
Kedua pasang kekasih tengah bercengkrama di ruang tamu saling bertukar pikiran yang sesekali di iringi canda tawa mereka.
Dhita merasa tak enak hati bila harus berada di tengah-tengah mereka, oleh karna itu ia lebih memilih untuk pergi ke belakang.
Ia melangkah kan kakinya menuju dapur. ia berniat bersih-bersih di sana.terbayang di benaknya " ah andai aja datang seorang pangeran untukku " lagi-lagi ia menghayal.
" Ngelamun aja " suara Arjuna membuyarkan khayalan Dhita.
Ia menoleh tampak lah seorang pria tampan nan mempesona berdiri di belakangnya.
Dhita tersipu malu.
" Eh tuan, anda butuh sesuatu?" tanya Dhita.
" Nggak, " jawab Arjuna singkat.
" Boleh gak aku minta sesuatu?" lanjutnya.
Dhita mengernyitkan dahi. " kalo gak butuh sesuatu ngapain minta sesuatu" pikir nya.
" Aku mau kamu gak usah manggil aku tuan, cukup panggil namaku aja ...hmmmm.." pinta Arjuna.
" Ta... tapi ... itu kan gak sopan? " tanya Dhita terlihat bingung.
" Gak apa.. dan satu lagi ngomong nya pake aku - kamu aja biar lebih akrab". ucap Arjuna lagi.
" Bagaimana kalo aku panggil ....mm... mas...mas Ar ". ucap Dhita terbata-bata karna malu-malu. Tiba-tiba saja ide itu terlintas di benaknya.
Deggh
Jantung Arjuna serasa berhenti berdetak, suara Dhita bak desiran angin sepoi menyapa gendang telinganya.
Arjuna tak menyangka kata-kata itu akan terucap dari bibir indah gadis pujaannya. Ingin rasa ia memeluknya namun di urungkan nya karna ia masih mengingat hukum peradaban dalam kehidupan.
" Itu pun boleh lebih nyaman kedengarannya"
ucap Arjuna senang.
Dhita bernafas lega karna pria itu tak merasa keberatan dengan panggilannya.
" Jadi mulai sekarang manggilnya mas Ar aja ya" ucap Arjuna menggoda Dhita.
Dhita mengangguk kemudian tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
Sementara itu, diruang tamu.
Eza menyadari bahwa Arjuna sahabatnya tidak ada diantara mereka. Ia melihat sekeliling namun tak juga nampak orangnya.
Tiba-tiba terdengar suara orang bersenda gurau dari arah dapur. Ia berjalan mendekati dapur dan benar saja yang dilihatnya, Arjuna dan Dhita tengah asyik bercanda di sana. Puri mengikutinya dari belakang.
" Serasi sekali ya mereka honey ," ucap Puri.
Eza menganggukkan kepala lalu berkata
" Apa kamu mau bantu sahabatku?" tanya Eza.
" Asal aku mampu ." jawab Puri.
Eza menceritakan tentang perasaan dan keinginan sahabatnya, Arjuna. Tentang awal mereka bertemu hingga saat itu.
" Nanti aku coba ngomong sama Dhita. " ucap Puri.
" Semoga aja berhasil sayang." ucap Eza penuh harap.
Sementara Rena dan Reyhan saling menatap lekat sebelum berpisah, Reyhan mendapat telfon dari sang ayah agar secepatnya pulang.
" Aku balik dulu ya beib. " ucap Reyhan sebelum mereka berpisah.
" Ya hati-hati ya honey ." ucap Rena.
" I love yuo ,"
" I love you more ."
Melihat Reyhan berpamitan Eza berniat untuk pulang juga, setelah memberi kode pada Arjuna yang kebetulan melirik ke arahnya.
Eza mengecup jari jemari kekasihnya, lama sekali seakan-akan ia tak ingin melepasnya.
" Jangan lama-lama beib... malu nanti di lihat sama mereka ." Puri berbisik.
" Biarin aja sayang.. kalo mereka mau kan bisa pacaran, udah ada tuh calonnya." ucap ez Eza.
Puri menarik tangannya ketika terdengar suara langkah kaki mendekatinya.
" Aku pulang dulu ya.. jaga diri baik-baik." ucap Arjuna penuh perhatian kepada Dhita yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Rupanya percakapan mereka tadi membuat keduanya lebih akrab.
