinya, memandang wajah Dhita yang pucat pasi karena terlalu banyak pikiran, sebab setiap saat selalu memikirkan baby boy yang hilang.
Dan karena ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya Arjuna memutuskan untuk membawa Dhita pulang ke mansion.
Dalam keadaan tidak sadar Arjuna membawa Dhita pulang, karena menurutnya itu lebih baik, tentunya setelah melakukan beberapa pertimbangan.
Karena jika harus menunggu hingga ia sadar, maka tidak dapat di pungkiri lagi Dhita pasti akan kembali meronta-ronta menolak untuk pulang. Di karenakan ia masih ingin mencari keberadaan putranya di rumah sakit itu.
Sedangkan baby girl telah di bawa pulang terlebih dahulu oleh mommy Rita, karena kondisinya yang telah membaik.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Arjuna segera membawa Dhita ke kamar nya. Dhita yang masih tidak sadarkan diri, di rebahkan di atas ranjangnya.
"Mengapa istrimu dibawa dalam keadaan pingsan Ar?" tanya mommy Rita karena merasa aneh dengan apa yang di lakukan oleh putranya.
"Dhita mengalami sindrom baby blues mom!" jawab Arjuna seraya menutupi sebagian tubuh istrinya dengan big cover sprei.
"Aku ingin dia secepatnya sembuh mom!" ucap Arjuna lagi.
"Kalau begitu, kita harus bawa dia pergi ke tempat-tempat yang bisa membuat dirinya relax dan melupakan semua masalahnya." ucap mommy Rita mengusulkan.
"Bisa juga mom, tapi kata dokter Alya membicarakan sesuatu yang indah-indah itu juga bisa membantu proses kesembuhannya," tutur Arjuna.
"Ya, itu benar." kemudian mommy Rita mengajak Arjuna keluar dari kamar itu.
"Ada apa mom?" tanya Arjuna ketika mereka telah berada di luar kamar.
"Bagaimana proses pencarian Ardhi? apakah masih berlanjut?" mommy Rita bertanya.
Mommy Rita sengaja tidak bertanya di dalam kamar, karena ia khawatir akan terdengar oleh menantunya. Walau saat ini masih dalam keadaan pingsan.
"Tentu mom, pencarian tidak akan dihentikan sampai kapanpun, sebelum putraku di temukan." jawab Arjuna penuh harap.
"Memang harusnya seperti itu!" ucap Mommy Rita mendukung putranya.
"Tidak~, putraku Ardhi dimana kau nak, Ardhi ini mom, jangan tinggalkan mom Ardhi~!!" tiba-tiba suara Dhita terdengar histeris.
Seketika mommy Rita dan Arjuna berlari memasuki kamarnya.
Dan mereka menemukan Dhita sedang mencari-cari sesuatu di sekitar ranjangnya, sambil terus berteriak.
"Ardhi~! kamu dimana? kemarilah sayang, mom merindukan mu!" kini suara Dhita terdengar lebih kalem.
Mommy Rita tertegun melihat keadaan menantunya. Timbul rasa cemas di hati Mommy Rita.
"Bagaimana kalau Dhita tidak sembuh Ar?" tanya mommy Rita khawatir.
"Dhita pasti sembuh mom!" ucap Arjuna penuh keyakinan.
Kemudian Arjuna menghampiri istrinya yang masih terlihat bingung mencari-cari sesuatu.
__ADS_1