
"Apa yang kau cari sayang?" tanya Arjuna dengan lembut. Berusaha untuk mengalihkan perhatian istrinya.
"Sayang apa yang kau cari?" Arjuna mengulangi pertanyaannya, karena pertanyaan yang sebelumnya tidak di gubris oleh istrinya, seakan hilang di telan angin.
"Ardhi~Ardhi!" Dhita berhalusinasi.
"Mas, Ardhi kita mas!" Dhita melewati Arjuna yang memandangnya kebingungan.
"Mas, Ardhi kita nangis, dia haus mas, dia sakit !" Dhita tetap mencari-cari, sesekali ia menengokkan kepalanya ke luar jendela. Berharap putranya berada di sana.
Seperti orang stres Dhita berlari keluar dari kamarnya menuju ke halaman mansion.
Sembari berteriak-teriak memanggil nama putranya.
"Ardhi tunggu mom, Ardhi jangan pergi!!" teriak Dhita dengan suara yang sangat keras, hingga mengundang perhatian dari orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mansion.
"Aww~!!!" pekik Dhita jatuh terpelanting di tanah.
Darah segar mengucur dari pelipis nya.
"Sayang!" seru Arjuna berlari menyongsong istrinya.
"Kau tidak apa-apa ?" tanya Arjuna lagi.
"Ardhi mas, Ardhi meninggalkan aku!" hanya kata-kata itu yang terucap dari bibirnya. Air matanya pun mulai jatuh berderai.
Dhita seolah tidak perduli lagi dengan keadaannya, di saat terluka ia masih memikirkan buah hatinya.
Pilu hati Arjuna ketika melihat keadaan istrinya seperti itu, ia mendekap tubuh istrinya dengan hangat, berniat menyalurkan kekuatan untuk tetap sabar menghadapi cobaan hidup.
"Sudahlah, Ardhi saat ini pasti baik-baik saja, semoga dia bersama dengan orang-orang baik," ucap Arjuna, ia pun menitikkan air mata.
"Kau terluka, mari biar ku obati lukamu!" ajak Arjuna kepada Dhita yang duduk termangu dengan tatapan lurus ke depan.
Mommy Rita tidak kehilangan akal, ia membawa baby Diana bersamanya.
Baby Diana menangis ketika telah berada di hadapan ibunya.
"Ooeeekk~ooeekkk~!!" suara tangis Diana membuyarkan lamunan Dhita.
"Putriku!!" bisik Dhita lirih. Kemudian ia meraih baby Diana dan menggendongnya.
"Lihatlah Diana putrimu, dia menangis ketika kau menangis," ucap mommy Rita.
"Putri kita juga membutuhkan kasih sayangmu, setidaknya kau berikan sedikit perhatian untuknya," ucap Arjuna.
Melihat kehadiran putrinya, Dhita menjadi lebih tenang.
"Maafkan mom nak, mom hampir melupakan putri cantik ini!" gumam Dhita seraya mencium pipi kanan dan kiri putrinya.
__ADS_1
"Sekarang kita obati dulu lukamu." ucap Arjuna menatap luka di pelipis istrinya.
Dhita mengangguk kemudian dengan di gandeng oleh Arjuna Dhita melangkah memasuki mansion.
Di dalam hati mommy Rita berharap semoga menantunya tidak lagi mengalami hal seperti itu, melihat keadaan Dhita yang lusuh tak terawat mommy Rita merasa sangat prihatin.
Di ruang tengah.
Saat itu mereka sedang duduk di sofa.
Dengan penuh kasih Arjuna mengobati luka istrinya. Tangannya sangat berhati-hati ketika membersihkan darah yang berceceran di bagian luka tersebut.
Sedangkan mommy Rita yang sedang menggendong cucunya menimang-nimang baby girl, hingga tertidur di dalam dekapannya.
"Hati-hati mas!" ucap Dhita ketika suaminya akan membubuhkan obat Betadine pada lukanya.
"Tenang saja, hanya perih sebentar." sahut Arjuna.
Dhita mendesis karena rasa perih yang ia rasakan pada luka itu, di sebabkan obat Betadine yang di oleskan oleh suaminya.
"Selesai!" ucap Arjuna setelah menutupi luka di pelipis istrinya dengan plester.
"Terimakasih mas!"
Arjuna mengecup mesra kening istrinya, membuat Dhita tersipu malu. Sementara mommy Rita yang melihat insiden itu, berpura-pura tidak melihatnya.