" Iya ... hati-hati mas Ar...". ucap Dhita dengan sebuah senyuman.
" Cie cie.... udah dapat nama kesayangan nih..". seloroh Eza. Membuat semua orang tetawa cekikikan.
Dhita menunduk malu, wajahnya mulai merona. Ia tersenyum tersipu malu.
Kemudian Eza dan Arjuna undur diri.
Mereka memandang mengiringi kepergian kedua pria tampan, hingga menghilang di kejauhan.
" Dhi, gimana?" tanya Puri setelah mereka masuk ke ruang tamu.
" Gimana apanya?" Dhita tanya balik. Ia merebah kan diri di sofa.
" Soal arjuna tadi ." ucap Puri
" Gak gimana-gimana emangnya kenapa ?" Dhita tanya balik.
" Maksudnya apa kamu ngerasa cocok dengan arjuna ?" tanya Puri lagi.
" Iya Dhi, udah saatnya kamu buka hati untuk mencintai seorang pria." timpal Rena.
" Maaf ya Ren, Puri, bukannya aku gak mau jatuh cinta tapi..." Dhita tak meneruskan kata-katanya, dadanya serasa sesak bulir air mata tanpa terasa jatuh membasahi pipinya.
" Loh kok malah nangis bestie ... kamu kenapa?" tanya Puri heran.
Dhita menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Bestie ini udah saatnya untuk kamu buka lembaran hidup baru dengan kekasih baru mungkin dia yang terbaik." ucap Rena membujuk Dhita.
Dhita malah semakin Sedih, ia menangis sesenggukan.
" Pesanku bestie, jangan terlalu lama kamu menutup diri, kesempatan tidak akan datang dua kali." lanjut Rena, hanya ia yang mengetahui tentang masa lalu Dhita.
" Ren, aku masih trauma." ucap Dhita di sela isak tangisnya. Teringat kembali olehnya bayangan masa lalu yang membuat dirinya selalu menutup diri.
" Trauma? ini ada apa sih?." tanya Puri yang tak tau apa-apa merasa bingung.
Rena mengerutkan keningnya.
"Emang Dhita gak pernah cerita ini ke kamu ?" tanya balik Rena.
" Nggak." ucap Puri.
" Maafin aku ya bestie ... aku cuma gak mau menggali luka lama, susah payah aku berusaha untuk melupakannya..tapi gak apa-apa jika kalian mau mendengarkan, aku akan ceritakan semuanya." Dhita mengusap air matanya..hatinya mulai tenang setelah menangis.
Dhita mulai bercerita
Kedua bestie nya menjadi pendengar yang baik.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari masih pagi, matahari baru tersenyum menyapa bumi dengan kehangatannya.
Di sebuah kamar tampaklah seorang gadis tengah duduk bersandar di sebuah kursi.
Seseorang menghias wajahnya.
" Adduhhh.. mbok... ini sih bukan cantik lagi namanya tapi sempurna." ucap seseorang yang ternyata tukang rias pengantin.
" Ekke' yang dandanin ekke' pula yang pangling." lanjutnya.
Gadis itu tersenyum, dia adalah Dhita Pratiwi.
Saat itu ia akan menikah dengan seorang pria yang sangat di cintainya. Cukup lama mereka menjalin hubungan bahkan sejak Dhita duduk di bangku SMA.
Tak terasa telah 5 tahun sudah mereka menjalin asmara dan akan melanjutkannya ke jenjang pernikahan.
Dhita menatap dirinya di cermin, gaun berwarna putih penuh dengan renda, di padukan dengan hijab putih bermahkota, menambah keanggunan dirinya.
Dhita bagaikan Ratu sehari.
Kreeeekk
Pintu terbuka, ternyata sang ibu datang untuk menjemputnya.
" Sudah siap nak?" tanya ibu Safitri.
" Iya bu," jawab Dhita dengan suara penuh keyakinan.
" Ayo kita turun, penghulu sudah datang." ajak ibu nya.
__ADS_1
" Apa dia udah datang bu?" tanya Dhita.
" Maksudmu calon suamimu...?" ibu Safitri bertanya balik.
Dhita mengangguk.
" Belum, mungkin masih di perjalanan ayo kita ke depan ." ucap bu safirtri lagi.
