
Sekitar jam empat sore, Bu Devina mendatangi mansion Arjuna dengan langkah yang tergesa-gesa.
Dari raut wajahnya sepertinya ia sedang marah, langkah kakinya pun terlihat seperti di hentak-hentakkan.
"Arjuna!!!" teriak Bu Devina dengan nada suara yang lumayan keras. Hingga memperlihatkan otot-otot lehernya yang menegang.
Arjuna yang saat itu sedang duduk santai bersama mommy Rita dan istrinya di taman belakang tidak mendengar suara teriakan Bu Devina karena jarak antara pintu depan dan halaman belakang sangatlah jauh.
Kepala pelayan yang mendengar suara teriakan Bu Devina yang tak hanya sekali, namun berkali-kali berteriak dengan nada suara yang sangat keras hingga memekakkan telinga siapa saja yang berada di dekatnya.
Segera membukakan pintu dan dengan sopan menyapa tamu yang tidak tahu malu. Ya, tamu tidak tahu malu adalah julukan yang pas untuk Bu Devina.
"Dimana majikan mu si Arjuna?" Bu Devina bertanya sekaligus membentak.
"Maaf nyonya, bicaranya pelan-pelan saja, saya masih bisa mendengar dengan baik!" jawab pelayan itu, namun masih dengan sikap yang tetap sopan. Walaupun jauh di dalam hatinya pelayan itu sangat merasa tidak nyaman dengan sikap bu Devina.
"Ya, mana Arjuna? cepat panggilkan dia, saya mau bicara." perintah bu Devina, namun kali ini suara nya agak rendah.
"Silahkan masuk dulu nyonya, anda bisa menunggunya di dalam." ajak kepala pelayan itu.
"Tidak perlu, cepat panggilkan majikan mu karena saya tidak mempunyai banyak waktu." ucap Bu Devina dengan ketus.
Dan itu membuat kepala pelayan itu bertambah semakin jengkel kepadanya.
Satu menit kemudian.
Arjuna dan mommy Rita keluar menemui Bu Devina.
"Ada jeng Devina rupanya, mari masuk jeng, kabar keluarga bagaimana? baik-baik saja bukan?" sapa mommy Rita dengan suara ramah, meskipun wajah tamunya sedang di tekuk saat ini.
"Ada apa jeng?" tanya Mommy Rita lagi dengan suara yang tetap ramah, ketika melihat Bu Devina yang menatapnya dengan beringas.n
"Cih, tidak perlu berbasa-basi, apa maksud kalian ingin menceraikan putri saya? kalian kira putri saya itu barang yang bisa kalian pungut dan kalian buang se enak kalian!" sergah Bu Devina dengan kasar, kedua matanya pun melotot minta di keluarkan.
__ADS_1
"Maaf jeng, lebih baik kita bicarakan ini di dalam, disini tidak enak nanti bisa di dengar oleh tetangga!" ajak mommy Rita yang mulai merasa tidak enak hati karena para tetangga yang kebetulan lewat berhenti menatapnya dari celah pagar.
"Tidak usah, biarkan saja para tetangga tahu orang seperti apa sebenarnya kalian ini!" Bu Devina semakin tersulut emosi. Wajahnya memerah.
"Maaf Tante, bisakah anda bersikap lebih sopan kepada mommy saya?" Arjuna yang melihatnya ibunya di bentak-bentak merasa tidak terima.
"Sopan? haruskah aku bersikap sopan kepada orang-orang yang telah menghancurkan masa depan putriku?" Bu Devina semakin terbakar api amarah.
"Kau ceraikan putriku setelah kau renggut kesuciannya, dasar manusia tidak beradap!" sergah Bu Devina kepada Arjuna.
"Maaf Tante, asal anda tahu saya tidak pernah menyentuh apalagi merenggut kesucian putri Tante, karena istri saya sendiri telah sangat memuaskan saya!" Arjuna benar-benar merasa jengkel kepada Bu Devina yang seakan-akan sengaja memancing amarahnya.
"Dan tentang perpisahan ini, putri Tante sendiri yang menginginkannya." jawab Arjuna lagi
"Oh iya Tante, sekali lagi saya ingatkan, tidak ada kata perceraian di dalam hubungan ini, karena pernikahan yang kami jalani hanyalah sebatas pernikahan siri!!" lanjut Arjuna memperingatkan.