"Ayo!" ajak Arjuna kepada Dhita, saat itu ia telah berdiri dari duduknya.
"Kemana?" tanya Dhita.
Kini keadaannya telah lebih baik dari sebelumnya. Dhita menarik tangannya yang telah di pegang oleh suaminya.
"Mandi!" jawab Arjuna singkat.
Mendengar perkataan suaminya, membuat kedua mata Dhita terbelalak.
"Apa? kau kira aku tidak bisa mandi sendiri mas?" Dhita mengerucutkan kedua bibirnya hingga membentuk sebuah kerucut yang lentik.
"Kau masih sakit, jadi~ harus ada yang menemanimu!" jawab Arjuna.
Bukan tanpa alasan Arjuna ingin menemani istrinya mandi, melainkan karena ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada istrinya di saat membersihkan tubuhnya.
"Tidak mau mas, aku malu!" tukas Dhita masih enggan menerima ajakan suaminya.
"Untuk apa malu, aku sudah tahu semuanya!" Arjuna menghampiri istrinya lalu menggotong tubuh istrinya yang mungil, membawanya kedalam bathroom.
Sedangkan mommy Rita hanya tersenyum melihat tingkah laku anak dan menantunya.
Di dalam bathroom.
__ADS_1
"Cukup!" Dhita menghentikan tangan suaminya yang hendak melepaskan pakaiannya.
"Aku bisa sendiri!"
"Tapi~!" Arjuna masih bersikeras ingin membantu istrinya.
"Kau ingin aku mandi kan? jadi keluarlah!" Dhita mendorong tubuh suaminya keluar dari dalam bathroom.
"Tapi Dhi!" Arjuna menahan tubuhnya agar tidak keluar dari dalam bathroom itu.
"Baiklah, silahkan kau masuk mas, dan aku akan keluar!" ucap Dhita merasa sangat kesal dengan perlakuan suaminya.
"Oh tidak, baiklah aku akan keluar tapi jangan tutup pintunya agar aku bisa mengawasi mu dari luar." usul Arjuna.
"Baiklah!" ucap Dhita seraya memutar kedua bola matanya dengan malas.
Melihat ekspresi itu di wajah istrinya, Arjuna merasa sangat senang. Entah berapa lama ia tidak melihat ekspresi apapun di wajah sang istri. Dan Arjuna beranggapan kalau ekspresi itu adalah gambaran suasana hatinya.
Dengan sedikit risih karena Arjuna terus mengawasi nya, Dhita memulai membersihkan diri. Dengan hati-hati ia mulai menyiramkan air pada tubuhnya, dan itu membuat Arjuna harus ekstra menahan suatu rasa yang telah beberapa hari ini tidak ia rasakan.
Satu menit, Arjuna masih bertahan.
Menit kedua ia pun masih bisa bertahan.
Namun pada hitungan menit yang ke tiga Arjuna telah berpindah dari tempatnya. Arjuna sengaja pergi dari tempat itu agar tidak tergoda dengan tubuh molek istrinya.
Dhita hanya tersenyum tipis melihat suaminya telah berpindah tempat.
"CK, tadi saja maksa, ternyata sekarang tidak kuat juga," gumam Dhita, ia merasa senang karena pada akhirnya Arjuna pergi dari tempat itu.
Dan membuat Dhita merasa lebih leluasa membersihkan diri tanpa merasa risih kepada siapapun.
Setelah selesai membersihkan diri, Dhita keluar dari dalam bathroom. Ia melihat sekeliling kamar mencari sosok yang sedari tadi memaksa untuk menemaninya.
Namun, ia tidak mendapatkan apapun yang ia cari. Hanya seonggok pakaian yang telah tersedia di tepi ranjangnya
"HM, rupanya mas Ar telah menyiapkan segalanya untukku." gumam Dhita yang saat itu hanya menggunakan bathroob.
Dhita meraih pakaian itu, berniat hendak memakainya. Namun, sesuatu terjatuh dari dalam lipatan pakaian itu.
"Apa ini?" Dhita bertanya seorang diri.
Kemudian ia mengambil benda yang terjatuh itu yang ternyata secarik kertas.
"Kertas?" ucap Dhita heran.
Lalu ia membuka kertas yang terlipat itu dan ternyata sebuah surat.
"Mas Ar ada-ada saja, saat pacaran tidak sekalipun mengirim surat cinta, pas nikah dan punya anak baru kasih surat cinta." ucap Dhita seraya tersenyum bahagia.
__ADS_1