Dhita berjalan di dampingi oleh ibunya, sementara si tukang rias pengantin memegangi ujung gaun yang terjuntai ke bawah agar tidak terinjak oleh sang mempelai wanita.
Semua mata tertuju pada nya, para tamu undangan yang hadir seakan-akan terpana melihat kecantikannya.maklumlah Dhita anak tunggal dari pasangan Pak setyo dan ibu safitri, jadi acara sakralnya sangat di meriahkan. Sebagai kenang-kenangan sebelum melepas masa lajangnya.
" Cantik banget ya.." ucap salah satu tamu yang ternyata seorang ibu-ibu.
" Iya kalo seandainya dia belum ada yang punya, akan aku jadikan dia mantuku" timpal yang lain.
" Udah cantik, baik... sopan lagi." puji yang lainnya lagi.
" Benar-benar menantu idaman ." tak henti-hentinya mereka memuji Dhita.
Semua orang berdecak kagum.
Memang Dhita adalah kriteria wanita yang nyaris sempurna.
Sudah hampir 2 jam mereka menunggu, namun calon mempelai pria tak kunjung datang. Para tamu mulai merasa bosan.
" Jadi gak sih nikah nya ...." seru salah satu tamu.
" Lama amet sih, niat gak ya.. nih cowoknya." ucap yang lain.
Para tamu mulai mempertanyakan keberadaan sang mempelai pria.
Suasana menjadi gaduh.
" Tenang sodara-sodara, mungkin sedang dalam perjalanan." seru pak setyo menenangkan para tamu.
Tring.
Tring.
Sebuah pesan masuk di ponsel Dhita.
Ternyata dari Andrian, ya calon suaminya Andrian alvaro seorang pengusaha sukses yang kebetulan membuka cabang usaha baru tidak jauh dari desa Dhita, mereka bertemu pada malam tahun baru . Karna merasa saling melengkapi mereka akhirnya menjalin sebuah hubungan.
Wajah Dhita pucat pasi setelah membaca isi pesan itu. Tubuh Dhita seketika lunglai, Lemah tak berdaya.
Traaakkk...
Ponselnya nya terjatuh.
Sang ibu meraihnya lalu membaca isi pesan tersebut.
Isi pesan:
" Hai sayang...maaf kita tidak bisa melanjutkan hubungan.
mama telah mempersiap kan acara pertunangan kami, aku tidak bisa menolak karna mama ku sedang sakit, demi kesembuhannya aku terpaksa menuruti keinginannya.
maafkan aku yang telah menyakiti hatimu.
Serrrr....
Darah ibu Safitri serasa mendidih, wajahnya merah padam menahan amarah.
" Berani-beraninya kamu mempermalukan kami." ucap bu Safitri dengan penuh amarah.
Para tamu syok setelah di beritakan tentang kendala yang membuat acara sakral itu di batalkan.
" Sabar ya bu... saya tau ini terlalu berat buat keluarga ibu." ucap salah satu tamu perempuan.
" Ternyata dia hanya memanfaatkan kebaikan kami terlebih lagi untuk putri saya dia pasti merasa sangat tertekan." ibu Safitri mulai menitikkan air mata bila teringat nasib sang putri kesayangan.
Namun Dhita sudah tak lagi di ruangan itu, ia terlebih dahulu berlari ke kamar dan menguncinya. Tak tahan dengan rasa sesak di dada akibat cintanya di putuskan secara sepihak. Di tambah lagi dengan rasa malu pada orang-orang di sekitarnya. Mereka pasti memperguncingkan dirin nya sebagai wanita yang gagal menikah.
" Teganya kau bang... apa arti kebersamaan kita selama ini.. kau putuskan cinta tanpa meminta persetujuanku." tangis Dhita.
Hati nya sakit bagai tertancap beribu-ribu tombak.
Sejak saat itulah Dhita membulatkan tekad nya untuk pergi jauh-jauh dari kampung halamannya. Meninggalkan kenangan pahit yang tengah ia alami.
...****************...
" Sabar ya ... bestie... aku yakin Allah akan membalas semua air matamu dengan kebahagiaan." Puri memeluk sahabatnya. Begitu pula dengan Rena meraka saling merangkul, ikut merasakan pedih nya penderitaan.
Dhita bersyukur memiliki mereka berdua, setidaknya ia tidak sendiri dalam perjuangan hidupnya.
__ADS_1