Mendengar ucapan Arjuna, hati Bu Devina menciut, karena alasan sebenarnya ia mendatangi mansion itu, bukanlah berdebat tentang perceraian, melainkan ia hanya menginginkan harta gono-gini dari keluarga Arjuna untuk Citra. Yang dapat di pastikan jumlahnya tidaklah sedikit.
"Tapi, tetap saja putri saya Citra di cap sebagai janda, dan itu sangat merugikan dirinya!" sergah Bu Devina.
"Dan satu lagi, masa depan putri saya telah hancur, itu semua karena kalian semua!" Bu Devina masih berkata dengan sengit.
"Hancur yang seperti apa maksud Tante?" Arjuna kembali bertanya.
"Asal Tante tahu, putri Tante akan di nikahi oleh seorang pengusaha sukses yang mungkin lebih kaya dari saya, oleh karena itu saya melepaskan Citra agar dia bisa memiliki keluarga yang seutuhnya, dan memiliki kehidupan sendiri yang membuatnya bahagia menjadi istri dari seorang pengusaha sukses, bukan menjadi pelakor yang akan menghancurkan rumah tangga orang lain!!" Arjuna berkata dengan tegas. Dan itu membuat hati Bu Devina semakin menciut.
"Menikah? dengan pengusaha sukses?" Bu Devina hampir tak percaya dengan ucapan Arjuna.
"Ya jeng, ada seorang pria yang bersedia menikahinya dan ingin membentuk sebuah keluarga kecil yang bahagia dengan putri jeng, dan itu menurut saya jauh lebih baik!" jawab mommy Rita yang sejak tadi diam saja menyaksikan perdebatan antara mantan sahabatnya dengan putranya.
Akan tetapi yang menjadi pertanyaan Bu Devina bukan tentang pernikahan putrinya, melainkan tentang kesuksesan dan kekayaan pria itu.
Dan itu membuat Bu Devina berubah seketika, tidak ada lagi ucapan kasar dan penuh amarah.
__ADS_1
"Memangnya siapa nama pria itu jeng?" tanya Bu Devina lebih kalem.
Dan sikap inilah yang membuat mommy Rita dan Arjuna ingin tertawa melihatnya, Dasar materialistis.
"Namanya Bastian David Dharmendra jeng!" jawab mommy Rita.
"Kok namanya mirip nama putra jeng?" Bu Devina merasa heran. Karena baru pertama kalinya ia mendengar nama lengkap dari Bastian.
"Ya, memang itu namanya jeng!"
"Bastian sepupunya Dhita?" kembali Bu Devina bertanya.
Bu Devina memang pernah bertemu dengan Bastian, namun ia tidak pernah tahu siapa nama lengkap Bastian.
"Dan istri saya juga memiliki nama yang sama!" sahut Arjuna.
"Dhita Pratiwi Dharmendra!" lanjut Arjuna.
"Loh kok bisa?" kembali Bu Devina di buat menganga mendengar ucapan Arjuna.
"Ya, karena menantu saya dan Bastian adalah saudara sepupu, sedangkan nama yang berada di akhir nama putra saya, dia dapatkan dari suami saya, Calvin Dharmendra." ucap mommy Rita menjelaskan.
Memang selama ini bu Devina tidak pernah tahu tentang semua ini, jujur hari ini ia yang di buat shock oleh mommy Rita dan Arjuna.
Niatnya yang ingin mengacaukan suasana mansion mewah itu, ternyata berbalik kepada dirinya sendiri.
Kemudian dengan menahan rasa malu yang teramat sangat, akhirnya Bu Devina pamit undur diri.
Di dalam hati ia merutuki sikapnya sendiri dan mengumpat kepada putrinya yang tidak pernah bercerita tentang kepulangannya dari mansion Arjuna.
Memang sejak pulang dari rumah sakit, Citra telah memutuskan untuk kembali pulang ke rumah orang tuanya, karena ia tidak ingin menjadi benalu di dalam rumah tangga Arjuna dan Dhita yang selalu bersikap baik kepadanya.
Dan Citra sendiri belum bercerita kepada kedua orang tuanya tentang kepulangan dirinya dari mansion Arjuna, dan itu membuat kesalahpahaman di hati Bu Devina, yang telah mengira putrinya di campakkan begitu saja.
__ADS_1