Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 155 Menyangkal


__ADS_3

"Seharusnya saya yang menyalahkan anda dan meminta pertanggung jawaban anda atas apa yang telah anda lakukan kepada cucu saya!" ucap mommy Rita dengan wajahnya yang memerah, karena menahan amarah.


"Apa maksud mu jeng?" bu Devina tidak mengerti dengan arah pembicaraan mommy Rita.


Mommy Rita menarik salah satu sudut bibirnya, dan berkata.


"Sudahlah anda tidak perlu berpura-pura, saya telah mengetahui semuanya!" jawab Mommy Rita dengan tersenyum sinis.


Jika saja bu Safitri tidak menghentikan dirinya saat itu, telah pasti mommy Rita telah melabrak Bu Devina sebagai tersangka atas penculikan cucunya.


Bu Safitri hanya merasa tidak enak hati kepada Citra yang saat itu masih bersama dengan mereka. Ia hanya ingin saling menjaga hati sesama, agar tidak ada yang tersakiti.


"Sudahlah Bu Rita, serahkan semuanya pada polisi, percayakan kepadanya, insya Allah semua masalah akan terselesaikan.


Jika kita saling menuduh, itu akan semakin membuat masalah bertambah runyam."


Pesan bu Safitri, dan pesan itu yang selalu di ingat oleh mommy Rita.


"Apa maksudmu jeng, apa yang telah kau ketahui?" Bu Devina merasa penasaran dengan perkataan mommy Rita yang terdengar meyakinkan.


"Anda kan yang telah merencanakan penculikan cucu saya?" mommy Rita menatap bu Devina dengan intens. Sebuah tatapan mata yang menghunus.


Mendengar pertanyaan dari mommy Rita, Bu Devina merasa tersinggung.


"Apa? hati-hati berbicara jeng, saya bukanlah orang yang seperti kau maksud, dan saya tidak tahu-menahu tentang penculikan itu!" Bu Devina menyangkal tuduhan yang di berikan oleh mommy Rita kepadanya.


"Kita tunggu sampai polisi benar-benar membuktikan siapa yang bersalah!" ucap mommy Rita dengan tersenyum sinis.


Sedangkan Arjuna yang telah mengepalkan tangannya, mencoba untuk menahan diri agar tidak terbawa emosi.


Merasa dirinya terpojok, akhirnya Bu Devina pergi begitu saja tanpa berpamitan. Di dalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri, mengapa harus pergi ke mansion itu.


*


*


*

__ADS_1


"Citra!!!" panggil Bu Devina begitu ia tiba di rumahnya.


Bu Devina menaiki tangga menuju ke kamar putrinya.


Citra yang saat itu sedang merebahkan dirinya di kasur, terkejut mendengar suara ibunya yang memanggil-manggil namanya dengan nada suaranya yang khas.


Namun Citra merasa malas untuk bangkit, oleh karena itu ia lebih memilih untuk tetap diam seraya memandangi foto-foto dirinya bersama Bastian di rumah sakit.


Ya, mereka memang sempat Selvie bersama di sana.


"Citra!" sentak ibunya lagi setelah membuka pintu dan melihat putrinya sedang bersantai di kamarnya.


"Mama!" seru Citra dan terbangun dari tidurnya.


"Apa maksudmu? mengapa kau tidak membicarakan ini sebelumnya dengan mama?" Bu Devina terlihat begitu marah.


"Maksud mama apa?" Citra berbalik bertanya.


"Mengapa kau tidak membicarakan ini pada mama, sehingga mama tidak perlu pergi kesana menemui mereka untuk meminta pertanggung jawaban mereka atas perbuatannya kepadamu !" Bu Devina menatap Citra dengan kesal.


"Mommy?" Bu Devina mengerutkan keningnya mendengar perkataan Citra.


"Untuk apa kau memanggilnya mommy, dia bukan siapa-siapa kita lagi!" Bu Devina melanjutkan perkataannya.


"Walau bagaimanapun mereka sangat berjasa bagiku ma, terlebih Dhita." Citra menarik napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan.


"Dia wanita yang hebat luar biasa ma, andai saja aku jadi dia, aku tidak akan sanggup berbagi suami dengan wanita lain." papar Citra, ia masih mengingat betapa kuatnya batin wanita itu.


Walaupun sebenarnya pernikahan Citra dan Arjuna hanya karena terpaksa, akan tetapi tetap saja itu akan terasa sangat menyakitkan bagi Dhita, dan Dhita mampu melakukannya.


"Mengapa kau menyembunyikan ini semua dari mama!" tanya Bu Devina meminta jawaban dari putrinya.


"Maaf ma, aku hanya tidak ingin membuat mama bertambah pusing dengan semua masalahku!" jawab Citra, yang sebenarnya ia hanya tidak ingin Bu Devina turun tangan di dalam hubungannya dengan Bastian.


"Bukankah kau akan di nikahi oleh seorang pengusaha sukses? lalu dimana letak masalahnya? jika saja kau mengatakannya kepada mama, maka mama tidak akan mempermalukan diri dengan datang kesana!" Bu Devina menjelaskan.


"Dari mana mama tahu?" tanya Citra membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


"Oh, jadi sekarang putri mama mulai main rahasia dengan mamanya sendiri!" Bu Devina melotot membuat Citra menunduk.


"Maaf ma, bukannya aku ingin menyembunyikan semuanya dari mama, aku hanya tidak ingin mama terlalu ikut campur dalam hal ini, karena aku ingin semuanya terjadi apa adanya ma!" Citra masih teringat bagaimana dulu Bu Devina yang terlalu berlebihan menginginkan hubungannya dengan Arjuna, dan membuat semuanya kacau.


"Baiklah kalau begitu, mama rasa kau telah dewasa, dan mama tidak akan turun tangan dengan semua masalah mu!" Bu Devina yang tadinya telah merasa lebih senang putrinya akan di nikahi oleh seorang pengusaha sukses, mendadak emosi mendengar ucapan dari putrinya yang terkesan melarangnya untuk turun tangan.


"Ma, mama!" panggil Citra ketika melihat ibunya telah pergi berlalu dari sisinya.


Bu Devina terlihat begitu kesal, rasanya sehari ini semua orang sedang memojokkan dirinya.


"Ma!" namun panggilannya seolah lenyap begitu saja.


Bu Devina berlalu begitu saja dan pergi keluar dari rumahnya, entah kemana. Yang jelas terdengar suara deru mobil yang kian lama kian menjauh.


"Maafkan Citra ma, Citra hanya tidak ingin mama kembali terobsesi dengan keinginan mama!" Citra merebahkan tubuhnya, sembari memejamkan mata ia mencoba untuk menghilangkan segala macam pikiran yang mengusik di benaknya.


Di dalam hati ia berdoa semoga ibunya mendapatkan hidayah seperti dirinya, dan mampu merubah semua sikapnya.


Citra yang dulunya seseorang yang penuh dengan misi dan sangat terobsesi dengan Arjuna, kini telah memperoleh hidayah hingga membuatnya berubah menjadi lebih baik. Bahkan ia mulai menyadari bahwa semua yang telah dilakukannya itu adalah salah.


Oleh karena itu, Citra dengan mudah menerima Bastian menjadi calon pendamping hidupnya. Meskipun sampai saat ini, Bastian masih belum sempat meminangnya.


"Kapankah kau akan kemari untuk meminang ku, apakah sama yang kau rasakan seperti yang sedang ku rasakan sekarang?" Citra bertanya-tanya, seraya memandangi potret pria yang telah mampu merubah keyakinannya.


Tiba-tiba ada tangan seseorang sedang memegang pundaknya. Tangan itu terlihat kekar namun terasa lembut.


"Papa! sejak kapan papa disini?" Citra langsung beranjak dari tidurnya saat melihat ayahnya telah berdiri di belakangnya.


"Kau menyukai pria itu?" tanya pak Aditya, yang memang telah melihat putrinya terus memandangi potret pria itu.


"Papa bagaimana?" Citra balik bertanya.


"Asal putri papa bahagia, papa pun bahagia!" ucap pak Aditya tegas sembari tersenyum.


"Jadi, papa setuju?" tanya Citra ingin memastikan.


Pak Aditya hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2